Bab 9 Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 4 – Pangeran Purbaya Sedang Menguji Agung Sedayu?

Di depan bilik kerjanya, Ki Prana Aji telah menunggu. Sikapnya tegak dan tatap matanya seperti sedang mencemaskan sesuatu.

“Ki Tumenggung,” sapanya pelan pada Agung Sedayu yang sudah berada di dekatnya.

Agung Sedayu mengangguk singkat. “Selamat malam, Ki Lurah.”

Pintu terbuka. Belum lama mereka masuk, langkah lain terdengar di belakang. Ki Rangga Sanggabaya menyusul tanpa banyak kata.

Suasana di dalam bilik itu segera terasa meningkat tegang.

Setelah bertukar kabar, Ki Prana Aji membuka percakapan. Dia berkata, ”Baru masuk laporan dari dua pemburu di jalur antara pedukuhan induk dan lereng Kendil.”

Agung Sedayu dan Ki Sanggabaya mendengarkan seksama.

“Mereka melihat seseorang terbujur di bawah rimbun semak. Tapi tidak ada yang berani mendekat.”

Dua orang di depannya tidak segera memberi tanggapan. Mereka hanya bertukar pandang karena bila pemburu Menoreh menjauh maka ada sesuatu yang berbeda dari biasanya. Bukan sesuatu yang biasa, pastinya.

“Mereka tidak mendekat, dan datang ke barak untuk melaporkan?” tanya Agung Sedayu kemudian.

Ki Prana Aji mengangguk, lalu ucapnya, “Mereka sedang menunggu perintah dari barak.”

Pemimpin pasukan khusus itu tidak segera memberikan perintah tapi menoleh pada Ki Sanggabaya seakan memberinya giliran untuk mengucapkan sesuatu.

Ki Sanggabaya berkata dengan nada datar, “Dari Ki  Semangkak. Beliau melaporkan bahwa rombongan yang diusir dari Kendil itu tidak keluar dari Tanah Perdikan. Jejak mereka justru mengarah ke Gunung Kunir.”

Tanpa penjelasan lebih jauh, Agung Sedayu paham bahwa Ki  Semangkak telah memperluas wilayah pencarian tapi justru menemukan keadaan yang lain.

Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara.

Pada keheningan yang singkat itu, bayangan Pancuran Watu Item sempat menyentuh benak Agung Sedayu tapi tidak dibiarkannya tinggal lebih lama. Masih ada hal-hal yang menuntutnya untuk tetap duduk sebagai senapati di tempat yang tidak memberi ruang bagi keraguan.

Agung Sedayu membagi pandangan dengan tatap mata jernih.

“Kita tidak punya kemewahan untuk menunggu,” katanya datar. “Banyak hal yang harus dikerjakan dalam waktu yang singkat meski kita tidak berada di bawah penilaian seseorang.”

Saat akan menambahkan perkataan, seorang prajurit muncul di ambang pintu, meminta izin masuk.

Izin diberikan, dia masuk lalu memberi hormat singkat.

“Ki Tumenggung,” kata prajurit jaga itu. “Sukra memohon izin bertemu. Dia membawa keterangan mendesak.”

Sukra, pikir Agung Sedayu. Pengawal Menoreh itu tidak akan mendatangi barak jika keadaan dianggapnya sudah cukup ditangani sendiri oleh Ki Lurah Sora Sareh atau yang setingkat.

Agung Sedayu mengangguk. “Bebaskan dirinya untuk masuk.”

Tidak lama kemudian, Sukra melangkah masuk dengan wajah tegang,. memberi hormat pada semua orang, lalu berkata singkat, “Ki Lurah. Mayat di tepi jalur. Ki Wedoro Anom.”

Sekejap pandang Agung Sedayu beralih kepada Ki Prana Aji. Keterangan itu seakan menegaskan dugaan yang baru saja disampaikan.

Keadaan di dalam meingkat tegang.

Agung Sedayu tidak menunggu lebih lama. Tatap matanya lurus pada Ki Sanggabaya, ucapnya, “Ki Rangga, dua regu. Jalur Kendil dan Gunung Kunir.”

Sejenak dia berhenti, lalu menambahkan, “Untuk Sukra,  gabungkan dia ke  regu Kendil. Sedangkan Gunung Kunir, Glagah Putih berada di depan dan sertakan Sayoga di dalamnya.

Ki Sanggabaya bergerak cepat. Menentukan prajurit yang dianggap paling tepat, tapi tidak termasuk yang sudah mendapatkan tugas perondaan ketiga. Lantas membagi mereka ke dalam dua kelompok sesuai arah yang telah ditentukan. Regu Kendil diisi oleh orang-orang yang telah mengenal medan lereng dengan baik, sementara untuk jalur Gunung Kunir, ia memilih prajurit yang tangguh dan terbiasa bergerak senyap di rimba.

Setiap regu tetap harus melibatkan pengawal Menoreh. Ini adalah perintah tegas Agung Sedayu. Maka setiap tugas yang bersingunggan dengan keselamatan atau bahaya, pengawal Menoreh tetap dianggap sebagai yang terbaik dalam pengenalan medan.

Tidak ada yang membantah. Setiap nama yang disebut segera bersiap, menerima tugas tanpa banyak tanya. Dalam waktu singkat, dua kelompok itu pun terbentuk—rapat, teratur, dan siap bergerak sesuai perintah.

Regu yang dipimpin Ki Prana Aji bergerak lebih dahulu. Bersama Sukra sebagai penunjuk jalan yang sangat mengenal jalur itu, mereka memotong beberapa belokan dan tiba lebih cepat dari perkiraan.

Di bawah cahaya temaram oncor kecil, mereka menemukan Ki Wedoro Anom tidak jauh dari tepian semak yang rapat. Tubuh itu terbaring miring, sebagian tertutup daun-daun kering yang diletakkan seadanya.

Beberapa prajurit saling berpandangan, tetapi tidak ada yang segera mendekat.

Agung Sedayu datang tidak lama kemudian. Dia berjalan mendekat, menyingkirkan satu dua ranting yang menghalangi, membuka seluruh tanaman atau daun kering yang menutup tubuh beku itu..

Dilakukan asal, tebak Agung Sedayu saat menyingkap tanaman yang menutupi jasad. Dia berjongkok, seorang prajurit mendekat sambil membawa oncor.

“Ki Wedoro Anom,” desis seseorang pelan, nyaris seperti tidak percaya.

Agung Sedayu tidak menanggapi. Pandangannya menyapu tubuh itu dengan lebih teliti. Tidak ada tanda-tanda perlawanan yang mencolok. Senjata masih ada. Sabuk dan kelengkapan prajurit pun tidak tersentuh.

Justru itulah yang mengusik. Pemimpin pasukan khusus ini memandang jasad Ki Wedoro Anon dari bagian wajah hingga kaki. Lantas tangannya bergerak pelan, memeriksa bagian tubuh yang tertutup pakaian luar. Kosong.

Agung Sedayu berhenti sejenak.

Sesuatu telah diambil dari tubuh itu—bukan sesuatu yang bernilai bagi pemburu atau orang dusun, tapi sangat berarti bagi mereka yang tahu.

Dia berdiri perlahan. Lencana sandi atau simbol keprajuritan hilang. Pandangannya cukup lama terpusat pada sebatang pohon sebelum menghela napas panjang.

Agung Sedayu melangkah mundur, memberi tanda pada Ki Prana Aji agar mulai merapikan jasad dengan segala sesuatunya sebelum dibaringkan sementara di barak pasukan khusus.

Namun untuk sejenak, Agung Sedayu mendekati Ki Prana Aji, membisikkan sesuatu. Ki Prana Aji mengangguk lalu Agung Sedayu pun meninggalkan tempat itu terlebih dulu.

Jasad sudah mendapatkan perlakuan pantas, regu pencari segera membawanya ke barak. Tapi Sukra dan dua prajurit mendapatkan perintah susulan. Mereka bertiga ditugaskan untuk untuk bertahan dengan jarak tertentu: berjaga di sekitar jalur tersebut. Maka tiga orang itu harus dapat menyamarkan keberadaan atau sedikit menjauh dari sana.

Sukra pun membawa dua prajurit itu ke bagian sungai. Menurutnya, pengawasan dapat dilakukan tanpa harus memperlihatkan diri atau didengar karena gemericik air dapat menjadi tabir yang berisik.

Berbeda Sukra yang lincah berlompatan di antara batu-batu di sungai dangkal itu, dua prajurit khusus agak lambat mengikuti. Tapi mereka pun dapat mencapai tempat Sukra menunggu—di atas bagian miring sebuah batu sebesar kerbau. Dari tempat itu, setiap  orang atau menjangan yang melintasi tempat mayat ditemukan tadi, pasti dapat terpantau.

Ikuti kisah Dyah Murti di Sang Maharani

Regu yang ditugaskan ke lereng Gunung Kunir tidak berangkat melalui jalur utama. Setelah keluar dari barak, mereka lebih dulu berbelok menuju rumah Agung Sedayu untuk menjemput Sayoga.

Tidak banyak kata yang terucap. Sayoga segera bergabung,

Glagah Putih mengambil jalan yang agak menyimpang dari jalur utama. Pemimpin regu itu memberi isyarat singkat. Mereka memasuki jalur sempit yang hanya dipergunakan pada siang hari untuk mencari rumput atau kayu bakar saja. Pemburu pun jarang melalui jalan itu karena sedikit yang dapat dibidik. Hanya ayam hutan dan garangan saja yang kebanyakan melintasi jalur itu, kata orang-orang.

Meski saat itu adalah malam bulan purnama, tapi pepohonan rapat menutup pandangan dan suasana tiba-tiba menjadi gelap. Kelompok Glagah Putih mereka menyisir tepi luar hutan yang seakan mempunyai batas seperti garis setengah lingkaran.

Dalam perkiraan Glagah Putih, melalui jalur itu dan dengan kecepatan gerak mereka maka setidaknya regu akan tiba selatan lereng Kunir saat lingsir malam.

Saudara sepupu Agung Sedayu itu lantas merapatkan telapak tangannya ke permukaan tanah. Mengerahkan bagian lain ilmu Panjer Bumi untuk untuk menangkap getaran-gerakan yang merambat jauh di depan mereka.

Bumi berdenyut lalu seakan memberitahu Glagah Putih tentang tempat yang di atasnya ada kelompok yang sedang dibayanginya. Bagian tanah yang menjadi tempat berkumpul paling banyak orang, arah perondaan yang paling mungkin menuju kelompoknya, dan letak para penjaga di sekelilingnya; sudah tentu tiga perihal itu dilakukan oleh orang-orang yang diusir dari Lereng Kendil.

Glagah Putih sadar pengenalannya pada Tanah Perdikan tidak akan sebaik yang diketahui Sayoga. Sejenak dia berbicara singkat dengan Sayoga: tentang jalur dan gambaran lingkungan perkemahan kelompok yang dilaporkan Ki Semangkak.

Di depan Glagah Putih, Sayoga mengatakan yang diketahui mengenai lingkungan yang dimaksud. Agak lama kemudian, kesepakatan pun dicapai.

Sebelum mengirim regu Glagah Putih, Agung Sedayu menduga ada maksud tertentu di balik permintaan Pangeran Purbaya agar dirinya memberitahu waktu keberangkatan ke Tanah Perdikan.

Mungkin Pangeran Purbaya sedang mencurigai seseorang dan itu bisa dirinya. Atau juga putra Panembahan Senapati itu ingin membuktikan sesuatu melalui dirinya?

Dua kemungkinan itu muncul dalam pikiran tumenggung Mataram itu. Dan hanya satu orang yang dapat mendekati permukiman gelap melalui jalan paling aman. Dia adalah Glagah Putih.

Setelah memperoleh gambaran kasar tentang letak gerombolan itu dan keterangan lain dari Sayoga, Glagah Putih lalu membagi tugas. Tiga orang, termasuk Sayoga sendiri, diperintahkannya mengawasi jalur-jalur yang paling mungkin digunakan orang-orang asing apabila bergerak meninggalkan tempat itu.

Termasuk di antara perintah itu adalah Sayoga akan menjemput dua prajurit itu pada saat matahari sudah berada dalam kedudukan tertentu. Bila tidak, dua prajurit yang menjadi bagian pasukan khusus itu besar kemungkinan tersesat dan itu sangat berbahaya!

Glagah Putih kemudian bergerak seorang diri. Dengan sangat hati-hati menyusup di antara pepohonan, mendekati batas yang menurut perhitungannya masih mungkin dilakukan tanpa menarik perhatian.

Dalam tugas itu, Agung Sedayu memberi pesan tegas: hanya melihat tanpa mendekat.

Berbekal pesan kakak sepupunya itu, maka Glagah Putih tidak berniat memasuki lingkungan yang dicurigai. Baginya, melihat dan mendengar sedikit lebih jelas sudah lebih dari cukup.

Karena itu Glagah Putih memilih menunggu hingga malam lewat jauh dan hari mulai terang. Dia menempati bagian tersembunyi di balik rumpun ilalang yang tumbuh rapat di tepi tanah menurun menuju parit kecil yang alirannya sudah terdengar.

Menurut Sayoga, hampir tidak ada orang yang turun melalui tempat itu. Bahkan para pemburu pun jarang melewatinya. Rumput yang meninggi sampai sebatas dada menyamarkan lekuk tanah, lubang-lubang sempit, dan turunan curam yang sewaktu-waktu dapat mencelakakan orang yang tidak mengenal keadaan.

Tempat itu justru memberi keuntungan bagi Glagah Putih. Dari sela batang ilalang dia masih dapat mengawasi sebagian gerak di dalam gerombolan itu, sementara dirinya sendiri nyaris tidak mungkin terlihat, kecuali oleh orang yang benar-benar mencarinya dengan sengaja.

Hari menjadi semakin terang ketika seekor kuda tiba-tiba menarik perhatian Glagah Putih.

Dari arah dalam gerombolan itu, seseorang tampak datang sambil menuntun kuda berwarna gelap melalui celah di antara rumpun-rumpun perdu. Beberapa orang lain yang berada tidak jauh dari tempat itu segera berdiri seakan memang telah menunggu kedatangannya sejak lama.

Glagah Putih menajamkan pengamatan. Dia belum lupa sepenuhnya. Ada Ki  Wira Sentanu di dalam kelompok orang yang diusir dari lereng Kendil. Tempat Glagah Putih memang memungkinan dirinya melihat kepergian Ki Wira Sentanu sesuai pada arah yang sudah dijaga oleh Sayoga dan dua prajurit. Sebuah kebetulan yang tentu diharapkan oleh Glagah Putih adalah Ki Wira Sentanu melintasi jalur Sayoga.

Setelah yakin penglihatannya tidak salah, Glagah Putih masih menunggu tanda berikutnya: pergerakan matahari sebelum dia meninggalkan tempat pengintaian.

Di sungai dangkal yang dipenuhi batu-batu sebesar kepala kerbau, air mengalir jernih di sela-selanya memantulkan cahaya bulan yang jatuh di permukaan arus. Kabut tipis mulai turun dan bergerak rendah di atas air membuat tepian sungai seperti akin tipis berlapis-lapis.

Waktu terasa berjalan cukup lambat di bawah purnama yang terhalang kabut.

Terdengar kemudian suara orang bercakap-cakap dari arah yang berlawanan dengan aliran sungai. Mula-mula tidak jelas, tapi semakin lama percakapan itu terdengar tapi sedikit demi sedikit tampaknya suara itu semakin dekat.

Sukra menahan napas. Dua prajurit yang bersama dengannya pun saling bertukar pandang. Mereka bersiaga.

Kisah Terkait

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 3 – Jejak Kyai Gringsing Membawa Mereka ke Menoreh

kibanjarasman

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 2 – Ki Wira Sentanu Tidak Sendiri Ketika Agung Sedayu Menjadi Sasaran Dendam

kibanjarasman

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 1 – Ancaman Baru Mengguncang Tanah Perdikan

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.