Padepokan Witasem
Bab 1 Aku dan Masa Kecilku

Aku dan Masa Kecilku 3

“Menangislah yang keras, Le![1]

Agar lepas kedukaan dari hidupmu. Aku memberimu nama Danurdara, dengan harapan kelak jika dewasa kamu menjadi orang yang kaya akan ilmu!”

Sebuah harapan mulia dan puja-puji terpatri dari para tetua dalam nama yang aku sandang selamanya.

Kala itu saking melaratnya, selepas disapih tidak ada lagi susu untukku. Uang gaji sudah habis di sepertiga bulan. Embah putri menyarankan agar ibu mengganti susu dengan air tajin. Air tajin adalah air yang mendidih sesaat sebelum nasi matang. Makanya meski hidup dalam kemiskinan, aku tetap tumbuh sehat dan menjadi jarang sakit. Itu berkat khasiat air tajin yang banyak mengandung vitamin dan mineral.

Satu tahun setelah menyapih aku, ibu kembali mengandung. Damar adikku lahir saat aku masuk TK. Kata bapak, aku melompat-lompat seperti kelinci karena gembira.

Kami berdua dibesarkan di sebuah desa yang indah di tepi Danau Rawapening di Kecamatan Ambarawa. Sejarah mengenai terjadinya Rawapening sudah banyak tercatat dalam cerita legenda. Baik dalam bentuk tulisan maupun lisan.

Mereka berkisah tentang seorang pemuda bernama Baruklinting yang buruk rupa. Ambune amis, tatune arang kranjang.[2] Dia datang ke sebuah desa dalam keadaan lapar tetapi penduduk desa yang sombong tidak sudi menolong. Namun di antara penduduk desa yang angkuh ada seorang nenek yang berbaik hati memberinya makanan.

Sebagai ucapan terima kasih, sebelum pergi Baruklinting berpesan, “Siapkan sebuah lesung untuk berjaga-jaga, Nek!”

Dia telah berencana memberi pelajaran kepada penduduk desa yang tidak punya hati. Untuk menunjukkan kesaktian, dia mengambil sebatang lidi lalu menancapkannya di atas tanah.

“Hai, para lelaki! Kalau kalian mengaku kuat cabutlah lidi ini!”

Sekuat tenaga satu per satu kaum lelaki di desa itu mencoba mencabutnya, namun sia-sia.

“Jangan hanya menilai seseorang dari kulitnya. Karena belum tentu kamu lebih baik dari dia.” Baruklinting berucap sambil mencabut lidi dengan sangat mudah.

Ajaib!

Setelah dicabut, dari bekas tancapan lidi menyembur air yang sangat deras. Penduduk desa panik berlarian. Jerit tangis berhamburan dari mulut anak-anak dan para wanita.  Dahsyatnya air menggulung desa. Harta benda sirna, hewan dan penduduknya yang sombong binasa. Hanya Baruklinting dan si nenek yang tersisa. Mereka selamat berkat naik lesung yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Genangan air itu membentuk danau yang kemudian dikenal dengan nama Rawapening.

Karena pemandangannya sangat indah, di tepi danau Rawapening kemudian dibangun sebuah tempat wisata bernama Bukit Cinta.

 

 

[1] Sapaan untuk anak laki-laki dalam Bahasa Jawa

[2] Baunya anyir, lukanya sangat banyak

Related posts

Leave a Comment