Padepokan Witasem
Bab 1 Berlayar dari Tuban

Berlayar dari Tuban 4

Ayodha: Ekspedisi Pamalayu

Bab 1. Berlayar dari Tuban

Bagian 4

 

KEHENINGAN itu betapa pun pada akhirnya terputus juga. Lagi-lagi Ayodha yang menceletuk gagasan.

 

“Surat itu tidak perlu kita buat menjadi rahasia.” Sambil berkata begitu, Ayodha tersenyum lebar. “Kita tulis saja tantangan terbuka untuk perguruan yang katanya bersembunyi di celah-celah Pegunungan Sewu itu. Namun surat tersebut tidaklah kita tujukan pada perguruan itu semata, melainkan pula khayalak luas, sebab betapa pun perguruan silat besar seperti mereka tidak akan mau menanggung malu hanya karena menolak tantangan.”

Dalam telaga dunia persilatan, tantangan bertarung hingga mati adalah sesuatu hal yang teramat biasa, bahkan justru dicari-cari oleh para pendekar sejati yang mencari kesempurnaan dengan mati dalam pertarungan. Menolak tantangan bertarung sama saja dengan mencoreng wibawa sebagai seorang pendekar.

 

Dasarata dan Sinabung yang mendengar itu mau tidak mau tersenyum lebar pula. Mereka merasa bahwa gagasan yang dicetuskan oleh Ayodha itu teramat sangat cermelang.

 

“Di padepokan, kita dipantang mengeluarkan kata-kata penghinaan maupun celaan, sebab betapa juga hal tersebut hanya akan menambah permusuhan yang tidak perlu. Tetapi sekarang, kurasa kita bertiga harus mengeluarkan kemampuan menghina dan mencela, sebab permusuhan yang kita cari saat ini sangatlah diperlukan. Semakin menyakitkan isi surat yang kita kirimkan, maka akan semakin cepat mereka datang.”

 

“Gagasan yang cermat, Ayodha. Andaikanlah dalam surat itu kita mengatakan telah menyiapkan pasukan besar berisi pendekar-pendekar ahli, pastilah mereka juga akan mengirim pasukan yang sedemikian rupa agar dapat mengimbangi kekuatan kita. Bukankah dengan begitu kita bisa mendapatkan pendekar-pendekar unggulan di perguruan mereka untuk kemudian kita bawa ke Pelabuhan Kambang Putih tepat waktu?” Sinabung melempar pendapatnya sambil beberapa kali menggeleng kagum.

 

Namun, tetiba saja Dasarata berkata, “Tidak ada jaminan sama sekali bahwa rencana ini dapat memenuhi harapan. Perlulah kita ketahui bahwa mereka adalah perguruan yang dengan sengaja menyembunyikan diri dari dunia, sehingga  hanya ada sedikit kemungkinan kalau mereka tersulut amarah hanya karena sebuah tantangan bertarung. Dan sekalipun menerima tantangan tersebut, tentulah mereka membutuhkan waktu selama sepuluh hari berkuda untuk sampai ke tempat ini, belum lagi dengan adanya kemungkinan bahwa mereka akan memerlukan beberapa hari untuk menyusun rencana.”

Ayodha dan Sinabung mengangguk bersamaan. Mereka tahu persis bahwa gagasan tersebut sama sekali tidak memiliki jaminan akan menemui keberhasilan. Namun setidaknya, itu merupakan gagasan terbaik yang ada saat ini, sehingga tak ada salahnya untuk mencoba ketimbang tiada berbuat apa pun.

 

“Baiklah, kita harus pergi dan menetap pada suatu wilayah yang mudah dikenali.” Dasarata berkata sambil bangkit berdiri. Bergerak cepat menuju kudanya. Ayodha dan Sinabung mengikuti pula dengan langkah cepat, sebab perkataan Dasarata boleh dianggap sebagai perintah bagi mereka.

 

***

 

KETIKA mentari telah tergelincir sedikit ke ufuk barat, terbanglah seekor burung elang cokelat dengan kecepatan tinggi. Melesat jauh menuju langit biru, yang bila dilihat dengan lebih dekat, maka akan tampaklah sekeropak lontar yang terikat di badannya.

 

Ayodha terus memandang burung itu hingga menjadi noktah sebelum akhirnya berbalik dan mengeluarkan sejumlah keping inmas dari kantung pundi-pundi di pinggangnya.

 

“Burung itu pasti akan sampai tepat waktu, Anak.” Seorang pria paruh baya berkata ramah sambil menerima inmas-inmas tersebut dari tangan Ayodha.

 

“Terima kasih, Bapak.” Begitulah saja Ayodha menjawab sekadarnya, sebab perhatiannya lebih tertuju pada empat ekor burung elang yang bertengger di sebuah tenggeran panjang yang terpasang pada pundak pria paruh baya itu.

 

Mengetahui apa yang menjadi perhatian utama Ayodha, pria itu menjelaskan, “Empat elang ini memiliki jurusannya masing-masing, Anak. Aku masih memiliki ratusan elang pengantar surat lainnya di kediaman, tetapi kali ini aku hanya membawa empat elang yang sesuai dengan jurusan para pemesanku.”

Pria paruh baya itu kemudian menceritakan secara singkat bahwa Ayodha sangat beruntung tiba di desa ini tepat waktu, berkenaan dengan seseorang lainnya yang telah memesan seekor elang dari pria itu untuk mengirim suratnya menuju Pegunungan Sewu, sehingga surat mereka dapat dikirim berbarengan.

 

Jika tidak begitu, maka Ayodha harus menunggu selama beberapa hari lagi untuk dapat memesan burung pengantar surat yang berjurusan menuju Pegunungan Sewu kepada pria parobaya itu.

 

“Kalau begitu, aku mohon diri dari sini, sebab harus mengunjungi beberapa desa lain sebelum senjakala.” Pria paruh baya itu kembali mengangkat tongkat yang pada bagian ujungnya terikat sebuah bundelan, sebelum akhirnya berjalan menjauh dari lapangan tempat keduanya bertemu itu.

 

Ayodha mengangguk pelan sambil melihat pria itu berjalan terus menjauh hingga hanya tampak sebagai noktah saja, bagaikan burung elang yang baru saja dilepaskannya menuju Pegunungan Sewu di selatan Javadvipa tadi.

 

Cerita tentang pengembara yang menawarkan jasa pengiriman surat menggunakan burung sebenarnya telah pernah Ayodha dengar dari kedua orangtuanya yang pula merupakan sepasang pendekar.

 

Pengembara seperti itu biasanya akan tetap tinggal di suatu tempat hingga beberapa lama, tetapi umumnya tidak sampai dua purnama panjangnya. Ia akan berkeliling dari kota ke kota, desa ke desa, hingga pasar ke pasar hanya untuk menawarkan jasanya.

 

Ketika itu, Ayodha bertanya kepada ayahnya tentang mengapa ada saja manusia yang memilih jalan hidup seperti itu, yang penuh pengembaraan dan rasa was-was akibat segalanya tidak mungkin berlangsung dengan aman-aman saja.

 

Dengan tegas, tetapi pula penuh kelembutan, ayahnya menjawab, “Adha Anakku, mereka adalah orang-orang yang telah memahami betul bahwa dunia tidaklah sesempit petak-petak sawah yang ada di desa mereka. Masih ada samudra luas yang terbentang bagai tiada berujung. Masih ada pula gunung-gunung yang pada puncaknya diselumuti suatu pasir putih dingin membekukan. Mengembara adalah tujuan sekaligus jalan hidup mereka, dan jasa pengantar surat hanyalah cara mereka untuk mendapatkan sesuap nasi atau sepotong kain untuk menambal pakaian yang berlubang.”

Sejak mendengar cerita dari ayahnya itulah Ayodha mulai berhasrat melakoni petualangannya sendiri. Melihat ujung lautan. Menyambangi tempat-tempat baru. Berkenalan dengan orang-orang yang sungguh asing baginya.

 

Namun, kenangan tentang kedua orang tuanya itu telah membuat mata Ayodha basah. Bagai saja lapangan kering itu telah meniupkan butiran-butiran debu ke dalam matanya. Memerah.

 

“Ah, aku tidak bisa menangis di sini atau di manapun. Aku tidak boleh menangis!” Ayodha berusaha menguatkan hatinya yang ternyata masih begitu rapuh dan rawan. “Aku hanya akan menangis setelah berhasil mewujudkan impian mereka berdua, itulah sumpah lamaku yang masih dan akan selalu aku ingat selamanya.”

Ayodha kembali memandangi langit biru yang bagai tanpa batas. Sedemikian luasnya, melebihi tujuh samudera. Tetiba saja tekadnya rujuk terisi. Berkobar-kobar nyalanya. Ia tidak boleh sampai melewatkan Penjelajahan Pamalayu. Tidak boleh!

Wedaran Terkait

Berlayar dari Tuban 5

WestReversed

Berlayar dari Tuban 3

WestReversed

Berlayar dari Tuban 2

WestReversed

Berlayar dari Tuban 1

WestReversed

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.