0%
Still working...

Waru Geni 4 – Sangkal Putung pada Hari-hari Mendatang

Dironda 41 kali

Wedaran sebelumnya: Swandaru berangsur-angsur pulih berkat perawatan Kyai Bagaswara pula. Dia mulai dapat berjalan dan berlatih tata gerak dasar, tetapi pemulihan tubuhnya tidak menghapus kegelisahan akibat berkurangnya kemampuan kanuragan setelah dikalahkan Agung Sedayu di Pancuran Watu Item.

Sekar Mirah menerima berita itu dengan tenang.

Ada kelegaan yang segera menyentuh hatinya. Dalam segala keadaan, Agung Sedayu adalah suaminya. Dia tentu tidak menghendaki sesuatu yang buruk menimpa lelaki itu. Hanya saja,  kelegaan tersebut tidak berkembang menjadi kegembiraan yang berlebihan. Setelah mendengar berita itu, Sekar Mirah hanya terdiam sejenak sebelum kembali memikirkan keadaan yang terpampang di depan mata.

Dia telah terbiasa menerima kabar tentang suaminya dari kejauhan. Ada kalanya kabar itu membawa kecemasan, ada kalanya melegakan. Lambat laun, dia belajar menerima semuanya tanpa membiarkan perasaannya menguasai seluruh pikirannya.

Bukan berarti dia tidak merindukan Agung Sedayu. Bukan berarti pula berarti setiap kemenangan itu tidak penting baginya. Hanya saja, kehidupan di Sangkal Putung tidak memberinya banyak kesempatan untuk berlama-lama memikirkan sesuatu yang tidak dapat diubahnya. Selama suaminya masih menjalankan tugasnya, dia harus melanjutkan tugasnya sendiri.

“Syukurlah Kakang Sedayu dapat mengatasi persoalan itu,” katanya pendek. Setelah itu, Sekar Mirah kembali menyandak urusan yang belum selesai.

Sementara Ki Demang yang mendengar kabar tersebut menunjukkan kelegaan yang tidak jauh berbeda. Dia merasa lega dan bersyukur Agung Sedayu selamat. Namun, di balik kelegaan itu, terselip pula kecemasan yang tidak segera diungkapkannya.

Dia tahu bahwa kemenangan dalam suatu pertarungan tidak selalu berarti bahwa seluruh persoalan telah selesai. Ada akibat yang mungkin baru terasa setelahnya, ada hubungan yang berubah, dan ada keputusan yang meninggalkan beban panjang bagi mereka yang terlibat.

Pikirannya pun beralih kepada Swandaru. Anaknya itu sedang memulihkan diri.

Untuk sementara, keadaannya memang semakin baik. Namun, Ki Demang tidak tahu keadaan batin Swandaru setelah peristiwa di Pancuran Watu Item. Dia juga tidak tahu pertentangan dengan Agung Sedayu akan berhenti sampai di sana atau justru meninggalkan persoalan yang lebih sulit diselesaikan.

Ki Demang menghela napas perlahan.

Dia berharap Swandaru dapat menerima kenyataan yang telah terjadi dan mengambil pelajaran darinya. Namun, dia cukup mengenal anaknya untuk mengetahui bahwa menerima kekalahan tidak selalu mudah, terlebih apabila kekalahan itu menyentuh sesuatu yang selama ini dianggap sebagai bagian dari kekuatan dirinya.

Swandaru juga telah mendengar berita kemenangan Agung Sedayu dari seorang warga kademangan.

“Orang-orang berkata Ki Tumenggung berkelahi dengan cara yang tidak biasa,” kata orang itu.

Swandaru bergumam tapi tidak sepenuhnya jelas.

“Orang-orang juga mengatakan kalau yang menjadi lawan Ki Tumenggung justru orang dekat Sinuhun,” orang itu menambahkan. “Tapi, kata mereka pula, orang itu adalah pembunuh.”

Setelah menggelengkan kepala karena cukup sulit untuk mengerti kedaan yang sedang terjadi, orang itu pun mengatakan bahwa dirinya masih ada urusan yang lain.

Swandaru mengangguk.

Untuk sesaat, dia merasa lega. Kakaknya selamat. Agung Sedayu berhasil melewati pertarungan berat dan kembali membuktikan kemampuannya. Swandaru tidak menghendaki sesuatu yang buruk menimpa kakaknya, betapapun rumit hubungan mereka setelah kejadian di Pancuran Watu Item.

Namun, kelegaan itu cepat terkikis.

Berita kemenangan tersebut justru mengingatkannya pada keadaannya sendiri. Agung Sedayu masih dapat mengerahkan kemampuannya untuk menghadapi lawan-lawan berat, sedangkan dirinya? Dia merasa terpasung karena Agung Sedayu. Betapa tidak, hanya untuk mengerahkan setengah kekuatan saja, dia cukup kesulitan. Swandaru yang sekarang adalahsetengah dari Swandaru sebelumnya. Lebih mendekati keadaan saat pertama belajar ilmu dari Kyai Gringsing.

“Apakah guru pun akan memasung kekuatanku seandainya dia masih hidup? Apakah dia memberi izin Kakang Sedayu melakukan ini padaku?” Swandaru bertanya dalam hatinya.

Tak lama, Swandaru menundukkan pandangan. Dari dalam dirinya, Swandaru enggan mengatakan bahwa dia kehilangan setengah kemampuan. Masih mempunyai tenaga, masih dapat berlatih, dan belum mengetahui sepenuhnya setelah dia benar-benar pulih. Namun, satu hal yang pasti adalah dia tidak dapat menyangkal bahwa ada yang berubah.

Dan perubahan itu berkaitan langsung dengan Agung Sedayu.

Swandaru tidak mengatakan sesuatu pun setiap ada orang yang membicarakan kemenangan kakaknya. Dia hanya mendengarkan, mengucap barang sedikit lalu beranjak meninggalkan mereka.

Pada hari itu, Swandaru memang mulai pulih tetapi ada bagian lain dari dirinya yang belum menemukan jalan untuk menerima keadaan.

Malam pun turun di Sangkal Putung.

Setelah makan malam usai, Ki Demang duduk bersandar pada sebuah bantal di ruang tengah. Wajahnya tampak letih. Sesekali tangannya bergerak menyentuh bagian dada, seolah-olah hendak memastikan bahwa rasa sakit yang beberapa kali datang itu tidak kembali mengganggunya. Sekar Mirah duduk tidak jauh darinya, sementara Swandaru mengambil tempat di sisi lain ruangan.

Nyi Demang belum dapat bergabung. Masih ada beberapa pekerjaan di bagian belakang kediaman yang harus diselesaikannya. Karena itu, untuk sementara, hanya mereka bertiga yang berada di ruang tengah.

Sementara Kyai Bagaswara ada di pondokan belakang, menjaga Wangi Sriwedari. Dia sadar batasan, dan panggraitanya mengatakan bahwa malam itu akan ada sesuatu yang sangat penting untuk dibahas oleh keluarga Ki Demang.

Percakapan mula-mula berlangsung ringan.

Sekar Mirah menanyakan keadaan Swandaru, terutama keadaannya yang sudah cukup kuat untuk berjalan lebih jauh dari halaman kediaman.

Swandaru menjawab bahwa dirinya merasa semakin baik. Dia bahkan mengatakan sudah  mencoba untuk menaiki kuda. Dia bilang selain sudah mulai jenuh, juga ingin melihat kademangan lebih dekat lagi.

Ki Demang mendengar jawaban itu lalu tersenyum penuh arti.

“Sebaiknya tidak terburu-buru, Ngger,” kata Ki Demang.

Swandaru mengangguk. “Saya mengerti, Ayah.”

Ki Demang tidak segera melanjutkan perkataannya. Dia lebih memperhatikan anak lelakinya itu beberapa saat. Ada kelegaan karena Swandaru telah dapat duduk dan berbicara tanpa menunjukkan rasa sakit yang berarti. Namun, di balik kelegaan itu, tersimpan pikiran yang selama beberapa waktu terakhir semakin sering datang kepadanya.

Swandaru bukan lagi anak yang harus selalu berada dalam pengawasannya. Usianya telah bertambah, pengalamannya pun semakin luas. Swandaru telah berhadapan dengan berbagai persoalan yang tidak ringan. Namun, Ki Demang mulai memikirkan sesuatu yang selama ini mungkin dapat ditundanya.

“Mirah,” katanya kemudian, “pernahkah kau berpikir tentang Sangkal Putung setelah aku tidak lagi sanggup mengurusnya?”

Sekar Mirah mengangkat wajah, lalu berpaling pada kakaknya, Swandaru. Pertanyaan itu memang bukan sesuatu yang sama sekali asing baginya, tetapi mendengarnya langsung dari ayahnya membuat persoalan tersebut terasa lebih dekat.

“Bagaimana saya menjawabnya?” kata Sekar Mirah. “Kakang Swandaru ada di sini, Ayah.”

Swandaru mengetahui itu tapi tidak bicara sedikit pun. Hanya saja, dia heran, mengapa ayahnya tidak bertanya pada dirinya secara langsung?

Ki Demang kemudian memandang Swandaru.

“Selama ini,” kata Ki Demang, “aku masih dapat menerima orang-orang yang datang membawa persoalan. Aku masih dapat mendengarkan keterangan mereka, mempertimbangkan apa yang harus dilakukan, lalu menentukan langkah yang menurutku paling baik. Tetapi aku tidak tahu sampai kapan aku dapat menjalankan semuanya seperti sekarang.”

Ki Demang menarik napas perlahan lalu berkata lagi, “Swandaru, kau tentu memahami bahwa menjadi putra seorang Demang tidak dengan sendirinya membuat seseorang siap menjadi Demang.”

Swandaru menatap ayahnya lalu mengangguk. “Begitulah,” katanya disertai helaan napas pendek.

  • Sebagian orang mengatakan Waru Geni berjalan lambat. Tapi bukan masalah karena naskah menuntut demikian dan juga harus mengenali orang-per orang.
  • Sedangkan pertarungan di tempat lain masih tetap mengguncang. Perwira 8 – Tenaga inti Toh Kuning telah mencapai batas puncak seseorang yang dapat dikatakan berkepandaian tinggi. Tersedia pdf, 75 ribu. Dan juga serial Kitab Kyai Gringsing yang juga sudah ada pdf.
  • Sementara, aku, Dyah Murti, benar-benar tidak mengerti arah dan maksud dari segala yang diucapkannya. Bahkan, lelaki ini belum menyebutkan nama sama sekali selain Nir Wuk Tanpa Jalu 8. Hmmm, dia menyebut Dunia di Ambang Ruh? Sungguh, aku tertarik untuk melihatnya.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.