0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 37 – Puncak Perang Tanding Paling Mematikan

Dironda101 kali

Ini seperti pertarungan yang sedang menginjak lapisan terakhir setelah melampaui benturan yang berbeda pada dua kesempatan.

Dalam waktu itu, Agung Sedayu seakan sedang bertempur melawan sesuatu yang sama cepat dengan pergerakannya. Geraknya tetap ringan, tetapi pada setiap putaran tubuh selalu ada bekas yang tertinggal. Pada bahu, pada rusuk, pada punggung yang sesekali tersingkap oleh kain yang melekat karena basah. Air membuat pakaian itu menempel rapat sehingga setiap lecet kecil menjadi jelas, setiap goresan seolah menjadi lebih panjang dari kenyataannya.

Swandaru menggertakkan gigi dan memaksa tubuhnya tetap tegak. Agung Sedayu pun seakan sudah melupakan rasa pedih. Mereka bergerak terus—dan pada saat itu sulit untuk menimbang: siapa yang terpojokkan?

Pangeran Selarong adalah termasuk orang yang sedang mengalami kesukaran membuat penilaian. Dia tahu Agung Sedayu mempunyai kecepatan yang dahsyat, tapi pertarungan itu berjarak sangat dekat jika menilik dua senjata mereka. Lantas, bagaimana Agung Sedayu justru seolah sedang mempersulit dirinya?

Keningnya berkerut ketika mencoba mencari jawaban, pada jarak yang dibatasi oleh gaya tempur Agung Sedayu  ternyata Swandaru justru dapat mengimbangi kecepatan gerak kakak seperguruannya. Jadi, dengan cara bagaimana Agung Sedayu dapat berdiri sebagai orang terakhir dalam perang tanding?

Tapi dia juga kesulitan untuk tetap lekat mengamati gelanggang Agung Sedayu karena lingkar perkelahian di dekatnya juga sedang bergolak hebat.

Pangeran Selarong tidak begitu mengenal Ki Garu Wesi meski seperti pernah melihatnya di Watu Sumping. Tapi keadaan di dua tempat itu, Watu Sumping dan Pancuran Watu Item, tidak memberinya keyakinan. Selanjutnya dia berpegang pada satu hal saja; orang yang menggantikannya itu sedang berusaha menjaga tatanan perang tanding.

Sementara itu di tempat yang berbeda, Glagah Putih mengikuti dua pertarungan itu dengan seksama tapi tidak benar-benar seimbang dan tenang.

Ketinggian ilmu Ki Garu Wesi belum pernah disaksikannya secara langsung dan juga kedudukannya sebagai tahanan tidak  membuat Glagah Putih tenang. Bagaimana jika Ki Garu Wesi hanya berpura-pura mencegah saja sambil menunggu kesempatan berikutnya datang untuk melibas Sedayu?

Dari sisi lain, Glagah Putih juga tidak mengenali orang yang merusuhi perang tanding. Melihat tandang orang itu berkelahi dengan Ki Garu Wesi, sepupu Agung Sedayu sadar bahwa dia tidak yakin dengan kendali pertarungan.

Dalam lingkaran perkelahian Ki Garu Wesi, perusuh itu cepat menarik senjatanya—kapak pendek yang kemudian menyerang musuhnya dengan putaran yang mendengung seperti lebah yang mengamuk.

Ki Garu Wesi terkejut. Dia mengenali bentuk senjata itu. Pikirannya cepat berjalan ke masa lalu. Secepat kilat dia melompat jauh kemudian berdiri tegak.

“Senjatamu itu,” ucap Ki Garu Wesi. “Apakah Ki Sanak berasal dari kelompok Ki Kebo Surongudan?”

Orang itu mengangguk lalu berkata, “Orang yang kau sebut namanya itu telah terbunuh, mati di tangan Agung Sedayu. Aku datang untuk berhitung ulang dengannya.”

“Agung Sedayu sedang terlibat pertempuran sendiri,” kata Ki Garu Wesi. “Ki Sanak dapat menunggu jadi tidak perlu berbuat curang.”

“Aku tidak mempunyai banyak waktu lagi,” katanya lalu menerjang dahsyat ke arah Ki Garu Wesi.

“Sial!” umpat Ki Garu Wesi.

Pertempuran itu pun kembali berkobar dengan cara yang lebih menggetarkan. Kapak pendek Ki Warujayeng seperti sedang meluapkan amarah membabi buta, tetapi tidak dengan cara yang ngawur. Pengungkapan tenaga cadangannya sangat hebat. Setiap sambaran dan putaran kapaknya mengeluarkan dengung rendah berkepanjangan yang menimbulkan rasa geli di dalam dada.

Itu bukan geli yang lucu tapi sesuatu yang terasa menjalar di antara saraf rongga dada sehingga terasa ada gelitikan.

Ki Garu Wesi mengernyitkan kening dalam laga keras itu. Pengungkapan tenaga cadangan cepat dilakukan oleh lawannya termasuk pula tata gerak yang sangat sulit ditebak arahnya. Hentakan-hentakan kuat dan cepat yang dilontarkan oleh lawannya tidak dapat dipandang sebelah mata.

“Ini jauh lebih sulit dan keras dibandingkan perkelahian di lereng Kendil,” ucap Ki Garu Wesi dalam hati.

Sebenarnyalah tingkat kemampuan Ki Warujayeng sedikit berada di bawah Ki Garjita. Namun itu bukan berarti dia adalah lawan yang mudah dikendalikan oleh Ki Garu Wesi. Bahkan yang terjadi justru sebaliknya. Lingkar perkelahian itu sama sekali tidak dapat dijadikan jaminan yang lebih tinggi dapat mengalahkan orang di bawahnya.

Ki Garu Wesi belum berhasil mendesak Ki Warujayeng karena serangan demi serangan lawannya itu seolah tidak mempunyai celah untuk diterobos.

 “Sukra bisa selamat karena orang ini pasti mempunyai rencana tertentu,” katanya dalam hati.

Benar, Ki Garu Wesi sudah banyak mengetahui pertempuran di perkemahan utara yang dipimpin langsung oleh Agung Sedayu, termasuk cara dua anak buah Ki Kebo Surongudan menyelamatkan diri.

Tapi menghadapi Ki Warujayeng yang bertarung dengan keadaan jiwani dan tata gerak yang berbeda, Ki Garu Wesi pun berhenti membuat dugaan. Dia harus mengembalikan perhatian sepenuhnya agar tidak menjadi lemah karena rasa penasaran.

Keris Ki Garu Wesi berkelebat, mematuk dan menusuk lurus tapi tiba-tiba Ki Warujayeng mengendurkan tekanan—melompat panjang surut. Dia tidak lagi mencari jalan untuk menembus pertahanan Ki Garu Wesi.

Ki Garu Wesi mengernyit. Dia tidak mengerti perubahan itu.

“Jagalah Sedayu agar tetap hidup,” ucap Ki Warujayeng.

Belum sempat Ki Garu Wesi bertanya, orang itu telah melesat pergi. Sangat cepat lalu menghilang di antara batu-batu dan kabut Pancuran Watu Item.

Kepergian Ki Warujayeng dari gelanggang di bawah air terjun ternyata tidak sanggup mengalihkan perhatian orang pada perang tanding antarmurid Kyai Gringsing.

Jarak yang sangat rapat dan berusaha keras dipertahankan Agung Sedayu membuat orang-orang menahan napas. Meski belum tampak dia mengendurkan serangan atau mengubah gaya bertempur, tapi serangan balasan Swandaru hampir mencapai titik mengkhawatirkan.

Mereka sama-sama berhasil membuat luka.

Keadaan itu membuat Pangeran Selarong, Glagah Putih dan sejumlah orang yang menyaksikan berada dalam kecemasan. Bagaimana jika Sedayu tumbang? Apakah sebagian orang akan mengalihkan atau mengurungkan balas dendam?

Mereka pun berada di dalam ketidakpastian keadaan. Jika Swandaru berhasil menang, bagaimana nasib Tanah Perdikan dan Sangkal Putung sebagai kademangan?

Tentu saja mereka hanya dapat berharap sambil mengeraskan rahang, mengepalkan tangan kuat-kuat, mengusap wajah berulang-ulang agar tetap tenang.

  • Saat Ki Patih Mandaraka menguji ketahanan Ki Hariman, Nyi Banyak Patra memandang dengan penuh teka-teki. Itu kejadiannya di saat ada orang yang ingin Merebut Mataram 67.

Namun yang terlewat dari pengamatan kebanyakan orang adalah ujung cambuk Swandaru yang terbuat dari baja ternyata belum dapat menyentuh Agung Sedayu. Darah yang mengalir dari tubuh senapati Mataram itu berasal dari goresan helai cambuk. Kekuatan Swandaru memang hebat hingga gesekan badan cambuk saja dapat merobek kulit kayu, apalagi ini tubuh Agung Sedayu yang tidak terlapisi ilmu kebal.

Gelegar rendah dari dentuman cambuk Swandaru seluruhnya mengenai ruang kosong di belakang atau samping Agung Sedayu. Maka Swandaru pun menggeram hebat. Dia awalnya menganggap keputusan Sedayu merapatkan jarak adalah siasat yang bodoh dan akan mudah baginya untuk menjadi jawara laga. Tapi rupanya, sekarang, dia harus menilai ulang terhadap kemampuan Agung Sedayu.

Seharusnya, menurut Swandaru, pada jarak sedekat itu cambuknya dapat memukul mundur Agung Sedayu,a tau setidaknya membuat musuhnya kehilangan kendali pertarungan. Tapi ternyata Agung Sedayu tetap membadai!

Setiap langkah yang bergeser yang menjadi tumpuan, setiap lecut yang menjadi puncak serangan seakan selalu gagal mencapai tujuan. Bukan terhalang pertahanan Agung Sedayu, tapi kecepatan cambuk Swandaru saat menyerang dan putaran Agung Sedayu yang nyaris seimbang.

Sejenak kemudian, Swandaru mengubah gaya bertarungnya. Jika sebelumnya, sepasang kakinya banyak menapak tanah saat berpindah tempat maka sekarang pergeseran tubuh dilakukan dengan loncatan pendek.

Pertempuran pun menjadi semakin cepat.

Swandaru telah mencapai batas kemampuannya. Tenaga cadangannya terasa meningkat berlipat-lipat, demikian juga kecepatan serangannya yang menjadi semakin sulit dilihat. Namun Agung Sedayu belum tampak terdesak atau sedang bertahan kuat mengendalikan keadaan.

  • Bagaimana akhirnya perang tanding Agung Sedayu vs Swandaru dapat kembali terulang? Saya sudah baca tapi sedikit lupa. baiknya Anda ke Hari Bising di Bukit Menoreh sepertinya ada kejadiannya di bagian itu. Monggo.
  • Sedangkan ratusan tahun sebelumnya, di luar Pajang, Pangeran Benawa ternyata tidak tumbuh sebagai anak kecil yang manja. Dia gigih mempertahankan harga diri lalu bertarung dengan cara yang menakjubkan. Bukan sihir, bukan sulap , tengoklah kilas kisah Berhitung Bagian 2.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.