Dironda 15 kali
Ngawi, 1670
Raden Gatot Kusumawardana Jaranmoro baru berumur enam belas tahun, tetapi namanya telah beredar dari satu padukuhan ke padukuhan lain. Bukan karena keberanian di medan perang, bukan pula karena kecakapannya menunggang kuda. Dia termasyhur lantaran perempuan.
Menurut hitungan yang dibanggakannya sendiri, sudah empat puluh sembilan perempuan yang pernah singgah dalam kehidupannya. Sebagian datang karena tertarik oleh wajahnya, sebagian terpikat oleh tutur katanya, dan beberapa lainnya barangkali sekadar ingin mengetahui putra bangsawan itu benar-benar sehebat kabar yang beredar.
Ketemu, ngencuk.
Ketemu, ngencuk.
Gatot tidak pernah mempersoalkan alasan mereka dan tidak pernah mau tahu latar belakang mereka. Bujangan atau istri orang baginya sama saja. Perempuan adalah kepuasan yang tidak mengenal batas akhir.
Ketemu, ngencuk.
Mulut Gatot seperti mempunyai kekhususan. Apakah dia menggunakan Jaran Goyang atau ajian Semar Mesem? Tidak ada yang memastikan.
Ketemu.
Sekarang dia berusia delapan belas tahun ketika pada suatu malam, ketika meninggalkan sebuah rumah di pinggir Ngawi, dia merasakan tubuhnya mendadak aneh. Perutnya mengeras. Mual menyerang tanpa peringatan. Keringat dingin membasahi tengkuknya, sementara kedua kakinya terasa berat seolah baru saja berjalan menembus lumpur sedalam pinggang.
Semula dia mengira keracunan.
Namun, keesokan paginya, rasa mual itu kembali. Demikian pula pada hari berikutnya. Yang mengherankan, perutnya terasa penuh, bukan seperti orang kekenyangan, tetapi ada sesuatu yang perlahan-lahan tumbuh di dalamnya.
Gatot memanggil seorang dukun tua.
Setelah memeriksa denyut nadinya dan menekan perutnya dengan jemari yang keriput, dukun itu mendadak menarik tangannya.
“Apa yang kau rasakan, Raden?”
“Seperti hendak muntah. Perutku berat. Kadang-kadang ada gerakan dari dalam.”
Dukun itu tidak segera menjawab.
“Berapa umur Raden?”
“Delapan belas, sekarang. Apa hubungannya?”
Dukun tersebut memandangnya dengan raut wajah yang tidak dapat dikatakan. Katanya kemudian, “Perempuan yang terakhir itu, apakah Raden mengetahui namanya? Asalnya?”
Gatot mengerutkan kening. “Perempuan kelima puluh. Aku bahkan tidak ingat dari mana asalnya.”
Mendengar jawaban itu, sang dukun mundur selangkah. “Kalau begitu, semoga para leluhur masih berkenan melindungi Raden.”
“Jelaskan maksudmu!”
Dukun perempuan yang sudah tua itu tidak menjawab. Dia beranjak berdiri dengan tatap mata menunduk. Perlahan dia berkata, “Di Ngawi pernah ada seorang perempuan yang melahirkan lima puluh anak tanpa pernah mengandung seorang pun.”
Gatot terdiam.
“Dan anak yang kelima puluh,” lanjut dukun itu, suaranya nyaris tidak terdengar, “konon tidak dilahirkan dari rahim ibunya.”
Dukun itu beranjak sambil mengemasi perlengkapan.
Gatot terdiam.
“Lalu siapa? Hei, siapa?” serunya.
Namun, sang dukun tua telah bergegas pergi tanpa menoleh sedikit pun.
Ngencuk.
Gatot menggeram dan ingin bangkit, tetapi dia hanyalah kembang amben. Bisa apa?
Dia ingin memanggil seseorang, tetapi tidak ada yang mau membantunya. Keinginan ngencuk semakin menyala, sementara dirinya hanyalah kembang amben. Bisa apa?
Sungguh, Gatot Kusuwardana Jaranmoro, bangsawan belasan tahun itu, terbaring menderita dengan perut yang semakin membesar dan keinginan ngencuk yang tak terlampiaskan.
Selesai
- Kisah ini memang agak kasar secara tulisan tapi ada kebutuhan untuk ekspresi. Cerita pendek misteri yang benar-benar misteri.
- Sesaat kemudian Agung Sedayu menunjuk ke satu jurusan, Kiai Plered 55, tetapi ia tidak mengatakan sesuatu. Sukra hanya memandangi arah yang ditunjuk oleh senapati Mataram itu.
- Murid Resi Gajahyana ini tiba-tiba melesat ke arah Ki Rangga Ken Banawa, meluncur deras sambil berseru, ”Hey, kita menjelang Benturan Gunung Wilis 2. Bersiaplah!”
