Dironda 18 kali
Cikini, 1870
Malam itu, angin berhembus dari arah kebun-kebun yang membentang di belakang rumah-rumah penduduk Cikini. Daun pisang bergesekan, sesekali disusul suara serangga yang terdengar dari balik semak. Langit tertutup awan, sementara cahaya lampu minyak di rumah Gatot berayun pelan tertiup angin yang menyusup melalui celah dinding.
Nina terbaring di atas pembaringan bambu. Perempuan muda itu belum dapat tidur. Kandungannya telah membesar, tetapi menurut perkiraan Mpok Atik, dukun bayi yang merawatnya, masih diperlukan beberapa pekan sebelum anak itu lahir.
Di samping pembaringan, Gatot duduk bersila sambil mengipasi istrinya dengan selembar anyaman bambu.
“Besok pagi, aku akan memanggil Mpok Atik lagi,” katanya. “Barangkali dia perlu memeriksa keadaanmu.”
Nina menggeleng lemah.
“Mpok Atik sudah datang kemarin. Katanya, anak kita masih betah di dalam.”
Gatot tersenyum. “Kalau begitu, biarkan dia betah sedikit lebih lama.”
Nina hendak membalas gurauan suaminya ketika sebuah suara terdengar dari luar rumah.
Tangis bayi. Mereka terdiam.
Suara itu seperti berasal dari tempat yang jauh. Namun, beberapa saat kemudian, tangis itu terdengar semakin jelas.
Nina segera bangkit dengan kedua tangan mencengkeram kain penutup tubuhnya. “Gatot, dengar!”
Gatot meletakkan kipasnya.
Tangis itu memang ada. Bukan suara kucing yang sedang kawin. Bukan pula suara anak kecil yang menangis karena terbangun dari tidur. Ada sesuatu dalam suara tersebut yang membuat bulu kuduk Gatot meremang. Tangis itu terdengar seperti tangis bayi yang baru saja meninggalkan rahim ibunya.
“Ada orang melahirkan?” tanya Nina.
Gatot berdiri, kemudian mengambil lampu minyak. “Tidak mungkin. Rumah terdekat cukup jauh dari sini.”
Dia membuka pintu.
Udara malam menyambutnya dengan bau tanah basah. Halaman tampak kosong. Di kejauhan, batang-batang pohon berdiri seperti bayangan manusia yang membisu.
Tangis bayi itu terdengar lagi.
Kali ini, Gatot yakin suara itu berasal dari sebelah kiri rumah, dekat rumpun bambu di tepi jalan setapak. Dia pun melangkah ke sana. “Siapa di situ?” serunya.
Tidak ada jawaban karena tangis itu mendadak berhenti.
Gatot mengangkat lampu, menerangi tanah di sekitar rumpun bambu. Tidak ada orang. Tidak ada kain pembungkus bayi. Tidak ada bekas orang berjongkok atau sesuatu yang dapat menjelaskan suara tadi. Hanya tanah yang lembap dan dedaunan yang berserakan.
Ketika ia kembali ke rumah, Nina sudah duduk di tepi pembaringan. Wajahnya pucat. “Apakah ada bayi di sana?”
Gatot menggeleng. “Tidak ada siapa-siapa.”
Nina menunduk, lalu mengusap perutnya dengan kedua telapak tangan. “Aku merasakan anak kita bergerak.”
Gatot menghampirinya. “Itu biasa.”
“Tidak seperti biasanya.”
Perempuan itu menatap suaminya. Matanya tampak basah. “Ketika suara itu terdengar, anak kita bergerak begitu keras sampai aku merasa kesakitan. Lalu, ketika tangisnya berhenti, anak kita juga diam.”
Gatot tidak segera menjawab. Dia berusaha menenangkan Nina, tetapi malam itu mereka tidak lagi membicarakan kelahiran anak mereka dengan ringan.
Mpok Atik datang setelah matahari naik ke atas pepohonan.
Perempuan setengah baya itu telah membantu banyak persalinan di sekitar Cikini. Tangannya cekatan, perkataannya lugas, dan tidak mudah percaya pada cerita tentang penampakan atau gangguan makhluk halus. Baginya, sebagian besar ketakutan muncul karena orang tidak memahami apa yang sedang terjadi.
Setelah memeriksa keadaan Nina, dia duduk di dekat pintu.
“Jadi, kalian mendengar tangis bayi semalam?”
“Mpok juga mendengarnya?” tanya Gatot.
Mpok Atik tidak segera menjawab.
Dia memandang halaman, kemudian mengalihkan perhatian kepada rumpun bambu di kejauhan.
“Aku tidak mendengarnya dari rumahku,” katanya. “Tetapi ketika melewati jalan sebelah timur tadi pagi, aku melihat sesuatu.”
“Apa itu, Mpok?”
“Tanah di bawah rumpun bambu itu teraduk. Seperti baru digali, lalu ditutup kembali.”
Gatot mengerutkan kening. “Apakah Mpok memeriksanya?”
“Tidak.”
“Mengapa?”
Mpok Atik menatapnya tajam. “Karena aku menemukan kain.”
“Kain apa?”
“Kain pembungkus bayi. Sudah tua, kotor, dan tersangkut di antara akar bambu.”
Nina meremas ujung kainnya.
Mpok Atik melanjutkan, “Aku tidak menyentuhnya. Ada sesuatu yang membuatku berpikir bahwa aku sebaiknya tidak melakukannya sebelum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.”
Gatot berdiri.
“Kita periksa sekarang.”
Mereka berdua menuju rumpun bambu.
Di tempat yang dimaksud, tanah memang tampak berbeda. Sebuah bagian kecil di antara akar-akar bambu terlihat lebih gembur daripada sekelilingnya. Kain kusam terselip di bawah akar yang menonjol.
Gatot berjongkok dan menarik kain itu perlahan. Kain tersebut terurai di tangannya. Tidak ada bayi di dalamnya. Hanya sepotong kain pembungkus, dengan simpul kecil pada salah satu ujungnya.
Setelah mereka tiba di rumah, ketika Mpok Atik melihat simpul itu, wajahnya berubah.
Nina memperhatikan perubahan tersebut. “Mpok mengenal kain itu?”
Mpok Atik tidak menjawab.
“Mpok?”
Perempuan itu akhirnya menarik napas panjang. “Aku pernah melihat simpul semacam ini.”
“Di mana?”
Mpok Atik memandang Nina cukup lama sebelum menjawab. “Pada kain yang digunakan untuk membungkus bayi yang meninggal sebelum sempat diberi nama.”
Suasana seketika terasa lebih dingin.
Malam berikutnya, tangis bayi itu terdengar lagi. Kali ini bukan dari rumpun bambu. Suara itu datang dari dalam rumah.
Nina terbangun ketika tangis tersebut mengalun tepat di samping pembaringannya. Ia membuka mata, tetapi tidak melihat siapa pun. Gatot tidur di dekat pintu, sementara lampu minyak hampir kehabisan sumbu.
Tangis itu terdengar sekali lagi.
Nina menoleh ke arah perutnya. Lalu ia merasakan sesuatu yang membuat darahnya seolah berhenti mengalir. Perutnya bergerak. Bukan gerakan biasa yang selama ini dikenalnya. Ada tiga ketukan kecil dari dalam, teratur, seakan-akan seseorang sedang mengetuk pintu dari sisi yang lain.
Nina mengguncang bahu Gatot. “Bangun!”
Gatot tersentak. Tangis itu langsung berhenti. Mereka saling berpandangan.
“Panggil Mpok Atik,” bisik Nina. “Sekarang juga.”
Gatot berlari menembus malam.
Ketika Mpok Atik tiba, dia mendapati Nina terduduk sambil memeluk perutnya. Keringat membasahi wajah perempuan muda itu. Mpok Atik segera memeriksanya, lalu terdiam cukup lama.
“Apa yang terjadi?” desak Gatot.
Mpok Atik menempelkan telapak tangannya pada perut Nina sekali lagi.
Kemudian dia mundur.
“Anak ini masih hidup,” katanya lirih.
“Lalu tangis siapa yang kami dengar?” tanya Nina.
Mpok Atik tidak menjawab. Pandangannya tertuju pada pintu rumah yang terbuka.
Dari luar, terdengar suara langkah kaki.
Seseorang berdiri di ambang pintu.
Sosok itu tidak masuk. Cahaya lampu minyak hanya menerangi sebagian wajahnya.
Mpok Atik mendadak bangkit.
“Siapa kau?”
Orang itu tidak menjawab—hanya meletakkan sesuatu di lantai, lalu berbalik dan berjalan menjauh.
Gatot segera mengejarnya, tetapi ketika sampai di halaman, jalan di hadapannya kosong. Tidak ada langkah kaki, tidak ada bayangan yang bergerak, bahkan tidak terdengar bunyi dedaunan yang terinjak.
Di lantai rumah, benda yang ditinggalkan orang itu tergeletak di dekat pintu. Sebuah gelang kecil dari benang hitam.
Mpok Atik memungutnya dengan tangan gemetar.
Nina memandang gelang itu, lalu menatap wajah dukun bayi tersebut. “Mpok tahu siapa pemiliknya?”
Mpok Atik menutup telapak tangannya. “Aku pernah membuat gelang seperti ini.”
“Untuk siapa?”
Perempuan tua itu memandang Nina dengan mata yang mendadak tampak jauh lebih tua daripada usianya. “Untuk seorang bayi yang kulahirkan dua puluh tahun lalu.”
Gatot kembali memasuki rumah.
“Dua puluh tahun lalu?”
Mpok Atik mengangguk. “Bayi itu menangis tiga kali sebelum akhirnya meninggal. Ibunya bersumpah bahwa anaknya masih hidup ketika dibawa pergi. Tetapi ketika kami membuka bungkusan itu, tubuhnya sudah dingin.”
Nina merasa tenggorokannya tercekat. “Siapa ibunya?”
Mpok Atik menatap perut Nina. “Aku tidak pernah mengetahui apa yang terjadi setelah bayi itu dibawa pergi.”
“Mpok belum menjawab pertanyaanku.”
Dukun bayi itu menggenggam gelang hitam semakin erat. “Aku tidak dapat menjawabnya.”
Dari kejauhan, terdengar tangis bayi sekali lagi. Kali ini, tangis itu tidak berasal dari rumpun bambu, tidak pula dari dalam rumah. Suara itu datang dari arah jalan, semakin jauh, seolah-olah seseorang sedang membawa seorang bayi menuju tempat yang tidak diketahui.
Mpok Atik tetap berdiri di tempatnya, memandang gelang hitam dalam genggaman.
“Jangan ikuti suara itu,” katanya.
Namun, sebelum Gatot sempat bertanya, Nina menjerit. Rasa sakit yang hebat menjalar di perutnya. Air ketubannya pecah. Persalinan yang seharusnya masih beberapa pekan lagi telah dimulai.
Mpok Atik segera melupakan gelang hitam itu. Dia meminta Gatot mengambil air hangat dan kain bersih, lalu bersiap membantu kelahiran anak Nina.
Tangis bayi terdengar sekali lagi di luar rumah. Bersamaan dengan itu, tangis lain pecah dari dalam pembaringan. Anak Nina telah lahir. Seorang bayi perempuan.
Dia menangis keras, menggeliat dalam balutan kain, dan menunjukkan tanda-tanda kehidupan yang sehat. Mpok Atik memeriksanya dengan teliti sebelum menyerahkannya kepada Nina.
Untuk pertama kalinya dalam dua malam, rumah itu dipenuhi tangis bayi yang tidak menimbulkan ketakutan.
Namun, Mpok Atik tidak tersenyum. Dia sedang memandangi gelang hitam yang tergeletak di lantai. Gelang itu telah terlepas dari genggamannya. Benang yang semula terikat rapi kini terbuka, memperlihatkan sebuah simpul kecil di bagian dalam. Simpul yang sama dengan simpul pada kain pembungkus yang mereka temukan di bawah rumpun bambu.
Mpok Atik mengambilnya. Mungkinkah bayi yang dikuburnya dulu tidak mati? Mpok Atik mundur selangkah.
Dukun bayi itu menatap bayi perempuan yang baru lahir, kemudian memandang pintu rumah yang terbuka. Di luar sana, tangis bayi yang lain telah lenyap.
Mpok Atik memandnag bergantian antara Nina dengan bayinya.
Apakah bayi yang dikuburkannya dua puluh tahun yang itu masih hidup?
Tamat
- Cerita pendek untuk mengisi sela dan mengatasi kejenuhan menulis serial panjang seperti Hari Bising di Bukit Menoreh atau Bara di Borobudur.
- Terhimpun dan terkumpul dalam ketegori KBA
