0%
Still working...

Waru Geni 3 – Agung Sedayu sebagai Sebab Luka Swandaru

Dironda 112 kali

Wedaran sebelumnya: Sebagai adik Swandaru, Sekar Mirah masih berharap kakaknya mampu memperbaiki diri, tetapi keraguan terhadap kesiapan Swandaru untuk memikul tanggung jawab atas Sangkal Putung semakin sulit diabaikan. Waktu untuk membuktikan kelayakan itu pun tidak tak terbatas, sementara usia Ki Demang terus bertambah dan kepercayaan masyarakat akan turut menentukan orang yang pantas menggantikannya.

Tanpa sepengetahuan Sekar Mirah yang tinggal di pondok kecil di belakang rumah induk, tanpa banyak suara gemerisik, Ki Demang Sangkal Putung menyeberangi ruang tangan lalu menuju ke pringgitan. Di pringgitan itulah kemudian dia duduk seorang diri, pada awalnya, lalu masuk pula Kyai Bagaswara.

“Di sinilah tempat saya dulu mengatur kademangan ini, Kyai,” kata Ki Demang Sangkal Putung mengawali pembicaraan.

Dan tiba-tiba saja dada Ki Demang Sangkal Putung menjadi menjadi berdebar. Apakah Swandaru dapat menggantikannya? Piker Ki Demang.

Seolah tahu yang sedang dipikirkan oleh Ki Demang, Kyai Bagaswara kemudian berkata, “Masa yang indah, Ki Demang.”

Ki Demang itu pun mengangguk.

“Pada masa itu, orang datang dan pergi sambil membawa persoalan yang beraneka ragam. Tentu saja Ki Demang saat itu, saya duga, pasti lincah dan cekatan menangani pokok persoalan,” lanjut Kyai Bagaswara sambil tersenyum.

Ki Demang pun tertawa kecil meski ditahan karena ada sakit yang kerap menimpa bagian dada. Kemudian dia bercerita serba sedikit mengenai masa lalu, terutama Agung Sedayu yang bersaing ketat dengan Sidanti dalam memperebutkan Sekar Mirah.

Sambil menahan geli, Ki Demang berkata, “Siapa yang menigra jika kemudian Angger Sedayu yang saat itu pemalu dan mungkin penakut malah bisa bersanding dengan Mirah? Padahal Mirah sendiri selalu menjadikan Sidanti sebagai ukuran pemuda idaman.”

Kyai Bagaswara pun tertawa, katanya kemudian, “Beginilah hidup, Ki Demang. Angger Sedayu mungkin juga tidak mengira bahwa nasibnya juga ditentukan oleh Sekar Mirah.”

Ki Demang lantas sedikit merinci tentang perlombaan di lapangan yang melibatkan Agung Sedayu dan Sidanti pada waktu itu. Lalu sedikit berlanjut tentang pokal Sidanti, yang menurutnya, patut disayangkan.

“Saya tidak mengatakan Sidanti itu salah asuhan,” kata Ki Demang sambil mengingat pula Swandaru. “Hanya saja dia sulit menolak kehendak Ki Tambak Wedi yang mengasuhnya sejak kecil.”

Kyai Bagaswara beralih tempat duduknya, lalu berkata, “Saya kira masalah Ki Demang dengan saya itu hampir tidak jauh perbedaannya.”

Dia kemudian menceritakan kejadian yang menimpa padepokannya akibat perlakuan Ki Tumenggung Purbarana.

“Selain membakar habis, dia juga menghabisi seluruh, hampir seluruh cantrik saya,” lanjut Kyai Bagaswara. “Hingga sekarang, padepokan saya masih belum bangkit karena saya masih di sini.”

Kemudian dia memandang Ki Demang agak lama. Katanya lagi, “Mungkinkah saya lebih baik mendirikan padepokan di Sangkal Putung?”

Ki Demang mengangguk sareh, katanya, “Itu bisa saja diwujudkan, Kyai. Tetapi pokok permasalahannya bukan pada padepokan yang berdiri kembali, tetapi siapa penerus Kyai? Pemegang ilmu jalur perguruan Kyai. Itu bukan masalah yang sederhana.”         

“Ya,” jawab Kyai Bgaswara. “Demikian pentingnya, sehingga kadang saya juga berpikir untuk melupakan itu semua.”

Ruangan menjadi hening.

Setiap orang bergulat dengan pikiran masing-masing yang kemudian mempunyai persamaan: penerus, bukan wilayah atau tempatnya.

Sejenak kemudian, Ki Demang berkata, “Permasalahan yang sama.”

Kyai Bagaswara mengangguk tapi karena tahu batasan maka dia pun tidak menyebutkan nama.

Ki Demang terdiam beberapa saat. Pandangannya beralih ke arah halaman dan tampaklah beberapa orang sedang melintas sambil membawa keperluan mereka masing-masing.

Kehidupan di Sangkal Putung masih berjalan seperti biasa. Orang-orang datang dan pergi, membawa persoalan yang terkadang tampak sederhana, tetapi tidak jarang memerlukan pertimbangan yang panjang.

“Barangkali yang lebih sulit bukan mencari penerus, Kyai,” katanya kemudian. “Tetapi memastikan bahwa orang yang meneruskan itu memahami apa yang sesungguhnya sedang diserahkan kepadanya.”

Kyai Bagaswara mengangguk perlahan. Dia berkata, “Ilmu memang dapat diwariskan, Ki Demang. Tetapi apakah seseorang akan menggunakan ilmu itu sebagaimana mestinya, tentu merupakan persoalan lain.”

Ki Demang mengangguk, ucapnya. “Demikian pula kedudukan. Seseorang dapat memperoleh kedudukan karena kelahirannya. Namun, ia tetap harus belajar bagaimana memikulnya.”

Kyai Bagaswara memandang Ki Demang dengan saksama. Dia tidak segera menjawab seperti sedang menimbang sesuatu yang lebih luas daripada sekadar persoalan perguruan.

“Kadang-kadang,” katanya kemudian, “seseorang baru memahami beratnya tanggung jawab setelah dia sendiri harus menanggung akibat dari tindakannya atau menemukan jalan buntu dalam persoalannya itu.”

Ki Demang mengangguk.

“Dan ada kalanya, orang yang lebih tua masih berada di dekatnya untuk mengingatkan. Tetapi sampai kapan?” lanjut Kyai Bagaswara.

Ki Demang menarik napas perlahan. Bagian dadanya kembali terasa sakit, membuatnya harus berhenti sejenak sebelum melanjutkan perkataannya.

“Saya sudah terlalu lama menyelesaikan persoalan orang-orang Sangkal Putung. Mungkin selama ini saya juga terlalu sering menganggap bahwa selama saya masih ada, segala sesuatu masih dapat diperbaiki.”

Dia berhenti sejenak sebelum meneruskan lagi.

“Mengandalkan Sekar Mirah tentu saja bukan kepatutan meski didampingi seorang tumenggung. Tetapi kita tahu bahwa seorang tumenggung mempunyai kedudukan yang tentu saja berbeda dengan seharusnya.”

Kyai Bagaswara mengusap wajah. Pelik, pikirnya.

Kembali ruangan menjadi hening.

Dalam diam itu, Ki Demang teringat kepada Swandaru. Dia tidak meragukan kemampuan dan kecakapan anaknya. Namun, dua keadaan itu bukanlah satu-satunya hal yang dibutuhkan untuk memimpin orang lain.

Ada pula kesediaan untuk menimbang, kesanggupan menerima batas, dan kemauan mendengarkan ketika seseorang mengingatkan bahwa jalan yang hendak ditempuhnya mungkin bukan jalan yang benar. Dan justru pada bagian itulah Ki Demang masih menyimpan kegelisahan.

Waktu terus bergulir. Hari-hari kemudian berlalu.

Keadaan Swandaru berangsur-angsur membaik. Luka-luka yang dideritanya mulai menujukkan pemulihan yang sangat  baik akibat campur tangan Kyai Bagaswara.

Sementara kekuatan tubuhnya sedikit demi sedikit pulih. Dia sudah dapat berjalan di sekitar kediaman, meskipun belum diperkenankan melakukan pekerjaan yang terlalu berat. Sesekali dia berhenti untuk beristirahat, tetapi semakin hari langkahnya tampak semakin mantap. Sekali-kali tampak pula dia melatih dengan tata gerak dasar atau sesuatu yang medasar dari segala yang pernah diajarkan Kyai Gringsing.

Bagi orang-orang yang merawatnya, perkembangan itu tentu membawa kelegaan. Setidaknya, Swandaru semakin baik dan baik setiap harinya dibandingkan dengan saat pertama kali datang di Sangkal Puung. Namun, pulihnya tubuh tidak serta-merta membuat semua persoalan yang dibawanya dari Pancuran Watu Item ikut menghilang.

Ada sesuatu yang sangat menganggu pikirannya.

Swandaru menyadari bahwa kemampuannya tidak lagi dapat dikerahkan seperti dahulu. Tenaga yang selama ini menjadi bagian dari dirinya seolah-olah telah dibatasi oleh sesuatu yang tidak mudah ditembusnya. Dia masih dapat bergerak, masih dapat melakukan olah tubuh, tetapi ketika mencoba merasakan kedalaman ilmunya, dia mengalami kegagalan karena batas yang telah ditentukan Agung Sedayu.

Agung Sedayu telah melakukan sesuatu terhadap kemampuan kanuragannya.

Swandaru belum dapat menerima kenyataan itu dengan lapang. Dia tidak menyangkal bahwa dirinya telah kalah dalam perang tanding di Pancuran Watu Item. Tetapi, kekalahan dalam pertarungan dan kehilangan sebagian kebebasan untuk menggunakan kemampuan sendiri merupakan dua hal yang berbeda. Yang pertama dapat diterimanya sebagai akibat dari pertarungan. Yang kedua jauh lebih sulit baginya untuk dipahami.

Apakah itu bentuk hukuman dari Agung Sedayu padanya? Untuk sementara, dia memilih tidak membicarakannya.

Beberapa hari kemudian, berita tentang kemenangan Agung Sedayu atas Ki Wira Sentanu sampai pula ke Sangkal Putung. Agung Sedayu telah berhasil mengatasi lawan yang bukan sembarangan. Kemenangan tersebut juga menjadi bukti bahwa Mataram masih masih sanggup menghadapi persoalan yang berasal dari dalam, bukan sekadar ancaman pribadi saja.

  • Waru Geni adalah kelanjutan Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh dan juga menjadi salah satu bab dari Kitab Kyai Gringsing.
  • Seberkas cahaya Agung Sedayu yang dapat meruntuhkan tebing cadas kini menjadi tanpa daya. Kekuatan sangat besar mampu menghalangi lesatan sinar Agung Sedayu. Agung Sedayu bertemu jalan buntu di Jati Anom Obong 48. Siapa yang bakal mengira?
  • Lamun Parastra ing Pungkasan 19 benar-benar pertarungan luar biasa! Tubuh Gagak Panji dan Raden Trenggana terungkus di dalam segumpal air yang berukuran besar. Gumpalan yang seakan-akan menjadi pembatas dalam pertarungan jarak dekat yang sangat dahsyat, namun sebenarnya tidak seperti itu walau mata wadag mengesankan demikian.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.