Padepokan Witasem
Pajang, Gajahyana, majapahit, Lembu Sora, bara di borodubur, cerita silat jawa, padepokan witasem, tapak ngliman
Bab 5 Bentrokan di Lereng Gunung Wilis

Bentrokan di Lereng Gunung Wilis 3

Kelompok Ra Jumantara rapat mengepung orang Menoreh yang berjumlah lebih banyak. Namun jumlah itu tidak dalam keadaan yang baik untuk melakukan pertempuran kecil di lereng Gunung Wilis.

Sedangkan Bondan – ketika mengetahui luka-luka yang diderita Jalutama pada bagian punggungnya -kemudian berbisik pelan, ”Aku akan mengambil orang itu sebagai lawan. Sementara Kakang bersama pengawal dapat membendung satu orang lagi dari mereka. Paman Ken Banawa pasti telah bersiap dalam keadaan ini.” Jalutama tidak memberi tanda setuju tetapi dalam hatinya, ia sepakat dengan saran Bondan.

Dengan sinar mata tajam, Bondan menatap lekat orang yang berdiri agak jauh di sebelah Ra Jumantara. “Keadaan ini sudah tidak dapat dihindari lagi. Mereka datang tidak dengan tujuan untuk mengampuni orang-orang Menoreh. Kedatangan mereka justru akan semakin memperkuat kedudukan mereka di daerah sekitar sini,” gumam Bondan dalam hatinya.

“Anak muda, aku berikan satu kesempatan lagi. Menyerahlah dan aku akan biarkan kalian hidup sebagai tawananku. Dan dengan begitu, kami akan membawa kalian pulang ke Menoreh dalam keadaan selamat,” seru Ra Jumantara.

Terdengar gemeretak geram Jalutama yang merasa terhina dengan kata-kata itu, tetapi ia dapat menguasai perasaan. Sejenak Jalutama memandang sekeliling lalu mendapati betapa wajah para pengepungnya tersenyum mengejek. Bahkan Nyi Kirana pun memandang dirinya dengan sinar mata menyala buas. Perempuan ini terkekeh lalu berkata, ”Menyerahlah. Kau akan mendapatkan limpahan kehangatan yang tidak pernah kau rasakan sebelumnya.”

Jalutama menghela napas panjang. Ia menyayangkan keberadaan seorang wanita cantik bertubuh padat dalam kawanan serigala buas. “Bersiaplah kalian semua!” seru Jalutama lalu orang-orang Menoreh pun memberi perhatian penuh pada lawan masing-masing yang berdiri di hadapan mereka. Sementara Bondan masih lurus dan tajam dengan pandangan menusuk orang di sebelah Ra Jumantara.

Tanpa menunggu aba-aba Jalutama, tiba-tiba Bondan membentak nyaring dan meluncur deras dengan serangan berbahaya mengarah pada Ra Jumantara yang berharap dapat menekuk Jalutama. Dua tangan Bondan mengembang mengalirkan serangan melalui ilmu yang diperolehnya dari Resi Gajahyana. Sementara Ra Jumantara memaksa dirinya untuk mengalihkan ancang-ancang untuk menyerang Jalutama menjadi benteng pertahanan. Sementara ia mengira Bondan akan menyerang orang yang berada di sebelahnya. Segera saja keduanya terlibat dalam pergumulan seru. Benturan-benturan lengan dan kaki tidak dapat dihindarkan lagi, dan Ra Jumantara sedikit terkejut ketika anak muda yang menjadi lawannya ternyata berada pada tataran yang sama dengannya. Meski begitu, ia tidak tampak kewalahan dengan serbuan berbahaya dari Bondan.

Para pengepung dari Padepokan Sanca Dawala sama sekali tidak menyangka bahwa justru lawan mereka yang memulai pertempuran. Oleh karenanya, dalam waktu singkat terbentuklah lingkaran-lingkaran kecil pertempuran.

Dalam keadaan itu, perkelahian Bondan dengan Ra Jumantara telah berkembang semakin berbahaya dan cepat. Untuk beberapa lama mereka saling mengukur kemampuan dari lawan masing-masing. Bondan secara bertahap meningkatkan aliran serangan. Setelah hampir setahun tinggal bersama dengan saudara dan bibinya di Trowulan, Bondan memang mengalami kemajuan pesat terutama dari segi pengendalian diri. Tenaga dan kecepatannya memang sedikita mengalami perubahan tetapi kematangan jiwaninya membuat pertarungan malam itu menjadi sedikit berbeda. Berbalut rasa penasaran karena kekuatan Bondan dalam menyerang, Ra Jumantara mulai melakukan serangan balasan.

“Hanya begini sajakah kemampuan orang-orang Menoreh?” Ra Jumantara mencoba memancing Bondan yang sangat tenang malam itu.

Bondan tidak menghiraukan ejekan Ra Jumantara. Dengan cepat ia mengembangkan gelombang serangannya, dengan bekal olah gerak yang dikembangkan oleh Mpu Gandamanik dan diasahnya bersama Gumilang, kini Bondan melakukan banyak serangan yang tersamar di dalam sejumlah gerakan.

Tangan kiri Bondan mengarah bagian bawah lawan dengan lambaran tenaga inti, sedangkan tangan kanannya mengurung Ra Jumantara dari atas dengan telapak tangan mengembang. Tetapi secara tiba-tiba tangan kiri Bondan berhenti ketika jarak telah dekat dengan sasarannya. Secara mendadak ia menggandakan tenaga pada telapak kanannya sehingga dengan begitu tangan kiri Bondan hanya terlapisi oleh daya tahan dari tenaga inti. Pergeseran itu sama sekali tidak diduga oleh Ra Jumantara. Lelaki kepercayaan Mpu Reksa Rawaja ini cepat membuang diri ke belakang lalu bergulingan menjauh. Sambaran angin pukulan benar-benar menjauh darinya, namun demikian ia dapat memperkirakan tulang pundaknya akan melesak bagian dada jika terlambat menghindar.

Bondan tidak membiarkan lawannya terlalu lama mengamati kedudukan pertarungan yang sedang mereka jalani. Sekejap berikutnya, ia kembali melakukan serangan dengan tendangan beruntun. Sebuah tendangan melingkar dari bawah meluncur mengarah ubun-ubun Ra Jumantara, Ra Jumantara bergeser sedikit ke samping lalu dengan tangan mengembang, meraih leher Bondan dan mencoba menendang betis Bondan.

Serangan berbalas serangan. Perkelahian seru dengan gerakan-gerakan rumit itu semakin mencengkam!

Melihat bahaya datang akan mencekik leher dan menghantam betisnya, Bondan memindahkan berat tubuhnya ke belakang sambil memutar tubuh. Maka dengan begitu, kaki Bondan yang melakukan tendangan ke tumit lawannya juga mengalami pergeseran. Seperti kuda yang sedang menendang dengan kedua kaki belakangnya, Bondan bertumpu pada kedua tangannya lalu mengubah sasaran.

Related posts

Bentrokan di Lereng Gunung Wilis 5

kibanjarasman

Bentrokan di Lereng Gunung Wilis 4

kibanjarasman

Bentrokan di Lereng Gunung Wilis 2

kibanjarasman

Bentrokan di Lereng Gunung Wilis 1

kibanjarasman

Leave a Comment