Padepokan Witasem
Bab 15 Pertempuran Hari Kedua

Pertempuran Hari Kedua – 8

Sedikit jauh dari tempat perkelahian Ki Jayanti dengan Warastika, Ki Cendhala Geni masih belum mampu menekan Bondan. Putaran kapaknya yang seringkali mengeluarkan dengung yang menggetarkan belum  memadai untuk membuat jerih murid Resi Gajahyana itu.. Kelincahan Bondan memainkan dua senjata cukup merepotkan tandang musuhnya. Ia kerap memotong laju kapak lawannya, menyerang balik lalu menjauh.

“Sebenarnya apa yang kau inginkan, Ki Cendhala Geni? Menilik usiamu sekarang ini, seharusnya kau sudah lebih dari cukup untuk memperoleh apa yang disebut sebagai kamukten,” kata Bondan ketika mereka terdorong beberapa langkah ke belakang.

“Kau bicara tentang kamukten pada usia yang belum sepertiga dariku? Dari mana kau belajar itu? Lihatlah, kau bicara seolah telah menggenggam langit.” Usai mengatupkan bibir,  Ki Cendhala Geni menambah kecepatan lalu  menerkam Bondan. Kaki dan tangan Ki Cendhala Geni bergerak sangat cepat mengurung Bondan dari berbagai penjuru. Tak pelak Bondan harus membenturkan kaki dan dua senjatanya untuk menahan gelombang serangan Ki Cendhala Geni yang mengalir terus menerus. Bergantian keduanya telah saling melukai, ujung senjata msing-masing berdaya untuk menembus pertahanan, serta mengurangi kemampuan lawan masing-masing untuk bergerak cepat.

Jauh di kedalaman hatinya, Ki Cendhala Geni menyesali bahwa selama ini telahmemandang segalanya tetap berjalan seperti biasa. Ia tidak mengembangkan pemikiran bila Bondan dapat diselamatkan, atau meningkatkan kemampuan atau akan mendapatkan lawan sepadan di medan perang. “Meski singkat tetapi perubahan banyak terjadi, rupanya. Kekuatanku tidak berkurang, tetapi anak ini sanggup menahanku untuk menanjak lebih tinggi,” desahnya dalam hati. Sepintas ia melirik keadaan sekelilingnya, nyata baginya bahwa secara keseluruhan pertempuran berlangsung dengan keadaan yang tidak dapat lagi dikatakan seimbang.

Ikat kepala Bondan yang terurai lepas telah berubah menjadi senjata yang dapat mematikan lawan. Ki Cendhala Geni menyadari ada bahaya lain, selain keris, yang mengancam jiwanya saat kain berukuran pendek itu menyerangnya dengan gerakan seperti seekor ular. Suara ledakan terdengar ketika ikat kepala itu menyentak sandal pancing atau menebas dengan sangat liat.

Dua orang ini saling menyerang dengan garang dan sama-sama tidak menunjukkan rasa takut. Ikat kepala Bondan saling menggulung dan berputar bergantian dengan kerisnya, mengurung Ki Cendhala Geni, namun demikian orang tua itu selalu dapat melihat celah dalam olah gerak Bondan.

Setelah menghabiskan waktu begitu panjang, pertarungan dua orang yang masing-masing menjadi andalan dari kubu masing-masing akhirnya tiba di titik puncak.

Kapak Ki Cendhala Geni menggaung dahsyat menimbulkan rasa sakit pada telinga orang sekitarnya. Angin sambaran yang ditimbulkannya sanggup menerbangkan debu dan menghamburkan kerikil yang berukuran kecil ke segala arah. Teriak kesakitan terdengar dari prajurit-prajurit yang berada di sekitar lingkar perkelahian dua orang berkekuatan raksasa ini. Beberapa prajurit baik dari kubu Ken Banawa maupun Ki Sentot Tohjaya terpental roboh akibat kerikil yang menembus tubuh. Jika mereka dapat lolos dari senjata lawan yang dihadapinya, maka mereka tidak mungkin lepas dari hantaman angin yang menyambar keluar dari kibasan kapak. Derita para prajurit itu bertambah luar biasa setelah keris Bondan juga memancarkan hawa panas yang terasa membakar kulit. Maka yang terjadi kemudian adalah lingkaran itu semakin luas. Para prajurit yang bertempur di sekitar mereka bergeser menjauh.

Selanjutnya kedua orang itu sama-sama ingin menuntaskan pekerjaan yang mereka anggap telah tertunda cukup lama. Ki Cendhala Geni yang geram karena Bondan dapat lolos darinya, kini mendapat kesempatan untuk mengakhiri hidup Bondan. Sementara di sisi lain, Bondan tidak ingin Ki Cendhala Geni kembali lepas dalam kesempatan ini agar tidak lagi menjadi gangguan keamanan Majapahit.

Demikianlah mereka berdua melibatkan diri dalam perang tanding yang susah dimengerti. Tak jarang Bondan harus mengelak dari tebasan kapak sekalipun jarak masih sejauh dua langkah darinya. Ia harus mengelak agar kulitnya tidak robek karena angin tajam dari kapak mampu menyayat kulitnya. Sebaliknya, Ki Cendhala Geni harus membagi perhatiannya pada serangan ikat kepala Bondan. Kain ini selalu membuat ledakan yang gelombang suaranya dapat langsung menghantam bagian dalam pendengaran Ki Cendhala Geni.

Related posts

Pertempuran Hari Kedua – 9

kibanjarasman

Pertempuran Hari Kedua – 12

kibanjarasman

Pertempuran Hari Kedua 7

kibanjarasman

Pertempuran Hari Kedua 6

kibanjarasman

Leave a Comment