Padepokan Witasem
Motivasi

Berpuasa Dengan Menghormati yang Tidak Berpuasa

Di Padepokan Sukodadi di lereng Gunung Merbabu, Mbudur menengadah keatas. Seolah menunggu jawaban yang akan meluncur turun dari balik awan tipis yang berarak. Sejak awal di bulan Ramadlan ini dia seperti menyimpan pertanyaan besar. Namun jawaban atas pertanyaan itu sudah pasti tertunda untuk beberapa saat.

Salah satu sebabnya adalah Kyai Sogol sedang menunaikan ibadah umroh dan mungkin juga sedang mencari orang hilang di belantara Saudi. Terakhir kabar yang diterima oleh para santri padepokan adalah Kyai Sogol sedang mencari orang yang menghilangkan diri. Tentu saja kabar berita ini sangat mempesona kalangan santri karena bagaimana seseorang bisa menghilangkan diri dan bisa kembali pulang dengan selamat sejahtera sehat bahagia. Selama ini yang terpatri dalam benak santri adalah orang yang menghilangkan diri itu selalu pulang dalam kawalan polisi, dan tentu saja karena Kyai Sogol ikut membantu mencari orang itu maka besar kemungkinan juga tidak bakalan ketemu hahahaha…

Tanpa disadari Mbudur, tiba-tiba Kriwul sudah berada di sampingnya.

“Ehem..ehem..mikirin siapa cah?”

loading...

Eladalah, sampeyan ini bikin kaget orang saja cak!”

“Lha kamu ini kok wajahmu itu loh..Mirip orang yang kehilangan kekasih. Atau jangan-jangan kamu kehilangan mantan yang belum kamu taksir ya? Wkwkwkwk..” Kriwul tergelak melihat wajah Mbudur yang melongo tak berdosa.

“Begini loh cak. Kok tumben di bulan Ramadlan kali ini kok sepi berita sweeping. Tradisi sweeping kok tidak ada kelanjutannya? Sebetulnya kan bagus itu dijalankan karena tujuannya juga mulia, menghormati orang yang berpuasa.”

“Orang yang sweeping itu apa mau bertanggung jawab dengan mengganti biaya hidup warung-warung yang tetap buka di siang hari? Itu harus mereka pikirkan dahulu sebelum melakukan sweeping. Yang namanya rejeki itu kan tidak selalu tetap, kandang ada sepi dan kadang ada ramainya, tetapi biaya hidup itu stabil jumlah pengeluarannya. Bayar sekolah, bayar listrik atau juga bayar BPJS.”

“Terus cak?”

“Berpuasa itu kan ibadah rahasia, sekalipun kamu seorang muslim dan wajib berpuasa namun orang lain tidak akan mengetahui apakah kamu berpuasa atau tidak. Tidak ada orang yang tahu karena puasa sendiri bukan ibadah yang bisa dilihat oleh mata. Kalau kamu sweeping rumah makan atau warung berarti kamu itu gagal menahan hawa nafsu. Puasanya bakal batal kalau melihat makanan dan minuman yang segar dan mengundang selera.”

“Puasa seperti itu berarti puasa orang awam. Karena dia masih emosi melihat orang lain makan nasi padang dan es cincau. Sedangkan puasa orang khusus itu sudah mampu menahan emosi dari hal yang makruh. Kalau yang makruh saja dia sudah mampu menahan dirinya, apalagi terhadap yang haram kan? Lha kamu pikir menyuruh warung berhenti berjualan itu makruh atau haram?”

“Iya sih cak, kalau dipikir lagi ya siapa juga yang mengganti biaya hidup pemilik warungnya?”

“Kalau menurutku sih begini ya Mbudur, dengan menghormati orang yang tidak berpuasa itu bukanlah bentuk toleransi tetapi lebih pada karena kita tidak mengetahui alasan dia tidak berpuasa. Bisa jadi karena dia non muslim atau memang sedang berhalangan atau memang sedang tidak taat. Dan untuk ketidaktaatan itu ya tentu saja dia akan mendapat balasan yang setimpal dari Sang Pencipta. Jadi jangan samakan dengan pembiaran atau disamakan dengan pohon cemara di mall. Itu berbeda. Pohon cemara itu bukan bagian dari ibadah saudara yang lain. Kalau untuk puasa saja kamu berani menutup warung orang lain ya semestinya juga ,di luar bulan Ramadlan, kalau terdengar adzan ya kamu harus menutup warung mereka juga.”

 

Penutup

Tidak berisik saat sedang ujian itu menghormati dan membantu yang sedang ujian. Perbedaannya adalah kalau yang sedang ujian itu bisa dilihat oleh mata secara fisik dan ujian butuh konsentrasi untuk menjawab soal ujian. Sedangkan puasa? Konsentrasi tertinggi adalah melihat dan mendengar segala sesuatu itu berasal dari Allah, lihatlah yang tidak berpuasa karena mereka adalah ujian bagi kita.

Wedaran Terkait

Soto Ayam Bergincu Merah

kibanjarasman

Sepatu Kaca Rara Jonggrang

kibanjarasman

Sendratari Sambal Terasi

Ki Banjar Asman

Rembulan Tak Bilang Dia Sudah Tua

kibanjarasman

Prasangka Buruk Sebagai Ibu dari Kebohongan

kibanjarasman

Ortuku itu Ortumu,Ortumu ya Urus Aja Sendiri

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.