0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 36 – Kebangkitan Agung Sedayu dari Tekanan Swandaru

Dironda45 kali

Cambuk itu mulai bergerak tanpa permulaan yang jelas. Seolah sejak awal cambuk itu memang telah berputar. Putaran cambuk tidak dimulai perlahan tapilangsung menghentak dengan sepenuh kekuatan. Cepat menjadi semakin cepat. Semakin cepat lagi.

Belum sampai pada putaran ketiga, bentuk cambuk itu mulai sukar dibedakan.

Tampaklah perubahan kemudian.

Udara di sekitar ujung cambuk seperti tertarik mengikuti putarannya. Hanya sebentar saja terlihat bayangan yang samar kemudian terbentuk sebuah lingkaran tipis berwarna biru pucat. Lingkaran yang lebih menyerupai garis cahaya ketika udara pejal itu menjadi semakin rapat dan semakin jelas terlihat.

Semua orang yang melihatnya segera mengerti bahwa Swandaru sedang melakukan hal yang luar biasa. Benak mereka pun berisi kekaguman pada yang tertulis di dalam kitab Kyai  Gringsing. Sebagian malah sudah membayangkan seandainya kitab itu ada di tangan mereka.

Ketika dirinya berada di kedalaman yang mengundang bahaya bagi dirinya sendiri, Agung Sedayu sadar bahwa dia harus bersiap menghadapi segala kemungkinan. Tempat itu ternyata membatasi lebih banyak daripada yang diperhitungkannya semula. Namun Agung Sedayu tidak menunjukkan penyesalan atau kekesalan atas keputusannya. Dia telah memilih tempat itu dan kini harus menerima seluruh akibatnya.

Tiba-tiba dua bayangan berkelebat, menuruni lereng menuju pancuran dengan kecepatan tinggi.

Pangeran Selarong melihat pergerakan itu lalu meluncur deras menyambut salah satu bayangan yang mengarah langsung menuju kolam tempat Agung Sedayu terendam.

“Gila! Tidak tahu adat!!” geram Pangeran Selarong dalam hati.

Sementara Glagah Putih yang berkedudukan cukup jauh hanya dapat menyerahkan harapan pada Yang Maha Agung atas keselamatan dua orang yang sedang bertarung itu. Meski dia mengerahkan seluruh kecepatan dan kemampuan yang dimiliki, tapi mematahkan serangan orang itu jelas sesuatu yang mustahil. Orang tersebut sudah masuk jarak serang saat dirinya masih di pertengahan lintasan.

Dia melihat satu bayangan lagi meluncur sangat deras. Glagah Putih yang sudah mengetahui bahwa di tempat itu ada Pangeran Selarong, maka dia pun menjadi sedikit tenang.

Pangeran Mataram itu akan dapat menjangkau penyerobot gelanggang, meski ada kemungkinan terlambat tapi itu lebih baik daripada tidak ada sama sekali.

Tampaknya Pangeran Selarong benar-benar marah!

“Jika kau ingin membunuh mereka berdua atau salah satu dari mereka, aku pasti memberimu jalan  tapi tidak sekarang,” geram Pangeran Selarong.

Tanpa berkata-kata lagi. Tanpa hardikan atau bentakan, dia melesat lurus dengan kecepatan luar biasa hendak menggebrak perusuh perang tanding itu dengan segenap kemampuan yang ada dalam diri.

Mendadak dari belakang, dengan kecepatan yang sulit dibayangkan, sekelebat bayangan mendahului Pangeran Selarong!

Pendatang itu cepat mengikat perusuh perang tanding dalam perkelahian yang sangat sengit. Gelanggang baru pun terjadi beberapa langkah di belakang Swandaru. Serangan-serangan pendatang itu benar-benar sangar hingga terkesan tidak memberi ruang bernapas bagi perusuh tersebut.

  • Kgelisahan Agung Sedayu mulai memuncak. Bila yang menjadi senapati Raden Atmandaru adalah Ki Garu Wesi, apakah Ki Gatrasesa dan Ki Jagabaya mampu mempertahankan dua pedukuhan yang segaris dengan pedukuhan induk? Kyai Plered 11 segera mengisahkan peristiwa itu saat kita sudah berada di dalamnya

Sedangkan perusuh itu ternyata memendam sesal di dalam hati karena kemunculan orang lain yang tidak diduganya. “Bila demikian, tidak akan ada jalan keluar,” desisnya dalam hati. Seketika di tangannya tiba-tiba tergengam kapak kecil atau baliung, menderu berputaran menyambar si pendatang dari segala arah.

“Oh,” ucap Glagah Putih dalam hati sambil menajamkan penglihatan. Rupanya itu adalah orang bersenjata kapak yang membawa mayat Ki Kebo Surongudan atas izin Ki Lurah Sora Sareh. Glagah Putih sudah mengetahui kejadian itu dari Sukra dan sejumlah prajurit yang terjun dalam pertempuran di perkemahan Ki Kebo Surongudan.

Dia juga terperanjat saat dapat melihat jelas orang yang baru datang dan mengikat anak buah Ki Kebo Surongudan. Ki Garu Wesi!

“Dia sudah di sekitar pancuran untuk melihat, sekarang dia menyerang Kakang Sedayu yang dalam keadaan lemah,” desis Glgah Putih dalam hati. Benar-benar tidak tahu diri! Tentang kemunculan Ki Garu Wesi, Glagah Putih hanya mengetahui orang itu masih di barak saat dirinya menjalankan perintah Ki Sanggabaya.

Murid Ki Jayaraga itu kemudian melihat ke jurusan lain tapi pergerakan itu ternyata tiba-tiba menghilang!

Glagah Putih yang memalingkan pandangan ke arah itu mencoba membuat perkiraan. Apakah bayangan tadi terhalang sesuatu atau justru membatalkan serangan setelah melihat kehadiran orang lain di dekat arena perang tanding?

Tapi memang tidak pergerakan sedikit pun di jalur tersebut. Setidaknya seperti itu yang diduga oleh Glagah Putih dan sejumlah pengamat yang setia dalam persembunyian.

  • Awal mula Gajah Mada meniti karir keprajuritan. Saat itulah dia melihat dan mengenal Bondan untuk pertama kali. Bakat dan kharisma Gajah Mada terbaca di Siasat Gajah Mada 1.

Di bawah air terjun.

Keputusan Agung Sedayu yang sebenarnya mempunyai tujuan lain rupanya memang disalahpahami oleh Swandaru. Satu serangan darinya yang dipercaya dapat menghancurkan Agung Sedayu, itu bukan sikap yang dapat disesali. Itu adalah akibat dari siasat dan dilakukan dalam keadaan sadar serta tanpa tekanan.

Swandaru benar-benar telah mencapai tataran yang jauh lebih tinggi. Udara yang bergerak karena imbas dari hempasan tenaga cadangannya bahkan seakan berubah menjadi angin yang dapat menarik banyak benda ke arahnya, bukan dari lingkaran cambuk lalu menyebar. Tapi terhisap dan seakan ada kekuatan yang memaksan seluruh lapisan udara bersatu dalan kendali Swandaru.

Agung Sedayu dapat merasakan hembusan cukup kencang dari tengkuk dan punggungnya.

‘Dalam pada itu’, lapisan luar dari lingkaran cambuk yang berwarna biru pucat tiba-tiba menghilang meski sebenarnya terhisap dan terhimpun  pada suatu titik.

Tiba-tiba lecut sendal pancing dihentak sangat hebat oleh Swandaru. Gumpalan pejal udara yang samar-samar tampak kebiruan seketika melesat keluar dari ujung cambuknya, meluncur dahsyat ke arah Agung Sedayu yang terkunci pergerakannya oleh genangan air!

Jarak mereka hanya terpisah lima langkah lebih sedikit. Sangat dekat dan nyaris mustahil untuk menghindar karena ujung cambuk pasti lebih dekat lagi dengan kedudukan Agung Sedayu.

Lecutan sendal pancing itu datang seperti tali jerami pencabut nyawa. Gumpalan pejal berwarna kebiruan melesat dari ujung sendal pancing Swandaru tanpa suara ledakan dan terasa mengerikan. Udara di depannya seperti terlipat dan dipadatkan, membelah jarak yang tinggal beberapa langkah saja menuju Agung Sedayu.

Agung Sedayu sudah siap sepenuhnya. Bahkan dia sudah menduga pula bahwa serangan Swandaru itu bukan lagi serangan untuk menguji, tapi membunuh!

Puncak kekuatan Perguruan Orang Bercambuk yang mengendap lama dan sangat kuat telah menghuni Agung Sedayu dalam waktu sangat lama.

Dengan gerakan yang hampir tak terlihat mata, cambuk Agung Sedayu yang sejak tadi terapung rendah di atas permukaan genangan bergerak, menghentak keras permukaan air.

Air yang semula beriak lemah seketika terangkat. Satu bidang tebal yang tegak berdiri di hadapan Agung Sedayu—seperti lembar kaca tebal bening yang hidup.

Dalam sekejap benteng air itu terbentuk. Tepat saat itu pula gumpalan pejal kebiruan Swandaru menghantamnya.

Benteng air bergetar keras seperti logam yang dipukul dari dalam. Gelombang-gelombang bundar menjalar di seluruh dinding air. Cahaya kebiruan merambat masuk beberapa jengkal lalu tertahan.

Terjadi ledakan! Kabut air dan uap tipis bermuncratan ke segala arah.

Dalam waktu yang sangat sempit, Agung Sedayu melihat celah.

Ketika tekanan dari gumpalan tenaga membuat sebagian dinding air tersibak dan menipis di satu sisi, tampak sebuah batu besar yang menonjol dari genangan di sampingnya.

Hanya sesaat tapi ada waktu yang cukup. Tubuh Agung Sedayu bergeser.

Saat berikutnya ketika benteng air itu luruh, ketika gumpalan pejal kebiruan kehilangan sasaran karena melebur dalam air, Agung Sedayu sudah berpindah di atas batu datar yang permukaannya tertutup genangan air.

Swandaru menatap ke depan dengan cambuknya terjulur di atas permukaan tanah. Napasnya seolah tidak ada gangguan melihat kenyataan yang menikam jantungnya. Tapi harga dirinya mencegah untuk mengatakan bahwa itu luar biasa.

Sejumlah orang yang berada di dalam lingkungan Pancuran Watu Item hanya ternganga. Sebagian lain berulang-ulang memijat kening, sulit dipercaya.

Memukul permukaan air hingga terangkat tinggi dengan ketebalan seperti dinding batu halaman Keraton, ilmu apakah itu?

Seolah tidak ingin menunggu hari menjadi lebih sedikit terang, Agung Sedayu menghentak ilmunya lebih tinggi lagi. Pengalaman telah menempanya menjadi petarung yang tidak lagi sekadar bertempur dengan kekuatan, tapi juga dengan pengenalan yang dalam terhadap watak dan perubahan gerak lawannya.

Dinding air

Serangan Agung Sedayu pun seakan berbeda dari jalur Perguruan Orang Bercambuk yang berinduk pada Windujati. Meskipun seluruh tata gerak dasar dan lontaran tenaga cadangan masih tetap sama dengan Swandaru, tapi senapati Mataram itu membuat segalanya menjadi jauh berbeda, jauh lebih sulit dikenali dan makin ganas untuk dikendalikan adik seperguruannya itu.

Namun ternyata Swandaru pun dapat memaksa dirinya untuk berkembang. Maka setiap gerakannya pun menjadi jauh lebih cepat, lebih kuat dan penuh kewaspadaan.

Dengan demikian, pertarungan mereka semakin sengit.

Agung Sedayu bertempur dengan cara yang janggal. Dia tidak lagi mengurai cambuk dengan wajar tapi seolah sedang melipatnya. Gagang dan ujung cambuk bersatu dalam genggamannya. Meski begitu, daya serangnya tetap dahsyat dan luar biasa.

Pada sisi lain, Swandaru terus menerus berusaha menjaga Agung Sedayu tetap berada dalam jangkauan serangan. Betapa tidak, Agung Sedayu mengetrapkan gaya bertempur yang susah dipahami. Dia meloncat maju, mundur, samping kiri dan kanan, memutar tubuh dengan gerakan yang sama cepatnya dengan sambaran cambuk Swandaru. Dalam jarak yang tidak terlukis oleh kata-kata, yang terlihat malah seperti justru Sedayu yang mengikuti gerak ayun cambuk, Sedayu seolah sedang memburu cambuk tapi sebenarnya tidak seperti itu!

Dengan demikian, Swandaru yang mampu menerobos puncak ilmu Perguruan Orang Bercambuk mulai berpikir keras melihat pergerakan Agung Sedayu yang jelas tampak olehnya. Tata gerak kakak seperguruannya itu benar-benar sulit dimengerti olehnya. Bukan ajaib, bukan hebat tapi sulit. Itu saja.

Pertarungan itu mencapai titik ketika tubuh tidak lagi sempat membedakan antara air dan darah.

Setiap sambaran cambuk yang gagal mengenai sasaran tetap meninggalkan jejak. Kain di lengan Swandaru tampak robek pada beberapa bagian. Kulitnya penuh garis-garis merah yang saling bertumpuk, sebagian terbuka tipis lalu segera dibasuh air yang terus bergolak di sekeliling kaki mereka. Maka, darah pun tidak pernah sempat menetes karena pecah menjadi warna samar yang menyebar lalu lenyap.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.