Dilihat 41 kali
Pada waktu menjelang subuh itu, Swandaru bukan lagi orang yang dikenalnya bertahun-tahun lalu, tapi telah menjelma menjadi seorang lawan tangguh yang sanggup memaksanya mengerahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya, menjelma menjadi orang yang dapat mengalahkannya!
Agung Sedayu setahap demi setahap menanjak selapis lebih tinggi. Seiring dengan itu, Swandaru pun menapak ke puncak ilmu yang berada di dalam dirinya. Maka pertarungan itu berlangsung dalam keadaan yang semakin sulit dimengerti karena jarak masih berkisar sepuluh langkah, tapi getar dari benturan dapat dirasakan dalam jarak lebih jauh lagi.
Serangan demi serangan mereka semakin sulit diamati.
Jika sebelumnya orang-orang terhalang oleh suasana gelap, berikutnya halangan itu semakin pekat saat kabut dan muncratan air yang bergulung-gulung ternyata menjadi penghalang yang sangat tebal.
Terlebih lagi air dan kabut kadang-kadang ikut pula bergeser tempat karena mereka tidak lagi sekadar berdiri lalu selangkah bergeser. Langkah-langah kaki mereka mulai beranjak dari tempat semula. Kadang tubuh mereka melompat ke samping, belakang atau depan.
Sejenak kemudian, pertarungan itu membuat Pangeran Selarong dan juga orang-orang yang melihat menjadi terpana ketika terbentuk pula semacam lingkaran yang melapisi dua murid Kyai Gringsing itu.
Yang menarik adalah Nyi Banyak Patra yang memejamkan mata dengan tubuh berayun-ayun ringan di tempatnya berdiri. Apakah guru Kinasih itu sedang menghanyutkan diri pada setiap getaran atau hantaman gelombang tenaga yang dapat dirasakan olehnya? Ini sulit dipercaya karena bibi Pangeran Purbaya ini berada di tempat lebih tinggi dan jaraknya puluhan langkah dari gelanggang Pancuran Watu Item.
Provokasi Ki Garu Wesi pada Agung Sedayu hingga senapati ini tersudut. Baca di sini
Di bawah air terjun.
Agung Sedayu dan Swandaru seakan berlindung di tengah bulatan kabut dan air dengan tetap saling melancarkan serangan-serangan mematikan dari balik tirai lingkaran.
“Luar biasa,” desis Pangeran Selarong dalam hati. Begitu pula orang-orang yang berjarak puluhan langkah darinya. Seandainya tidak melihat sendiri, percaya menjadi sesuatu yang mustahil terjadi dalam diri pangeran Mataram tersebut.
Bagi mereka semua, pertarungan itu seperti perkelahian orang-orang yang mampu mengendalikan semua unsur dari air.
Kabut yang bergulung dan berpilin, berayun seperti cambuk.
Air yang bergelung lalu mematuk seperti seekor ular.
Itu semua adalah pertunjukkan yang pasti sulit hilang dari ingatan mereka dalam waktu dekat.
Merasa cukup dengan pertarungan jarak jauh yang ternyata masih seimbang, Swandaru pun menghentak kecepatan dengan menerjang Agung Sedayu lalu berusaha mengikatnya dalam benturan jarak dekat.
Serangannya sangat mantap dan kuat sehingga dapat dibayangkan betapa keras dirinya mengasah kemampuan.
Kepercayaan diri dan keyakinan Swandaru memang meningkat pesat. Tanpa Kakang Kawah Adi Ari-ari, tanpa ilmu kebal dan tanpa seleret sinar dari mata, seberapa jauh Agung Sedayu dapat bertahan dengan gempurannya? Dia bertanya dalam hati untuk menguji sendiri batas keyakinannya pada kemampuan sendiri.
‘Dalam pada itu’, Agung Sedayu merasakan tekanan yang makin hebat dari Swandaru akibat pemangkasan jarak itu. Swandaru yang sudah meningkatkan tataran ilmunya seolah tidak memberi kesempatan bagi Agung Sedayu untuk menata diri.
Pada jarak setengah lebih dekat, lima langkah, gempuran Swandaru membuat ruang semakin sempit dan sesak. Kabut dan air menjadi semakin rapat. Pernapasan mulai terhalang dengan kerapatan itu. Jika orang biasa ada di sekitar mereka, niscaya orang itu pun akan yang sulit bernapas.
Namun dua petarung hebat itu seolah tidak mengalami kesulitan untuk bernapas di dalam kepungan air dan kabut.
Yang terjadi di bagian dangkal sungai yang menampung luapan air terjun itu memangsemakin menggetarkan. Tidak lagi terlihat gerak tangan yang berputar lembut atau melambai seperti aliran air yang tenang.
Pada saat itu, Swandaru meningkatkan tekanan serangannya sampai ke tingkat yang belum pernah dicobanya sebelumnya. Tangan Swandaru bergerak panjang dan pendek, tegas dan keras seperti batang kayu tua yang telah mengering selama puluhan tahun di bawah terik matahari. Setiap ayunan tidak menyisakan gerak yang sia-sia. Saat dia bergeser, satu pukulan atau tendangan tiba-tiba menyambar kening atau lambung Agung Sedayu. Setiap pergeseran tempat seperti telah dihitung dengan cermat sehingga yang tampak itu seperti Swandaru sedang mengendalikan keseimbangan pertarungan. Seluruh serangannya itu mengandung tenaga cadangan yang sulit digambarkan dengan kata-kata.
Agung Sedayu pun cepat mengubah tata geraknya. Maka dia tidak lagi menggunakan gerak-gerak yang mengalir lembut seperti tarian di beranda istana pada hari tertentu. Sepasang lengan senapati Mataram ini seolah menjadi tongkat baja yang hidup.
Gerakan Perguruan Windujati—yang menjadi sumber utama Orang Bercambuk—tampak sederhana tetapi setiap tangkisan mengandung kekuatan yang mampu membelokkan arus tenaga lawan, bahkan mampu menjadi serangan balik yang berdaya hancur tinggi.
Perubahan pada itu segera mengubah medan pertempuran.
Kabut tidak lagi melenting dan berayun seperti cambuk-cambuk panjang yang saling membelit. Seakan-akan tenaga yang sebelumnya menyebar ke segala arah kini terpusat di sekitar tubuh mereka.
Percikan air tidak lagi terlihat seperti ular yang meliuk-liuk dan mematuk.
Kabut yang mengurung mereka bergetar. Butir-butir air yang melayang di udara terpental menjauh seperti tersapu pusaran angin yang berkekuatan dahsyat. Jika percikan-percikan itu menyentuh dedaunan di sekitarnya, niscaya akan tampak lubang-lubang kecil seakan tertusuk duri.
Maka yang terjadi kemudian bukan lagi pertarungan yang dipenuhi keindahan gerak, benturan dua kekuatan yang sama-sama mampu merusak bagian dalam tubuh.
Setiap serangan yang dilepas olehnya dan kedudukan Agung Sedayu yang sering tampak goyah membuat keyakinan Swandaru semakin besar. Agung Sedayu masih dapat ditekan, masih dapat dipaksa bertahan.
Dia menjatuhkan keputusan cepat: perpendek lagi jarak.
Kabut dan air pun terhisap menjadi semakin rapat akibat benturan ilmu dan pusaran angin yang muncul dari lepasan tenaga cadangan. Lingkaran kabut dan air berubah menjadi ruang tertutup yang sesak dan padat.
Pada permukaan air, lingkaran riak terus bertumbuk dan bertumpuk. Riak-riak itu tidak pernah sempat mereda karena benturan berikutnya telah datang lebih dahulu.
Telapak tangan mereka bertemu sesaat. Swandaru mendorong keras menghunjam ke dada lawannya. Tapi Agung Sedayu telah membaca arah serangan itu. Tubuhnya berputar sedikit dengan lengannya menutup silang. Benturan pun tidak terelakkan.
Dentuman halus kembali menyeruak. Mengguncang permukaan air hingga tampak seperti air yang mendidih tanpa nyala api.
Mereka terpental surut, selangkah, lalu melompat ke belakang sedikit lagi.
Sejenak suasana menjadi sangat mencekam. Kabut kembali berpendar. Air yang kembali menyatu dengan sungai di bawah kaki dua jawara tangguh itu.
Keheningan maut.
Swandaru semakin menyala saat melihat Agung Sedayu berdiri dengan lutut terendam penuh di bagian sungai yang lain. Sedangkan di tempatnya berdiri, permukaan air masih sebatas mata kaki.
Itu perbedaan yang sangat mencolok.
Mereka masih terpisah jarak yang tidak lebih dari lima langkah saja. Dan tentu saja, lutut Agung Sedayu yang terendam akan mengurangi kecepatan geraknya.
Orang-orang tercekat dengan keadaan itu. Tentu saja Agung Sedayu tidak dapat memilih tempat mendarat saat melompat surut. Mustahil pula baginya untuk berdiri tegak tanpa menyentuh permukaan air.
Mereka tahu, dalam perkelahian dengan kemampuan setinggi itu, setiap keterlambatan meski tidak sampai satu kejapan mata dapat menentukan hidup atau mati.
Mereka tahu bahwa orang seperti Agung Sedayu dan Swandaru adalah orang yang mampu memanfaatkan bagian waktu yang nyaris tak dapat diukur itu.
Namun, siapa yang sanggup mengubah keadaan yang tampaknya menguntungkan salah seorang di antara mereka itu menjadi pijakan kemenangan?
Di Sangkal Putung.
Duduk dengan punggung sedikit tertahan di samping Sekar Wangi yang tertidur lelap, Sekar Mirah masih terjaga. Beberapa kali dia memejamkan mata, tapi bayangan dua orang yang sedang saling berhadapan itu masih memenuhi benaknya.
Perempuan itu tidak berharap kemenangan bagi salah seorang di antara mereka. Dia hanya berharap dala cemas agar malam itu tidak membawa penyesalan yang akan membekas sepanjang hidup.
Di kediaman Ki Gede Menoreh.
Pandan Wangi berbaring dengan luka yang masih terasa nyeri pada beberapa bagian tubuhnya. Dia membuka kemungkinan bahwa banyak orang akan memperoleh keuntungan apabila Agung Sedayu atau Swandaru mengalami kemalangan.
Karena itu, dia berharap dalam gelisah tidak ada celah kecil yang dapat dimanfaatkan oleh niat buruk terhadap keduanya dan juga pada Tanah Perdikan.
Pancuran Watu Item
Air masih setinggi lutut Sedayu. Tidak ada yang bergerak.
Swandaru merendahkan lutut sepertinya akan menggunakan perbedaan ketinggian tanah yang dipijak. Agung Sedayu bergerak cepat: memukul badan air dengan arah lontaran percikan ke tubuh Swandaru.
Tapi Swandaru dapat menghindar dengan bergeser selangkah ke samping dengan kening berkerut.
Permukaan sungai yang tadi dipukul oleh tenaga Sedayu belum benar-benar tenang ketika Swandaru menerjang maju.
Menyambar Agung Sedayu seperti rajawali yang berburu anak ayam di tanah lapang. Dalam satu lompatan panjang dia datang dari depan sambil mengayunkan lengan dengan tenaga cadangan siap dilepaskan.
Air kembali pecah di tempat semula.
Agung Sedayu memapas serangan dengan tubuh merendah, dua tangan bersilang, lalu menolakkan serangan ke samping. Angin tenaga cadangan berubah arah lalu ambyar seketika.
Di tengah kemegahan Trowulan, bara konflik yang terpendam kembali membakar ambisi para petinggi kerajaan. Baca mulai dari Matahari Majapahit di SINI. Anda sudah dapat pula menjadikan novel Langit Hitam Majapahit sebagai koleksi dan bacaan yang perlu, kontribusi 75 ribu demi keberlangsungan situs Padepokan Witasem. Versi cetak, 149 hal, 120 rb tidak termasuk ongkir.
