Padepokan Witasem
arya penangsang, pangeran benawa, silat pajang, demak
Bab 9 Panarukan

Panarukan – 3

Gempita semangat para senopati kian menggelora. Kekuatan tekad mereka terlontar melalui ungkapan-ungkapan yang diucapkan. Tangan terkepal menggapai udara. Lantai dan dinding ruangan pun bergetar seakan ikut menjadi saksi kedahsyatan tekad yang terpancar dari para punggawa Blambangan itu.

Pintu ruangan kemudian terbuka lantas dua orang menyusul masuk ke bagian dalam. Para senopati Blambangan semakin keras dan menggetar menyatakan kesiapan mereka tatkala Hyang Menak Gudra dan Adipati Surabaya, disertai Ki Tambak Langon yang muncul di belakang mereka berdua, melangkah di tengah mereka dan. Para senopati itu telah mengenal baik orang yang berjalan dengan kepala menunduk. Tak terkecuali Ki Rangga Gagak Panji yang merasa seperti mendapat kelonggaran untuk bergerak. Kehadiran Ki Tambak Langon seolah menjadi minyak yang menyiram api semangat yang telah menggelora hebat. Ia dikenal sebagai prajurit sandi tetapi lebih sering membebaskan dirinya dari paugeran keprajuritan untuk berada dalam pergaulan rakyat biasa. Kehebatannya disebut-sebut nyaris menyamai Pangeran Tawang Balun. Oleh karena itu para punggawa Blambangan semakin percaya diri menghadapi Demak yang mempunyai persenjataan lebih lengkap.

Cukup lama para punggawa Blambangan mengumandangkan bait syair yang mampu menjaga asa mereka. Bahkan Hyang Menak Gudra pun lirih bersuara mengikuti bait syair yang digelorakan oleh para punggawa yang dipimpin oleh Tumenggung Arya Silo Sanen, murid dari sebuah padepokan kecil yang tersohor yang terletak di Alas Kumitir.

“Kita tak boleh berada dalam keadaan jumawa. Sikap itu akan menghancurkan segala sesuatu yang kita miliki saat ini, dan pula jumawa akan membinasakan segala manfaat yang mungkin akan kita terima di masa mendatang,” berkata Hyang Menak Gudra setelah para punggawa usai berbait syair.

Lantas ia mengemukakan rencana yang telah disusun bersama Suro Adijaya, orang kepercayaan Adipati Surabaya. Tidak seorang pun bersuara ketika dua orang itu bergantian menjelaskan siasat yang akan mereka gunakan apabila angkatan perang Demak telah berada di wilayah lepas pantai. Beberapa kali mereka mengambil masa untuk istirahat dan memanfaatkan waktu dengan berbagai pembicaraan yang berasal dari banyak sudut pandang.

Saat tengah malam baru saja berlalu, keputusan Hyang Menak Gudra dan seluruh bagian rencana telah disepakati secara bulat. Pertemuan panjang yang melelahkan itu membuahkan hasil yang benar-benar melegakan setiap hati senopati. Mereka mendapatkan kesempatan yang sesuai dengan kemampuan prajurit bawahannya dan mereka akan menyampaikan hasil pertemuan itu setelah tiba di barak masing-masing.

Hari berjalan dua langkah dan berlalu tanpa terlihat adanya kesibukan yang luar biasa di Panarukan. Ti-dak ada tanda-tanda prajurit Blambangan tengah melakukan persiapan. Bahkan pelabuhan Panarukan pun masih berlangsung kegiatan bongkar muat oleh para pedagang yang sering melawat ke luar pulau. Meskipun mereka tahu bahwa angkatan perang Demak sedang mendekati wilayah mereka, namun para saudagar tetap bersikap seperti yang diminta oleh Hyang Menak Gudra.

Sore itu nyaring bunyi peluit yang berasal dari menara pengawas. Siul peluit yang dibunyikan dengan nada tertentu menjadi pertanda bagi para prajurit untuk bergegas menyusun pertahanan seperti perintah Hyang Menak Gudra. Tetapi tidak ada kekacauan yang ditunjukkan oleh para saudagar karena mereka telah bersiap sebelumnya. Kegiatan saudagar Blambangan yang banyak melintasi samudera menjadikan mereka lebih mudah mengamati perkembangan di atas perairan. Beberapa saudagar dari luar pulau telah mengabarkan kebe-rangkatan laskar perang Demak. Oleh karena itu mereka telah membuat persiapan matang untuk menjalankan perdagangan mereka dari pelabuhan yang berbeda. Tetapi Hyang Menak Gudra meminta mereka tidak mengosongkan pelabuhan Panarukan secara keseluruhan. Permintaan yang disampaikan dengan kerendahan hati mendapat tanggapan dari para saudagar : mereka tidak keberatan dengan kemauan pemimpinnya. Dan selanjutnya mereka tetap menggunakan pelabuhan Panarukan untuk peralihan barang dagangan yang berumur panjang seperti kerajinan tangan dan logam yang diolah.

Hyang Menak Gudra telah mendapat laporan mengenai kedatangan armada perang Demak yang dipimpin secara langsung oleh Raden Trenggana. Setelah menimbang beberapa pendapat, ia bergegas menuju barak pasukan yang berada di pelabuhan. Rakryan Tumenggung Ra Kayumas, Ki Rangga Gagak Panji dan Mpu Badandan sedang memimpin pertemuan para senopati ketika Hyang Menak Gudra tiba memasuki ruangan.

“Apakah Anda bertiga telah menjelaskan pada mereka mengenai rencana kita dalam peperangan kali ini?” bertanya Hyang Menak Gudra.

Related posts

Panarukan 6

kibanjarasman

Panarukan 5

kibanjarasman

Panarukan – 4

kibanjarasman

Panarukan – 2

kibanjarasman

1 comment

Merebut Mataram 6 - Padepokan Witasem 27/06/2021 at 09:13

[…] “Kita tak boleh berada dalam keadaan jumawa. Sikap itu akan menghancurkan segala sesuatu yang kita miliki saat ini, dan pula jumawa akan membinasakan segala manfaat yang mungkin akan kita terima di masa mendatang,” berkata Hyang Menak Gudra setelah para punggawa usai berbait syair. Pangeran Benawa ; Panarukan 3 […]

Reply

Leave a Comment