0%
Still working...

Pesona Abadi Sang Tledek

Dironda 47 kali

Pejarakan, 1922.

Kabut tipis dari arah pegunungan membungkus tanah Jawa yang kuyup oleh embun dini hari. Di tepi lapangan desa yang sepi, sebuah bangsal bambu tempat pementasan tayub semalam telah kosong, meninggalkan baunya yang khas: paduan antara asap kemenyan, keringat lelaki, minyak kelapa, dan wangi bunga kantil yang mulai layu. Namun, di sebuah rumah panggung di balik rindangnya pohon beringin tua, pelita minyak jarak masih menyala redup.

Suryani tengah mematut diri tanpa busana di depan cermin tembaga yang buram.

Setiap orang yang memandangnya malam itu tak akan pernah percaya bahwa dia telah puluhan tahun menari di tanah Pajarakan. Rambutnya yang hitam gelap dan panjang terurai hingga ke pinggang, kulit wajahnya kencang tanpa kerut sedikit pun, halus bak porselen buatan Tiongkok. Payudara dan pantat yang tidak mengenal kata kendur. Bibirnya yang merah basah seolah tak pernah tersentuh oleh sang waktu. Menginjak usia yang seharusnya berkepala lima—atau mungkin lebih—kecantikannya seolah membeku, abadi dalam pesona yang menyesakkan dada. Dari para demang belia hingga pejabat Belanda berkumis tebal, tak ada lelaki yang sanggup menolak lirikan matanya saat sampur merahnya mengibas di panggung.

Malam ini, Suryani tak sendirian. Di balik kelambu kain tipis, terdengar hembusan napas seorang lelaki—saudagar gula kaya asal Pasuruan yang semalam mempertaruhkan kantong-kantong guldennya demi bisa memeluk sang penari.

Suryani duduk diam memandang dirinya dari balik cermin. Wajah dan payudara tak lekang oleh usia. Abadi. Dengan rambut terurai, dia berjalan perlahan menghampiri pembaringan.

Dari arah atap rumah panggung, terdengar lengkingan suara burung yang aneh. Suara itu melengking tinggi, memecah keheningan malam—suara burung kedasih yang pilu, mbelah dada. Tak lama kemudian, nadanya berganti menjadi senandung koko beluk—burung hantu tua yang bertengger di dahan beringin. Lalu, derik bunyi itu berpindah ke ambang jendela, berganti lagi menyerupai siulan jalak malam yang janggal. Bunyi burung-burung itu tak pernah diam. Suaranya melompat dari sudut keremangan satu ke sudut lainnya.

Suryani tidak sendirian dengan tubuh telanjang.

Dia menyibak kelambu. Orang itu menunggu di sana dengan tatap mata nanar, penuh nafsu dan semangat muda.

Suryani mematikan pelita, dan kegelapan menelan seluruh isi ruangan diiringi sahut-sahutan burung yang kian bersahut-sahutan di atas atap.

Tidak ada yang tahu asal kedatangan Suryani. Tidak ada catat-mencatat di kantor kademangan yang menyimpan tahun kelahirannya. Yang orang-orang tahu, sejak kakek-kakek mereka masih berani memanjat pohon kelapa, Suryani sudah ada di sana—menari dengan paras dan kecantikan yang sama.

Dan esok paginya, ketika matahari menyapa Pajarakan, pintu kamar itu terbuka. Tempat tidur Suryani sudah rapi kembali, seolah tak pernah disentuh, seolah tidak ada pergumulan tadi malam. Sang saudagar gula tak pernah terlihat lagi melangkah keluar dari pintu depan, tak pernah kembali ke Pasuruan, dan tak pernah ada jejak atau jasad yang ditemukan di sungai atau jurang. Saudagar itu lenyap begitu saja—meninggalkan kereta kuda beserta kudanya di halaman.

Sementara di teras rumah, Suryani duduk santai sambil menyesap kopi hangatnya. Wajahnya tersiram sinar matahari pagi, berseri tanpa cela, menatap jalanan desa tempat para lelaki generasi baru mulai bermimpi untuk meliriknya nanti malam.

Pada akhir malam nanti, Suryani akan kembali mematut diri tanpa busana di depan cermin tembaga yang buram.

Selesai.

  • Lalu terdengar suara berkumandang, ““Bertahun-tahun aku berlatih dan aku berhasil menahan sinar matamu. Tetapi aku melupakan satu hal penting, engkau bukan pengisi cerita pendek misteri. tapi engkau adalah Agung Sedayu yang luar biasa sakti di Jati Anom Obong 49. Aku mengaku kalah.”
  • Ikat kepala Bondan yang terurai lepas telah berubah menjadi senjata yang dapat mematikan saat Pertempuran Hari Kedua 8. Sangar dan benar-benar menggetarkan!

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.