Padepokan Witasem
Bab 4 Kabut di Tengah Malam

Kabut di Tengah Malam 4

“Apakah yang akan Kakang lakukan apabila Anda tahu secara pasti alasan Demak?” bertanya Ki Getas Pendawa.

Ki Kebo Kenanga diam sesaat. Sesekali ia melihat wajah Pangeran Parikesit dan Ki Getas Pendawa bergantian.

“Paman Parikesit,” berkata kemudian Ki Kebo Kenanga, “seperti di masa lalu ketika orang-orang mengabarkan bahwa saya mati terbunuh, seperti itu pula saya meraba dinding bagian dalam sebuah gua. Meskipun sekarang ini saya adalah guru Pangeran Benawa, namun pada waktu yang sama, saya adalah seorang rakyat dari Adipati Hadiwijaya. Kedua hal itu sudah tentu tidak dapat saya lepaskan begitu saja.

“Pertanyaan besar dalam hati saya adalah apakah saya dapat berdiam diri jika kemudian terjadi perpecahan yang merembet hingga Pajang? Kita tidak meragukan kemampuan dan kecemerlangan berpikir para senapati yang berada di sekitar kita, tetapi yang membuat meragu adalah kemampuan untuk mencegah agar tidak terulang lagi peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu. Kita tahu bahwa kemampuan itu telah sirna.”

Pangeran Parikesit mengangguk-angguk kepalanya. Ia menyahut dan berpaling ke Ki Getas Pendawa, ”Lalu, bagaimana pendapatmu, Ngger?”

“Saya mempunyai kecenderungan untuk bergabung dengan mereka. Keputusan yang sulit mungkin harus saya buat karena belum tahu ke mana harus menempatkan kaki. Apakah Kakang Kebo Kenanga mempunyai keberatan?”

“Tentu tidak. Sebagai rakyat yang berada di bawah telapak kaki Adipati Hadiwijaya, tentu sudah menjadi kewajiban kita untuk bergabung dengannya. Namun di sisi lain, mereka yang berseberangan dengan Raden Trenggana adalah saudara-saudara kita juga. Bagaimana dengan kedudukan kita sebagai seorang prajurit?” sahut Ki Kebo Kenanga.

Ki Getas Pendawa menatap wajah Pangeran Parikesit, namun agaknya pendapat Ki Kebo Kenanga adalah ungkapan yang mewakili beban perasaan mereka bertiga. Tetapi ia tidak dapat mengerti alasan Pangeran Parikesit membiarkan saudaranya untuk berkata bebas atas yang terjadi di Demak. Meskipun demikian katanya, “Kakang Kebo Kenanga, agaknya kita masih harus bersabar menunggu perkembangan selanjutnya.”

“Benar katamu, Ngger,” sela Pangeran Parikesit. Katanya, ”Aku telah mendapat berita, besok pagi Angger Hadiwijaya pergi menuju Demak. Maka dengan begitu, sekalipun kita terlibat pembahasan hingga esok pagi tetapi apa yang akan disampaikan oleh angger Trenggana pada menantunya, itu dapat mempengaruhi keputusan yang akan kita buat.”

“Paman Pangeran, sedikit ada penasaran mengenai Gagak Panji,” kata Ki Buyut Mimbasara.

Pangeran Parikesit mengangguk padanya lalu, ”Ia pergi ke Panarukan. Dan agar kau mengerti, Gagak Panji tidak memerintahkan para adipati untuk mengangkat senjata atau melakukan penghadangan bagi prajurit Demak.”

Ki Buyut tertegun sejenak. Sebelumnya ia menduga jika Gagak Panji akan meminta setiap adipati di sepanjang pesisir utara untuk membuat pertahanan berlapis. Sehingga Ki Buyut memperhitungkan jika pekerjaan Demak akan bertambah berat. Selain itu ia juga menyadari jika ia tidak akan dapat hadir di tengah-tengah pasukan Demak.

“Aku tidak ingin setiap keputusan yang kita buat itu lahir dalam keadaan tergesa-gesa. Aku katakan pada kalian tentang alasan Sultan Trenggana mempersiapkan pasukan menuju timur,” Pangeran Parikesit berujar lalu bergeser setapak. Ia melihat Ki Kebo Kenanga menundukkan wajah. Kata Pangeran Parikesit, ”Angger Kebo Kenanga, aku ingin kau lakukan lebih dini pada Angger Hadiwijaya.”

“Mengenai apakah itu, Paman?”

“Agar dapat menahan diri untuk bergerak sebelum mendengar saran dari kita bertiga.”

Ki Getas Pendawa bangkit berdiri dan berjalan pelan. Ia memutar tubuhnya lalu berkata, ”Apa alasan Angger Trenggana itu, Paman?”

Pangeran Parikesit yang berdiri sebelah menyebelah dengan pintu yang berukiran bunga wijayakusuma itu kemudian menjawab, ”Ia menginginkan pengakuan. Tentu kau dapat mengerti jika peralihan sebuah kerajaan akan diikuti dengan tunduknya wilayah yang menjadi bawahan. Namun atas apa yang telah terjadi di masa lalu, Angger Trenggana mungkin melihatnya sebagai perkecualian.” Ia menghampiri Ki Getas Pendawa lalu berkata, ”Aku mempunyai semacam keyakinan jika Angger Trenggana menganggap wilayah timur adalah negeri bawahan Demak, sementara para pemimpin wilayah timur tidak pernah menolak kekuasaan Demak. Setidaknya sampai saat ini.”

Related posts

Leave a Comment