Padepokan Witasem
Pajang, Gajahyana, majapahit, Lembu Sora, bara di borodubur, cerita silat jawa, padepokan witasem, tapak ngliman
Bab 5 Bentrokan di Lereng Gunung Wilis

Bentrokan di Lereng Gunung Wilis 2

“Apakah Anggara Abang benar-benar dapat melihat jejak kaki dengan penerangan dari sisa cahaya ini?” bertanya Nyi Kirana pada Dalawar sambil berbisik.

“Entahlah. Tetapi kami saksikan kemampuan ini sebanyak yang kau lakukan ketika melarikan diri dari kejaran prajurit Kediri,” jawab Dalawar lalu menyusup dekat tanaman perdu yang berada di samping sebatang pohon besar.

Pada saat itu, Bondan yang duduk sendiri melepaskan luapan perasaannya dalam keheningan, dapat mendengar jejak kaki orang yang menapak di atas rumput basah. Gemericik air hujan yang membentur dedaunan tidak dapat menyamarkan desir langkah sejumlah orang dari pendengaran Bondan. Murid Rresi Gajahyana ini tiba-tiba melesat ke arah Ki Rangga Ken Banawa, meluncur deras sambil berseru, ”Paman dan kalian semuanya. Kita dalam kepungan!”

Lengking suara Bondan benar-benar mengejutkan Ra Jumantara dan pengikutnya. Ia sama sekali tidak menduga bahwa kedatangannya dapat diketahui oleh orang-orang yang diincarnya. Selain terkejut, Ra Jumantara pun geram dengan teriakan Bondan. “Edan! Bisa jadi ia kerasukan dedemit penunggu hutan!” Ra Jumantara memberi tanda bagi pengikutnya agar keluar dari persembunyian. “Kalian memang hebat. Tetapi, apakah kalian sudah siap melepas nyawa di tengah hutan ini? Atau kalian sedang berpikir untuk merebut kembali barang-barang yang menjadi milik kami?” Ra Jumantara menunjukkan dirinya dengan melangkah maju dengan penuh keyakinan. Dalam bentangan jarak sekitar empat atau lima tombak, di hadapannya tampak Ki Swandanu menyambutnya dengan dada tegak. Kemudian tanya Ra Jumantara, ”Apakah kau yang menjadi pemimpin kelompok, Ki Sanak?”

“Bukan aku Ki Sanak,” jawab Ki Swandanu dengan tenang lalu beringsut ke samping untuk memberi tempat pada Jalutama. Kemudian lanjutnya, ”Anak muda inilah pemimpin kami, Ki Sanak. Ia anak pemimpin kami, Ki Ageng Giritama dari Menoreh.” Ki Swandanu sengaja menyebut nama pemimpin Sima Menoreh agar kepercayaan diri dan keyakinan para pengawal menjadi semakin kuat.

“Aku belum pernah bermain-main dengan anak muda yang menjadikan dirinya sebagai pemimpin. Tetapi itu tidak menjadi masalah bagiku. Tujuanku dan kawan-kawanku menyusul kalian adalah agar kalian mendapatkan tempat istirahat yang layak di lereng gunung,” kata Ra Jumantara dengan tatap mata menyelidik Jalutama.

Jalutama mengerutkan alis kemudian berkata dengan tenang, ”Bagaimana jika kami yang mengubur kalian di dalam hutan ini? Supaya Ki Sanak tahu, aku dan kawan-kawanku biasa bertemu dengan orang-orang bermulut besar yang pandai bicara. Aku lihat kau ada kemampuan untuk itu, Ki Sanak. Benarkah dugaanku?”

“Kau memang bernyali besar. Dan aku sarankan bagimu agar jangan pernah berharap dapat kembali pulang ke kampung halamanmu dengan selamat.”

“Bagaimana bila kita bertaruh, Ki Sanak?” kata Bondan yang kemudian muncul dari belakang Jalutama kemudian berdiri berdampingan dengan putra Ki Giritama. Ucap Bondan selanjutnya, ”Kami akan mengubur kalian di tanah dekat pedukuhan tadi jika kami dapat menang dalam pertempuran ini. Dan bila kami kalah, kalian dapat memberi hewan buas yang ada di dalam hutan ini dengan tubuh kami. Bagaimana, Ki Sanak?”

“Apakah kalian yakin akan menang?” sahut seseorang dari kelompok Ra Jumantara lalu diikuti tawa keras orang-orang Padepokan Sanca Dawala.

Kata Ra Jumantara, ”Kalian menghadapi kami dalam keadaan hampir mati, lalu kalian berpikir akan menang? Lucu, lucu sekali.” Meski ia terkejut dengan ucapan Bondan, tetapi Ra Jumantara berpendapat bahwa itu wajar. Orang dapat membual dengan mengatakan segala sesuatu yang sebenarnya tidak berada dalam kendalinya, pikir Ra Jumantara. Kemudian ia memberi tanda dengan tangan agar kawan-kawannya mulai rapat mengepung Jalutama dan Bondan serta delapan orang lainnya.

Dalam kesempatan itu, Nyi Kirana berkata pelan pada Ra Jumantara, ”Biarkan anak pemimpin Menoreh itu hidup. Aku akan memeliharanya sebagai tawanan.”

Ra Jumantara tertawa pelan mendengar kata-kata perempuan cantik yang berusia hampir setengah abad itu. Sementara keadaan makin bertambah suram saat dua api unggun yang menyala di bawah siraman gerimis mulai meredup. Air yang turun dari langit pun mulai turun agak jarang.

Dua kelompok ini akan bertarung dalam kegelapan.

“Kalian jangan ceroboh. Ingatlah baik-baik! Tidak boleh ada seorang pun dari mereka yang dapat meninggalkan hutan ini dalam keadaan hidup,” teriakan lantang Ra Jumantara pada pengikutnya.

Bondan berseru, ”Ki Sanak, lebih baik engkau mengkhawatirkan dirimu sendiri. Sekali ini aku akan bekerja sebagai pengawal Menoreh!”

Sementara itu di belakang Bondan dan Jalutama, Ken Banawa mulai menyusun barisan dari sisa pengawal Menoreh yang masih hidup.  Lelaki yang berkedudukan sebagai rakryan rangga ini menyampaikan siasat perang yang dapat digunakan menghadapi lawan yang lebih kuat dari mereka. Suasana gelap memaksa Ki Rangga membuat gelar perang yang jarang sekali diterapkan. Katanya, “Ki Sanak semuanya, sungguh, amat berat untuk dapat lolos dari tempat ini. Aku tidak mengecilkan semangat kalian karena aku mempunyai keyakinan bahwa kita lebih senang mati daripada menjadi tawanan mereka.”

Para pengawal Menoreh mengangguk. Tidak ada rasa gentar dalam hati mereka. Kehadiran Bondan dan utusan Resi Gajahyana serta Ken Banawa dapat menenangkan perasaan mereka. Terlebih lagi mereka menjadi saksi kesungguhan Bondan yang bersusah payah membawa jasad Sapta agar mendapat perlakuan terhormat. Bagi mereka, semangat seperti yang ditunjukkan Bondan adalah api yang membakar gairah untuk bertahan hidup.

“Sekarang, dengar kata-kataku,” ucap Ken Banawa lalu memberikan beberapa petunjuk pada para pengawal Menoreh. Saat itu Ki Swandanu serta Ki Hanggapati juga turut mendengar tanpa meninggalkan pengamatan gerakan pengikut Ra Jumantara.

Related posts

Bentrokan di Lereng Gunung Wilis 5

kibanjarasman

Bentrokan di Lereng Gunung Wilis 4

kibanjarasman

Bentrokan di Lereng Gunung Wilis 3

kibanjarasman

Bentrokan di Lereng Gunung Wilis 1

kibanjarasman

Leave a Comment