KBA

Hari Bising di Bukit Menoreh 58 – Benturan Glagah Putih dengan Pelayan Dalam di Kali Opak

Beberapa waktu sebelum Ki Hariman tiba di Kali Opak.

Di istana, Ki Wira Sentanu keluar dari ruang pertemuan. Dia melangkah tenang tapi tampak sedanag memburu waktu .

Beberapa saat kemudian dia telah berada di halaman dalam. Seekor kuda yang telah disiapkan oleh pengawal kandang segera dituntunnya keluar dari tambatan. Kurang dari sekejap dia sudah berada di atas kuda lalu menderap melalui pintu samping yang jarang dipergunakan orang.

Setelah mengambil jalan pintas, Ki Wira Sentanu telah sampai di sebuah gardu kecil yang berdiri di tepi jalan yang jarang dilalui orang. Gardu itu tampak seperti tempat beristirahat para penggembala atau penjaga kebun. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui bahwa tempat itu adalah salah satu tempat yang dipergunakan oleh petugas sandi yang berada di bawah pimpinan Pangeran Purbaya.

Seorang laki-laki setengah baya yang duduk bersandar pada tiang gardu itu segera berdiri ketika melihat penunggang kuda mendekat.

Ki Wira Sentanu turun dari kudanya lalu mengatakan sesuatu di dekat telinga lelaki setengah baya itu.

Orang itu mengerutkan kening sejenak, lalu menggeleng.

Ki Wira Sentanu kemudian menyebutkan beberapa ciri yang baru saja didengarnya dari Pangeran Purbaya.

Penjaga gardu itu tampak berpikir sejenak lalu menunjuk ke arah barat.

“Dia belum lama. Mungkin matahari pun belum berada di pertengahan sore. Yah, dia melaju sangat cepat,” ucap penjag agardu.

Ki Wira Sentanu mengangguk.

“Terima kasih,” ucapnya singkat. Dia segera mengarahkan kuda lalu berpacu mengikuti arah yang ditunjukkan.

Kuda itu berlari di jalan tanah yang memanjang di antara ladang-ladang yang mulai menguning. Angin sore menyapu rerumputan di pematang, sementara bayangan pohon-pohon semakin memanjang di tanah.

Ki Wira Sentanu terus melaju ke barat hingga jalan itu mulai menurun menuju dataran yang lebih rendah. Di kejauhan mulai terdengar berisik gemuruh air yang mengalir.

Tak lama kemudian hamparan Kali Opak tampak di hadapannya. Ki Wira Sentanu memperlambat kuda ketika mendekati tepian sungai. Keadaannya cukup terbuka sehingga terlihat orang yang memegang tali kekang kuda yang melangkah pelan menyisir pasir pantai Kali Opak.

Orang itu adalah Glagah Putih yang tiba-tiba tertarik lalu memicingkan mata saat melihat Ki Wira Sentanu melayang ringan turun dari punggung kuda, lalu menuntunnya beberapa langkah mendekati tepi air.

Ki Wira Sentanu berdiri sejenak tanpa bergerak. Matanya menyapu badan sungai.

“Apakah itu orangnya?” dia bertanya dalam hati saat pandang tajam matanya melihat Ki Wedoro Anom menapak tanah seberang.

Sejenak kemudian, sepasang mata Ki Wira Sentanu membentur Glagah Putih yang berjalan di samping sungai. Perhatiannya terpecah ketika pengamatannya mengungkapkan bahwa sosok yang dilihatnya itu tidak tampak seperti petani biasa. Bukan pula pedagang atau orang yang kebetulan berada di tempat itu, sangka Ki Wira Sentanu.

Sekejap pikiran Ki Wira Sentanu bergerak cepat. Jika orang itu, maksudnya adalah Glagah Putih, mempunyai tujuan yang sama dengannya, itu berarti bukan kabar baik. Jika dia hanya diperintahkan membayangi arah kepergian hingga batas tertentu, maka bagaimana jika orang itu justru berusaha merebut kitab?

Yang terhormat Pembaca Setia Blog Padepokan Witasem.

Kami mengajak Panjenengan utk menjadi pelanggan yang lebih dulu dapat membaca wedaran Kitab Kyai Gringsing serta kisah silat lainnya dari Padepokan Witasem. Untuk mendapatkan kelebihan itu, Panjenengan akan mendapatkan bonus tambahan ;

Buku Kitab Kyai Gringsing (PDF) dan Penaklukan Panarukan. Caranya? Berkenan secara sukarela memberi kontribusi dengan nilai minimal Rp 25 rb/bulan melalui transfer ke BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831

Cara yang demikian juga turut menjaga keberlangsungan pengembangan blog Padepokan Witasem.

Demikian pemberitahuan. Terima kasih.

Nyaris dalam waktu yang sama, dari atas pasir pantai, Glagah Putih juga memperhatikan pergerakan Ki Wedoro Anom yang mulai menaiki tebing sebelum mencapai jalan datar yang akan mengarak kek Kali Progo.

Sepertinya ada sesuatu yang lain, pikir Glagah Putih. Dia menarik napas perlahan.

“Apakah Pangeran Purbaya mengirim orang untuk membayangi Ki Wedoro Anom juga? Seandainya benar, lalu untuk apa ada jalur resmi?” Glagah Putih mengerutkan kening kemudian mengedarkan pandangan. Hingga sorot matanya menajam pada satu titik, pada arah seorang lelaki yang sedang menuntun kuda menapak jalan menurun.

Glagah Putih menduga cepat bahwa orang itu pun sama dengan dirinya: membayangi Ki Wedoro Anom. Maka dia memutuskan untuk menyongsongnya lalu mempersempit ruang gerak orang itu.

Ki Wira Sentanu menuntun kuda tanpa tergesa-gesa karena tidak ingin orang diincarnya sadar jika dibayangi.

Glagah Putih semakin dekat, mungkin hanya berjarak sepuluh langkah lagi sebelum benar-benar dapat menutup jalur Ki Wira Sentanu.

Seolah tidak melihat orang yang datang dari depannya, Ki Wira Sentanu berjalan dengan kepala menunduk. Tapi Glagah Putih menggencet jalurnya, mendorong ke samping.

“Maaf, Ki Sanak mungkin salah jalan,” ucap Ki Wira Sentanu tenang.

Glagah Putih menggeleng. “Saya tidak sedang salah jalan tapi Ki Sanak yang memenuhi jalur saya.”

Ki Wira Sentanu mengerutkan alis memandang Glagah Putih.

Sambil memindah kedudukan, Glagah Putih menarik pula lengan Ki Wira Sentanu.

“Bergeserlah sedikit,” kata Ki Wira Sentanu sedikit menyentak lengannya agar terlepas dari tangan Glagah Putih.

Sedikit benturan terjadi. Dua orang itu mengadu tenaga sesaat. Dua orang itu asma-sama mendapati bahwa masing-masing mempunyai lengan sekeras batu. Glagah Putih tersenyum tipis lalu menggandakan kekuatan, Ki Wira Sentanu pun berbuat yang sama.

“Tak pantas kita bicara di sini,” ucap Glagah Putih.

Ki Wira Sentanu mengangguk, lalu berkata, “Orang yang kau buru pasti segera tahu kehadiranmu.”

Sebenarnya saat itu mereka mempunyai pertanyaan yang serupa. Baik Glagah Putih dan Ki Wira Sentanu lantas mengerutkan alis. Pikir mereka, bagaimana ada yang tahu keadaan masing-masing?

Tanpa pertanyaan dan ucapan sepakat, tiba-tiba, mereka berdua melompat ke balik rimbun semak-semak!

Sekejap kemudian, mereka sudah terlibat dalam pertempuran yang cukup sengit.

Glagah Putih meloncat selangkah ke samping, lalu menyerang dengan rangkaian pukulan yang menyambar-nyambar lawannya dengan luar biasa. Tapi Ki Wira Sentanu tidak terkejut dengan arus serangan yang mengejar lalu berusaha mematuk dirinya. Dia menghindar dengan kaki yang bergeser setapak, selangkah dan kadang-kadang meloncat pendek ke samping atau belakang.

Ternyata lawannya cekatan dan mempunyai ketenangan yang cukup, maka Glagah Putih mengubah tata geraknya. Dengan pertimbangan matang, selanjutnya dia menggunakan jalur ilmu Ki Sadewa. Serangan sepupu Agung Sedayu pun menjadi lebih terukur, mapan dan bertenaga Maka perkembangan pun bergeser pula. Serangan demi serangan belum memberikan hasil tapi hampir selalu dapat menyusup ke batas pertahanan Ki Wira Sentanu.

Setelah tubuhnya berkali-kali nyaris tergapai serangan Glagah Putih, Ki Wira Sentanu pun tak ragu untuk melepaskan serangan balik.

Pertarungan pun meningkat selapis lebih tinggi.

Demikianlah mereka terlibat dalam pertarungan yang makin seru. Mereka bertempur tanpa senjata dan dan dalam jarak dekat.

Saat itu, Glagah Putih berpikir keras untuk mengenali gerak dasar maupun kembangan dari serangan lawan. Tapi akhirnya dia harus mengakui bahwa seluruh pergerakan dan ilmu Ki Wira Sentanu memang masih asing baginya.

Pada bagian lain, Ki Wira Sentanu harus mengakui keuletan Glagah Putih yang berkali-kali dapat lolos dari tata geraknya yang penuh tipu daya!

Beberapa kali mereka seakan telah terikat dalam jarak yang sangat dekat, namun sekejap kemudian keduanya melompat surut, saling mengambil ruang.

Hingga pada saat Ki Wedoro Anom diperkirakan telah cukup jauh meninggalkan tepi Kali Opak, tiba-tiba Glagah Putih melompat mundur, menjauh dari gelanggang perkelahian. Untuk sesaat ia memandang tajam ke arah Ki Wira Sentanu, lalu berbalik menghamburkan diri ke jalan utama dan bergegas menuju kudanya yang ditinggalkan.

Ki Wira Sentanu tidak segera mengejar. Dia justru berdiri tegak di tempatnya, memandang kepergian lawannya dengan sinar mata bertanya. Sekejap kemudian, perlahan-lahan dia menarik napas panjang.

Rupanya Ki Wira Sentanu mulai menangkap maksud lawannya yang tiba-tiba menghentikan perkelahian. Dia menduga orang itu tentu bukan sekadar penghadang yang kebetulan lewat di jalan itu. Sangat mungkin dia adalah kawan Ki Hariman yang dengan sengaja memancingnya larut dalam perkelahian, agar orang yang dibayangi itu memperoleh cukup waktu untuk menjauh dari Kali Opak, pikirnya.

Setelah membenahi pakaian dan kain panjangnya, Ki Wira Sentanu melangkah tenang menuju kuda yang ditinggalkannya di atas pasir Kali Opak. Orang ini tidak tetap bergerak ke barat untuk membayangi Ki Hariman. Sesaat dia tengadah, melihat ke ufuk dan langit yang mulai muram.

“Belum terlampau gelap untuk berjalan lagi di belakang orang-orang itu,” katanya dalam hati.

Dia kemudian meloncat ringan ke punggung kudanya. Dengan satu sentakan kecil pada tali kekang, kuda itu berputar perlahan menyeberangi bagian dangkal Kali Opak. Ki Wira Sentanu lekas memacu kudanya ketika sampai di sisi barat, tapi membiarkan kuda itu melangkah biasa saat menyusur jalan tanah yang memanjang ke arah Kali Progo.

Orang itu tidak banyak membuat perkiraan dalam pikirannya. Ki Wira Sentanu tetap pada arahan Pangeran Purbaya yaitu singgah di gardu-gardu intai yang ada di beberapa tempat. Jika Ki Hariman benar-benar melewati jalur itu, maka salah seorang petugas sandi Mataram tentu akan mengenali ciri-cirinya. Dia benar-benar berharap dengan keadaan itu.

Namun demikian, pikiran Ki Wira Sentanu tetap bergerak sedikit lebih jauh. Jika penjelasan singkat yang didengarnya dari Pangeran Purbaya, maka Ki Hariman hampir dapat dipastikan menuju Tanah Perdikan.

Dia meraba nama wilayah yang cukup dekat Agung Sedayu: Jati Anom, Sangkal Putung dan Tanah Perdikan. Pikirnya kemudian, benturan terjadi di Jati Anom, kemudian tidak ada kabar bahwa Agung Sedayu kembali ke Sangkal Putung. Maka dia bernapas lega karena harapannya ternyata sejalan dengan perkiraannya sendiri.

Angin petang berhembus semakin dingin ketika Ki Wira Sentanu terus melanjutkan perjalanannya. Bayang-bayang pepohonan mulai memanjang dan perlahan-lahan menyatu dengan kegelapan yang turun dari langit.

Kisah Terkait

Rengkuh Ombak Panarukan

admin

Satu Kata Saja

kibanjarasman

Ketika Aku Asal Menulis

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.