Dironda 79 kali
Wedaran sebelumnya: Setiap pukulan Ki Wira Sentanu membawa aroma menyengat yang semakin pekat, menekan penciuman dan pernapasan Agung Sedayu meski telah menutup babakan hawa sanga sekuat-kuatnya. Sementara itu, hawa panas yang memancar dari Agung Sedayu mulai membakar ujung pakaian lawannya, memaksanya menjaga jarak satu atau dua langkah agar tetap dapat menyerang tanpa terlalu lama terpapar panas.
Setiap kali tangan Ki Wira Sentanu menyambar, udara yang terdorong oleh pukulan itu membawa serta aroma yang semakin tajam. Seolah-olah setiap pukulan bukan hanya mengandung tenaga, tetapi juga mengirimkan bau itu langsung ke arah Agung Sedayu.
Agung Sedayu segera memusatkan tenaga untuk menutup babakan hawa sanga serapat-rapatnya. Walaupun demikian, setiap kali dia menarik napas, bau yang dibawa oleh hempasan pukulan kembali menerobos rongga hidungnya. Penciumannya semakin tertekan hingga hampir-hampir mengganggu pernapasannya.
Hingga kemudian, Agung Sedayu memutar kedua tangannya seperti baling-baling. Hawa panas yang menyelubungi tubuhnya seketika berubah. Angin mulai menderu, putaran yang sangat cepat mengitari tubuhnya, lalu meningkat dengan sangat cepat dan sangat cepat. Pusaran angin menjadi semakin pekat dan rapat. Kabut pun terbentuk dan dengan cepat menjadi sangat tebal, menyelubungi dirinya di tengah deru angin yang semakin menggila.
Udara di sekelilingnya yang berpusar semakin kuat dan membawa serta hawa panas yang sebelumnya memenuhi arena, sekaligus membuyarkan tekanan aroma yang sangat menyengat itu.
Agung Sedayu telah menciptakan selubung kabut yang sangat panas—semacam Wedhus Gembel tapi tidak persis seperti itu.
Pusaran angin yang timbul dari hentakan ilmu Agung Sedayu ternyata menjangkau hingga ke tempat Sunan Agung dan Pangeran Purbaya berada. Hembusannya semakin kuat, membuat keduanya kesulitan mempertahankan diri di tempat semula. Udara berputar dengan arah dan kekuatan yang sulit mereka lawan.
Pangeran Purbaya menyadari bahwa bertahan melawan arus itu hanya akan menguras tenaga, maka dia memberi isyarat kepada Sunan Agung agar mengikuti arah putaran udara. Dengan demikian, keduanya mulai bergeser, membiarkan tubuh mereka terbawa arus daripada melawannya secara langsung.
Namun, semakin jauh mereka bergerak mengikuti pusaran itu, semakin jelas bahwa angin tersebut bukan lagi sekadar hempasan yang kebetulan menjangkau tempat mereka. Ada kekuatan besar yang sedang bekerja di arena pertempuran, dan pengaruhnya kini telah meluas jauh melampaui tempat Agung Sedayu dan Ki Wira Sentanu berhadapan.
“Ilmu Ki Tumenggung Agung Sedayu memang sulit dicari bandingannya, Paman,” kata Sunan Agung di atara gemuruh udara yang bergolak di sekitar mereka. “Mungkin bukan yang tertinggi di Mataram, tetapi memang sukit mencari yang sebadnging dengannya saat ini. Kecuali kita tetap melihat Ki Wira Sentanu. Betapa mengerikan kekuatan orang itu.”
Pangeran Purbaya mengangguk perlahan. “Benar, Sinuhun.”
Sejenak dia membenahi keadaan dirinya yang terus menerus terhantam pergolakan udara yang ternyata masih menebar bau dan hawa panas yang luar biasa.
“Dan yang paling sulit dicari bandingannya, menurut saya, bukan semata-mata kekuatan ilmunya. Tetapi perubahan yang mendadak. Bagaimana Ki Tumenggung cepat berubah dari suatu keadaan kepada keadaan yang lain, yang jauh berbeda tanpa meninggalkan celah.”
Sunan Agung terdiam. Pandangannya masih tertuju kepada pusaran angin yang bergerak liar tapi mereka semakin dekat dengan gelanggang.
Tiba-tiba terlintas kembali dalam ingatannya suatu peristiwa yang tidak pernah benar-benar dapat dilupakannya. Saat di Alas Krapyak. Seandainya Agung Sedayu tidak berbisik untuk menyelamatkannya, mungkin Ki Sekar Awang benar-benar telah melumatnya habis.
Sunan Agung menarik napas panjang.
Di arena pertempuran, Agung Sedayu memang mengubah cara bertarungnya. Kedua tangannya terus berputar seperti baling-baling. Hawa panas yang semula menyelimuti tubuhnya bercampur dengan arus udara yang semakin kuat. Putaran itu kemudian meluas, membentuk lorong atau kepompong kabut yang bergerak mengikuti kehendaknya.
Ki Wira Sentanu yang semula leluasa menjaga jarak mulai kehilangan ruang untuk bergerak.
Kabut itu ternyata bukan sekadar untuk menghalangi pandangan. Dia bergerak, berputar, dan perlahan menghimpit tubuh Ki Wira Sentanu. Sangat rapat dan kuat hingga seperti berbentuk seperti kepompong. Kabut itu kemudian melilit tubuh Sentanu seperti ular. Tekanannya semakin kuat dari segala arah, membelit sekaligus menghimpit, sementara ruang untuk bergerak semakin sempit.
Ki Wira Sentanu menghentakkan tenaga untuk melepaskan diri.
Agung Sedayu tetap pada tata gerak yang disadapnya dengan sangat baik dari Nyi Banyak Patra, mengolah dan meleburnya dengan unsur ilmu Perguruan Orang Bercambuk.
Perlahan kedua kaki Ki Wira Sentanu meninggalkan tanah. Dia terangkat dan melayang di dalam kepompong kabut, terbelit oleh pusaran tenaga Agung Sedayu yang terus berputar dan menghimpit.
Ki Wira Sentanu semakin menggeliat.
Agung Sedayu semakin kuat menghimpitnya.
“Gila! Ilmu apakah ini? Iblis atau setankah?” seru Ki Wira Sentanu dalam hati. Dia masih menggeliat sangat kuat. Segala upaya dilakukannya agar dapat melepaskan diri dari kepompong kabut yang dilepaskan Agung Sedayu.
Di dalam kepompong kabut itu tiba-tiba tampak kilatan-kilatan cahaya yang berloncatan. Sekilas menyerupai percikan api yang muncul dari setiap gulungan kepompong. Percikan cahaya itu muncul dan lenyap dengan cepat, menyusup di antara pusaran kabut yang semakin rapat. Sesaat kemudian, beberapa kilatan tampak menyambar ke arah Ki Wira Sentanu yang melayang.
Kabut itu berguncang hebat.
Di dalam kepompong kabut itu, Ki Wira Sentanu merasa tercekik dan terbakar.
Agung Sedayu berusaha mempertahankan tata geraknya, meningkatkan lagi kekuatan ilmunya jauh melebih batas lalu kilatan-kilatan tersebut mendadak berpijar terang.
Kepompong kabut itu meledak!
Hentakan berhamburan ke segala arah seakan udara di arena baru saja dihantam oleh kekuatan yang tidak terlihat.
Ki Wira Sentanu terlepas dari belitan pusaran, terlempar sebelum jatuh menghantam tanah, terguling beberapa kali, lalu tergeletak tanpa ada detak napas darinya.
Agung Sedayu pun kehilangan keseimbangan. Hentakan itu mengguncang tubuhnya hingga dia tak mampu mempertahankan kuda-kudanya—jatuh terduduk, sementara sisa-sisa kabut berhamburan dan perlahan menipis di sekelilingnya.
Dua bayangan berkelebat menghampirnya.
“Ki Tumenggung,” kata dua orang itu bersamaan.
Agung Sedayu membuka mata lalu melihat Sunan Agung dan Pangeran Purbaya berada di dekatnya. Kemudian berkata, “Satu bahaya Mataram telah diselesaikan.”
Sunan Agung dan Pangeran Purbaya saling berpandangan sejenak, kemudian mengangguk. Tidak ada kata-kata yang segera mereka ucapkan. Keduanya memahami bahwa pertarungan itu telah menguras tenaga Agung Sedayu jauh lebih besar daripada yang tampak dari luar.
Pangeran Purbaya segera membungkuk dan meraih lengan Agung Sedayu. Dengan hati-hati, dia memapah Ki Tumenggung itu untuk bangkit. Agung Sedayu tidak menolak. Tubuhnya masih terasa lemah, sementara sisa-sisa tenaga yang tadi berpusar di sekelilingnya seolah belum sepenuhnya mengendap. Pangeran Purbaya membawanya menuju sebuah pohon besar yang masih tegak, satu di antara sedikit pohon yang selamat dari bencana pagi itu.
Di bawah naungannya, Agung Sedayu dipersilakan bersandar pada batang pohon. Untuk beberapa saat, dia memejamkan mata, mengatur napas, dan membiarkan tubuhnya beristirahat.
Sunan Agung tidak segera duduk. Dia berdiri beberapa langkah di belakang Pangeran Purbaya dengan sikap siaga. Pandang matanya menyapu arena yang masih dipenuhi sisa-sisa kabut dan reruntuhan. Meskipun Ki Wira Sentanu telah tergeletak tanpa tanda-tanda kehidupan, Sunan Agung tidak ingin mengabaikan kemungkinan bahaya lain yang masih tersembunyi.
Sementara itu, ledakan yang mengguncang arena telah terdengar hingga ke tempat Glagah Putih berada.
Sesaat kemudian, tanpa menunggu lebih lama, Glagah Putih berlari mendekati arena. Debu dan sisa-sisa kabut masih melayang di udara ketika dirinya tiba. Pandangannya segera menyapu keadaan, mencari sosok yang sejak tadi menjadi pusat perhatiannya kemudian langkahnya tertahan.
Di bawah pohon yang masih berdiri tegak itu, dia melihat Agung Sedayu sedang bersandar, dengan Pangeran Purbaya berada di sisinya. Tidak jauh dari mereka, Sunan Agung berdiri dalam sikap waspada.
Glagah Putih mempercepat langkahnya. Ada banyak pertanyaan yang berdesakan dalam pikirannya, tetapi melihat keadaan Agung Sedayu, maka dia menahan diri untuk tidak segera mengucapkannya.
Agung Sedayu membuka mata ketika mendengar langkah yang mendekat. Pandangannya beralih kepada Glagah Putih, lalu dia mengangkat sedikit kepalanya, seolah hendak meyakinkan bahwa dirinya masih mampu bertahan.
Pagi itu, di tengah kehancuran yang ditinggalkan satu pertarungan besar telah mencapai akhirnya.
Melihat kehadiran Glagah Putih, Sunan Agung kemudian berpaling kepada Pangeran Purbaya. Keduanya seolah telah sepakat bahwa mereka harus segera kembali ke Kotaraja. Masih banyak urusan yang menunggu, tapi keadaan Agung Sedayu sudah mendapatkan jaminan dengan kehadiran saudara sepupunya itu.
“Ki Tumenggung, kami harus kembali ke Kotaraja,” kata Sunan Agung.
Agung Sedayu mengangguk perlahan. “Silakan, Sinuhun.”
Pangeran Purbaya menepuk ringan bahu Agung Sedayu sebelum beranjak. “Kami percaya pada Anda.”
Agung Sedayu mengangguk.
Glagah Putih yang berdiri di dekatnya merapatkan kedua telapak tangan di depan dada, lalu menundukkan kepala dengan hormat.
“Selamat jalan, Sinuhun. Pangeran.”
Sunan Agung membalas penghormatan itu dengan anggukan singkat. Pangeran Purbaya pun berpaling, kemudian berjalan bersama Sunan Agung meninggalkan arena. Keduanya tetap menjaga sikap waspada ketika melewati reruntuhan yang berserakan.
Agung Sedayu mengikuti kepergian mereka dengan pandangan mata hingga kedua sosok itu semakin jauh. Setelah itu, dia menyandarkan kembali punggungnya pada batang pohon. Glagah Putih tetap berdiri di sisinya, meneruskan penjagaan yang ditinggalkan Sunan Agung.
Belum lama Sunan Agung dan Pangeran Purbaya meninggalkan arena, dua sosok kemudian muncul dari balik reruntuhan. Yang seorang adalah Ki Garu Wesi, sedangkan yang lain berjalan di sampingnya adalah Ki Ajar Poh Kecik.
Glagah Putih segera memalingkan wajah. Sementara itu, Agung Sedayu yang masih bersandar pada batang pohon membuka mata dan mengamati kedatangan mereka. Dia tidak berusaha bangkit. Tetapi ketika pikiran buruk itu muncul, maka dia memandang Glagah Putih kemudian mengangguk.
Dalam waktu itu, Ki Ajar Poh Kecik berjalan mendekati Ki Wira Sentanu yang tergeletak di tanah. Beberapa saat lamanya dia berdiri tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kemudian membungkuk, mengamati keadaan Ki Wira Sentanu, sebelum akhirnya menggelengkan kepala.
“Agung Sedayu terlalu hebat untuk ditaklukkan,” katanya lirih.
Namun, nada suaranya tidak mengandung kekaguman. Ada sesuatu yang keras dan dingin di balik ucapan itu.
Ki Ajar Poh Kecik kemudian berdiri tegak. Perlahan dia memutar tubuh, mengarahkan pandangan kepada Agung Sedayu. Sikapnya berubah. Sorot matanya menajam, sedangkan kedua tangannya bergerak sedikit.
Glagah Putih memandangnya.
Namun, sebelum Ki Ajar Poh Kecik sempat melangkah lebih jauh, Ki Garu Wesi telah bergerak menghadangnya.
“Jangan terburu-buru,” katanya.
Ki Ajar Poh Kecik menoleh. Wajahnya menunjukkan ketidaksenangan. “Apakah kau hendak menghalangiku?”
Ki Garu Wesi berdiri tegak di hadapannya. “Cobalah sekarang jika kau memang ingin melakukannya. Tetapi aku menyarankan agar kau menunggu sampai Ki Tumenggung pulih jika hendak membalas kekalahan ini.”
Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan lagi, “Jika kau tetap memaksakan kehendakmu sekarang, terpaksa aku sendiri yang akan meladeni keinginanmu.”
Untuk sesaat, keduanya saling berpandangan. Tidak ada yang segera mengalah, sementara jarak di antara mereka terasa semakin tegang.
Di bawah pohon, Agung Sedayu tetap bersandar. Dia memahami bahwa ancaman belum berakhir. Bahkan ketika tubuhnya belum mampu kembali berdiri dengan sempurna, orang-orang yang masih menyimpan permusuhan terhadapnya telah datang silih berganti.
Pagi itu, di tengah kehancuran yang ditinggalkan satu pertarungan besar telah mencapai akhirnya, adakah kelanjutan mengenai yang tersisa?
- Demikianlah Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh berakhir. Kita bersua lagi dalam episode “Waru Geni” yang merupakan Bab 10 atau menjadi buku ke-7 dari Kitab Kyai Gringsing.
- Mendadak Sekar Mirah mengungkapkan alasan, “Bila mereka dapat mengenali Ki Gede sebagai pemimpin Menoreh, apakah kita sudah mendapatkan gambaran mengenai rencana mereka? Saya pikir lebih baik memang kita menunggu Waru Geni ditayangkan. Tapi setelah kita membaca Merebut Mataram 42, tempat kata-kata saya ini dtuliskan.”
- Tapi, serba sedikit atau banyak, mereka mungkin menyebut nama Swandaru,” sahut Ki Untara di Hari Bising Bukit Menoreh 46 ketika mereka menyebut-nyebut nama Swandaru.
Seutas Tali Asih
- Terima kasih kepada Ki Benny Wijonarko, Ki Prasetya Hartanto, Ki Kuswantoro, Ki Murni Bismo Sujita, Ki Untung Subagya, Ki Damar, Ki Darto Sibondan, Ki Fajar Saumatmaji, dan Ki Fardani.
- Berikutnya ada pula Ki Amin Noor, Ki Anang Roso, Ki Aris Singgih, Ki Aris Cahyo, Ki Darsusani, Ki DM Dwi, Ki Dwitur Bambang, Ki Eri Eko, Ki Tony BPH, Ki Panca Budi, Ki Ahmad Rifai/Watu Lumbung, Ki Hartono, Ki Gede Indra, Ki Nugraha Purnama, Ki Otok Pamuji, Ki Wagiman, Ki Yoga Sadana, Ki Sudarminto, Ki PC Suhartono dan Nyi Laksmi Maryanto.
- Selanjutnya Ki Wiwit Indarto, Ki Syaiful Ahmad, Ki Beati Masare dan segenap sederek Grup Fesbuk Api di Bukit Menoreh dan sejumlah nama yang tidak dapat ditulis.
Tanpa Panjenengan semua, kisah ini pasti sulit mencapai titik penghabisan.
Alhamdulillah, bi barokati al fatihah.
