0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 39 – Dari Balik Kedai, Rencana Menyerang Barak pun Disusun

Dironda 174 kali

Di Kotaraja.

Sore, pada hari yang sama dengan peristiwa besar yang melibatkan dua murid Kyai Gringsing, tampak kesibukan mulai berkurang  dengan ketenangan seperti biasa.

Bayangan bangunan memanjang di halaman-halaman dan jalanan. Angin yang datang dari arah Gunung Merapi bertiup sedikit kencang hingga debu halus pun berterbangan.

Saat itu belum ada kabar dari Menoreh tentang perang tanding antara Agung Sedayu dengan Swandaru. Tapi di dalam kedai yang terletak di belakang Keraton terlihat tiga orang sedang berbicara dengan suara rendah.

Ki Panji Suralaga duduk berdampingan dengan Ki Tumenggung Adiyasa. Sedangkan orang ketiga, Ki Wira Sentanu, berwajah sungguh-sungguh saat menghadap pada mereka berdua.

Di atas meja ada kendi berisi wedang sereh dan beberapa cawan yang berisi setengah.

“Terlepas dari orang yang menang pada perang tanding Pancuran Watu Item hari ini,” kata Ki Tumenggung Adiyasa, “maka besok atau lusa keadaan Menoreh tidak akan sama lagi.”

“Sudah pasti berubah dengan segala akibat perkelahian itu. Agung Sedayu mati atau hidup,” kata Ki Panji Suralaga mengangguk. Dia ucapkan itu untuk menegaskan keyakinannya dalam hati

 “Apakah ada sebuah rencana?” tanya Ki Wira Sentanu sambil mengangkat wajah.

“Bisa ya, bisa tidak.” jawab Ki Panji Suralaga sambil tersenyum kemudian mengangguk.

Ki Wira Sentanu menatapnya tajam dengan mata menyipit. “Jelaskan.”

“Kita tidak memerlukan hasil perang tanding,” sahut Ki Tumenggung Adiyasa.

Suasana kedai yang tidak begitu ramai pengunjung tidak membuat mereka bertiga ceroboh. Mereka tetap bicara pelan tapi bukan berbisik.

Ki Panji Suralaga kemudian menjelaskan singkat. “Keadaan pasti berbeda. Orang tetap dapat berprasangka buruk pada Agung Sedayu.”

“Alasannya?” tanya Ki Wira Sentanu.

“Agung Sedayu, kita tahu, adalah seorang prajurit. Puncak kendali pasukan khusus Mataram. Di bagian lain, dia dianggap bayangan Ki Gede Menoreh dalam urusan keamanan. Pandan Wangi dan orang lainnya? Selama masih ada Agung Sedayu, mereka tidak ada artinya,” jelas Ki Panji Suralaga.

Ki Wira Sentanu masih diam.mendengarkan. Sedangkan Ki Tumenggung Adiyasa sedikit menggeser duduk.

Ki Suralaga memandang dua orang itu bergantian. “Bila Swandaru menang, Menoreh pecah dari dalam. Aku yakin tidak semua orang berada di belakang Agung Sedayu. Akan muncul orang yang mendukung, ada yang menolak, lalu Tanah Perdikan sibuk mengurus dirinya sendiri.”

“Bila Agung Sedayu menang?” Ki Wira Sentanu bersuara sambil menebak-nebak dalam pikirannya.

“Maka keadaan tidak jauh berbeda,” ucap Ki Suralaga. “Swandaru berada dalam keadaan yang sulit dan cukup berat diterima oleh Tanah Perdikan. Bahkan, saya perkirakan sebagian orang Menoreh cenderung berharap pada kemenangan Agung Sedayu.”

Ki Wira Sentanu mengerutkan kening. Ki Adiyasa memandang Ki Panji Suralaga dengan perhatian penuh.

Saudara seperguruan Ki Wira Sentanu itu kemudian berkata datar, “Jadi masih ada celah dan kesempatan untuk menyudutkan Agung Sedayu di hadapan orang-orang dan Pangeran Purbaya.”

Ki Panji Suralaga diam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya lagi.

 “Swandaru bukan orang biasa. Dia mempunyai keluarga, pendukung, pengikut, orang-orang yang diam-diam menggantungkan harapan padanya. Mungkin kebanyakan dari  mereka ada di Sangkal Putung, tapi itu bukan masalah selama kita dapat mengemasnya dengan baik.”

Kemudian dia menatap ke luar kedai. Katanya, “Orang akan dan dapat saling bertanya, kalau Swandaru kalah, akan ada yang bertanya: mengapa dibiarkan hidup? Kalau dia terluka, akan ada yang bertanya: siapa yang mengambil keuntungan? Kalau dia dipulangkan, maka seseorang akan yang berkata Menoreh sedang menyingkirkan Swandaru demi menempatkan Agung Sedayu.”

Ki Tumenggung Adiyasa mengangguk perlahan kemudian berkata,”Benar, saya dapat melihat semua kemungkinan itu ada benarnya dan memang masuk akal.”

Sejenak suasana di antara menjadi hening. Sementara pengunjung kedai pun sibuk dengan pesanan masing-masing, ada pula yang terlibat percakapan untuk urusan penting di antara mereka sehingga perbincangan tiga orang itu tidak menarik perhatian.

Ki Panji Suralaga melempar pandangan keluar, lalu menatap Ki Wira Sentanu. Dengan nada suara yang tidak dapat dibantah dan wajah sungguh-sungguh, dia bertanya, “Bagaimana menurut Kakang jika kita serang barak pasukan khusus?”

Ki Wira Sentanu tidak segera menjawab tapi raut wajahnya juga tidak tampak terkejut. Demikian pula Ki Tumenggung Adiyasa yang, bahkan, seolah pura-pura tidak mendengar.

“Apakah engkau sudah menghitung bahaya?” tanya balik Ki Wira Sentanu.

Ki Panji Suralaga menatap Ki Adiyasa dalam-dalam seakan meminta suatu pertimbangan.

Setelah mengangguk sebentar, tumenggung Mataram itu kemudian berkata, “Kekuatan barak saat ini jauh berbeda dengan sebelumnya. Memang benar ada pertambahan prajurit tapi jumlah itu adalah orang-orang dari berbagai latar belakang dan usia. Ada yang pernah mengenyam keprajuritan, ada yang belum sama sekali tapi tidak sedikit pula yang berpengalaman.”

Ki Wira Sentanu tampak menautkan alis, kemudian memandang Ki Suralaga. Dia bertanya untuk memastikan, “Menyerang barak, apakah yang kau maksud adalah pertempuran terbuka?”

Ki Panji Suralaga menggeleng. “Tidak, Kakang. Bukan itu. Yang saya bayangkan adalah kerusuhan.”

“Mengapa memilih barak? Jika menginginkan kerusuhan, kita bisa menggunakan pasar induk, dusun yang mengitari pedukuhan induk atau bahkan mungkin banjar pedukuhan,” ucap Ki Wira Sentanu yang memiliki sedikit pengetahuan mengenai siasat perang yang dapat membakar hati banyak orang.

Didahului gelengan kepala, Ki Panji Suralaga lantas berkata, “Justru itu akan menjadi tempat yang tidak boleh disentuh. Kerusuhan dapat dipahami sebagai pemanfaatkan kesempatan.”

“Bukankah menyerang barak juga memanfaatkan kesempatan?” tanya Ki Wira Sentanu sambil sedikit mendorong punggungnya.

“Tapi tujuannya adalah Agung Sedayu,” sahut Ki Suralaga.

“Aku tidak mengerti,” ucap Ki Wira Sentanu.

“Kakang,” kata Ki Panji Suralaga rendah, “kalau kita datangi tempat-tempat yang Kakang katakan dengan bara api, Menoreh sudah terbiasa mengendalikan keadaan. Mereka terlalu hebat untuk itu. Tapi menghantam barak? Tidak ada satu pun dari mereka yang berani berpikir tentang itu. Maksud saya, mereka tidak punya cara untuk mengatasi masalah maka Sedayu akan tinggal seorang diri.”

Ki Wira Sentanu merenung dengan tatap mata memandang permukaan meja, lalu mengarahkannya ke Ki Adiyasa dan Ki Suralaga.

Ki Tumenggung Adiyasa mengangguk kemudian menatap Ki Panji Suralaga beberapa saat lantas berkata lirih, “Kyai, kita tidak sentuh rumah Ki Gede karena orang pasti marah lalu menjadikan Sedayu sebagai perwakilan Ki Gede. Kita tahu mereka sering melakukan itu. Menyerang dusun justru malah menjadi Menoreh semakin kuat. Tapi dengan melempari barak dengan batu dan api? Orang-orang mulai dapat bertanya: baraknya saja tidak dapat dijaga, bagaimana Menoreh besok? Bagaimana Ki Gede nantinya?”

Sikap Ki Wira Sentanu masih tetap—merenung, kemudian bertanya pelan, “Bila seperti itu, di manakah Swandaru? Mungkinkah orang-orang dapat menerimanya sebagai pemimpin? Karena aku dengar mereka sudah keberatan dengan dirinya.”

  • Beberapa saat kemudian, dua orang melesat dari belakangku, melompati tlundak lalu berpisah arah. Sejumlah pengawal Rakai Panangkaran berlomba-lomba menyambut musuh di Nir Wuk Tanpa Jalu 9

Sebelum menjawab, Ki Tumenggung Adiyasa menoleh pada Ki Panji Suralaga. “Mengenai keadaan itu, Kyai tidak perlu khawatir karena orang Menoreh sendiri bukan termasuk kelompok yang mudah mengubah pendirian. Swandaru tetap berada di tempatnya, maksud saya, tetap dikucilkan.”

Ki Wira Sentanu bergumam seakan bicara dengan dirinya sendiri lantas berkata, “Bagaimana persiapan kalian?”

Dengan kepala lebih mendekat kakak seperguruannya, Ki Panji Suralaga mengurai sebagian besar siasat. Termasuk di dalamnya adalah peran Ki Panji Danutirta yang akan menggerakkan orang di dalam Menoreh. Dia juga menjelaskan cara mereka bergerak, arah pergerakan dan bentuk serangannya.

Ki Wira Sentanu tampak mengangguk-angguk dan sepertinya dia setuju dengan rencana yang diurai oleh Ki Panji Suralaga.

“Saya ada sekitar lima puluh orang yang bukan prajurit Mataram,” kata Ki Tumenggung Adiyasa setelah Ki Suralaga memaparkan rencana.

Ki Wira Sentanu belum menanggapi perkataan itu.

“Lima puluh orang ini sudah cukup untuk mengguncang sebuah barak tapi mereka tidak mungkin bergerak tanpa menarik perhatian. Itu jumlah yang besar,” lanjut Ki Adiyasa.

“Bila demikian, Ki Tumenggung harus membuat pilihan,” kata Ki Wira Sentanu. “Saring dan berangkatkan yang berkemampuan. Aku dengar daya tempur pasukan khusus itu satu sampai tiga tingkat di atas prajurit biasa. Walau bukan orang persilatan tapi penguasaan kanuragan mereka tidak boleh dianggap ringan. Delapan, sepuluh atau lima belas orang aku kira sudah memadai karena kita tidak berperang.”

Ki Adiyasa mengangguk. “Saya persiapkan mereka secepatnya. Dua hari lagi mereka akan tiba di Tanah Perdikan.”

“Dan siapa yang lebih dulu bergerak?” tanya Ki Wira Sentanu.

Ki Panji Suralaga berpikir agak lama lalu bersuara, “Ki Panji Danutirta masih terhalang keadaan. Kita tidak dapat mengabaikan pendapatnya.”

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.