Padepokan Witasem
Bab 6 Lembah Merbabu

Lembah Merbabu 2

Perlahan namun pasti Pangeran Benawa mampu mengurai simpul otot dan sarafnya satu demi satu hingga akhirnya ia dapat menggeliat. Sejenak kemudian ia berdiri dengan lutut gemetar karena pengaruh ilmu Kiai Rontek belum sepenuhnya hilang dari tubuhnya.  Meski begitu, ia mencoba  beringsut,  membelah belukar agar dapat mendekati lubang besar yang berada beberapa belas langkah di hadapannya.

Sambil bersandar pada mulut gua yang besar, Pangeran Benawa menajamkan pendengaran. Penglihatannya telah dibatasi oleh kabut yang menangkup lembah. Sejumlah masa kemudian, ia menyimpulkan bahwa di dalam gua tidak ada makhluk yang membuatnya takut. Maka dengan penuh percaya diri, ia mengayun kaki memasuki gua itu dengan mantap.

Anak lelaki itu duduk bersandar pada dinding gua yang lembab. “Air,” desisnya ketika punggung terasa basah. Walau demikian ia terlindungi dari angin malam yang datang menyusur celah sempit di lereng Merbabu. Udara pegunungan yang dingin terasa menusuk hingga bagian dalam tubuhnya. Pangeran Benawa merasakan tulang kaki dan tangannya seperti diremas oleh tenaga yang tidak terlihat. Dalam waktu itu, rasa lapar datang mendera putra kandung Jaka Tingkir dan melilit bagian dalam perutnya.

Sejauh mata memandang, Pangeran Benawa hanya melihat bentuk-bentuk hitam yang menjulang tinggi. Bintang terasa dekat untuk diraihnya namun rasa damai saat melihat bersihnya langit tidak mampu menyingkirkan derita Pangeran Benawa.

Terbayang di pelupuk matanya wajah tenang Ki Buyut Mimbasara dan ayahnya, lalu ia berdesah pelan, ”Aku tidak akan kalah, Eyang. Aku akan berkawan dengan semua yang ada di sini.”

Pangeran Benawa mencoba mengalihkan rasa lapar dengan mengulang olah gerak yang ia pelajari dari Ki Buyut Mimbasara. Dengan merapatkan kedua lututnya pada perut, ia membaringkan tubuh pada lantai goa. Sekejap kemudian, Pangeran Benawa mulai mengatur napas di tengah-tengah udara dingin dan rasa lapar yang sangat terasa perih pada lambungnya. Ia memusatkan budi dan rasa saat keadaan sulit menimpanya.

Berawal dari ruang ingatan yang ia miliki, Pangeran Benawa memulai pembukaan olah gerak satu demi satu dengan tertib. Bintang semakin enggan berkelip dan mereka semakin redup ketika Pangeran Benawa menuntaskan sebuah rangkaian ilmu dalam benaknya.

Tubuh yang awal mulanya meringkuk, kini terasa hangat dan Pangeran Benawa merasakan keanehan. Betapa udara dingin dan rasa lapar seolah lenyap darinya. Namun ia kemudian menyadari bahwa kegiatan yang ia lakukan ternyata mampu mengurangi derita.

Kini ia mencoba untuk memberanikan diri mengenali watak ilmu Jendra Bhirawa. Pangeran Benawa yang mendapat pengajaran langsung oleh Ki Buyut Mimbasara pun bangkit berdiri. Namun sebelum ia menyelami lebih dalam tentang ilmu tingkat tinggi itu, Pangeran Benawa bergeser lebih dalam menyusur goa.

Selangkah, dua langkah ia merayap maju, tidak ada yang dapat ditangkap oleh bola matanya. Suasana begitu gelap sehingga keadaan di dalam goa membuatnya tidak dapat melihat bahkan bagian tubuhnya sendiri. Pangeran Benawa hanya dapat memastikan bahwa dinding goa teraliri air saat tangannya meraba dinding goa. Ia akhirnya dapat memastikan bahwa bagian tengah goa terdapat satu atau dua tiang yang juga teraliri air. Pangeran Benawa dapat memperkirakan bagian yang runcing pada bagian tengah, lalu meminumnya dengan bantuan telapak tangannya.

“Aku tidak dapat menyusur lebih jauh. Apalagi keadaan basah di bagian ini bukanlah pertanda baik untuk ditempati sementara waktu,” desahnya dalam hati. Lantas ia kembali ke tempatnya semula.

Tubuh Pangeran Benawa sedikit lebih bertenaga setelah tenggorokannya basah oleh air dari dalam goa. Pangeran Benawa yang kemudian duduk bersila, kini mencoba mengurai ingatan tentang Jendra Bhirawa. Sebuah ilmu yang sebenarnya sangat sulit dikuasai namun kecerdasannya dan kesabaran Ki Buyut Mimbasara membimbingnya, membuat ilmu puncak itu dapat dimengerti oleh putra kandung Mas Karebet itu.

Related posts

Leave a Comment