0%
Still working...

Aku Cinta Mati pada Leak

Dironda 22 kali

Semarang, 2026

Aku tidak pernah percaya bahwa kecantikan dan kelembutan bisa menjadi pintu menuju sesuatu yang mengerikan. Setidaknya sampai aku bertemu dengannya.

Namanya Komang.

Aku mengenalnya di sebuah kedai kopi kecil di kawasan Kota Lama, pada suatu malam ketika hujan baru saja berhenti. Dia duduk bersama dengan seorang kawan perempuan yang aku kenal. Komang, saat itu, mengenakan blus hitam berlengan panjang. Rambutnya terurai melewati bahu, sedikit bergelombang pada ujungnya. Tubuhnya ramping, dengan leher jenjang dan sepasang tangan yang begitu halus hingga membuatku berpikir bahwa perempuan itu tidak pernah melakukan pekerjaan kasar sepanjang hidupnya.

Tetapi bukan itu yang membuatku terus memandangnya.

Ada sesuatu pada wajahnya yang sulit dijelaskan. Hanya satu, ketika tersenyum, dia memperlihatkan deretan gigi putih yang rapi dan semesta serasa berhenti berputar. Cantik dan lembut. Ramah tetapi lincah. Hahaha… yang aku tahu adalah aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku jatuh cinta kepadanya tanpa perlu mengenal seluruh dirinya.

Kami berkenalan dan kemudian berhubungan seperti wajarnya yang dilakukan anak zaman sekarang.

Malam itu, tepat pukul delapan malam, aku tiba di rumah Komang.

Rumahnya terletak di sebuah gang agak lebar di pinggiran Semarang. Bangunannya dengan dinding berwarna krem dan jendela-jendela kayu. Lampu teras yang menyala. Hanya sebuah bila lampu yang tak begitu terang menggantung di dekat pintu, bergoyang perlahan meskipun udara di sekitarnya terasa diam.

Komang menyambutku dengan senyum yang sama seperti ketika pertama kali kami bertemu. “Hai, kamu.”

Aku tersenyum.

Dia tersenyum. Manis sekali. Tangannya menyentuh lenganku, lalu menggenggamnya sebentar. “Aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu.”

“Apa?”

“Ayo, sudahlah,” ucapnya lincah.

Ah, dunia berhenti berputar, aku rasa. Banyak potongan gambar porno. Hahaha… Betapa tidak? Pakaiannya saja sudah membawaku terbang ke dimensi yang lain.

Dia membawaku melewati sebuah pintu kayu menuju halaman tengah rumahnya. Halaman itu terbuka ke langit malam dan dikelilingi tembok tinggi. Sebuah pohon kamboja tumbuh di dekat ujung halaman. Daunnya bergerak pelan.

Di tengah halaman, sebuah tikar pandan terbentang lalu kami duduk di atasnya. Begitu romantis. Bayangan porno semakin kental membayang. Aduh, aduh… hahaha…

Komang merapikan kerah bajuku, lalu mengecup pipiku.

Jantungku berdegup lebih cepat.

Dia melepaskan genggamanku dan melangkah menjauh dari tikar. Aku memperhatikan punggungnya yang ramping, rambutnya yang jatuh hingga ke bahu, dan langkah kakinya yang nyaris tidak menimbulkan suara.

Sampai di tengah halaman, Komang berhenti kemudian menoleh pendek kepadaku. Tanpa kata-kata.

Aku ingin bertanya lebih jauh, tetapi ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat kata-kata tertahan di tenggorokan. Aku menunggu.

Komang mengangkat kedua tangannya. Suaranya terdengar lirih pada awalnya, menyerupai gumaman Seorang bayi. Ada bayi dalam gendongannya. Sejak kapan bayi itu di sana? Entahlah.

Wajahnya masih cantik. Hidungnya, bibirnya, garis rahangnya, semuanya tetap sama. Namun, bayi itu diangkat lebih dekat padanya dan aku tidak lagi dapat melihat dengan jelas yang terjadi depanku.

Bayi tidak mengeluarkan tangis tapi dia masih bergerak, masih hidup. Sedetik kemudian… Darah tampak membasahi bibir Komang. Komang mencengkeram sangat kuat.

“Selesai,” katanya.

Aku tidak sanggup menjawab.

Dia berjalan mendekat dan bayi itu tergeletak begitu saja. Dia berhenti tepat di hadapanku. Ketika dua tangannya memeluk pinggangku, aku pun teringat pada semua hal kecil yang telah kami lalui bersama. Caranya tertawa ketika aku menceritakan lelucon yang buruk. Caranya mendengarkan setiap keluhanku tanpa pernah menyela.

Apakah semua itu kebohongan?

Aku mengangkat tangan, menyentuh rambutnya kemudian memeluknya.

“Aku tidak pernah ingin menyakitimu,” lanjutnya. “Aku hanya ingin kamu tahu bahwa sebelum kamu mencintaiku, aku sudah menjadi diriku sendiri. Aku tidak bisa mengubah itu hanya karena kamu datang.”

Aku menatap matanya dan masih mengenali tatapan perempuan yang aku cintai.

Dan itulah bagian yang paling menyakitkan sebab aku tidak sedang berdiri di hadapan seekor monster yang bisa dibenci atau dibunuh dengan mudah.

Aku sedang memeluk seseorang yang ternyata menyimpan kehidupan yang tidak pernah dapat terbayangkan.

“Aku tidak tahu apakah aku bisa memahami semua ini,” aku katakan itu.

“Aku tahu,” ucap Komang sambil mengangguk. “Terima kasih karena tidak membenciku.”

Aku tidak menjawab. Aku hanya memandangnya, berusaha mencari satu alasan yang cukup kuat untuk menjelaskan: aku masih ingin kembali.

Sepanjang perjalanan, aku berkali-kali memikirkan kata-katanya.

Kadang-kadang. Kadang-kadang manusia. Kadang-kadang sesuatu yang lain.

Jawaban itu terus berputar di kepalaku.

Malam semakin larut ketika teleponku bergetar.

Sebuah pesan dari Komang muncul di layar.

Sudah sampai?

Aku membalas singkat.

Sudah.

Beberapa detik kemudian, pesan berikutnya datang.

Aku mencintaimu.

Aku memandang dua  kata itu cukup lama sebelum mengetik balasan.

Aku juga mencintaimu.

Lalu aku meletakkan telepon dan mematikan lampu.

Aku seharusnya takut. Aku seharusnya memutuskan hubungan dengannya, menghapus nomornya, dan memastikan bahwa aku tidak lagi menginjakkan kaki di rumah itu. Namun, ketika membayangkan wajahnya, yang muncul justru senyumnya di kedai kopi pada hari pertama kami bertemu.

Aku mencintai senyum itu. Aku mencintai suaranya. Aku mencintai caranya menyebut namaku. Dan aku hampir tahu bahwa dia adalah seorang leak.

Aku tidak tahu yang akan terjadi jika aku terus bersamanya. Aku tidak tahu seandainya suatu hari nanti aku akan menyaksikan sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada ritual malam ini. Membunuhku, mungkin itu.

Aku hanya tahu bahwa ketika Komang menggenggam tanganku, aku tidak merasakan kebencian. Aku merasakan cinta.

Cinta yang mungkin akan menghancurkanku. Cinta yang mungkin akan membawaku ke tempat yang tidak pernah dapat ditinggalkan.

Terkadang, sesuatu yang mengerikan datang dengan tubuh ramping, senyum manis, dan sepasang mata yang membuatmu ingin tinggal lebih lama. Terkadang, dia menunggumu di sebuah rumah tua di Semarang, pada pukul delapan malam.

Dan terkadang, ketika dia bertanya apakah kamu takut kepadanya? Kamu justru menggenggam tangannya lebih erat sebab terlanjur mencintainya.

Apakah aku mencintai seorang leak? Aku tidak membutuhkan jawaban karena yang paling aku takutkan bukanlah kemungkinan bahwa dia akan membunuhku atau menyiksaku, tetapi sebuah panggilan. Yah, panggilan untuk datang ke rumahnya. Panggilan yang sulit untuk ditolak.

Ya, Komang. Aku datang.

  • Malam menyapa dengan ketipisan gelap saat para pengawal dan anak-anak muda memindahkan orang-orang lemah ke tempat leak tidak tinggal. Di Membidik 60.
  • “Hanya begini sajakah kemampuan orang-orang Menoreh?” Ra Jumantara mencoba memancing Bondan yang sangat tenang malam itu. Ra Jumantara meremehkan mungkin karena mengira orang-orang Menoreh dibantu leak. Padahal kemampuan mereka sangat sangatlah menggetarkan. Benturan Lereng Gunung Wilis 3.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.