Padepokan Witasem
Bab 2 Benih

Benih 5

Di rumah Ki Bekel, Ki Jagabaya mulai menceritakan hubungannya dengan Ki Wijil di masa lalu. Ia berkata, ”Sebenarnya saya telah mengenal Ki Wijil semenjak kami berdua masih berusia muda. Kami sama-sama menjadi prajurit Pajang saat itu. Dan kami juga berada di barak yang sama untuk beberapa waktu yang lama.” Ia terdiam dan menarik nafas panjang. Lalu ia melanjutkan, ”Kami berbeda pendapat ketika Danang Sutawijaya meninggalkan Pajang. Saya tetap memilih sebagai seorang prajurit, dan temanku yang masih berusia muda memutuskan untuk keluar dari keprajuritan.

“Dalam pandangan saya, keputusan Danang Sutawijaya bukanlah keputusan seseorang yang berjiwa sabar dan ia tidak dapat melihat keputusan seorang raja secara keseluruhan. Tetapi saya tidak dapat menyalahkan nya atas keputusan itu. Apalagi Sultan Hadiwijaya sendiri tidak memberi perintah apapun terhadap perbuatan – yang sebenarnya menurutku – tidak patut dilakukan oleh seorang anak angkat.

“Keadaan berbeda telah dialami oleh kawan dekat saya, Ki Wijil. Ia merasa kecewa terhadap keputusan Danang Sutawijaya yang akhirnya memilih gelar Panembahan Senapati itu. Ia pergi jauh meninggalkan Pajang, lalu aku mendengar ia berada di lereng perbukitan Menoreh.

“Ketika Sultan Hadiwijaya mangkat, saya pun meninggalkan Pajang. Meski begitu, beberapa orang masih berhubungan denganku, mereka mengajak kerja sama demi kebangkitan Demak. Tentu saja saya menolak untuk bergabung dengan mereka yang masih terikat dengan masa lalu. Pada saat itu Pajang tidak dapat menjadi suatu tempat yang layak bagi orang-orang yang masih berpegang teguh pada nilai keprajuritan.

“Dalam perjalanan itu akhirnya aku bertemu dengan Ki Bekel yang seorang diri mengurus sebuah pedukuhan yang sebenarnya sangat sejahtera.”

Ki Jagabaya menarik napas dalam-dalam. Kemudian ia bergantian melihat orang-orang di sekelilingnya yang mendengarkan dengan seksama. Lalu ia tersenyum pada Sayoga, kemudian katanya, ”Pada pertemuan kita yang pertama, memang aku sengaja berbuat seperti itu. Mungkin Angger Sayoga akan bertanya tentang alasan. Tentu saja aku mempunyai alasan kuat hingga akhirnya kita terlibat dalam olah gerak yang sebenarnya menguras tenagaku.”

Ki Bekel memandang Ki Jagabaya dan yang lainnya dengan tatap mata heran. Ia bertanya, ” Ki Jagabaya dan Angger Sayoga sempat berkelahi?”

“Tidak, Ki Bekel. Mereka hanya sedikit melemaskan otot, terutama bagi Sayoga yang telah lama tidak melakukan gerak yang berarti,” jawab Ki Wijil dengan senyum memandang wajah Ki Bekel yang masih keheranan.

Sejenak kemudian Ki Bekel tertawa kecil kemudian berkata, ”Aku dapat menduga alasan Ki Jagabaya sampai bersedia melatih angger Sayoga.”

“Benar, Ki Bekel. Saya melihat dalam diri angger Sayoga sebuah kegesitan,  dan itu seperti melihat Ki Wijil dalam wujud yang berbeda. Kemudian saya tergerak untuk mengujinya dan benarlah dugaanku! Ki Wijil telah mewariskan seluruh ilmunya pada angger Sayoga,” kata Ki Jagabaya kemudian.

Ki Bekel memperlihatkan kekaguman saat melihat Sayoga yang menundukkan kepala.

“Sebenarnya Ki Jagabaya dapat saja memberiku pelajaran pada awal perjumpaan, tetapi Ki Jagabaya rupanya ingin menunjukkan beberapa bagian yang masih harus aku perdalam,” kata Sayoga kemudian ia menoleh ayahnya. Ki Wijil menganggukkan kepala.

“Memang seharusnya berjalan seperti itu. Kau tidak akan dapat memperkaya unsur gerakan jika hanya berlatih sendiri atau berlatih bersama kami berdua,” Ki Wijil memberi pengertian sedikit mendalam pada anaknya.

“Meskipun kami berdua merupakan prajurit rendahan, tetapi kami tidak ingin menonjolkan kelebihan kami dalam olah kanuragan di kalangan prajurit. Kami berdua ingin menjalani laku sebagai seorang prajurit yang nantinya dengan bertahap akan berkembang sesuai waktu yang berjalan dan kejadian-kejadian yang harus kami lewati,” Ki Jagabaya menambahkan kemudian.

Related posts

Leave a Comment