Bab 9 Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 5 – Anak Dusun Perbukitan Menoreh

“Aku menemukan pliridan di sini,” terdengar seseorang berkata tidak terlalu jauh dari tempat mereka bersembunyi.

Hampir bersamaan dengan itu terdengar kecipak air ketika beberapa orang bergegas mendekati suara tersebut.

 “Mana?”

“Yang ini?”

“Oh, masih baru.”

Suara-suara itu segera disusul gumaman pendek bernada puas setelah sekian waktu belum mendapatkan tangkapan.

 Sukra menyipitkan mata. Dari sela batu dan kabut tipis di atas sungai, dia melihat beberapa bayangan membungkuk di tepi arus dangkal. Salah seorang di antara mereka mengangkat tangan sedikit lebih tinggi, memperlihatkan sesuatu kepada kawan-kawannya.

Sukra segera teringat pada pliridan itu. Beberapa hari sebelumnya dialah yang memasangnya di sungai dangkal itu, tetapi sampai saat itu dia belum sempat memeriksanya kembali karena perintah untuk mengawasi jalur penghubung antara lereng Kendil dan pedukuhan induk.

Karena itu dia tetap diam ketika melihat salah seorang dari orang-orang itu memegang benda lonjong yang baru diangkat dari dalam air.

“Isinya ada?”

“Entahlah.”

“Ada.”

Setelah mengeluarkan ikan yang terjebak di dalam pliridan, orang itu lalu mengangkat tangan tinggi-tinggi lantas membanting benda lonjong itu ke atas batu.

Suara pecahnya terdengar pendek dan keras di sela gemericik air.

Sukra masih menahan diri. Rahangnya mengeras ketika bayangan orang itu berjongkok, membolak-balik pecahan pliridan dengan ujung senjata pendek di tangannya.

Baru ketika benda itu benar-benar hancur dan isinya tumpah bercampur air sungai, mata Sukra menyala tajam dalam gelap.

Tiba-tiba Sukra meloncat dari balik batu persembunyiannya. Dengan langkah-langkah lebar dia berlari menerjang arus dangkal menuju kelompok pencari ikan itu.

“He!” teriaknya penuh kemarahan. “Siapa kalian?”

Orang-orang itu terkejut. Beberapa segera berpaling sambil meraih senjata mereka, sementara yang lain mundur setapak dari batu tempat pecahan pliridan masih berserakan.

Sukra menunjuk tajam ke arah benda yang baru saja dihancurkan.

“Siapa yang merusak pliridan itu?”

Sejenak suasana menjadi tegang. Namun kemudian terdengar seseorang, yang mungkin usianya tidak terpaut jauh dari Sukra, tertawa pendek dengan nada menghina.

“Pliridan?”

Anak muda itu melangkah maju sambil memicingkan mata kepada Sukra. “Sejak kapan sungai ini punya pemilik?” katanya sinis. “Ada bocah dusun datang mengaku itu miliknya?”

Tiga kawannya ikut tertawa.

“Kalau memang milikmu, buktinya apa?”

Sukra menyadari bahwa dia tidak dapat menunjukkan bukti. Pliridan itu memang buatannya, tetapi tidak ada tanda yang dapat dipakainya untuk memaksa orang-orang itu mengakui.

Karena itu Sukra hanya bisa diam dengan wajah menahan marah.

Dua prajurit yang sejak tadi ikut bersembunyi pun melangkah turun ke sungai. Pakaian yang dikenakannya memang tidak berbeda dari penduduk kebanyakan, sehingga mereka tampak seperti orang dusun biasa yang kebetulan berada di tempat itu.

Salah seorang prajurit dapat menahan diri, katanya, “Kalau memang mau mengambil isinya, ambillah. Tetapi tidak perlu merusaknya.”

Orang-orang itu berpaling kepadanya.

Prajurit itu lalu menunjuk pecahan pliridan di atas batu. “Membuat benda seperti itu tidak mudah. Lagi pula, orang yang memasangnya tentu berharap dapat memakainya lagi.”

Seorang lain di kelompok pencari ikan mendengus pendek. “Kalau takut rusak, jangan dipasang di sungai.”

Mendengar cara orang-orang itu berbicara, Sukra menangkap logat yang tidak biasa bagi penduduk di sekitar sungai itu. Karena itu dia segera bertanya, “Kalian berasal dari mana?”

Anak muda yang sejak tadi paling banyak bicara menoleh sambil menyeringai tipis. “Kenapa?” katanya. “Sungai ini juga milik dusunmu?”

Kawan-kawannya tertawa.

“Atau setiap orang yang lewat harus lebih dulu meminta izin kepadamu?”

Jawaban itu sama sekali tidak memuaskan Sukra. Bahkan nada mereka terdengar semakin meremehkan.

Wajah Sukra pun memerah. Apakah dia mampu menahan amarahnya yang akan meledak?

“Kalau bukan karena keadaan malam ini,” katanya geram sambil melangkah maju, “aku sudah mengajari kalian cara menghargai orang lain dan menghormati tempat yang kalian datangi.”

“Mengajari kami?” anak muda itu balas menyahut dengan nada menantang.

Belum lagi kata-katanya selesai, Sukra sudah menerjang.

Orang itu pun segera menyambutnya.

Dalam sekejap benturan keras meledak di tengah sungai dangkal. Air muncrat membasahi batu-batu ketika kedua orang itu saling serang tanpa ada keinginan untuk penjajagan.

Prajurit dari pasukan khusus yang mengiringi Sukra pun tak ingin ketinggalan. Mereka menerjang maju, mengikat tiga orang dalam satu pertarugnan sengit. Meski kalah dari segi jumlah, tapi ketangkasan dan kesigapan anggota baru pasukan khusus itu lebih dari cukup untuk sekadar mengimbangi lawan mereka.

Rahayu

Bagi sederek yang ingin mengoleksi novel pdf “Penaklukan Panarukan atau Toh Kuning”, dapat dilakukan dengan kontribusi Rp75.000 per judul.

Kerelaan Anda memberikan kontribusi dengan cara membeli karya kami berarti turut menjaga keberlangsungan blog ini tetap dapat diakses secara gratis.

Beriringan dengan itu, bagi sedulur yang membutuhkan file kemasan PDF Kitab Kyai Gringsing 1-5 agar lebih nyaman dibaca secara offline, silakan langsung menghubungi Admin blog melalui WhatsApp di [SINI].

Matur nuwun

Benderang purnama seperti menjadi tanda bahwa alam merestui pertempuran kecil itu terjadi.

Anak muda yang menjadi lawan Sukra itu tidak kepalang tanggung: menyerang Sukra dengan sebatang dahan yang menyerupai tongkat tapi tapi tidak benar-benar lurus. Namun demikian, Sukra dengan gerakan sederhana ternyata mampu membuat lawannya kesulitan mengembangkan kemampuan.

Ujung tongkat itu seakan mempunyai mata ketika terus  mengejar Sukra dengan patukan dan sengatan yang sangat kuat. Ketika sebuah sabetan datang mendatar, menyambar searah pinggang, Sukra melenting surut lalu membalas serangan dengan gerakan yang sulit dimengerti!

Sukra tampak begitu lincah seakan-akan sepasang kakinya tidak menyentuh air ketika menghujani lawan dengan tendangan beruntung—seperti tendangan tanpa bayangan karena sedemikian cepat dan sangat deras.

Mereka berhenti sesaat, terpisah jarak mungkin kurang dari lima langkah.

“Sombong!” seru anak muda itu yang tak kalah tangkas saat melepaskan diri dari Sukra yang menekan sangat kuat.

“Aku memang sombong tapi bukan penakut seperti dirimu yang  cengeng seperti anak kecil membawa kentongan saat hari belum gelap,” sahut Sukra dengan nada tajam.

Anak muda itu mengerutkan kening. Dia baru sadar bahwa Sukra ternyata tidak memegang senjata. Lalu, ketika tongkatnya terasa seperti membentur benda keras, apakah itu tulang lengan Sukra? Dia berpikir keras.

“Mana mungkin anak dusun itu mempunyai ilmu kebal,” katanya dalam hati.

“Tongkatmu itu sama sekali tidak ada gunanya buatku,” kata Sukra sambil membusungkan dada. “Gantilah senjatamu itu dengan benda tajam kalau kau bisa memainkannya. Pedang, keris, apa saja yang kau dapat gunakan. Lalu, kau akan tahu aku memang sangat sombong.”

Wajah anak muda itu tampak makin tegang. Dia belum menemukan jawaban dari betapa keras. Sepasang matanya melirik ke lingkar pertarungan yang lain.

Tiga kawannya tampak kerepotan membuat keseimbangan. Dua prajurit pasukan khusus yang menemani Sukra itu berkelahi dengan cara yang biasa dilakukan di barak saat berlatih. Bertempur berkelompok dengan menitikberatkan pada sebaran jarak. Kadang mereka berpencaran dan berjauhan, lalu kembali merapat tanpa dapat dihadang jalurnya.

Tempaan di barak seakan mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan latihan-latihan yang selama ini dilakukan. Mereka, dua prajurit itu, yang berjumlah lebih sedikit justru mampu menyudutkan lawan yang berjumlah seorang lebih banyak.

Dengan penjalin berukuran dua kali panjang anak panah, dua prajurit Mataram itu mendesak lawan mereka ke bagian sungai yang sedikit sempit.

Air sungai yang semula tenang dan jernih pun berubah keruh oleh pijakan kaki dan tubuh yang jatuh bangun seperti kawanan kerbau berebut kubangan.

“Sial!” umpat seorang pendatang itu saat sadar bahwa mereka hampir tidak ada celah untuk keluar dari tekanan.

Seorang pendatang terjengkang lebih dahulu ketika pukulan mendatar menghantam pelipisnya, sedang kawannya mundur limbung dengan lengan gemetar menahan sakit.

Dua prajurit Mataram tidak memberi kesempatan sedikit pun. Penjalin mereka bergerak cepat seperti baling-baling yang sanggup  memukul, menyabet, menebas datar lalu menutup setiap jalan lolos. Perlawanan para pendatang gelap itu berantakan,

Yang terjadi selanjutnya adalah penjalin di tangan dua pasukan khusus itu bergantian menggebuk lawan mereka yang berjumlah tiga orang.

Rahang anak muda itu mengeras sebelum pikirannya menemukan jawaban atas tandang Surka. Dia mengerutkan kening kemudian ketika mendapati kenyataan bahwa lawannya lebih sering menggunakan tangan sebagai alat bertahan.

Mengangguk sebentar lalu  anak muda itu segera mengubah tata geraknya. Dia tidak lagi memburu Sukra dengan tusukan-tusukan pendek tapi mulai memainkan tongkatnya dengan putaran yang aneh dan sukar ditebak.

Senjata tumpul itu mendadak bergerak meliuk-liuk dalam ayunan panjang yang menyerupai ular lapar sedang mencari celah untuk mematuk. Kadang melingkar rendah di dekat lutut, lalu dalam sekejap menyambar ke arah dada dan leher.

Namun Sukra seolah tidak terpengaruh. Dia justru makin menguatkan tekad akan menjajal sentuhan yang diajarkan Kyai Bagaswara beberapa waktu yang lalu.

Tubuhnya berkelebat ringan menghindari setiap sambaran dengan perkiraan yang membuatnya seolah telah mengenali arah serangan bahkan sebelum tongkat itu berubah arah!

Beberapa kali sambaran lawan hanya dapat menyambar bayangan tubuh Sukra yang telah berpindah tempat. Di atas batu-batu sungai yang licin, Sukra tetap bergerak ringan seperti seekor kijang gunung.

Namun Sukra tidak pernah berniat untuk menghindar seterusnya. Dia hanya menunggu waktu yang tepat sebelum benar-benar melakukan serangan yang dapat menjadi penutup pertarungan seru itu.

“Hanya inikah yang bisa kau lakukan? Menghindar? Mengapa? Takut kena gebuk?” Anak muda itu menyeringai dengan keinginan bahwa kawannya boleh kalah, tapi dia akan membuat perhitungan sendiri setelah menumbangkan Sukra.

Tapi harapannya adalah harapan yang meleset jauh. Ternyata ketika mulutnya kembali mengatup, tiba-tiba Sukra telah menggenggam ranting pendek di tangan. Oh, rupanya dia menempatkan ranting seukuran ibu jari itu di sepanjang lengan hingga rapat menempel ke siku, sehingga nyaris tidak terlihat oleh lawannya. Dan ternyata melambarinya dengan tenaga cadangan sehingga menjadi cukup keras setiap menerima hantaman lawan!

Di antara terkejut yang tiba-tiba menyeruak di dalam dadanya, anak muda itu juga merasa gelisah karena lawannya ternyata berkelahi tidak pada tingkatan yang diduganya.

Betapapun anak muda itu mempergunakan segenap kecepatan dan tenaga, tapi Sukra sudah menentukan waktu untuk membalikkan serangan. Maka demikianlah kemudian sentuhan-sentuhan ranting mulai menyakiti anak muda itu.

“Ini gila,” desis anak muda dalam hati. Satu keadaan yang membuatnya merasa lega adalah tiga ora  gyang mereka hadapi tidak menggunakan senjata tajam. Maka nyawa mereka pasti akan tetap tinggal pada malam itu.

Anak muda itu mengeraskan hati meski kenyataannya rasa panas menjalar pada lengan dan pundaknya setiap kali ranting pendek di tangan Sukra menyentuh tubuhnya.

Sukra tidak menghantam keras seperti tongkat pemukul tapi setiap sentuhannya terlihat seperti tepukan pelan. Hanya saja akibatnya memang tidak mengenakkan.

Anak muda itu merasakan bahwa setiap bagian yang tersentuh serasa terbakar lalu kaku perlahan-lahan.

Dia meloncat surut sambil memutar bahu.

“Setan…” geramnya lirih.

Di hadapannya, Sukra berdiri tenang lalu membuang ranting itu.

Sikap Sukra benar-benar menjengkelkan hati anak muda itu. Dia menjadi gelap mata, meraung pendek lalu menerjang lagi.

Kali ini serangannya datang bertubi-tubi. Tinju dan tendangan menyambar dari berbagai arah, memecah udara malam di bawah bayang pepohonan.

Tandang Sukra pun berubah seketika. Sebelumnya dia berlompatan lincah tapi kali ini dia hanya bergeser sejengkal demi sejengkal, menghindar pendek lalu mendorong kepala anak itu.

Tak jarang Sukra berputar cepat lalu tiba-tiba berada di belakang musuhnya kemudian kakinya mendorong pinggang lawan tanpa tenaga.

Dari lingkar perkelahian di samping mereka, terdengar erang kesakitan dan umpatan kasar ketika dua prajurit Mataram itu berpesta pukulan-pukulan yang tidak melukai tapi menyakitkan hati.

Anak muda itu menoleh sebentar ke arah kawan-kawannya yang terdesak hebat.

Sukra melihat celah, menyusup masuk. Tangannya memukul pangkal paha, berturut-tutur ke bagian atas hingga terakhir hempasan ke dada membuat anak muda itu terjengkang.

Dengan tubuh terkapar di permukaan sungai, tangannya mengusap wajahnya yang ternoda pasi, matanya jalang menatap Sukra lekat-lekat.

“Pergilah, bawa tangkapan dari jebakan yang tidak kau pasang,” kata Sukra. Dia beranjak pergi sambil mengajak pula dua prajurit Mataram yang sudah berhenti berkelahi.

Tiba-tiba Sukra menghentikan langkah lalu berbalik.

Katanya agak lantang, “Jika kau masih ingin membuat rusuh, aku tidak akan melarangmu. Bawalah kawan lebih banyak lagi dan pastikan mereka lebih mampu darimu. Anak-anak dusun di Menoreh pasti senang memberi kalian pelajaran kanuragan.”

Anak muda itu mendongak dengan napas memburu. Kemarahannya makin menyala. Dia berjanji dalam hati akan melakukan seperti tantangan Sukra padanya.

Kisah Terkait

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 2 – Ki Wira Sentanu Tidak Sendiri Ketika Agung Sedayu Menjadi Sasaran Dendam

kibanjarasman

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 4 – Pangeran Purbaya Sedang Menguji Agung Sedayu?

kibanjarasman

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 1 – Ancaman Baru Mengguncang Tanah Perdikan

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.