Padepokan Witasem
Bab 4 Kabut di Tengah Malam

Kabut di Tengah Malam 3

“Ia mempelajarinya dalam usia belia, dan apakah Angger Kebo Kenanga mendapati kesalahan Jaka Wening saat berlatih Jendra Bhirawa?” Pangeran Parikesit bertanya sambil mempersilahkan kedua tamunya untuk menikmati wedang jahe dan rebusan ubi yang tersaji di atas tikar.

“Saya belum menemukan kesalahan, Paman,” jawab Ki Kebo Kenanga.

“Sebaiknya Kakang lebih memberi perhatian pada anak itu dalam ilmu Jendra Bhirawa,” saran Ki Getas Pendawa.

Ki Kebo Kenanga mengangguk pelan kemudian, ”Ilmu Jendra Bhirawa mempunyai usia dan jalur yang lebih tua jika dibandingkan dengan Cambuk Seketi. Ilmu ini juga mempengaruhi gejolak jiwa orang yang mempelajarinya. Jendra Bhirawa lebih tepat jika dikatakan sebagai ilmu yang luwes karena ia dapat memperkaya ilmu dari jalur lain, tetapi tidak mudah memasukkan unsur baru dalam sela-sela yang mungkin kita anggap sebagai kelemahan Jendra Bhirawa.”

“Aku sependapat denganmu, Angger Kebo Kenanga,” berkata Pangeran Parikesit. Untuk beberapa lama ia terdiam dan menatap wajah kedua orang yang disegani oleh Adipati Hadiwijaya. Berulang kali ia menarik napas dalam-dalam. Ki Getas Pendawa menyadari keadaan yang dialami oleh Pangeran Parikesit, ia mengerling pada Ki Kebo Kenanga seakan-akan meminta persetujuan dari guru Jaka Wening.

Ki Buyut Mimbasara mengedipkan mata lalu berkata dengan penuh keseganan, ”Paman, apakah Paman telah mendengar rencana Sultan Trenggana?”

Pangeran Parikesit memejamkan mata dan menyandarkan punggungnya. Ia mendesah pelan, ”Aku telah mendengarnya.” Kemudian ia terdiam.

Betapapun kebimbangan melonjak di dalam hatinya, namun Pangeran Parikesit tidak menampakkan kebimbangan itu melalui air mukanya. Ia masih begitu tenang dalam diamnya. Sementara itu Ki Buyut Mimbasara dan Ki Getas Pendawa tidak dapat menduga isi hati dan pikiran Pangeran Parikesit. Lalu sejenak kemudian terdengar Pangeran Parikesit berkata, ”Aku tidak sekedar mengetahui rencana Raden Trenggana, bahkan aku telah mengadakan pertemuan dengan beberapa orang dan secara khusus membahas rencana itu.”

Terhenyak kaget kedua orang yang mendengar kata-katanya.

“Apakah Angger Gagak Panji dan Angger Arya Penangsang turut hadir dalam pertemuan itu, Paman?” tanya Ki Kebo Kenanga.

“Angger Arya Penangsang saat itu masih berada di Jipang, hanya Angger Gagak Panji dan beberapa lainnya yang hadir,” jawab Pangeran Parikesit dengan muka datar.

Ki Kebo Kenangan atau Ki Buyut Mimbasara menarik napas dalam-dalam, lalu, ”Saya harap mereka yang lebih muda dari kita dapat menahan diri.”

Ki Getas Pendawa menoleh padanya dan berkata, ”Saya kira paman Parikesit tidak akan membiarkan Angger Gagak Panji dan yang lain membuat keputusan sendiri.” Selintas keresahan membayang di mata Ki Getas Pendawa, ia mendesah, ”Lalu bagaimana tanggapan mereka, Paman?”

“Saat ini Angger Gagak Panji mungkin telah berada di Panarukan. Dan mungkin saja ia telah bertemu dengan kakang Tawang Balun,” jawab Pangeran Parikesit, ”aku kira jika Gagak Panji mau mendengar saran dari kakang Tawang Balun, mungkin harapan kita untuk tidak melihat lagi darah yang tertumpah menjadi kenyataan.”

“Kepergian Gagak Panji ke Panarukan itu apakah atas perintah Anda atau kehendaknya sendiri?” bertanya Ki Kebo Kenangan.

“Angger Kebo Kenanga,” berkata Pangeran Parikesit kemudian, “aku tidak banyak mempunyai waktu untuk hidup lebih lama lagi di dunia ini. Apakah kau masih menduga jika aku menginginkan Demak? Atau mungkin kau lebih mengkhawatirkan keadaan Paman jika Paman terseret keinginan mereka? Ketahuilah Ngger, aku sekarang duduk di Pajang dan menjadi tekadku untuk tidak lagi mencampuri urusan tahta kerajaan.”

“Ah, maafkan aku jika Paman salah mengerti,” sahut Ki Kebo Kenanga perlahan-lahan. “Semenjak Pajang didatangi secara bergelombang oleh prajurit-prajurit Demak, maka saat itu aku sudah memutuskan untuk tidak kembali mengurusi pemerintahan. Lagipula aku telah melihat Angger Jaka Tingkir memang pantas berkedudukan sebagai Adipati.”

Pangeran Parikesit mengerutkan keningnya. Ia melihat Ki Kebo Kenanga duduk menyilangkan kaki dengan tenang. “Kita tidak dalam keadaan untuk menilai kepantasan Jaka Tingkir.”

“Aku mengerti maksud Paman,” berkata Ki Kebo Kenanga. “Maksudku adalah tidak ada lagi keinginan dalam hatiku untuk kembali duduk sebagai penguasa Pajang, sehingga terbesit pertanyaan dalam hatiku tentang alasan Raden Trenggana menyerang wilayah timur.”

Related posts

Leave a Comment