Padepokan Witasem
Bab 2 Jati Anom Obong

Jati Anom Obong 61

Di bagian lain, Ki Widura tidak lagi melontarkan cambuk dengan ledakan yang menggelegar. Bahkan, ia lebih mempunyai kemiripan dengan Kiai Gringsing pada saat itu. Bunyi ledakan cambuk semakin halus,  tetapi di balik itu, ada kekuatan sangat hebat yang mampu memutus jaringan pembuluh darah. Namun yang menjadi lawan Ki Widura adalah orang berilmu tinggi dari Merbabu. Ki Hariman perlahan-lahan dapat mengembangkan olah geraknya. Ia mempunyai keyakinan kuat bahwa ia akan dapat mengalahkan pengganti Kiai Gringsing . Perkelahian semakin sengit dan membahayakan meski belum dapat dikatakan akan berakhir dengan kematian. Benturan-benturan kekuatan yang berlawanan itu dapat melumat isi kepala dan berakhir pada kelumpuhan secara menyeluruh. Maka dengan demikian, keduanya semakin berhati-hati meski mereka telah memasuki perkelahian yang semakin sulit dicerna dengan akal sehat.

Getar kekuatan yang berhamburan dari dua tenaga cadangan sanggup menggapai orang-orang yang berada di tepi sungai. Setiap kali angin berhembus dan membawa kekuatan dua orang yang berkelahi itu, maka orang-orang dapat merasakan rasa perih menyusup pada tulang belulang mereka.

Prajurit-prajurit Mataram dan para penggembala pun bergeser lagi lebih jauh. Walau mereka tidak lagi berkubang dalam pertarungan hidup mati, tetapi bahaya lain dapat menyergap mereka secara tiba-tiba. Dan itu adalah belitan kekuatan cadangan orang-orang yang tengah bertempur dapat mengakibatkan kelumpuhan bagi mereka. Bukan lagi kulit yang merasakan angin panas, tetapi juga tulang-tulang yang seolah diremas oleh jari-jari raksasa yang tidak terlihat.

Walaupun lawannya berkelahi dengan tangan kosong, Ki Widura tidak dapat berbuat ceroboh. Ia paham itu! Meski tidak mempunyai rasa gentar terhadap kekuatan Ki Hariman, paman Agung Sedayu tetap memberi pengakuan bahwa lawannya memang luar biasa. Ia melihat cara Ki Hariman menahan gempurannya. Sekutu Ki Tunggul Pitu ini dengan trengginas memapas setiap lecutan Ki Widura, menyambut tiap ledakan, meredam segala hentakan lawannya dengan jari terkepal, bahkan tenaganya mampu menyusup hingga siku Ki Widura. Setiap kali mereka membenturkan kekuatan, maka Ki Widura selalu merasakan kesemutan pada sikunya walau sesaat. Ini menjadi tanda bagi pemangku Perguruan Orang Bercambuk bahwa orang-orang berkepandaian tinggi berada di sekeliling Raden Atmandaru.

“Bila orang-orang dengan kemampuan seperti ini datang meluruk Mataram, tentu bukan perkara mudah,” desah hati Ki Widura, “mereka bukan orang yang berwatak serampangan seperti pengikut Ki Saba Lintang. Mereka memiliki ketenangan, kecerdasan dan kepandaian yang cukup tinggi. Bahkan apabila mereka benar-benar seimbang dengan Agung Sedayu, tentu saja itu tanda bahaya bagi Mataram. Jati Anom atau Tanah Perdikan akan membara. Api yang mungkin lebih besar dari Ki Tambak Wedi atau Tohpati akan mendatangi Mataram.”

Perhatian Ki Widura telah terbelah. Seharusnya ia tidak boleh berbagi perhatian. Ki Hariman adalah pemangsa yang memiliki kesabaran di luar batas kewajaran. Meski  ia mengerti bahwa perkelahian secara umum dapat dimenangkan oleh kelompoknya, tetapi Ki Hariman adalah pemburu tulen. Ia bahkan mulai melakukan atau membuat tata gerak yang tidak dapat diduga arah perkembangannya. Dalam waktu itu, ketika Ki Widura tidak lagi berpusat perhatian, ujung tumit Ki Hariman nyaris mematahkan tulang rahang musuhnya.

Meskipun Ki Widura dapat menghindari bahaya tetapi loncatan surutnya menjadi awal petaka baginya. Langkah mundur Ki Widura yang bertujuan menghindari tendangan Ki Hariman, justru semakin membuka pertahanannya.

“Tidak dapat tidak. Ia harus mati!” desis tajam Ki Hariman.

Menurutnya, kematian Ki Widura adalah jalan terbaik untuk memukul mundur para prajurit Mataram yang masih segar bugar. “Mereka pasti melaporkan kematian orang bercambuk ini pada Untara, tapi apa peduliku? Lalu apakah mereka masih punya nyali untuk mengeroyokku dan dua sekutuku? Hanya orang dungu yang akan berlaku seperti itu,” desahnya dalam hati, “kitab Kiai Gringsing telah berada di tanganku dan aku memperoleh gambar kasar tentang kedalaman ilmu orang bercambuk. Agaknya itu sudah cukup buatku untuk menyudahi perkelahian ini.” Ki Hariman telah menentukan pemberhentian terakhir bagi Ki Widura. Maka ia merayap sangat cepat menuju puncak ilmunya.

Related posts

Leave a Comment