Dironda 34 kali
Wedaran sebelumnya: Sunan Agung yang menyaksikan secara sembunyi-sembunyi semakin memahami kebenaran kecurigaan Agung Sedayu terhadap Ki Wira Sentanu, sementara Pangeran Purbaya menyimpulkan bahwa keselamatan Sunan Agung selama ini justru terjaga oleh dendam lama Ki Wira Sentanu yang membuatnya menunda kesempatan untuk membunuh raja Mataram tersebut. Pengalaman itu sekaligus menyadarkan Pangeran Purbaya akan pentingnya memastikan orang yang kelak mendampingi Sunan Agung tidak memiliki penyimpangan serupa.
Sementara di gelanggang.
Ki Wira Sentanu melompat surut beberapa langkah. Dia tidak sedang terdesak atau kehilangan keseimbangannya tapi sepertinya memperhatikan sesuatu. Dia sadar bahwa lawannya adalah orang yang berilmu tinggi.
Karena itu, maka Ki Wira Sentanu pun segera mempersiapkan dirinya kembali. Tidak ada waktu untuk merenungi keadaan lawannya, karena dalam sekejap kemudian, Agung Sedayu telah kembali merapatkan jarak dengan lontaran ilmu yang dahsyat. Sepasang tangan Agung Sedayu kembali terayun. Dari gerakan itu meluncur kekuatan yang tidak tampak oleh mata, tetapi daya hantamnya terasa menggetarkan udara dan langsung menyambar ke arah Ki Wira Sentanu.
“Gila!” desis Ki Wira Sentanu dalam hati.
Serangan itu benar-benar datang dengan daya yang mengejutkan.
Namun Ki Wira Sentanu menguasai keseimbangannya. Dia melepaskan diri dari arah datangnya serangan. Dia sebenarnya belum berada dalam keadaan yang memaksanya untuk bertahan mati-matian. Karena itu, dia tidak berusaha menyongsong serangan tersebut dengan kekuatannya sendiri. Menghindar baginya masih merupakan pilihan yang paling tepat.
Dalam sekejap, tempat yang semula dipijaknya telah kosong. Ledakan pun mengguncang tanah. Tanah itu pecah dan terlempar, meninggalkan lubang yang cukup dalam di bekas tempat Ki Wira Sentanu berdiri.
Tetapi Agung Sedayu tidak memberinya kesempatan. Dengan sebuah loncatan panjang, dia kembali menerjang. Gerakannya begitu cepat lalu tiba-tiba gerakannya berubah menjadi sulit ditangkap oleh pandangan. Dengan tubuh tidak bergeser menjauh, Ki Wira Sentanu mengubah sedikit ke arah yang lain. Sekejap condong, sesaat berputar, kemudian melompat pendek dengan arah yang sama sekali tidak terduga.
Tidak ada pola yang tetap dalam gerakannya seperti sedang menepuk atau mengejar serangga maupun belalang. Dia berpindah- pindah tanpa pernah memberi kesempatan kepada lawannya untuk menebak.
Agung Sedayu yang telah memperhitungkan arah serangan beberapa kali justru mendapati sasaran yang hendak dihantamnya telah berubah tempat. Anehnya, perubahan itu berlangsung tanpa gerak yang jelas. Ki Wira Sentanu seakan tetap berada di tempatnya, tetapi setiap serangan selalu luput beberapa jengkal dari tubuhnya.
Dan sebenarnyalah bahwa mereka berdua adalah orang-orang yang luar biasa.
Terhuyung-huyung seakan hendak tumbang tetapi kaki Ki Wira Sentanu begitu kokoh menapak, menggeser langkah lalu sepasang tangganya tiba-tiba mematuk, menebas datar bahkan memukul dari bawah ke atas.
Agung Sedayu hanya mengerutkan kening sesaat kemudian darinya muncul dua wujud yang seketika ikut bertempur. Kakang Kawah Adi Ari-ari.
“Mainan cah angon,” kata Ki Wira Sentanu perlahan tapi jelas terdengar Agung Sedayu.
Tiba-tiba tata gerak aneh Ki wira Sentanu berubah menjadi semakin cepat. Berputar-putar seperti gasing saat meladeni tiga wujud Agung Sedayu. Menderu-deru seperti baling-baling saat melibat tiga wujud Agung Sedayu.
Dan, benar, seperti yang diucapkannya!
Kakang Kawah Adi Ari-ari sama sekali tidak mampu menekan dan menyudutkan Ki Wira Sentanu. Tiga wujud itu, dan Ki Wira Sentanu sama sekali tidak peduli bentuk yang asli, rupanya mendapat tekanan yang hampir sama besarnya. Orang ini begitu cepat dan saking cepatnya hingga bayangannya pun nyaris tidak terlihat. Entah, apa karena kecepatan yang luar biasa atau tertutup oleh kepungan tiga wujud Sedayu? Sekali lagi, tidak ada yang tahu termasuk dua pengamat yang datang dari Kotaraja.
Dan ternyata bau menyengat itu tidak benar-benar menghilang. Semakin cepat dan kuat Ki Wira Sentanu bertempur, semakin hebat pula bau itu menyerang Agung Sedayu.
Sebenarnyalah Agung Sedayu bukan sekadar terganggu. Bau harum itu telah berubah menjadi ancaman nyata. Harumnya begitu tajam, begitu pekat seolah-olah memenuhi seluruh ruang di sekitarnya dan memaksa masuk melalui setiap tarikan napas. Sekali terhirup, baunya tidak segera lenyap, tetapi justru terasa semakin kuat, mengendap di rongga hidung dan menusuk hingga ke dalam dada.
Jika bukan karena Agung Sedayu telah meningkatkan daya tahannya sampai ke batas puncak, niscaya bau harum yang menyengat itu sudah cukup untuk merusak seluruh perhatiannya. Bahkan dalam keadaan demikian pun, setiap tarikan napas masih terasa seperti perjuangan tersendiri. Yah, Agung Sedayu harus menjaga pikirannya agar tidak hanyut oleh kepekatan harum yang aneh itu.
Dalam waktu itu, Ki Wira Sentanu menyerangnya melalui dua jalur yang sama sekali tidak biasa. Yang pertama adalah bau-bauan yang harum, tetapi justru karena keharumannya itulah terasa semakin menyiksa. Yang kedua adalah tata geraknya yang luar biasa, yang membuat perhatian Agung Sedayu tidak pernah dapat dilepaskan sesaat pun.
Sejak semula Agung Sedayu menyadari bahwa dia harus mengerahkan segala kemampuan. Kakang Kawah Adi Ari-ari ditempuhnya sebagai salah satu jalan untuk menghadapi tekanan itu. Namun, rupanya ilmu itu gagal menghentikan Ki Wira Sentanu. Bahkan terasa seperti barang mainan belaka.
Dengan segenap kemampuan yang ada padanya dan atas petunjuk Nyi Banyak Patra, Agung Sedayu kemudian menutup babakan hawa sanga. Napasnya menjadi lebih terkendali. Namun, sesekali bau harum itu masih saja berhasil menerobos, menyengat hidungnya, memenuhi dadanya, dan mengusik kejernihan pikirannya.
Tetapi Agung Sedayu tetap tenang. Wajahnya tidak berubah. Sikapnya tidak bergeser. Seolah-olah keharuman yang begitu tajam, yang bagi orang lain mungkin telah cukup untuk membuat dada sesak dan pikiran kehilangan arah, tidak lebih daripada gangguan kecil yang sama sekali tidak berarti baginya.
Seketika Agung Sedayu mengerahkan ilmu kebalnya. Dua wujudnya mendadak hilang.
Namun ilmu kebal itu tidak segera menjadi pelapis yang menyelubungi tubuhnya. Agung Sedayu mengubahnya menjadi kekuatan tersendiri, lalu dialirkannya ke dalam tenaga cadangan. Maka udara di gelanggang pun berubah menjadi sangat panas. Tidak tanggung-tanggung, tidak merambat naik sedikit demi sediki tetapi seketika, byar, dan panas sekali!
Hingga segera tampak udara yang memuai dari setiap benda yang ada di sekitar gelanggang. Hingga dedaunan pun segera layu, kulit kayu pun ada yang mulai berasap karena begitu hebat dan panasnya!
Tapi bau itu semakin menyengat.
Ki Wira Sentanu terkejut dengan perubahan itu. Bahkan dia tidak mengira bebauan itu justru dapat balik menyerang dan menganggunya.
Ki Wira Sentanu melompat surut lalu menghentikan gerakannya. Namun dia tetap bergeser, melingkari gelanggang seperti sebelumnya.
Agung Sedayu cepat memutuskan aliran kekuatannya.
Udara pun kembali turun hanya saja agak perlahan.
“Apakah ada mainan bocah lagi yang belum kau keluarkan?” tanya Ki Wira Sentanu.
“Masih banyak,” jawab Agung Sedayu yang turut melangkah, melingkari gelanggang.
Sambil melangkah dengan tatap mata mengawasi musuhnya, Agung Sedayu berkata, “Kyai, dengan keseharian Kyai bersama Sinuhun, bukankah sangat mudah membunuh beliau saat sendiri atau dikelilingi banyak orang?”
Ki Wira Sentanu mengangkat wajah lalu menerkam Agung Sedayu dengan kecepatan yang tidak berubah sama sekali. Agung Sedayu cepat meladeni lawannya tetapi dengan gaya yang jauh berbeda.
Lagi, Ki Wira Sentanu terkejut ketika Agung Sedayu bergerak nyaris serupa dengannya. Terhuyung-huyung, seakan mau jatuh, seakan hendak memukul tapi tidak seluruhnya tegak lurus dengan tata gerak asal. Bila dia seakan tumbang ke kiri justru saat itulah tubuhnya berputar setengah lingkaran, menyerang dari sisi yang berbeda. Jika dia terhuyung ke kanan saat itulah gerakannya berubah menjadi serangan yang berbeda dan datang dari arah yang lain.
Yang membuat rumit adalah Agung Sedayu membalik tata gerak dasar Perguruan Orang Bercambuk!
Dalam waktu itu, Sunan Agung dan Pangeran Purbaya sama-sama mengerutkan kening.
“Bukankah kita tadi melihat Kakang Kawah Adi Ari-ari, Paman?”
“Benar, tetapi tampaknya Ki Wira Sentanu tidak terpengaruh oleh ilmu itu,” sahut Pangeran Purbaya. “Bahkan kecepatannya justru bertambah-tambah ketika terkepung dari tiga jurusan.”
Tetapi mereka berdua tahu bahwa dua orang itu belum mencapai puncak. Bahkan mungkin belum sampai setengah dari semua kemampuan yang ada.
Di pategalan dan lorong-lorong hutan.
Sementara itu, kelompok Ki Wira Sentanu masih bertahan dengan sikap mereka. Tidak ada keleluasaan bagi mereka karena pada setiap jalur yang menuju Dusun Separang telah diisi oleh cantrik-cantrik dari Perguruan Orang Bercambuk. Belakangan malah bertambah pula dengan kehadiran satu atau dua pengawal Dusun Separang.
Namun begitu, sebagian orang Ki Wira Sentanu merasa jerih. Mereka tidak yakin Ki Wira Sentanu dapat mengungguli Agung Sedayu. Sejauh itu, pendengaran dan persangkaan mereka juga dikuatkan dari suara benda yang terhantam dari gelanggang.
Agung Sedayu ternyata belum dapat dijatuhkan menjadi pengisi utama ruang pikiran mereka.
Kalau Ki Wira Sentanu sampai kalah dari Agung Sedayu, lalu untuk apa mereka terus menyerbu Dusun Separang? Pertanyaan itu tidak segera mendapatkan jawaban.
Sebagian yang lain justru merasa bahwa mereka tidak boleh mundur. Mereka adalah penerus Perguruan Saripati.
Apa pun yang terjadi, mereka merasa harus tetap bertahan, begitu isi pikiran mereka.
Bukan semata-mata karena perintah Ki Wira Sentanu, tetapi karena mereka menganggap perguruan mereka mempunyai harga diri yang harus dipertahankan. Mundur begitu saja akan terasa seperti mengakui bahwa mereka tidak mempunyai keberanian untuk mempertanggungjawabkan nama perguruan.
Tetapi ada pula yang bersikap lain. Mereka tidak terlalu memikirkan, apakah Ki Wira Sentanu akan menang atau kalah? Mereka pun tidak terlalu peduli dengan hasil akhir.
Bagi mereka, maju ya maju.
Tidak maju ya sudah.
Mereka tetap berada di tempatnya, menunggu yang akan terjadi. Jika ada yang bergerak, mereka akan bergerak. Jika tidak ada, mereka juga tidak merasa perlu mencari jalan sendiri.
Dengan demikian, kelompok Ki Wira Sentanu yang semula datang dengan satu kehendak mulai terpecah oleh pikiran masing-masing.
Ada yang mulai gentar.
Ada yang merasa harga diri perguruan harus dipertahankan.
Dan ada pula yang memilih menunggu, tanpa merasa perlu menentukan pilihan.
Tidak seorang pun mengucapkannya dengan terang-terangan. Namun perbedaan itu telah mulai terasa.
Ki Garu Wesi yang masih terus bergerak akhirnya mendapati keanehan itu. Pikirnya, mereka berhenti tidak hanya pada satu kelompok tapi semuanya. Hingga kemudian dia teringat ada satu orang yang agaknya sedang memegang kendali semua kelompok itu.
Untuk sesaat, dia berhenti. Ki Garu Wesi tidak lagi bergerak sendirian. Seseorang ternyata membayanginya pula, maka dia pun menghadapkan dirinya pada arah yang dicurigai olehnya.
“Saya telah menunggu Kyai cukup lama di sini,” katanya.
Muncul kemudian Ki Ajar Poh Kecik dari balik sebuah pohon. Lalu dia berkata, “Ternyata Agung Sedayu tidak datang sendirian.”
Ki Garu Wesi menggeleng, kemudian jawabnya, “Tidak. Tidak pernah Ki Tumenggung bergerak sendirian. Jika beliau sendirian, maka saya selalu berada di belakangnya tanpa diminta.”
“Saya dapat melihatnya sekarang,’ kata Ki Ajar Poh Kecik. “Tanpa diminta, Anda mengikutinya. Tanpa diperintah, Anda menjaga keselamatannya. Apa kira-kira yang ditawarkan Sedayu hingga Anda berbuat seperti itu?”
“Ki Tumenggung tidak menawarkan apa pun,” jawab Ki Garu Wesi.
“Tidak menawarkan apa pun? Itu menjadi penyataan yang sulit diterima,” sahut Ki Ajar Poh Kecik. “Baiklah, Kyai. Saya di sini tidak untuk meminta Kyai sesorah tentang kesetiaan. Tapi, Agung Sedayu tidak memberikan apa pun? Itu masih sulit untuk diterima. Saya tahu Kyai punya atau menyimpan sesuatu yang sangat berharga sehingga Agung Sedayu tidak keberatan dengan sikap Kyai.”
“Sampeyan keliru,” kata Ki Garu Wesi.
“Bila keliru, apakah mungkin Anda atau Agung Sedayu menahan sesuatu yang justru tidak berharga sebagai penawaran? Jalan pikiran yang mana yang paling mungkin diterima akal sehat? Pastilah, tidak mungkin bila tidak ada apa-apa, Kyai.”
“Tapi, beginilah,” sahut pendek Ki Garu Wesi.
Ki Ajar Poh Kecik menatap Ki Garu Wesi dengan penuh keraguan. Namun, di balik keraguan itu, mulai tumbuh suatu kepastian yang hanya dapat dipahaminya sendiri.
- Dan beginilah tampilan akhir dari Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh. Penerus Kakang Panji tidak mudah menguasai medan tempur ketika murid Kyai Gringsing masih ngotot bertahan.
- Karena saking hebatnya pertempuran itu, seseorang dengan dua matanya membelalak pun mengatakan sesuatu yang tidak dimengerti orang yang mengerumuninya. “”Janti, Janti…. Tutup… Buka… Janti… Mereka…,” katanya dengan tangan menekan dada. Hanya saja kejadiannya tidak di sekitar Dusun Separang, tetapi Sangkal Putung saat Kiai Plered 28 membakar Pedukuhan Janti. Apakah Agung Sedayu ada di sana? Saya kurang begitu hapal jadi silakan ditengok saja.
- Sayangnya orang itu tidak dapat melihat Pangeran Benawa. Seandainya dia melihat, maka kita tidak dapat membayangkan yang terjadi kemudian. Usai mengatupkan bibirnya, Kiai Rontek meloncat lalu menyambar tubuh Pangeran Benawa yang tiba-tiba terkulai lemas ketika Kiai Rontek menggerakkan tangannya saat Berhitung 11 menjelang kedatangan Ki Kebo Kenanga.
