Dironda 59 kali
Wedaran sebelumnya: Kekhawatiran Ki Demang didasarkan pada masa lalu Swandaru yang keras sulit dikendalikan—seperti ketidaksenangannya saat awal menerima Kyai Gringsing serta persaingannya dengan Agung Sedayu—sehingga Swandaru hanya bisa menghela napas dan merenungi teguran sang ayah tanpa berani membantah.
“Aku tidak mengatakan bahwa kau tidak mampu atau tidak pantas. Hanya saja, aku kira aku harus memikirkan lebih jauh dari itu. Kademangan Sangkal Putung bukan sekadar siapa yang akan duduk menggantikanku,” kata Ki Demang.
Swandaru menggeser duduknya sedikit. Dia tidak merasa terkejut mendengar perkataan ayahnya, tetapi tetap saja ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.
Memang benar, Sangkal Putung bukan sekadar rumah tempat dia dibesarkan. Bukan sekadar tempat bermain atau bekerja, tetapi sebuah tempat yang sudah memberi arti bagi banyak orang. Menggantikan kedudukan ayahnya dengan keadaan tersebut tentu bukan perkara yang dapat dipandang ringan.
Namun, kembali pada ganjalan itu, selain tidak mampu atau tidak pantas, apa lagi?
“Orang-orang Sangkal Putung kelak tidak hanya membutuhkan seseorang yang dapat memberikan perintah,” lanjut Ki Demang. “Mereka membutuhkan orang yang bersedia mendengarkan, mampu menimbang persoalan dengan tenang, dan sanggup menerima bahwa tidak semua kehendaknya dapat dilaksanakan.”
Dia berhenti sejenak sebelum menambahkan, “Bukan aku mengatakan bahwa engkau tidak mau mendengarkan atau menimbang, bukan aku mengatakan kau orang yang tidak punya kepedulian, tetapi lebih pada pertanyaan: apakah yang akan kau lakukan bila seseorang mengingatkan? Bila engkau sedang keliru dalam keputusan, apakah mendengarkan itu masih menjadi bagian dirimu?”
Ki Demang mengambil napas sebentar.
“Kita ingat bagaimana kau pada mulanya enggan menerima Kyai Gringsing sebagai guru. Kita ingat dan masih segar, betapa engkau dengan segala yang ada dalam dirimu menantang Agung Sedayu. Dan beberapa hal lain tetapi ini bukan sebuah persidangan,” ucap Ki Demang. “Kita tahu itu.”
Swandaru mengusap wajah lalu menarik lagi napas yan gcukup panjang. Cukuplah sampai di sini, pikirnya tanpa berani mengatakan itu di depan ayahnya.
“Barangkali memang belum harus diputuskan sekarang.” Ki Demang mengangguk perlahan. “Namun, memikirkannya adalah hal yang berbeda. Kalian dapat merundingkan itu tanpa perlu menunggu saatnya benar-benar tiba.”
Sekar Mirah menundukkan pandangan sejenak. Dia mengetahui bahwa keadaan ayahnya sudah tidak lagi sama dengan dahulu, atau bahkan setahun yang lalu. Meskipun Ki Demang masih berusaha menjalankan kebiasaannya, tapi ada sesuatu yang membuatnya lebih cepat letih.
Dalam waktu itu, Sekar Mirah lebih banyak diam. Dia dapat merasakan bahwa Ki Demang sedang berusaha menyampaikan sesuatu yang tidak mudah diucapkan, terutama kepada anaknya sendiri.
Swandaru harus menimbang persoalan itu bukan sebagai seorang anak yang masih dapat menyerahkan keputusan kepada orang tuanya, tetapi sebagai seseorang lelaki dewasa.
Ruangan kembali hening.
Ki Demang Sangkal Putung yang membuka dan mengakhiri pula persoalan tentang masa depan kademangan.
Hari belum berganti menjadi pekan, tetapi tenaga Ki Demang tidak lagi pulih seperti sediakala. Ketika orang-orang masih menjalani kebiasaan mereka, Ki Demang yang semakin lama berada di dalam biliknya.
Tampak Swandaru duduk pula di sebuah dingklik kayu di sebelah pembaringan Ki Demang Sangkal Putung.
Dia berkata perlahan, “ “Sebaiknya Ayah beristirahat sepenuhnya. Ayah tak perlu memikirkan segala yang akan terjadi.”
Ki Demang mengangguk kemudian berucap, ”Bagaimana mungkin itu dapat aku lakukan, Ngger? Kademangan tetaplah menjadi beban yang belum diringankan.”
“Tetapi Ayah terlihat payah dan letih.”
“Ya,” kata Ki Demang lalu menghela napas.
“Aku dan Mirah akan mengupayakan dukun terbaik,” kata Swandaru. “Bila perlu, Kakang Sedayu dapat dipanggil ke sini.”
Ki Demang menggeleng. Katanya, “Jangan, tidak perlu. Jangan kau ganggu kakakmu itu. Dia sudah terlalu repot dengan urusan Mataram.”
“Tidak apa-apa, Ayah.”
Sekali lagi Ki Demang menggeleng. “Sakitku bukanlah penyakit tetapi karena usia maka semuanya menurun. Biarlah, biarkan saja aku menunggu dengan segala kedamaian yang mungkin datang.”
Swandaru tidak menyahut lagi. Dia menyentuh telapak tangan Ki Demang, lalu berkata, “Aku akan di sini, bersama Ayah.”
Ki Demang memberi isyarat dengan mata sambil berkata lebih pelan, “Terima kasih.”
“Mirah sedang menyiapkan minuman panas dan makan untuk Ayah,” kata Swandaru kemudian.
“Tidak perlu sebenarnya tapi terima kasih,” desis Ki Demang sambil menahan rasa sakit yang menderanya.
Sekar Mirah kemudian masuk sambil membawa pula makan dan minum Ki Demang. Dengan berhati-hati, dia menempatkan itu semua ke atas meja dan menempatkan dalam jangkauan ayahnya.
Ki Demang bangkit sejenak untuk menghirup minuman yang terasa menyegarkan tubuhnya.
Sesuap demi sesuap makanan pun masuk atas bantuan Sekar Mirah.
Agak lama setelah itu, Ki Demang berusaha untuk duduk secara pantas sambil punggung bersandar pada dinding bambu
“Swandaru,” berkata Ki Demang pelan, “aku tidak ingin ada sebuah pokal bilamana engkau tidak dikehendaki rakyat Sangkal Putung.”
Swandaru menundukkan kepalanya. Sepertinya dia sendiri merasa ada yang aneh karena hampir tidak bantahan pada setiap ucapan ayahnya atau Sekar Mirah. Malah dia menanggap itu semuanya wajar selama dalam kendali. Namun ada juga keragu-raguan di dalam hatinya: bila bukan dia, siapa yang akan meneruskan?
Maka dia pun menjawab, “Sudah tentu, Ayah.”
Ki Demang tersenyum lalu bertanya, “Sudah tentu akan berpokal atau sudah tentu menjadi anak yang baik?“
Swandaru tidak berkata-kata dan kepalanya tetap tunduk.
“Jika mempunyai anak sepertimu adalah sebuah hukuman, rasa-rasanya aku telah menebus semua kesalahan. Tetapi kini kademangan sedang menghadapi masa depan tapi mereka belum menentukan pilihan,” kata Ki Demang lagi.
Swandaru masih bergeming.
Ki Demang pun kemudian mengisahkan perjalanannya Sangkal Putung di masa lalu, jauh sebelum kedatangan laskar Jipang. Perlahan diulang dengan teliti meski hanya ringkasan sejak Ki Demang muda sampai sekarang.
“Itulah sebabnya jika aku merasa bersalah adalah karena sesuatu hal yang terjadi di luar kendali,” desis Ki Demang kemudian.
Swandaru sadar bahwa yang dimaksud ayahnya adalah dirinya, bukan orang lain. Kemudian dia bertanya, “Apakah Ayah mempunyai pertimbangan yang lain?”
Ki Demang tidak segera menjawab tapi mendadak dia ragu dengan pemikirannya sendiri. Dengan susah payah dia berusaha untuk tetap tenang. Kemudian dia mengarahkan pandangannya pada Sekar Mirah dengan harapan anak perempuannya itulah yang mengambil alih jawaban.
Swandaru masih menunggu lalu memandang pula pada Sekar Mirah. Pikirnya, barangkali adiknya itu mengetahui sesuatu.
“Aku ingin mengatakan yang sebenarnya,” ucap Sekar Mirah. “Tapi, apakah kita berada di waktu yang tepat? Ada sesuatu yang mungkin berbeda semua sudut pandang kita.”
Ki Demang mengangguk-angguk lalu teringat sesuatu yang tak kalah penting. Sambil menoleh pada Swandaru, dia bertanya kemudian, lirih, “Bagaimana keadaanmu dengan Pandan Wangi?”
Swandaru nyaris tidak dapat berkata-kata. Atau memang tidak dapat menanggapi ayahnya? Dia kembali mengusap wajah lalu menarik napas panjang.
“Swandaru,” suara Ki Demang menjadi dalam, “aku adalah ayahmu dan sudah terlalu tua untuk melihat keadaan kalian. Aku dapat melihat perkembangan hanya dari cara kalian bergaul dan berhubungan. Engkau sudah cukup umur dan dewasa untuk membuat pertimbangan dan aku akan semakin keliru jika menganggap dirimu adalah anak-anak. Maksudku, aku tidak akan mencampuri urusan kalian. Jika yang aku katakan sesuai dengan keinginanmu, maka sikapmu, kata-katamu dan bayangan wajahmu akan mengungkapkannya padaku.”
Swandaru, putra Demang Sangkal Putung yang terombang-ambing masalah rumah tangga tidak menjawab dan kepalanya masih tertunduk dalam.
- Waru Geni menyimpan sebuah tabir masa lalu dan juga tirai masa mendatang.
- Hinggalah kemudian memang terasa wajar ketika Ki Garu Wesi menelan seluruh rasa pahit, sedih, nelangsa lalu menggabungkan semua perasaannya menjadi satu kata : marah! Di Jati Anom Obong 53.
- Dan nyatalah kemudian seorang berkata dalam gelap, “Menyingkirlah, Ki Sanak! Kami tidak mempunyai urusan yang harus diselesaikan denganmu.” Pemimpin rombongan dari atas punggung kudanya dengan sebatang pedang yang terjulur di Jalur Banengan 1.
