0%
Still working...

Bus Terakhir ke Semarang

Dironda 56 kali

Terminal Tidar, Magelang, 2022

Pukul sebelas malam, Suryani masih duduk di bangku ruang tunggu Terminal Tidar. Suryani, perempuan berusia empat puluh lima tahun. Dia sudah cukup lama bepergian sendirian sehingga tidak terlalu memikirkan terminal yang mulai sepi. Dia hanya ingin segera sampai di Semarang. Bus yang ditunggunya merupakan bus terakhir yang bisa dinaiki malam itu.

Di seberang bangku, seorang petugas menyapu lantai. Sesekali terdengar suara mesin bus dari arah jalur keberangkatan. Suryani melihat jam di telepon genggamnya. 23.07.

Busnya belum datang.

Dia bangkit, berjalan beberapa langkah, lalu memandang deretan bus yang terparkir. Ada bus yang baru saja masuk, ada yang bergerak meninggalkan jalur, dan ada pula yang berhenti sebentar sebelum kembali berjalan.

Aneh juga, pikirnya. Sudah malam begini, tetapi bus masih ramai keluar masuk. Dia kembali duduk.

Tak lama kemudian, sebuah bus berwarna biru memasuki terminal. Lampu kabinnya menyala terang. Beberapa penumpang turun, sementara yang lain segera naik. Seorang lelaki membawa tas besar melintas di depan Suryani. Perempuan itu sempat memperhatikan papan tujuan di kaca depan bus. Tulisan Semarang terlihat jelas.

Dia berdiri dan mendekat. “Bus ini ke Semarang, Pak?”

Sopir yang sedang berdiri di dekat pintu menoleh. “Semarang?”

“Iya,” jawab Suryani sambil memandang ke arah bus

Sopir tersebut menjawab, “Ini baru datang dari Semarang, Bu.”

Suryani mengangguk lalu mundur, membiarkan para penumpang turun. Ketika kembali ke bangku, dia melihat seorang perempuan duduk di ujung ruang tunggu. Perempuan itu mengenakan blus cokelat dan membawa tas tangan kecil. Suryani yakin tadi bangku tersebut kosong tapi dia tidak terlalu memikirkannya.

Beberapa menit kemudian, bus biru tadi sudah tidak terlihat. Sebuah bus lain masuk, disusul bus berikutnya. Suara mesin, pintu yang dibuka, dan langkah kaki para penumpang datang silih berganti.

Suryani kembali melihat jam. 23.42.

Suryani mulai gelisah. Dia mencari petugas yang tadi menyapu, tetapi tidak melihatnya lagi. Perempuan berbaju cokelat juga sudah tidak ada di bangkunya. Lalu dia berjalan menuju loket tapi ternyata tutup. Di balik kaca loket, kalender masih menunjukkan bulan Oktober tahun 2022. Sebuah kertas kecil ditempel di sudut kaca, tetapi tidak bisa terbaca tulisannya dari luar.

Dia berbalik ketika mendengar suara bus mendekat. Sebuah bus berhenti di jalur paling ujung. Tidak banyak penumpang yang turun. Dari tempatnya berdiri, Suryani melihat seorang lelaki tua keluar sambil membawa ransel kecil. Lelaki itu berjalan melewatinya, kemudian berhenti.

“Menunggu Semarang, Bu?”

Suryani mengangguk.

“Busnya sebentar lagi datang.”

“Sudah ada yang bilang begitu tadi,” jawab Suryani.

Lelaki itu tersenyum, mengangguk lalu berkata, “Kalau begitu, Ibu tinggal menunggu.”

Dia melanjutkan langkah menuju pintu keluar terminal.

Suryani kembali duduk. Pukul 00.03.

Terminal masih ramai oleh bus yang datang dan pergi. Bus-bus itu berhenti. Pintu terbuka. Orang-orang bergerak naik dan turun. Beberapa membawa barang bawaan, sebagian hanya berjalan melintasi jalur keberangkatan. Tetapi tidak ada seorang pun yang tampak terburu-buru mengejar bus. Tidak ada yang bertanya tentang tujuan perjalanan. Tidak ada yang terlihat kebingungan mencari kendaraan.

Suryani bangkit dan menghampiri seorang lelaki yang berdiri di dekat tiang. Dia bertanya, “Maaf, Pak. Bus terakhir ke Semarang sudah berangkat belum?”

Lelaki itu menoleh ke arah jalur keberangkatan lalu menjawab, “Sebentar lagi, Bu.”

Suryani menghela napas lega. “Jam berapa, ya?”

Lelaki itu memandangnya beberapa saat sebelum menjawab. “Jam sebelas.”

Suryani mengerutkan kening. “Ini sudah lewat tengah malam, Pak.”

Lelaki itu tidak menjawab, hanya memadang Suryani dengan sebuah senyuman. Orang ini kemudian berjalan menuju sebuah bus yang baru saja berhenti.

Suryani mengikuti langkahnya dengan pandangan. Di kaca belakang bus itu tertulis tujuan: Semarang.

Dia segera mengangkat tasnya dan berjalan mendekat. Namun, sebelum mencapai pintu, dia mendengar seseorang memanggil dari belakang.

“Bu Suryani?”

Dia menoleh.

Seorang petugas berdiri di dekat loket. Seragamnya tampak kusam, dan di tangannya ada buku catatan kecil. “Bus Ibu sudah datang?”

“Belum, Pak. Katanya jam sebelas.”

Petugas itu memandang jam dinding di atas loket. “Jam sebelas?”

“Iya. Saya transit ke Semarang.”

Petugas itu terdiam sejenak. Lalu bertanya, “Ibu sudah menunggu sejak kapan?”

Suryani hendak menjawab, tetapi tiba-tiba teringat sesuatu.

Dia sudah beberapa kali melihat bus dengan tujuan Semarang. Dia bahkan sempat bertanya kepada sopir salah satunya, tetapi mengapa tidak satu pun bus itu bisa dinaiki?

Dia mengeluarkan telepon genggamnya. Pukul 00.17.

“Saya menunggu dari tadi, Pak.”

Petugas itu membuka buku catatannya, membolak-balik beberapa halaman, kemudian menutupnya kembali. “Kalau begitu, Ibu tunggu saja di sini.”

Dia berjalan menuju ruang di belakang loket.

Suryani berdiri sendirian.

Dari arah jalur keberangkatan, suara mesin bus kembali terdengar. Sebuah kendaraan melintas perlahan di hadapannya. Lampu kabinnya terang. Di kaca depan terpampang tulisan besar: SEMARANG.

Suryani tidak bergerak. Dia hanya memperhatikan bus itu sampai berhenti di ujung terminal. Lalu dia memandang loket yang tertutup, buku catatan yang tadi dibawa petugas, dan jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas tepat. Dia tidak tahu, jam mana yang harus dipercayainya?

Di belakangnya, terdengar suara langkah kaki.

Seseorang berhenti di dekat bangku. “Bu, dari tadi menunggu siapa?”

Suryani menoleh.

Seorang perempuan muda berdiri sambil membawa tas ransel. Wajahnya tampak lelah, seolah baru menempuh perjalanan panjang.

“Bus ke Semarang,” jawab Suryani.

Perempuan muda itu melihat ke arah jalur keberangkatan. “Oh, bus itu sudah berangkat, Bu.”

Suryani terdiam kemudian katanya, “Bus yang mana?”

Perempuan itu menunjuk ujung terminal. “Yang terakhir. Tadi jam sebelas.”

Suryani mengikuti arah telunjuknya. Bus itu masih ada di sana. Pintunya terbuka. Lampu kabinnya menyala. Dan seorang lelaki berdiri di dekat pintu, memandang lurus ke arahnya.

Perempuan muda itu mengangkat tasnya. “Kalau begitu, saya duluan, Bu.”

Dia berjalan dan pergi.

Suryani kembali memandang bus di ujung terminal. Dia ingin bertanya kepada lelaki di dekat pintu, tetapi saat melangkah maju, suara mesin bus terdengar semakin keras. Bus itu mulai bergerak.

Suryani berdiri di tempatnya sampai kendaraan tersebut menghilang dari pandangan. Ketika dia kembali melihat jam di telepon genggamnya, waktu menunjukkan pukul 23.00.

Dia menatap layar itu cukup lama lalu memasukkan telepon ke tas dan berjalan menuju pintu keluar terminal.

Di luar, jalanan Magelang lengang.

Suryani berhenti di tepi jalan, menunggu kendaraan yang bisa membawanya pergi.

Tapi dari dalam terminal, suara bus terdengar, memanggil Suryani agar kembali ke dalam terminal.

Selesai

  • Luka Swandaru, terutama pemasungan kemampuannya berkanuragan, apakah salah Agung Sedayu? Saya tidak mencari dukungan tapi ada yang bilang itu kejam. Waru Geni 3.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.