Dironda 316 kali
Hingga saat Swandaru menyerang, Agung Sedayu melihat peluang yang ditunggu akhirnya datang.
Sejak pertarungan bergeser ke permukaan tanah basah, Agung Sedayu tidak benar-benar menggunakan cambuk dengan cara biasa. Gagang dan ujung cambuk berada dalam satu tangan. Panjang cambuk yang tersisa membentuk lingkar sempit yang terus berubah mengikuti putaran tubuhnya hingga terkesan seperti lubang jarum.
Swandaru yang telah mencapai batas kecepatan bergerak tanpa ragu. Lecut demi lecut menyambar rapat dengan keyakinan penuh bahwa Agung Sedayu tidak lagi mempunyai ruang untuk lolos.
Dan justru pada satu lecut itulah—ujung cambuk Swandaru dibidik tepat oleh Agung Sedayu agar masuk lubang sempit lengkung cambuknya.
Seketika tangan Agung Sedayu memutar, membelit dan digerakkan sangat halus sehingga orang-orang hanya melihat dua cambuk saling bersinggungan sesaat.
Swandaru terkejut ketika sentakan yang seharusnya kembali ke tangannya mendadak hilang. Tapi kesadarannya masih kalah cepat dengan rencana Agung Sedayu!
Pada saat berikutnya aliran tenaga Swandaru diputar balik oleh Agung Sedayu hingga cambuk terlepas—berpindah tangan.
Agung Sedayu telah menggenggam cambuk Swandaru di tangan kiri. Belum sempat Swandaru mengerti yang terjadi, Agung Sedayu melecutkan senjata Swandaru menghantam tubuh Swandaru ketika kakinya masih menapak.
Swandaru bergetar keras lalu terhuyung-huyung sambil merasakan bagian-bagian tertentu tubuhnya yang kesemutan.
Dan sebelum dirinya sempat kehilangan keseimbangan sepenuhnya—Agung Sedayu menyusulkan hukuman.
Kali ini senjata Swandaru kembali menyapa tuannya—tubuh Swandaru terangkat dan terpental, berguling di udara beberapa kali sebelum jatuh menghantam air dan bagian dangkal.
Air menyembur tinggi. Tubuh Swandaru terguling jauh lalu diam. Dia tumbang tapi masih hidup. Dadanya terangkat turun dan naik, satu demi satu perlahan. Sorot matanya memancarkan penasaran yang sangat kuat. Pikirannya tetap bekerja, bagaimana Agung Sedayu melakukan gerakan tadi?
Agung Sedayu tegak berdiri di dekat kepala Swandaru dengan satu cambuk terurai.
“Aku dapat membunuhmu, tadi atau sekarang,” kata Agung Sedayu lantas berlutut dengan napas yang masih terjaga. “Aku tidak membunuhmu karena satu alasan, istriku, Sekar Mirah adalah adik kandungmu. Dan aku membiarkanmu tetap hidup karena aku tidak ingin melukai Ki Gede Menoreh dan Ki Demang Sangkal Putung. Kau harus tahu itu.”
Agung Sedayu meletakkan cambuk Swandaru di atas tubuhnya yang tergeletak lemah. Tangannya bergerak ke beberapa bagian, berhenti sebentar seperti sedang merasakan sesuatu, kemudian mengangguk dua atau tiga kali.
“Kau merasa kesemutan atau sedikit nyeri?” katanya kemudian. “Beberapa waktu ke depan, engkau akan sulit mengerahkan kekuatan. Tapi untuk sekadar keamanan serta keselamatan kademangan dan juga dirimu, itu sudah lebih dari cukup.”
Agung Sedayu menahan napas sejenak, lalu berkata lagi, “Aku tidak mengusirmu dari Tanah Perdikan, tapi Sangkal Putung adalah tempat terbaik untukmu. Pulanglah.”
Murid utama Kyai Gringsing itu lantas bangkit berdiri, melihat suasana sekitar yang sunyi meski dia tahu ada sejumlah orang bersembunyi. hanya terlihat Ki Garu Wesi berada di sekitarnya. Sedayu mengangguk.
Demikianlah kemudian Agung Sedayu melangkah ke bawah air terjun lalu merendamkan diri di sana.
- Jalan hidup Swandaru dan Agung Sedayu tentu saja berbeda dengan Dyah Murti yang memilih menempuh Jalan Sunyi sebagai Putri Rakai Panangkaran.
Ki Garu Wesi, yang belum beranjak dari gelanggang perkelahian menghadapi Ki Warujayeng, menatap Agung Sedayu sampai tubuh senapati itu hanya menyisakan kepala saja.
Dalam waktu itu, dia mengingat kembali kemampuan Ki Warujayeng yang menurutnya ada kengerian yang tersembunyi.
Sejauh yang dia pahami dari pengalamannya adalah aliran tenaga atau hawa ilmu Ki Warujayeng memang ada persamaan dengan Raden Atmandaru, tapi juga ada perbedaan yang belum dikenalinya.
“Apakah puncak ilmu itu bukan sekadar menghilang?” tanya Ki Garu Wesi dalam hati.
Pikirnya, jika orang ini adalah pengikut Ki Kebo Surongudan maka kemungkinan besar juga berada satu jalur ilmu dengan Raden Atmandaru. Dan itu berarti dirinya dan mungkin Agung Sedayu pun sedang menghadapi wajah sama dengan dirinya.
Dia sadar memang tidak setiap orang yang mempelajari ilmu akan dapat mencapai kesempurnaan, tapi hawa ilmu itu tetaplah menjadi bahaya nyata, Panglimunan.
Usai perang tanding yang sangat dahsyat itu, orang-orang yang tadi menyaksikan sambil bersembunyi di balik batu, pepohonan, dan lereng basah masih tertahan oleh rasa ingin tahu.
Apa yang tadi dilakukan oleh Agung Sedayu? Meski Swandaru telah tumbang, tapi mereka seakan sulit percaya bahwa pertarungan itu selesai begitu saja. Tidak ada keistimewaan dari yang diperlihatkan senapati Mataram itu. Tidak ada tiga wujud yang masing-masing mempunyai kehendak. Tidak ilmu kebal karena mereka dapat melihat warna merah walau terhalang gelap.
Mereka bahkan masih berharap ilmu hebat yang memancar pandangan mata Agung Sedayu dikeluarkan saat itu meski telah usai. Pikiran mereka pun bertanya-tanya, kehebatan Agung Sedayu itu, apakah hanya bisik-bisik yang dibuat menjadi sangat besar?
Entahlah, tapi mereka pun sadar bahwa sudah saatnya untuk meninggalkan gelanggang Pancuran Watu Item.
Glagah Putih turun lebih dahulu. Dia menuruni lereng dengan kaki yang bergerak dalam kendali. Melompati akar-akar yang membujur lintang beberapa langkah dari tubuh Swandaru yang masih terbaring dengan dada naik turun perlahan.
Glagah Putih berjongkok, memperhatikan sejenak wajah kakak Sekar Mirah itu.
Swandaru membuka mata dengan wajah menahan sesuatu yang sukar dilukiskan Tatapan mereka bertemu. Glagah Putih tidak mengucapkan kata, lalu berdiri kemudian bersuit panjang.
Tiga kali lengkingan tajam terdengar menembus deru air terjun.
Pengawal dan pasukan yang seharusnya berjaga di sekitar lereng belum juga menampakkan diri. Mungkin mereka menahan diri karena mengira ada yang masih harus diselesaikan oleh pemimpin mereka, Agung Sedayu.
Glagah Putih kembali bersuit. Beberapa saat kemudian terdengar sahutan dari lereng sebelah timur.
Sejumlah orang keluar dari tempat mereka berjaga lalu mendekat.
“Bawa Ki Swandaru ke barak,” perintah Glagah Putih singkat.
Perintah itu membuat seorang pengawal tertegun sesaat sebelum bertanya hati-hati,
“Bukan… ke rumah Ki Gede?” Punjung bertanya.
Glagah Putih memandang sebentar ke arah orang itu lalu menggeleng. Dia menoleh pada Swandaru kemudian berkata pada Punjung, “Ki Swandaru membutuhkan perawatan dan keamanan lebih. Kediaman Ki Gede tidak memungkinkan untuk itu.”
Punjung dan tiga pengawal lantas mengangguk.
Mereka mengangkat Swandaru dengan hati-hati. Tidak ada ikatan. Tidak ada perlakuan terhadap orang kalah. Hanya kehati-hatian terhadap seseorang yang masih menjadi bagian dari keluarga besar mereka sendiri.
Setelah mereka berada agak jauh dari badan air, Glagah Putih berjalan ke bibir kolam. Menunggu.
Tidak lama kemudian Agung Sedayu keluar dari bawah pancuran. Wajahnya tenang walau masih menyisakan sesutau yang cukup berat untuk ditahan.
Namun dan memang perang tanding itu bukan sekeadar pembuktian tapi lebih dari itu. Ada beban dan perasaan yang mungkin baru bisa terkikis seiring dengan waktu berjalan.
Glagah Putih hanya menundukkan kepala sedikit. Agung Sedayu membalas dengan anggukan kecil. Tidak ada kata-kata yang terlontar dari mereka berdua. Tidak laporan. Tidak pula pertanyaan. Tidak ada penjelasan maupun keterangan yang perlu diungkapkan. Diam.
Air yang jatuh dari pancuran membentuk kabut yang mulai memutih oleh cahaya pagi saat Pangeran Selarong turun mendekat.
Pangeran Mataram itu berhenti tepat di depan Agung Sedayu tapi dia pun tidak berkata-kata. Hanya pandangan mata yang menyusuri setiap jengkal tubuh Sedayu yang banyak tergores luka.
Pangeran Selarong mengangguk dengan sedikit kelegaan yang memancar dari sorot matanya.
Beberapa saat mereka bertiga hanya berdiri tanpa bicara.
Sementara itu, satu demi satu tokoh mulai bergerak meninggalkan Pancuran Watu Item. Mereka kembali ke permukiman masing-masing. Membawa penilaian dan kemungkinan.
Ki Kamejing dan Ki Ajar Poh Kecik tampak bercakap dengan wajah sungguh-sungguh. Demikian pula Ki Jabon Seta, Ki Ajar Ental Sewu serta Ki Winih Jambe yang berjalan terpisah sambil membawa pertimbangan dan angan tentang yang akan dilakukan.
- Swandaru memang sebaiknya dirawat di barak pasukan khusus. Saya pikir seharusnya begitu setelah membaca frase di Hari Bising di Bukit Menoreh 34. Di sana ditulis: Ki Gede Menoreh menarik napas dalam-dalam, mengangguk lalu berkata lirih. “Benturan keras di Watu Sumping dan Gunung Kendil, cukup berdekatan. Mengerahkan orang untuk mencarinya pun dapat menjadi tindakan sia-sia bahkan seperti membuka celah pertahanan dan aib yang benderang bagi kubu lawan, saat itu.“
