Dironda 40 kali
Perjalanan Adipati Hadiwijaya menuju Demak mendadak berubah menjadi ancaman ketika sebuah suara yang telah lama terkubur dalam ingatannya kembali terdengar. Sarpakenaka, nama yang pernah dilekatkannya kepada Kiai Rontek, muncul sebagai pertanda bahwa masa lalu belum selesai menagih utang.
Lembu Jati telah menunggu, membawa kekuatan yang membuat perjalanan menuju Demak terancam berakhir sebelum mencapai tujuan.
Pertemuan itu bukan sekadar urusan lama antara dua petarung. Lembu Jati berusaha mengguncang pendirian Mas Karebet dengan mengungkit Jagat Manunggal, ilmu yang pernah membuatnya roboh pada masa muda. Namun, yang hendak dihancurkannya kali ini bukan hanya pertahanan Adipati Pajang, tetapi juga batas-batas yang mengikat seorang penguasa pada tanggung jawabnya.
Di balik tantangan tersebut, tersimpan persoalan yang jauh lebih besar. Ki Rangga Gagak Panji disebut sebagai orang yang berada di balik rangkaian peristiwa itu, Mas Karebet menyadari bahwa ancaman yang dihadapinya mungkin datang dari seseorang yang memiliki ikatan darah dengannya sendiri.
Pertarungan pun meletus dengan kekuatan yang sulit dibedakan. Adipati Hadiwijaya membendung serangan, tetapi setiap benturan meninggalkan luka dan menguji ketahanan tubuhnya. Ketika para pengawalnya terlempar dan nyawanya berada dalam bahaya, dia harus memilih antara menuntaskan pertarungan atau mempertahankan kesempatan untuk melanjutkan perjalanan.
- Wedhus Gembel bukan sekadar nama belaka tapi sebuah ilmu yang pernah menguasai tlatah Jawa.
- Benar-benar perkelahian yang sengit dan mematikan! Teramat sulit bagi pengeroyoknya untuk mempertahankan keseimbangan karena pundak seorang dari mereka nyaris putus. Kiai Plered 21 – Kitab Kyai Gringsing.
- Di bagian lain, pertarungan telah usai. Pandang mata Ki Getas Pendawa menoleh kembali ke arah kepergian Kiai Rontek dan mempunyai dugaan yang sama dengan Ki Kebo Kenanga saat Berhitung 12.
