Padepokan Witasem

Tag : cerita silat kerajaan Jawa

Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 20

kibanjarasman
Ki Patih Mandarakan tidak dapat membiarkan dirinya terus menerus berada di bawah maut yang ditebar Ki Sekar Tawang melalui Kiai Plered. Sulit untuk bertahan dengan...
Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 19

kibanjarasman
“Aku pikir tidak baik dengan membiarkan Agung Sedayu mati dengan jiwa melayang- layang mengitari kademangan. Baiklah, aku penuhi kehendakmu,” kata kawan Ki Tunggul Pitu dengan...
Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 18

kibanjarasman
Perhatian Agung Sedayu dan Ki Patih Mandaraka sulit teralihkan meski udara yang menggema di dalam telinga mereka makin jelas terdengar seolah suara bergumam. Keadaan sangat...
Bab 2 Penolakan

Penolakan 1

kibanjarasman
Pada pekan-pekan yang silam, ketika peperangan di Sumur Welut mendekati usai, sekelompok orang dalam jumlah yang cukup banyak bergerak menjauhi kotaraja. Iring-iringan ini merupakan pasukan...
Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 17

kibanjarasman
Agung Sedayu mengendapkan napas, udara begitu halus masuk dan keluar dari rongga hidungnya, pada saat itu pikirannya benar-benar menimbang keselamatan Ki Patih Mandaraka. Ia tidak...
Bab 1 Bulan Telanjang

Bulan Telanjang 20

kibanjarasman
Aku mengira tenaga mereka lebih kuat dan lebih besar dari yang tergambar dalam ruang pikiranku. Kecepatan yang dimiliki para penyerangku pun sepertinya setara denganku. Dalam...
Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 16

kibanjarasman
“Rupanya pertemuan ini memang dirancang Agung Sedayu agar Anda mempunyai rasa iba  padanya,” kata penggenggam Kiai Plered yang jelas mendengar percakapan dua orang di depannya....
Bab I - Dua Utusan

Dua Utusan 8

kibanjarasman
Ki Swandanu lalu melanjutkan, ”Memang benar seperti yang dikatakan Angger Bondan. Saya maksudkan adalah memang benar ada perubahan akibat dari pengaruh orang-orang besar. Semenjak kehadiran...
Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 15

kibanjarasman
Detak jantung Agung Sedayu meningkat tajam. Bibirnya mengatup rapat dengan rahang terlihat mengeras. Meski demikian, belum ada keinginan darinya untuk membantah. “Benarkah ucapan itu, Ngger?”...
Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 14

kibanjarasman
Agung Sedayu menggeleng dan hanya menggeleng. Mungkinkah hanya bahasa itu yang dikuasainya? Perhatian suami Sekar Mirah tertuju pada kata-kata orang pertama penghadang mereka. Pikirnya, keberadaan...