Pasukan khusus bergerak serempak. Mereka mundur dengan tertib dari sela-sela bangunan, kembali mendekati regol dan bagian luar permukiman, tetapi tidak sepenuhnya melepaskan kepungan pandang. Sikap mereka tetap tenang, senjata terpegang kuat, mata menyapu tiap sudut. Dari tempat itu, mereka melihat sejumlah orang masuk ke dalam rumah-rumah sederhana dan mulai berkemas. Agak lama tapi mereka benar-benar melihat orang-orang asing itu melangkah ke arah jalan keluar permukiman.
Glagah Putih berdesis pelan, “Mereka benar-benar pergi.”
Ki Garu Wesi tidak memberi tanggapan tapi tatap matanya tetap lekat pada pergeseran setiap orang.
Sementara itu, ketika berada di salah satu bangunan di permukiman, Ki Kamejing bergerak cepat mendekati orang-orang lereng Kendil. Suaranya dipelankan, tetapi tegas dan tidak memberi ruang untuk bertanya panjang.
“Dengar baik-baik,” katanya. “Ikuti saranku: berkemaslah seperti orang yang benar-benar hendak pergi.”
Seorang lelaki bertanya, “Apakah kita meninggalkan permukiman ini? Bagaimana Anda dapat bertemu dengan pemimpin kami yang sedang tidak berada di tempat?”
“Tidak,” jawab Ki Kamejing cepat. “Yang pergi adalah kelompokku dan kami akan kembali setelah dua atau tiga hari. Kalian hanya berpura-pura ikut keluar.”
Beberapa orang tampak bingung. Ki Kamejing melanjutkan, “Kalian ambil jalan keluar seperti biasa. Setelah melewati pengamatan mereka, menyimpanglah lewat jalan memutar di balik lalu carilah cara untuk kembali ke permukiman.”
“Bagaimana jika pemimpin kami kembali lalu mendapati tempat ini kosong?” seorang lagi bertanya.
“Berbagilah tugas. Seseorang dari kalian dapat melaporkan keadaan ini pada salah satu pemimpin kalian, “ jawab Ki Kamejing. “Aku akan mengatakan pula pada Ki Astaman dan Ki Garjita jika masih dapat bertemu dengan mereka di Ringinlarik. Tapi pastikan, tempat ini kosong untuk sementara karena mereka harus percaya bahwa tempat ini telah ditinggalkan. Besok atau lusa kita masih dapat menentukan langkah.”
“Kalau mereka menyelidik sampai jauh?” tanya orang Kendil yang lain.
“Biarkan saja. Itu sudah menjadi tugas mereka. Karena itu kalian jangan tampak ragu,” Ki Kamejing menegaskan. “Bawalah apa yang patut dibawa. Langkahkan kaki seperti orang yang memang hendak menyingkir dari bahaya. Jangan menoleh terlalu sering.”
Dia berhenti sesaat lalu berkata lagi, “Kami akan menarik perhatian mereka. Kelompokku berjalan paling jelas terlihat. Kalian ambil jalan memutar setelah lengah pengawasan terbuka.”
Orang-orang lereng Kendil akhirnya mengangguk. Mereka bergegas.
Dari luar, semuanya tampak wajar. Ki Demang Brumbung memperhatikan semuanya. Lalu dia melihat satu demi satu keluar dengan cara yang agak kacau, tapi cukup meyakinkan sebagai sebagai orang-orang yang dipaksa meninggalkan tempat tinggal.
Satu demi satu orang mulai meninggalkan permukiman. Kelompok Ki Kamejing berjalan di antara mereka, cukup menonjol karena sebagian masih bersenjata lengkap. Orang-orang Kendil ikut mengalir keluar, membawa buntalan dan segala yang diperlukan untuk mengelabui penjagaan.
Arus itu makin lama makin panjang.
Pasukan khusus tetap diam di tempat. Tidak ada yang bergerak mengejar. Mereka hanya memandang dengan kewaspadaan penuh.
Ketika orang terakhir mulai keluar dari regol, Glagah Putih berkata perlahan, “Mari kita periksa bagian dalam.”
Ki Demang Brumbung mengangguk lalu memerintahkan lima orang memeriksa setiap bangunan.”
“Semua sudah keluar,” kata salah seorang prajurit.
Ki Demang Brumbung berkata tegas, “Kita tinggalkan tempat ini.”
Pasukan khusus pun bergerak meninggalkan lereng Kendil. Mereka keluar dengan gelar yang tetap rapi. Ki Demang Brumbung menjadi orang terakhir yang memalingkan pandangan dari regol.
Menjelang sore hari, kabar datang dari Jati Anom. Seorang lelaki berperawakan sedang, berpakaian seperti pedagang tampak sedang bicara dengan Ki Prana Aji.
Lelaki yang datang dari Jati Anom adalah Sabungsari—seorang teman yang sudah dianggap bagian keluarga besar Tanah Perdikan bicara dengan nada tenang. Dia mengabarkan bahwa benturan keras terjadi di halaman Perguruan Orang Bercambuk.
Ki Prana Aji mengerukan kening, katanya, “Bagaimana Ki Lurah membawa keadaan itu ke barak? Bukan saya tidak percaya atau mengatakan Ki Lurah salah tempat, tapi pasti ada sesuatu yang sangat penting di balik bentrokan yang … saya kira bukan sekadar arena pertunjukan saja.”
Sabungsari mengangguk pelan, lalu menarik napas panjang. “Ki Prana Aji bahkan tidak salah bila menilai laporan salah tempat.” Dia lantas tersenyum.
Lurah prajurit dari Jati Anom itu berkata lagi,”Sejak kedatangan orang yang memperlihatkan kitab Kyai Gringsing di depan Ki Widura, Ki Tumenggung Untara memerintahkan kami untuk menelusuri lalu merangkai semua keterangan.”
Sabungsari menggeser sedikit sikap duduknya, lalu berkata, “Dari penyelidikan yang kami lakukan, muncul dugaan kuat bahwa keberadaan orang-orang—yang mungkin dapat kita sebut sebagai perguruan— di lereng Kendil itu tidak berdiri sendiri. Ada kemungkinan mereka adalah anak buah Raden Atmandaru, tapi tidak menutup kemungkinan adanya orang-orang yang baru bergabung dengan tujuan ilmu kanuragan.”
Ki Prana Aji menatap tajam, alisnya bertaut semakin dalam. “Dugaan itu bukan perkara kecil, Ki Lurah. Kita tidak dapat mengabaikan seandainya ada kebenaran yang tersembunyi, meski belum pasti.”
Sabungsari menarik napas sejenak,lalu berkata, “Bentrokan itu ketika berakhir, terdengar salah satu dari mereka berkata agar Perguruan Orang Bercambuk Jati Anom datang ke lereng Kendil. Kami menyimpulkan bahwa merekalah yang memancing keadaan ini, Ki Prana Aji. Orang-orang lereng Kendil itu secara terbuka mengeluarkan tantangan.”
Lurah muda Mataram itu berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Bukan sekadar tantangan biasa. Cara mereka menyampaikan, waktu yang dipilih, bahkan sasaran yang dituju—semuanya seperti telah diperhitungkan. Dan kami berhenti pada pemikiran itu, tidak lebih karena setiap prasangka justru akan menjadi jebakan bagi Mataram sendiri.”
Ki Prana Aji mengangguk perlahan tapi dia tidak mengatakan sesuatu. Setelah diam sejenak, dia bertanya. “Apakah kabar tentang benturan itu sudah sampai ke Keraton? Atau setidaknya telah diketahui oleh Pangeran Purbaya?”
Sabungsari mengangguk tanpa ragu.
Ki Prana Aji menambahkan ucapannya, “Kemungkinan besar Ki Tumenggung Agung Sedayu juga telah mendengarnya di Kepatihan.”
“Kami berpendapat seperti itu pula.” Sabungsari menyandarkan punggung. “Oleh sebab itu, Ki Tumenggung Untara memutuskan agar kabar benturan itu disampaikan terlebih dulu pada wakil Ki Tumenggung dan juga Ki Gede Menoreh.”
Sejenak mereka terdiam sambil menunggu kehadiran Ki Rangga Sanggabaya yang sedang merawat Ki Sor Dondong.
Lengkapi Koleksi Anda: Dari Hilangnya Kitab Hingga Kebisingan di Bukit Menoreh
Setelah melalui proses adaptasi dan kreatifitas yang panjang, kami akhirnya merilis bundel lengkap Semesta Kitab Kyai Gringsing. Proyek ini bertujuan untuk membawa nuansa klasik Api di Bukit Menoreh ke dalam format yang sesuai untuk dinikmati di era digital.
Kabar baiknya, Anda kini bisa mendapatkan seluruh seri secara lengkap. Mulai dari penyusupan Sangkal Putung, pertempuran di Geger Alas Krapyak hingga yang terbaru Hari Bising di Bukit Menoreh, semuanya tersedia dalam satu paket.
Caranya? Berupa donasi sebesar 75 ribu. Sebagai gantinya, kami akan mengirimkan seluruh koleksi (Buku 1 – 5) langsung ke perangkat Anda.
*Buku 1 & 2 (Kitab Kyai Gringsing):
*Buku 3 (Geger Alas Krapyak) – diambil dari Bab 6 dengan judul yang sama.
*Buku 4 (Bara di Bukit Menoreh) – diambil dari Bab 7.
*Buku 5 (Hari Bising di Bukit Menoreh) – seluruh isi bab 8
Langkah ini adalah cara kami mengajak Anda berpartisipasi menjaga api dunia persilatan tetap menyala.
Detail Donasi:
BCA 822 0522 297
BRI 31350 102162 4530
Roni Dwi Risdianto
Konfirmasi WA 081357609831 – Naskah kami kirimkan melalui WA
Matur Nuwun
Gagasan Tiga Aliran
Di Dusun Ringinlarik, pertemuan itu berlangsung tanpa banyak orang yang mengikuti. Sebagian orang dari kelompok Ki Kamejing berpencaran—di ladang, di tepi sawah, hingga batas hutan—seolah tidak ada sesuatu yang patut diperhatikan di tempat itu.
Ki Ajar Poh Kecik, yang oleh orang-orangnya dipandang sebagai penentu arah, duduk bersandar pada dinding bambu. Sikapnya tenang, tetapi sorot matanya tidak pernah benar-benar lepas dari dua orang di hadapannya.
Ki Astaman dan Ki Garjita duduk berhadapan, menjaga tata sikap seperti orang yang datang kepada seseorang yang tidak hanya berpengaruh, tetapi juga memiliki kedalaman ilmu yang patut diperhitungkan.
Beberapa basa-basi pun diucapkan sebagai pembuka.
Kemudian Ki Astaman berkata perlahan, “Ki Kamejing datang kepada kami membawa satu nama yang pernah kami dengar, tapi tidak pernah kami duga akan muncul kembali.”
Ki Ajar Poh Kecik tidak segera memberi tanggapan.
“Ki Jambuwok,” lanjut Ki Astaman.
Jari Ki Ajar Poh Kecik yang semula diam di atas meja tampak bergerak sedikit. “Kalian mengenalnya?” tanyanya datar.
“Tidak lama,” jawab Ki Garjita. “Ketika beliau masuk ke perkemahan Raden Atmandaru.”
Kini Ki Ajar Poh Kecik menatap lebih tajam. “Raden Atmandaru, pemberontak yang mati di tangan Agung Sedayu. Tanpa saksi dan tanpa bukti. Hanya satu berita, mati.”
Dia berhenti sejenak lalu berkata lagi, “Sungguh, menghadapi Agung Sedayu itu jelas akan menjadi impian setiap orang dunia kanuragan, Mungkin Kyai berdua pun termasuk juga pada bagian itu.”
Ki Astaman bertukar pandang dengan Ki Garjita, kemudian merendahkan diri. “Siapa kami yang sanggup menerima tekanan Agung Sedayu meski hanya tiga gebrakan? Tentu kami akan terkapar sebelum sepuluh hitungan.”
Ki Garjita mengangguk sambil mengembangkan senyum. Tidak tampak kepura-puraan pada garis wajahnya.
Ki Ajar Poh Kecik menatap bergantian pada dua tamunya dengan sorot penuh arti.
“Baiklah,” katanya kemudian, “kita kembali ke Ki Jambuwok. Berita apa yang Kyai berdua bawa ke tempat ini?”
“Beliau membawa tongkat baja putih,” sambung Ki Astaman, seolah mengingat kembali, “dengan hulu menyerupai kepala babi. Orang mengatakan tongkat itu mirip dengan pusaka Macan Kepatihan, dari panjang dan ukuran.”
Suasana pun hening.
Ki Garjita mengangkat cawan berisi wedang ketumbar, mereguk sedikit lalu meletakkan perlahan.
“Apakah Kyai berdua melihat tongkat itu dengan mata kepala sendiri?” tanya Ki Ajar Poh Kecik sedikit menekan.
Ki Astaman tidak langsung menjawab.
“Tidak pernah sangat dekat,” katanya kemudian. “Menyentuh pusaka Ki Jambuwok tentu saja menjadi sesuatu yang sangat sulit dilakukan. Tapi kami sadar bahwa tongkat itu bukan senjata biasa.”
“Di mana tongkat itu sekarang?”
“Kami tidak tahu,” jawab Ki Garjita cepat tapi penuh kehati-hatian. Dia tahu arti tongkat itu bagi kelompok Ki Ajar Poh Kecik.
“Kami berpisah sebelum keadaan menjadi jelas,” lanjut Ki Astaman. “Menurut kabar yang kami dengar, Ki Jambuwok terbunuh oleh pasukan berkuda Mataram di Kali Tinalah.”
“Pasukan berkuda Mataram,” desis Ki Ajar. Lalu matanya tajam menatap Ki Astaman, dia bertanya, “Apakah itu berarti Agung Sedayu lagi yang membuat kematian Ki Jambuwok terjadi?”
Dua orang yang datang dari lereng Kendil itu mengangguk serempak.
“Meski menyakitkan tapi saya harus katakan terbuka, bahwa kami wajib berterima kasih karena kabar Ki Jambuwok akhirnya menjadi jelas setelah berbulan-bulan tanpa kabar yang kami dengar,” tegas Ki Ajar Poh Kecik.
Ki Astaman mengerutkan kening, demikian pula Ki Garjita.
“Kami bukanlah sekelompok orang yang berasal dari satu jalur perguruan. Saya sendiri, di masa lalu, perguruanku termasuk yang disegani di tlatah Jawa ini,” ucap Ki Ajar,”lalu segalanya berubah ketika Pajang bersikap terlampau lemah di hadapan orang-orang yang terusir dari istana.”
Ki Astaman dan Ki Garjita mengambil sikap yang begitu tenang sebagai pendengar.
“Dan beberapa kawan saya adalah teman seperguruan Ki Jambuwok,” sambung Ki Ajar Poh Kecik. “Akar mereka mungkin jauh lebih tua dibandingkan Kyai berdua. Tapi saya tidak tahu alasan Ki Jambuwok datang dan berurusan di Tanah Perdikan. Jika Kyai berdua ingin membicarakan itu, orang yang tepat untuk diajak bicara adalah Ki Kamejing. Dia adalah orang yang utama di dalam kelompok Ki Jambuwok.”
Ki Astaman mengangguk. Sejenak dia merenung sebelum kembali pada arah tujuan semula. Ucapnya kemudian, “Kami datang bukan saja untuk membicarakan Ki Jambuwok. Tapi kemungkinan untuk sebuah tujuan bersama-sama mengembangkan diri menjadi yang terbaik di tanah Jawa.”
“Bagaimana itu dalam rencana Kyai berdua?” tanya Ki Ajar.
“Di lereng Gunung Kendil telah berdiri dengan segala kekurangannya, Perguruan Orang Bercambuk,” kata Ki Astaman dengan suara datar dan seolah-olah menempatkan perguruannya lebih rendah dibandingkan dua jalur yang diwakili Ki Ajar.
“Pilihan kata yang sangat baik, menurut saya, meski saya yakin Kyai berdua tahu betul bagaimana Kyai Gringsing di masa lalu,” kata Ki Ajar dengan sedikit menyindir.
Dalam benaknya, Ki Ajar Poh Kecik Ki Ajar bertanya, Perguruan Orang Bercambuk, siapa orang kanuragan yang tidak tahu? Hampir semuanya paham bahwa nama itu diturunkan dari Perguruan Windujati.
Dia sadar bahwa Kyai Gringsing bukan sekadar guru tua dengan masa lalu yang berdebu, tetapi seorang yang pernah menorehkan jejak kuat di tanah Jawa. Jejak yang tidak mungkin hanya melahirkan sesuatu yang “penuh kekurangan” seperti yang dikatakan Ki Astaman.
Orang yang benar-benar kecil tidak akan menyebut dirinya kecil dengan cara seperti itu, pikir Ki Ajar.
Kemudian dia berpikir mengenai orang di depannya, apakah dia sedang merendahkan diri atau menyembunyikan sesuatu?
Ki Ajar tahu penggabungan banyak jalur ilmu dapat menjadi sesuatu yang menarik untuk dijalani. Tapi tujuan bersama itu tidak dapat dibangun hanya dengan kata-kata.
Maka selanjutnya, Ki Ajar ingin melihat kesungguhan dua tamunya itu dengan ucapan mereka sendiri. Apakah itu kerendahan hati yang tulus atau sekadar selubung untuk menyamarkan kekuatan yang belum ingin ditampakkan?
Waktu yang digunakan untuk merenung pun dianggap habis untuk dirinya sendiri, setelah menghembuskan napas pendek, Ki Ajar bertanya, “Adakah murid Kai Gringsing yang berada di lereng Kendil?”
Ki Garjita mengangguk. “Saya harap nama yang akan disebut itu tidak membuat Kyai kecewa. Karena kita tahu bahwa Agung Sedayu terlalu sibuk dengan pangkat dan pekerjaannya.”
Ki Ajar menautkan alis, katanya, “Yah, saya dengar dia seorang prajurit Mataram yang bertugas di barak pasukan khusus.”
“Dia kini menjadi tumenggung, Ki Ajar,” Ki Astaman sedikit menerangkan.
Orang kuat, batin Ki Ajar Poh Kecik.
“Jadi, yang berada di Kendil adalah Swandaru?” tanya Ki Ajar memastikan.
“Betul, Kyai,” sahut Ki Garjita. “Swandaru pun mempunyai pengaruh yang tak kalah kuat dan besar dibandingkan Sedayu. Yang membedakan mereka berdua adalah jangkauan.”
Ki Ajar mengangguk. “Jika seperti itu, Perguruan Orang Bercambuk di lereng Kendil tentu tidak dapat dikatakan punya kekurangan karena di belakang mereka ada banyak orang kuat.”
Suasana hening sejenak sebelum Ki Ajar melanjutkan kata-kata. “Lalu, bagaimana dengan yang di Jati Anom? Kami mendengar bahwa Perguruan Orang Bercambuk berada di sana. Jika ada dua nama, itu artinya hanya satu yang pantas diikuti.”
Percakapan seperti mempunyai bentuk dan tegangan yang unik. Tarik dan ulur, mengembang dan menyusut.
“Di lereng Kendil, ada Swandaru yang berguru langsung pada Kyai Gringsing,” Ki Garjita berkata,” di Jati Anom, Ki Widura meski termasuk orang yang mendapatkan pengajaran langsung tapi usianya terlampauh jauh untuk memulai. Orang ini mungkin berada di dasar ilmu keperguruan jadi tidak dapat dibandingkan dengan Swandaru maupun Agung Sedayu.”
“Dan di lereng Kendil, ada orang yang memegang kitab peninggalan,” ucap Ki Ajar. Ucapan itu cukup mengejutkan Ki Astaman dan Ki Garjita hingga punggung dua orang itu sedikit lebih tegak.
“Pengamatan dan pendengaran Kyai cukup tajam,” kata Ki Astaman selang beberapa waktu. “Untuk sementara, kami dapat mengatakan bahwa Perguruan Orang Bercambuk di lereng Kendil mempunyai nilai lebih tinggi daripada Jati Anom.”
Ki Ajar Poh Kecik mengangguk dengan pandangan yang sedikit berubah.
“Aku bayangkan seandainya tiga jalur tua dapat bersatu, memang arahnya akan menuju ke tempat yang Kyai sebutkan,” Ki Astaman berhenti sejenak lalu meneruskan, “menjadi perguruan yang diperhitungkan bila bukan menjadi nomer satu.”
Ki Astaman dan Ki Garjita saling menatap bergantian.
“Apakah itu berarti Kyai setuju dengan gagasan kami?” tanya Ki Astaman pelan.
Ki Ajar Poh Kecik menarik napas dalam-dalam, lalu dengan nada sungguh-sungguh, dia berkata, “Kyai bicara seolah-olah tiga jalur itu mudah dipertemukan.”
Ki Garjita yang menanggapi sesaat kemudian, “Yah, tentu saja bukan hal mudah karena Swandaru pun tidak mungkin bersedia digeser walaupun itu bukan tidak mungkin.”
“Persoalan itu, aku kira Kyai berdua dapat duduk tenang. Kami tidak akan gegabah meminta kedudukan sebagai yang tertinggi. Kami sadar keadaan.,” kata Ki Ajar. “Bagaimana jika Sedayu mencabut dukungan? Tentu Mataram dapat mudah melibas kita semua di lereng Kendil seandainya dia tidak terima dengan keadaan.”
Ki Astaman dan Ki Garjita akhirnya sadar bahwa Ki Ajar Poh Kecik tidak mengetahui keadaan sebenarnya sehingga berpikiran itu: bahwa Sedayu ada di belakang Swandaru. Tapi mereka berdua diam dan memilih untuk tidak mengatakan yang sesungguhnya.
Sebelum suasana membawa tekanan yang sulit ditolak, Ki Astaman kemudian mengalihkan pembicaraan pada hal-hal yang lebih nyata dan segera dapat dipersiapkan.
Pembicaraan pun bergulir ke bagian lain seperti penyediaan bahan pangan dan sebagainya. Mereka bertiga memandang perlu bahwa persiapan tetap harus dilakukan dengan anggapan bahwa penggabungan itu bakal berjalan langgeng.
