Padepokan Witasem
Bab 1 Aku dan Masa Kecilku

Aku dan Masa Kecilku 4

Udara yang bertiup sejuk membuat aku betah tinggal di Ambarawa. Meskipun saat malam hari udara lebih dingin, tetapi aku biasa berdiang di depan perapian atau bergelung sarung berhimpitan dengan si Manis saling menghangatkan badan.

Kalau kamu pernah membaca atau mendengar cerita sejarah tentang Jendral Sudirman, kamu pasti tahu tentang sejarah kota Ambarawa. Kota ini adalah kota tua yang menyimpan sejarah penting tentang perang kemerdekaan. Di sini, selain ada Monumen Palagan Ambarawa dan Museum Isdiman, juga terdapat Museum Kereta Api paling besar di Indonesia.

Suatu kali aku bermain di dua tempat itu bersama teman-teman. Kami berjalan kaki beramai-ramai menuju ke sana tanpa alas kaki. Kami menerobos pagar seperti pencuri ayam, agar bisa masuk tanpa membayar. Tidak ada uang untuk membeli karcis. Kami bocah-bocah yang miskin, berhasil masuk tanpa membayar merupakan sebuah kebanggaan.

Aku, sama seperti anak laki-laki pada umumnya. Nakal dan setiap hari pekerjaanku hanya bermain. Saat sore hari udara cerah, aku membolos mengaji lalu pergi ke lapangan untuk bermain layangan. Angin sore menyambutku dengan gembira. Ia tertawa saat berhasil menerbangkan layanganku hingga meliuk indah di angkasa tinggi. Tentu saja lebih seru bermain layangan daripada disuruh menghapal Quran.

Angin menjadi lupa diri karena terlalu bahagia. Layanganku bersangkutan sampai senarnya putus. Aku mengejar kesana kemari tanpa hirau akan bahaya. Melompat pagar, memanjat pohon, serta naik ke genteng. Semua aku perjuangkan demi kembalinya haƕtaku yang berharga.

Aku tidak segera pulang walau gerimis mulai menitik. Inilah saat yang aku tunggu-tunggu. Kami akan bermain sepak bola sambil hujan-hujanan. Jerami dan plastik yang diikat, menjadi bola andalan. Berguling-guling di lumpur dan menggelosor hingga badan kotor seperti kerbau berkubang, menjadi pengalaman manis yang tidak akan terlupakan.

Saat musim berganti panas, aku dan teman-teman bermain di sungai untuk mendinginkan badan. Kami berenang sepandai ikan dan melompat selincah kodok. Untuk mengusir bosan, kami beradu lama menahan napas di dalam air. Berburu yuyu[1] di sawah serta memulung buah jatuh sisa gerogotan kelelawar juga menjadi kegiatanku. Masa kecilku sangat menyenangkan, meskipun karena polahku telingaku sering sakit terkena jeweran. Aku bahagia karena tumbuh besar dan bebas bermain dengan alam.

Aku ingat, bapak pernah menyita satu kaleng kelerengku. Waktu itu aku ulangan kenaikan kelas. Karena terlalu asyik bermain, aku menjadi lelah dan ketiduran sampai pagi sehingga tidak sempat belajar. Bapak marah, aku gerah. Aku diam tidak berani menentang bapak, karena aku sadar telah melakukan sebuah kesalahan. Sesudah ulangan selesai dan laporan hasil belajar dibagikan, untunglah kaleng kelerengku yang berharga segera dikembalikan.

[1] Ketam atau kepiting air tawar

Related posts

Leave a Comment