Dironda88 kali
Swandaru lewat di atasnya lantas mendarat di belakang kakak seperguruannya itu. Terus bergerak, tidak berhenti tapi bergeser ke arah kanan atau utara. Menyambar sekali lagi.
Kali ini bukan tangan atau bahu yang menjadi sasaran. Seluruh tubuh Sedayu adalah dijadikan pusat lintasan. Swandaru deras menghunjam dengan serangan dari kiri ke kanan, lalu melompat dari dekat ke jauh, kemudian balik lagi menyerang.
Agung Sedayu kokoh di tempatnya setiap kali menerima dan sekaligus melancarkan serangan balik. Dua kekuatan kembali berbenturan. Air memercik pendek. Udara bergetar.
Swandaru mendarat di selatan. Kuda-kuda segera dipasang. Bersiap memotong ruang sekali lagi ketika Agung Sedayu masih di tempatnya dengan air yang masih merendam hingga bagian lututnya.
Tiba-tiba tangan Agung Sedayu bergerak. Cepat mengarah ke pinggang.
Kuda-kuda Swandaru tertahan. Kurang dari sekejap mata. Dia mengurungkan serangan karena jika tangan Sedayu dapat mengurai cambuk dalam waktu sangat singkat, kurang dari satu kejapan mata itu sama artinya menyerahkan diri pada Sedayu untuk dibunuh.
Dalam waktu yang sulit dianggap ‘ada waktu’ karena sela yang sangat sempit, Swandaru bertanya dalam hatinya. “Apakah maksudnya ini? Perkelahian bersenjata padahal Agung Sedayu pantang menggunakan senjata menghadapi lawan bertangan kosong.”
Tapi pertanyaan itu tidak benar-benar mendapatkan jawaban ketika Agung Sedayu sudah tidak berada di dalam air lagi. Dia melompat keluar dari sungai dengan cara yang menakjubkan. Tubuhnya begitu ringan seakan-akan air selutut dan sedang mengalir itu kehilangan tekanan.
Agung Sedayu berdiri berseberangan dengan Swandaru dengan sikap sempurna. Cambuknya sama sekali tidak terlepas dari pinggang.
Tidak ada senjata keluar. Tidak ada serangan.
Ketika Agung Sedayu mendarat di bagian sungai yang lebih dangkal, Swandaru menyadari sesuatu. Dia tidak menghentikan serangan karena cambuk tapi dia berhenti karena gerakan tangan Sedayu yang seolah-olah akan mengurai cambuk padahal tidak!
Seketika Swandaru menyerang Agung Sedayu lagi dalam jarak yang lebih rapat. Pada jarak yang dikehendaki Swandaru, Agung Sedayu meladeni serangan itu dengan pertahanan yang sangat rapat.
Serangan Swandaru melanda adik iparnya itu seperti pusaran angin ketika badai melanda pantai selatan. Begitu hebat dan kuat karena tenaga wadag telah menyatu dengan tenaga cadangan. Tapi Agung Sedayu sama sekali tidak tampak kepayahan dengan tata gerak Swandaru yang sudah diperbanyak dengan kembangan beragam.
- Perkelahian antara Agung Sedayu dengan Ki Prayoga berlangsung semakin menggiriskan ketika kecepatan dan gelombang udara panas kian rapat mengepung mereka. Supaya tidak tertinggal, mari berlari cepat menuju Jati Anom Obong 22
Tidak ada udara panas yang menyelubungi mereka. Swandaru sadar dan yakinlah dia bahwa Agung Sedayu tidak mengerahkan ilmu kebal sehingga tidak ada hawa panas yang melanda dirinya.
Keyakinan itu mendorong Swandaru untuk meningkatkan kecepatan geraknya yang meningkat sangat pesat. Dia mengitari lawannya dengan sangat cepat sehingga tubuhnya tampak berubah seolah-olah menjadi banyak dan menyerang Agung Sedayu dari berbagai arah.
Tapi agaknya Agung Sedayu telah menyiapkan siasat lain dalam pertarungan itu. Jika sebelumnya Swandaru lebih memegang kendali untuk mengatur jarak tempur, sekarang Agung Sedayu mengubah cara bertempur.
Tiab-tiba Sedayu menerobos jarak serang Swandaru lalu bertahan di sana. Perkelahian seketika menjadi brutal dan liar!
Swandaru terkejut bukan kepalang. Dia sedikit terlambat. Serangan Agung Sedayu cepat mendesaknya surut, selangkah, dua langkah dan kini dia berada di bagian yang hampir tepat berada di bawah siraman air terjun.
Orang-orang yang masih mendekam dalam persembunyian pun mengerutkan kening. Seandainya mereka benar-benar berkelahi di bawah siraman air terjun, itu…sulit dinalar. Penglihatan dan pernapasan sudah pasti terhalang penuh, bukan lagi oleh tekanan tenaga cadangan tapi karena kehendak alam. Itu lawan yang sangat berat. Mereka pun menggeleng-geleng kepala—sulit percaya jika dua murid Kyai Gringsing itu akhirnya memilih arena yang paling banyak dihindari orang-orang kanuragan.
Sebelum itu.
Sejumlah orang terkejut saat melihat Swandaru tiba-tiba menghentikan gerakan sedangkan dia berada di atas angin. Mereka tidak melihat Agung Sedayu bergerak, bahkan pergeseran lengan pun tidak tampak oleh mereka. Yah, mungkin karena cukup jauh dan kabut yang mengaburkan pandangan maka saat Agung Sedayu sudah bergeser tempat, mereka merasa kecolongan.
Apa yang sedang terjadi di antara dua orang itu?
Demikianlah yang mungkin berada di dalam benak Pangeran Selarong dan sejumlah orang yang menyaksikan pertarungan bersejarah itu.
Perubahan yang ditempuh Agung Sedayu benar-benar menjadi tekanan yang sangat hebat. Gebrakan demi gebrakan dilepaskan olehnya. Dia terus mendesak Swandaru semakin dekat dengan bagian terdalam sungai.
Tiba-tiba senapati Mataram itu menghentikan serangan, melompat sedikit surut, lalu bertanya, “Apakah kau siap bermandi di bawah pancuran?”
“Kau kira aku siapa?” sahut Swandaru.
Belum rapat Swandaru mengatupkan bibir, Agung Sedayu menerjang hebat dengan hujan serangan yang tiada henti.
Sebenarnya Swandaru sedikit terguncang dengan perubahan mendadak itu. Dia tidak dapat menuduh Agung Sedayu curang dengan menggunakan sikut dan lutut. Dia mengerti itu bukan penyimpangan, karena ada bagian kitab Kyai Gringsing yang menyediakan ruang untuk pendalaman. Meski tidak serinci cara menggunakan cambuk, tapi bela diri tangan kosong pun mendapatkan tempat di Perguruan Orang Bercambuk.
Dan ternyata Agung Sedayu sudah berada di puncak bagian itu.
Mata dan wajah Swandaru sedikit membara ketika dia tergiring ke arah yang dikehendaki Agung Sedayu.
Namun pada dasarnya, Agung Sedayu tidak ingin mempermalukan adik seperguruannya, ditambah dugaan kuat bahwa ada satu orang bahkan lebih sedang menyaksikan perang tanding itu dari tempat tersembunyi, maka dia memilih gelanggang untuk babak berikutnya.
Agung Sedayu tiba-tiba melenting ringan saat tendangan mereka berbenturan di udara.
Sekali lagi, orang-orang seperti Pangeran Selarong mengerutkan kening dan berpikir keras mencari alasan Sedayu justru melayang ke bagian terdalam dari seluruh perairan Pancuran Watu Item.
Mengapa justru tempat itu?
Mengapa mengarah ke bagian terdalam yang hanya ada sedikit batu besar yang tertutup air?
Jika Agung Sedayu beruntung, maka kakinya dapat mendarat di puncak batu yang tertutup air. Jika tidak, maka dia akan direndam air hingga setinggi dada.
Bagian itu lebih menyerupai kolam alami daripada aliran sungai. Air yang jatuh dari Pancuran Watu Item selama bertahun-tahun telah menggerus dasarnya dan membentuk cekungan yang cukup luas. Permukaannya tampak tenang dengan riak-riak kecil yang terus berputar, dan hanya menyisakan beberapa batu besar yang puncaknya tersembunyi di bawah air.
“Keputusan gila.” Seseorang mengumpat dalam hatinya ketika bola matanya lekat menatap Agung Sedayu ketika melayang di udara.
Tubuh Agung Sedayu melayang ringan dan seperti tidak ada keraguan ketika ujung kakinya menyentuh permukaan air. Ujung kakinya lebih dahulu menyentuh permukaan air, lalu menembusnya dengan tenang. Kakinya terus turun melewati mata kaki, lutut, dan semakin dalam lagi hingga akhirnya telapak kakinya mencapai dasar, air telah menenggelamkan tubuhnya sampai pinggang; hanya bagian pinggang ke atas yang masih tampak di permukaan.
Entahlah, yang pasti dengan cara menakjubkan ketika tiba-tiba cambuk Agung Sedayu telah terurai lepas dan terlihat mengapung di permukaan. Kakinya sudah merenggang. Segenap ilmu yang bersumber dari Perguruan Orang Bercambuk telah memenuhi pula seluruh urat saraf dan teralir pada cambuk sampai ujungnya.
Melihat kakak seperguruannya berada di tempat yang kurang menguntungkan untuk sebuah perkelahian, Swandaru cepat berhitung kemungkinan yang dapat dilakukannya. Dia benar-benar harus tepat mengarahkan serangan sekaligus pula dapat mengakhiri perlawanan Agung Sedayu.
Swandaru, pada saat itu, masih berada di tepi kolam atau bagian sungai yang dialiri air setinggi mata kaki.
Bagi Swandaru, pada kedudukan yang lemah itu, kakak seperguruannya seolah sedang berkata bahwa dia sedang menguji kemampuan cambuk Swandaru dengan menerima tekanan terlebih dulu.
Glagah Putih yang menyaksikan dari tempat penjagaan akhirnya sadar satu keadaan: Agung Sedayu memang sengaja memilih bagian terdalam dari Pancuran Watu Item. Itu adalah pilihan yang sulit karena ada pertaruhan besar di sana. Swandaru yang pasti menyerang dari darat harus kehilangan pijakan ketika turun ke cekungan itu, sedangkan Agung Sedayu yang telah lebih dahulu berdiri di dalamnya dapat menguasai perubahan kedalaman dasar yang tidak merata sama.
Glagah Putih mengerutkan kening dan berpikir dengan dugaan yang sangat kuat bahwa Swandaru hanya mempunyai satu kesempatan untuk menyerang. Jika cambuk Swandaru menyentuh air meski hanya permukaan, Agung Sedayu dapat melakukan sesuatu yang sulit dipercaya.
‘Dalam pada itu’, Swandaru segera paham bahwa Agung Sedayu telah melepaskan kesempatan untuk menyerang. Itu adalah sebuah kepastian yang berada dalam pikirannya.
“Aku tidak butuh belas kasihan darimu, Sedayu,” geram batin Swandaru. Dada Swandaru mulai membara. Ini jelas penghinaan telanjang terhadap dirinya. Sedemikian itukah kakak seperguruannya menilai rendah pada kemampuannya?
Dengan kedalaman air seperti itu, hampir mustahil bagi Agung Sedayu untuk membuka serangan tanpa lebih dahulu kehilangan keseimbangan. Tetapi justru karena itulah Swandaru menjadi semakin berhati-hati. Dia mengenal Agung Sedayu sangat baik sebagai orang yang mampu mengubah kelemahan menjadi keunggulan. Keraguan sempat menyeruak dalam hati kakak Sekar Mirah itu tapi hanya sekejap.
Swandaru sudah berbulat tekat dan niat: selesaikan segalanya. Terlepas Sedayu selamat atau tidak, perang tanding ini akan menjadi yang terakhir kali bagi mereka.
“Jika itu keinginanmu untuk memindahkan arena, itulah kesalahanmu yang terakhir dan tidak akan ada pengulangan,” ucap Swandaru dalam hati dengan sedikit lega.
Dia menarik napas panjang. Wajahnya yang sejak tadi tegang perlahan menjadi datar dan sukar dibaca. Dalam hatinya telah tumbuh keputusan yang tidak lagi memberi tempat bagi pertimbangan lain.
Selesaikan.
Swandaru kemudian merendahkan pusat tubuhnya. Kakinya menapak kuat pada dasar sungai yang dangkal. Bahunya sedikit turun, sementara tangan yang menggenggam cambuk bergerak perlahan.
Agung Sedayu tetap waspada dengan pandangan lurus ke arah Swandaru.
Swandaru, tidak lagi diam-diam dan perlahan tapi segera menanjak cepat ke puncak ilmu Perguruan Orang Bercambuk.
- Peristiwa berulang, sejarah kembali menemukan tokoh untuk menyampaikan pesan. Jika dulu Airlangga tertimpa prahara pada malam pernikahan, ratusan tahun kemudian giliran Bondan disapa oleh sejarah. Pralaya berulang di Malam Petaka.
- Hari ini, kisah dapat mencapai sejauh rematch duel Pancuran Watu Item, hangatkan halaman dengan menjaga Nyala Api
