Padepokan Witasem
Bab 3 Membidik

Membidik 48

“Sepahit apapun kenyataan, kita harus dapat menerima.” Agung Sedayu menenggelamkan mata, ketika ia mengangkat wajah, ia berkata, “Dalam perkelahian itu, adi Swandaru terkulai dan tak banyak gerakan yang dapat dilakukan olehnya kecuali tergeletak.”

“Lalu apa yang kau lakukan pada waktu itu?”

“Nyi Demang, saya tidak dapat banyak membantu. Bukan saya membela diri tetapi saya juga terikat perkelahian satu-satu. Bahkan…” Agung Sedayu tidak melanjutkan penuturannya. Sejenak ia berdiam diri dengan bibir mengatup rapat. Hanya bayang sedih yang menaungi wajahnya.

“Lalu bagaimana, Agung Sedayu?” Rasa marah yang mungkin telah berbaur dengan gelisah terpancar jelas dari getar suara Nyi Demang.

“Nyi Demang, suka atau tidak suka, saya harus mampu menyelamatkan diri sebelum mengambil alih keadaan adi Swandaru. Maka dari itu, saya hanya dapat memandang dan menyaksikannya berada dalam kerubung para pengeroyok. Buruknya, mereka atau seseorang membawa adi Swandaru pergi dari tempat itu. Awalnya saya menduga Swandaru mampu merayap lalu menjauhi lingkar perkelahian, tetapi semuanya kemudian berubah. Saya tidak mendapati tubuh Swandaru. Saya telah mencari ke banyak arah setelah tewasnya musuh.”

“Kalau memang demikian, kalau benar seperti itu keadaannya, maka tak ada gunanya lagi hidup tanpa dapat melihat wajah Swandaru terakhir kali. Untuk apa? Hah, untuk apa lagi aku menunggu kedatangan anak lelaki satu-satunya? Lihat, lihat keadaanku sekarang! Setiap senja selalu menunggu langkah kakinya menuju serambi belakang, ia lakukan itu hanya untuk menyapa dan mengambil tanganku. Lalu, lalu…Oh Swandaru!” Parau suara Nyi Demang menyayat kalbu mereka yang berada di ruang tengah. Pandan Wangi tak mampu menahan air mata yang telah tertahan begitu lama. Begitu pun Sekar Mirah yang berulang kali mendengarkan berita buruk yang datang beruntun. Kedua bahu Sekar Mirah berguncang hebat.

“Oh, tidak, tidak, engkau tidak boleh larut, Mirah.” Nyi Demang mendadak teringat bahwa Sekar Mirah tidak lagi berbadan tunggal. “Mirah, tidak boleh ada luka di dalam perasaanmu. Tidak pula engkau boleh bersedih terlalu lama.”

“Tidak, Ibu,” ucap Sekar Mirah sambil mengusap air mata. “Berita buruk dan perlakuan jahat sebagian orang di Menoreh tidak akan membuatku terluka. Anak saya akan sanggup menunggu agar dapat melihat wajah ayahnya.”

Begitu perkataan itu sampai di pendengaran Agung Sedayu, lelaki itu tersenyum pahit. Dipandangnya permukaan tanah yang padat, kemudian ia bangkit dan menghampiri Sekar Mirah. Katanya sambil memijat bahu Sekar Mirah dan membelai rambutnya, “Persoalan ini belum selesai.”

“Ya, Kakang.”

Sesudah itu, Agung Sedayu menuju ujung meja. Ia berdiri di antara Sekar Mirah dan Pandan Wangi. Raut wajahnya telah memperlihatkan ketangguhannya telah kembali. Ya, Agung Sedayu beranjak bangkit dari kemunduran yang sempat dilewatinya.

“Saya meminta perhatian untuk rencana yang akan saya uraikan sebentar lagi.” Agung Sedayu tegak dengan segala keanggunan dan kehebatan yang memancar dari dua matanya. Ia berpikir keras tentang siasat yang akan diungkapkan, tentang rencananya agar, satu, ia dapat mengumpulkan pemimpin pengawal kademangan, dan dua, melindungi Sangkal Putung dari kehancuran.

“Sama sekali tidak berarti saya mengabaikan setiap perasaan, tetapi keadaan Sangkal Putung dalam bahaya.”  Ia memandang setiap pasang mata yang tengah lurus menghadapnya.

Sekejap kemudian Ki Demang menghela napas, kemudian katanya, “Suka atau tidak suka, engkau harus mengatakannya. Bagaimanapun Swandaru adalah anakku, tetapi bila Sangkal Putung sedang dalam bahaya maka semestinya kita harus bergerak. Aku kira itu pun akan dilakukan oleh Swandaru.”

“Ki Demang berkata benar. Aku pun meyakini bahwa Swandaru akan marah bila kita berpangku tangan dalam penyesalan. Sementara kita tidak mengetahui nasibnya, tetapi aku dapat merasakan gejolak hatinya karena akulah yang melahirkannya. Swandaru masih hidup, aku percaya itu.” Nyi Demang menggerakkan bibir dengan ketegasan yang tersirat dalam nada suaranya. Sekilas ia melihat Agung Sedayu termenung, lalu ia bertanya, “Angger Sedayu, apakah engkau sedang menunggu Sekar Mirah?”

Sebenarnya bukan kebetulan bila Agung Sedayu terpaku dan seolah-olah sedang termenung. Ia sedang memperhatikan guratan yang berada di atas permukaan meja. Semacam garis melingkar atau segi yang tidak beraturan tengah memikat pikirannya. Meski raut wajahnya terlihat tenang, pertanyaan Nyi Demang tetap membuatnya terkejut dalam hati.

“Oh, Mirah?” tanya balik Agung Sedayu sedikit tergagap. “Tentu, tentu saja. Saya berpikir tentang Sekar Mirah dan kandungannya.”

Related posts

Leave a Comment