Padepokan Witasem
Bab 6 Lembah Merbabu

Lembah Merbabu 30

“Kemarilah, kucing besar. Aku akan menjadi makananmu yang paling nikmat,” desis Pangeran Benawa yang tiba-tiba muncul keingingan dalam hatinya untuk meniru gerak binatang buas yang menjadi lawannya. Maka kemudian Pangeran Benawa bertingkah aneh karena gerak-geriknya sekilas mirip dengan harimau loreng yang menjadi lawannya. Yang terjadi berikutnya adalah pertarungan aneh antara seekor binatang buas dengan manusia yang bertingkah mirip seekor harimau. Dua tangan Pangeran Benawa membentuk tata gerak seperti dua kaki depan harimau loreng. Tubuh Pangeran menggeliat dan tampak menari dengan loncatan-loncatan yang tidak teratur tetapi terlihat sebagai satu rangkaian yang mengalir lancar.

“Apakah kau kebingungan?” seru Pangeran Benawa. Perlahan-lahan keadaan hatinya berubah. Ia menjadi riang. Seperti menemukan kembali yang ia rindukan selama ini. Kawan untuk bermain.

Tanpa mengurai kesiagaan, Pangeran Benawa dengan nyaris sempurna berhasil meniru setiap gerak harimau besar yang sepertinya adalah pemangsa paling buruk di kawasan hutan itu. Tak lama kemudian, keduanya saling memutar, saling mengamati dengan tatap mata yang sama-sama tajam. Setiap kali harimau itu mengaum, Pangeran Benawa membalasnya dengan lengkingan bernada tinggi. Setiap mereka beradu nada suara, maka pergerakan keduanya pun terhenti sesaat. Seolah mereka saling menjajagi kemampuan lawan masing-masing. Dalam waktu itu, mereka membenturkan kekuatan dengan cara mengeluarkan suara-suara yang mampu mengguncang jantung dan membuat orang menjadi kehilangan keberanian.

Matahari beranjak turun dari punggung Merbabu.

Ketika itu Pangeran Benawa mulai mengerahkan tenaga inti yang bersumber dari ilmu Jendra Bhirawa. Kekuatan, yang tanpa disadarinya, telah menjadi berlipat ganda. Jauh melampaui cantrik tertinggi di padepokan Ki Kebo Kenanga. Lonjakan tenaga yang meledak begitu hebat pun terjadilh! Hentakan tenaga itu secara tiba-tiba berayun dahsyat dan mampu mencapai Ki Kebo Kenanga yang berada ribuan tombak dari tempatnya bertarung melawan kucing hutan besar.

“Wayah Pangeran!” desah pelan Ki Buyut dengan alis bertaut, tetapi dalam sekejap ia larut dalam keheningan cipta. Mendadak Ki Kebo Kenanga membuka mata dan raut tidak percaya jelas memancar dari paras wajahnya. Ia seperti tidak percaya dengan suasana yang mendadak berubah. “Benarkah tenaga ini berasal dari Jaka Wening? Ini adalah Jendra Bhirawa. Jika bukan Getas Pendawa, lalu siapa lagi? Paman Parikesit tentu tidak sembarangan menghentak ilmu ini.”

Kedahsyatan tenaga Pangeran Benawa bergetar sangat hebat melalui udara bebas.

“Meskipun aku belum yakin atau meragukan pemilik tenaga luar biasa ini, tetapi bagaimana bila benar itu adalah Pangeran Benawa? Sungguh. Ini adalah keajaiban bila tenaganya dapat meningkatkan sedemikian hebat!” Ki Buyut lantas menyentak lambung kuda lalu berderap menuju celah sempit yang terletak di antara Merbabu dan Merapi. Ki Buyut mengingat dengan baik tingkatan ilmu yang dimiliki putra Adipati Pajang itu, oleh karenanya, ia mempunyai keyakinan bahwa Pangeran Benawa akan dapat bertahan dari serangan binatang buas atau cuaca sekalipun sangat buruk. Tetapi ia benar-benar terkejut setelah mengenali unsur tenaga yang terpancar keluar dari lingkar pertarungan hidup mati Pangeran Benawa.

Sayup-sayup Ki Buyut mendengar suara lengkingan anak kecil dan aum dahsyat. Ketika itu Pangeran Benawa dan harimau loreng saling membelit dan berbenturan. Akibat yang ditimbulkan dua suara yang hebat itu memang cukup dahsyat. Binatang-binatang berlarian sejauh puluhan tombak dari tempat mereka berhadapan. Pergumulan suara itu terdengar sangat menakutkan bagi para penghuni hutan kecil yang mengelilingi padang rumput yang terletak di celah Merapi.

Dengan ketinggian ilmunya, Ki Kebo Kenanga dapat menilai kedudukan pertarungan. Tak jarang auman harimau mampu menghimpit lengking nyaring Pangeran Benawa. Sekali-kali Pangeran Benawa mampu menggulung suara harimau. Pada waktu itu, Ki Kebo Kenanga berdecak kagum dengan kemampuan yang ada dalam diri cucunya. Senyum lebar menghias raut muka teduh Ki Buyut. Ia memang layak untuk merasakan kebahagiaan, bahkan ia seperti mendapatkan karunia yang jauh melampaui harapannya. Ia semakin yakin bahwa Pangeran Benawa adalah pemicu gelombang hebat tenaga yang berasal dari Jendra Bhirawa. Wajahnya semakin berseri-seri saat menyaksikan cucunya bertkelahi dengan tata gerak seekor harimau dan lawannya adalah harimau yang dua kali lebih besar dari tubuhnya. Namun Ki Kebo Kenanga memutuskan untuk tidak membantu atau melerai perkelahian aneh itu

Related posts

Lembah Merbabu 9

kibanjarasman

Lembah Merbabu 8

kibanjarasman

Lembah Merbabu 7

kibanjarasman

Lembah Merbabu 6

kibanjarasman

Leave a Comment