0%
Still working...

Waru Geni 1 – Kademangan Sangkal Putung

Dironda 42 kali

Wedaran sebelumnya: Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh

Pada hari itu, ketika matarahari belum begitu tinggi, Ki Kamejing pun tiba di Sangkal Putung. Dia tidak langsung mencari kediaman ki Demang Sangkal Putung tetapi bergerak ke arah pasar. Barangkali ada beberapa kebutuhan yang memang diperlukannya selama pencarian tongkat Ki Jambuwok di sana. Rupanya Ki Kamejing memang tidak tergesa-gesa dalam pencarian itu. Dia cukup tenang dalam ukuran orang yang sedang berbubur pusaka perguruan.

Di pasar dan beberapa tempat kerumunan seperti kedai misalnya, dia bertanya-tanya tentang lahan atau bangunan yang disewakan. Sepanjang hari itu, dia dan sejumlah orangnya banyak mencari keterangan yang berlainan dengan tujuan utama.

Sebenarnyalah Ki Kamejing memang menjadi lebih tenang setelah mengetahui bahwa Sekar Mirah tidak bersama Agung Sedayu sepanjang hari. Pikirnya, tidak perlu lagi tergesa-gesa seperti halnya saat di Tanah Perdikan. Agung Sedayu dan barak prajurit sudahh cukup jauh. Yang terdekat adalah Kotaraja dan Jati Anom. Lagipula, dia tidak sedang berbuat kerusuhan. Sedikit niat pun tak ada, jadi, mengapa harus terburu-buru?

Dalam seharian itu akhirnya Ki Kamejing pun mendapatkan rumah dengan lahan yang mungkin tidak sesuai dengan keinginannya, tapi memadai untuk menampung semua orang yang mengikutinya. Terletak sedikit jauh dari pedukuhan induk Sangkal Putung, tepatnya masih di sekitar Pedukuhan Randulanang.

Menjelang malam, ketika hampir setiap pengiringnya sedang membersihkan rumah, Ki Kamejing menatap kembali tujuan dan persiapannya.

Orang ini tidak sedikit pun menganggap bahwa persiapannya sudah cukup masak. Setelah mengamati keseharian rumah Agung Sedayu pada masa sebelumnya, lalu berpindah ke Sangkal Putung, Ki Kamejing menganggap bahwa jalan kekerasan hampir selalu buntu.

Itu bukan satu-satunya jalan, pikirnya.

Agung Sedayu, dalam pengamatannya, selalu dan hampir tidak pernah menampakkan kedalaman ilmu sesungguhnya. Bahan terakhir kali, untuk menghadapai Ki Winih Jambe, malah bukan Agung Sedayu yang turun tangan. Apakah kekerasan adalah satu-satunya jalan meminta kembali tongkat Ki Jambuwok? Ki Kamejing menggeleng sendiri.

Kali ini dalam pengamatannya, Sangkal Putung adalah sebuah tempat yang sedang melemah. Ki Demang Sangkal Putung sudah terlalu tua dan kerap dilanda sakit sebagaimana wajar seseorang yang lanjut usia.

Mungkin dulu Ki Demang Sangkal Putung adalah pemimpin yang mempunyai perbawa yang kuat serta garis yang tegas. Tetapi zaman sudah berubah dalam batasan dia juga dimakan usia, maka bila kemudian dia mulai sering ragu-ragu atas segala keputusannya. Dari sisi lain, selama orang tua itu masih mempunyai pengaruh atas orang-orangnya, maka belum tentu perubahan yang dibayangkannya akan berlangsung dengan mudah.

Keraguan dan pengaruh Ki Demang Sangkal Putung dapat dibaca jelas oleh Ki Kamejing saat mendengar atau bicara dengan beberapa orang pada hari itu. Bahkan untuk ukuran Ki Kanejing, setiap yang didengarnya adalah bahan yang mampu membuat jangkauannya lebih panjang.

Bagaimana dengan Swandaru?

Ki Kamejing tahu anak Ki Demang itu pernah menantang Agung Sedayu dan sebagian besar urusannya, termasuk mulai jarang mengunjungi Sangkal Putung. Dia pun mengetahui bahwa Swandaru bukan orang yang dapat dianggap ringan. Tetapi apakah kekuatan Swandaru cukup untuk menjaga sebuah kedudukan yang akan diwariskan kepadanya? Apakah dia masih mampu menjaga Sangkal Putung jika terancam bahaya?

Swandaru tidak terlalu ditolak di Sangkal Putung, menurut yang didengarnya. Tetapi juga tidak semua orang Sangkal Putung dapat menerimanya kembali sebagai pemimpin, sebagai pengganti ayahnya karena masa lalu. Yah, benar, Randulanang menyimpannya sebagai rahasia yang diketahui umum. Swandaru berhubungan gelap dengan Nyi Gandung Jati.

Ki Kamejing tidak perlu waktu lama untuk mendapatkan kabar itu. Dia juga tidak perlu tahu alasan-alasan di balik hubungan itu. Dia berhenti pada saat nama Raden Atmandaru dan hubungan gelap itu disebutkan. Baginya, Swandaru punya kelemahan besar dan mungkin satu-satunya kelemahan yang paling tampak olehnya. Itu cukup.

Ki Kamejing mengusap wajahnya.

Lalu, bagaimana dengan Agung Sedayu?

Hubungan Agung Sedayu dengan Sangkal Putung itu tidak sesederhana yang dibayangkan tapi tidak juga serumit yang digambarkan. Dia hanyalah ipar Swandaru. Dia hanyalah orang luar tapi kedudukan sebagai tumenggung bisa menentukan segalanya.

Agung Sedayu adalah orang yang dapat mempersulitnya mengambil keputusan.

Ki Kamejing menghela napas. Dia sedang meraba kemungkinan merebut tongkat Ki Jambuwok sekaligus juga, bila memungkinkan, mengambil Sangkal Putung. Sekar Mirah adalah pintu baginya dan mungkin juga satu-satunya alasan yang tersedia.

Sejenak pikirannya melayang ke Tanah Perdikan Menoreh.

Bagaimana pertemuan Ki Wira Sentanu dengan Agung Sedayu? Apakah mereka akhirnya bertabrakan atau pelucutan Agung Sedayu telah sesuai dengan harapan?

Ki Kamejing menggeleng atas pertanyaan yang muncul dalam benaknya. Pikirnya, dia sudah jauh dari Tanah Perdikan. Tentang Ki Ajar Poh Kecik pun dia tak tahu. Sekalipun ingin tahu, tapi rupanya menyuruh orang ke Tanah Perdikan untuk sekadar mencari kabar, ah, itu akan mengurangi kekuatannya yang sudah berkurang.

Benar, jumlah pengiring Ki Kamejing sudah agak menurun. Sebagian dari mereka menghilang tanpa alasan yang diutarakan. Mungkin karena jenuh. Mungkin juga akan bernasib sama dengan perguruan lain: dikalahkan oleh pasukan khusus atau pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Mungkin juga karena suatu hal yang tidak dapat dicari. Entahlah.

Tetapi untuk sementara, tongkat Ki Jambuwok tetap berada di jalur pencarian yang utama. Ki Kamejing tentu tidak ingin pulang dengan tangan kosong.

Hidup berjauhan dengan Agung Sedayu tentu bukan perkara mudah bagi Sekar Mirah. Dari persoalan satu ke persoalan lain yang terus menerus datang dari lingkungan suaminya tidak membuatnya lemah. Keadaan itu benar-benar membuat Sekar Mirah berkembang menjadi perempuan yang berdaya juang tinggi. Meski pada masa muda, dia dapat disebut sebagai gadis yang manja. Kedudukannya sebagai putri satu-satunya Ki Demang Sangkal Putung membuat segalanya begitu mudah baginya, hingga hari pernikahannya dengan Agung Sedayu.

Dalam kesehariannya, Sekar Mirah memang tidak pernah benar-benar kekurangan pekerjaan. Selain merawat kedua orang tuanya, dia juga memberikan perhatian kepada Wangi Sriwedari. Ada saat-saat ketika dia harus mengesampingkan urusannya sendiri demi memenuhi kebutuhan mereka. Untunglah, dia tidak memikul semuanya seorang diri. Kyai Bagaswara senantiasa bersedia membantu, sementara beberapa orang yang tinggal di dalam kediaman turut meringankan pekerjaannya.

Namun, kesibukan Sekar Mirah tidak berhenti pada urusan rumah tangga. Kedudukannya di Sangkal Putung membuatnya menjadi salah seorang tempat orang-orang mengadu. Laporan dari dusun dan pedukuhan datang silih berganti, membawa persoalan yang berbeda-beda. Ada perselisihan masalah pembukaan lahan yang belum juga selesai, ada perselisihan di antara sesama penghuni pedukuhan, dan ada pula persoalan yang berawal dari tindakan seseorang yang merasa dirinya lebih berkuasa daripada orang lain.

Tidak semua persoalan itu dapat diselesaikan dengan segera.

Ada yang cukup ditangani melalui pembicaraan dengan para bebahu setempat. Ada pula yang menuntut kehadiran orang-orang yang dituakan, agar keputusan yang diambil tidak justru menimbulkan persoalan baru. Sekar Mirah harus mendengarkan keterangan dari kedua belah pihak, mempertimbangkan kepentingan orang-orang yang terlibat, kemudian menentukan langkah yang dianggapnya paling baik.

Pekerjaan semacam itu dahulu hampir tidak pernah terbayang olehnya. Ketika masih muda, sebagai anak perempuan Ki Demang Sangkal Putung, Sekar Mirah terbiasa mendapatkan kemudahan. Banyak hal dapat diperolehnya tanpa harus bersusah payah, sedangkan persoalan yang tidak menyenangkan sering kali telah diselesaikan oleh orang lain sebelum mencapai dirinya.

Kini, keadaan telah jauh berbeda.

  • “Sedangkan Raden Atmandaru telah jelas letak kaki dan tangannya, tetapi siapa orang yang berada di bawah kendalinya?” gumam hati Sabungsari di Jati Anom Obong 50 saat Agung Sedayu masih kebingungan.
  • Dahsyat! Air laut di bawah kaki mereka seketika tersibak seolah ada benda bundar yang tidak terlihat mata dan menjadi pembatas, begitu luas dengan dasar laut yang benar-benar bersentuhan dengan udara. Pertempuran yang mengguncang. Lamun Parasta ing Pungkasan 20.
error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.