Jarak dari Keraton ke Kepatihan tidak terlalu jauh saat Agung Sedayu menempuhnya dengan berkuda. Meski begitu, Agung Sedayu tidak langsung mengarahkan tujuan ke Kepatihan. Ada sesuatu yang agak menyita perhatiannya ketika masih satu ruangan dengan Sunan Agung maupun Pangeran Purbaya. Pelayan itu, siapakah dia? Usia mungkin sedikit di atas kakaknya, Ki Untara, tapi kemampuannya? Sehelai tipis udara hangat yang melintas di bawah telinganya itu menjadi tanda penguasaan tenaga cadangan tingkat tinggi.
Kedai. Yah, ada sebuah kedai di belakang Keraton. Jaraknya tidak dapat dikatakan cukup dekat, tapi pengenalan Agung Sedayu adalah kedai itu banyak dikunjungi pelayan istana untuk sekadar istirahat atau melepas lelah barang sejenak. Kedai itu tidak besar. Dindingnya anyaman bambu yang mulai menguning, atapnya rendah, dan asap dari tungku di sudut ruangan menggantung seperti kabut yang enggan bergerak.
Agung Sedayu menambatkan kudanya agak jauh. Dia melangkah biasa saja ketika memasuki kedai. Sekilas terlihat beberapa orang duduk melingkar di atas bangku kayu pendek. Dua lingkaran terpisah dari lingkaran pertama. Agaknya mereka mengeluh soal hujan yang turun tiap hari serta bermacam-macam persoalan hidup lainnya. Namun demikian, tawa pendek dan senda gurau masih terselip di sela percakapan.
Agung Sedayu memilih duduk di agak tengah lalu pemilik kedai mendekat dengan mangkuk wedang hangat tanpa diminta.
“Sore yang cukup meriah,” kata Agung Sedayu pelan.
“Yah, begitulah Ki Sanak. Orang keluar masuk, bergerombol dan berbicara semau mereka,” sahut pemilik kedai ramah.
Agung Sedayu meminum wedang kemudian memesan beberapa jenis makanan ringan.
“Ditunggu,” ucap pemilik kedai lalu bergegas ke dapur.
Agung Sedayu lantas menatap ke arah pintu belakang, mengedarkan pandangan sejenak dan suasana masih seperti saat dia masuk.
Beberapa saat kemudian dua pelayan istana datang. Mereka duduk tidak jauh dari pintu belakang. Kain mereka masih berbau asap dapur.
Saat melihat dua orang itu masuk, Agung Sedayu mengurai kemungkinan yang, menurut pemahaman yang didapatnya selama berhubungan dengan Keraton maupun Kepatihan, sulit dinalar. Seseorang bisa masuk ruang pertemuan saat pembahasan penting sedang berlangsung. Jika itu terlarang bagi prajurit pangkat tertentu, bagaimana seorang pelayan dapat melenggang lalu berdiam sejenak di sana?
Salah seorang dari pelayan berkata di sela-sela sendok yang beradu dengan seporsi lodeh nangka, “Kemarin, apakah kamu tahu orang yang masuk bangsal larangan?”
“Orang yang mana? Kapan? Pagi atau sore?” sahut kawannya yang mungkin berusia tiga puluhan.
Agung Sedayu tidak menoleh dan sikapnya seperti memang tidak mendengarkan dengan sengaja.
“Oh, yang pagi,” kata orang yang memegang sendok. “Waktu ada senapati pasukan khusus Menoreh itu.”
“Kenapa?”
“Aku jarang melihatnya di dapur maupun taman,” lanjut pelayan pertama. “Tiba-tiba saja dia bisa keluar masuk melayani pangeran dan Sinuhun.”
Pelayan kedua memberi isyarat dengan telunjuk agar kawannya tidak melanjutkan ucapannya. “Sudahlah, itu bukan urusan kita.”
Agung Sedayu sadar bahwa tidak mudah untuk menjadi pelayan dalam Keraton maupun Kepatihan. Selain kesanggupan menjaga yang seharusnya tidak keluar dari balik dinding, mereka juga dituntut kesetiaan yang jauh di atas kebanyakan orang. Terlebih lapisan pelayan yang menjaga pangeran dan keluarga dekat raja, itu sudah tentu harus melalui hubungan yang sangat baik.

Andaikata rangga seperti dirinya membawa seorang pelayan sebagai hadiah, orang itu pun belum tentu dapat segera masuk ke lapisan terdekat. Dapur, taman dan gudang pangan adalah tempat kerja yang pasti dijalaninya untuk pertama kali selama beberapa tahun. Baik di Keraton maupun Kepatihan, Agung Sedayu paham bahwa pelayan tidak sekadar bekerja, tapi juga harus dapat menyimpan rahasia. Langkah mereka dan jarak untuk bicara pun mempunyai aturan.
Seorang pedagang di meja lain ikut menyela tanpa sadar.
“Yah, kalau begitu, orang yang kalian maksud tentu bukan pelayan yang sembarang titipan.” Kemudian dia tertawa ringan.
Tiba-tiba suasana mendadak riuh menimpali obrolan dua pelayan tersebut. Sepertinya mereka sudah saling mengenal karena obrolan mengalir tanpa ikatan dan meliuk-liuk dengan selipan bercanda.
Agung Sedayu mengikuti percakapan dengan sikap biasa saja tapi sama sekali tidak turut meramaikan suasana. Pada waktu itu, dia sudah sampai pada kesimpulan: berarti orang itu dapat masuk ke lingkaran terdekat karena dibawa orang dalam. Dia tahu betapa sulitnya mendekati lapisan itu, apalagi sampai memasukinya. Jika demikian, yang dapat membawanya masuk hanyalah pangeran, kaum perempuan terhormat dan satu orang lagi.
Satu per satu orang beranjak, membayar lalu meninggalkan kedai. Agung Sedayu menunggu beberapa saat sebelum berdiri perlahan, memesan beberapa minuman dan juga hidangan, kemudian membayar dan pergi menuju tempat Ki Patih Mandaraka.
Yang terhormat Pembaca Setia Blog Padepokan Witasem.
Kami mengajak Panjenengan utk menjadi pelanggan yang lebih dulu dapat membaca wedaran Kitab Kyai Gringsing serta kisah silat lainnya dari Padepokan Witasem. Untuk mendapatkan kelebihan itu, Panjenengan akan mendapatkan bonus tambahan ;
Buku Kitab Kyai Gringsing (PDF) dan Penaklukan Panarukan. Caranya? Berkenan secara sukarela memberi kontribusi dengan nilai minimal Rp 25 rb/bulan melalui transfer ke BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831
Cara yang demikian juga turut menjaga keberlangsungan pengembangan blog Padepokan Witasem.
Demikian pemberitahuan. Terima kasih.
Malam turun lebih pelan di halaman Kepatihan. Lampu-lampu minyak dipasang berjajar rendah, cahayanya tidak berani menantang gelap. Air turun dari langit dalam jarak yang mulai berjauhan. Sedikit tapi tetap membasahi permukaan jalan.
Di Kepatihan, perubahan atau pergantian orang tidak cukup sering dilakukan jika dibandingkan dengan Keraton. Sehingga penerimaan prajurit jaga pun terasa berbeda. Bukan untuk dijadikan perhatian khusus tapi memang itu adalah keadaan yang cukup wajar.
Agung Sedayu mendekati gardu jaga kemudian melompat turun dari kuda. Dia berencana akan menginap semalam di Kepatihan. Itu kebiasaan lama dan para prajurit di Kepatihan pun sudah menganggap senapati pasukan khusus itu sebagai bagian dari mereka. Tak ada yang aneh.
“Ki Rangga,” sapa seorang penjaga yang terlebih dahulu melihat kedatangan Agung Sedayu. “Selamat malam.”
Agung Sedayu mengangguk ramah, lalu menyerahkan dua bumbung berisi wedang jahe dan sereh yang dibelinya dari kedai. Kebiasaan yang juga belum berubah.
Penjaga yang lain maju, menghormat lalu menerima bingkisan dari Sedayu. Kemudian berkata, “Saya antar Ki Rangga ke dalam. Ki Patih sudah memberi pesan seperti itu sejak beliau tahu Ki Rangga berada di kotaraja.”
Agung Sedayu mengangguk. Tak lama kemudian mereka berjalan berdampingan menuju tempat yang sudah disiapkan Ki Patih Mandaraka. Agung Sedayu masih dengan dirinya yang dulu, dengan dirinya saat gurunya masih hidup: tidak mau berjalan di depan seorang prajurit atau orang yang berkedudukan lebih rendah darinya kecuali dalam keadaan tertentu.
Ki Patih Mandaraka datang ke ruangan itu dengan langkah yang setenang garis-garis wajahnya. Di sampingnya ada Ki Tumenggung Untara yang memegang sebelah lengan Ki Patih bukan dalam maksud menuntun tapi sebuah sikap pada orang tua.
“Sedayu,” sapa Ki Patih. “Duduklah.”
Agung Sedayu cepat meraih punggung tangan Ki Patih Mandaraka lalu membuat penghormatan dengan kepatutan sebagaimana mestinya. Sikap yang sama pun dilakukan untuk menghormati kakaknya, Ki Untara,
Di dalam ruang yang tidak luas, terbentang peta wilayah yang sederhana tapi menyimpan keterangan dan dapat dipahami dengan sangat baik oleh setiap orang memandang.
Cukup lama mereka berbincang ringan, tukar kabar tentang hujan, sawah dan beberapa bagian kehidupan orang-orang di Menoreh. Sekali-kali Ki Untara menyela untuk membandingkan dengan Jati Anom. Agaknya suasana menjadi lebih hangat dan cair ketika Ki Untara berkisah tentang gembala yang ikut bertempur di salah satu sungai di Jati Anom. Bukan kisah yang lucu tapi menyegarkan.
“Sedayu,” ucap Ki Patih Mandaraka kemudian, “bagaimana sebenarnya yang terjadi saat orang-orang mengetahui berita Ki Gede wafat?”
Ki Untara segera menoleh lekat menatap wajah adiknya.
Agung Sedayu sedikit tegang tapi cepat melunak. Jawabnya, “Kedukaan itu menyebar sangat cepat. Berkembang antara percaya dan tidak percaya.”
Ki Patih Mandaraka tidak segera menyahut. “Tidak percaya?” ulangnya lirih.
Agung Sedayu menarik napas panjang. Dia tidak terburu-buru menjawab.
“Orang-orang Menoreh,” kata Agung Sedayu, “terbiasa melihat Ki Gede berdiri dan berjalan di antara mereka. Dalam pertemuan, di pematang sawah, di banjar dan juga regol pedukuhan. Beliau sudah menyatu dalam kehidupan di Menoreh. Maka ketika kabar itu datang, mereka saling bertanya: bagaimana keadaan Ki Gede pada saat terakhir? Itu pertanyaan yang wajar karena mereka masih melihat Ki Gede dalam kesehatan yang cukup baik.”
“Lalu, apakah mereka bertanya-tanya siapa yang akan menjadi penerus Ki Gede?” tanya Ki Untara pada adiknya.
