Dironda 101 kali
Sore bergulir perlahan menuju batas senja ketika seseorang memasuki kedai, menebar pandangan sebentar lalu mengangguk sedikit ketika melihat Ki Wira Sentanu.
“Dia datang dari jauh, Menoreh,” ucap pelan Ki Wira Sentanu pada Ki Suralaga dan Ki Adiyasa saat melihat orang kepercayaan Ki Kamejing, Ki Saradan. Lantas tangan Ki Wira Sentanu terangkat—tanda agar Ki Saradan mendekat lalu bergabung di meja mereka.
Ki Wira Sentanu sedikit bergeser, memberi ruang di sisinya lalu berkata, “Marilah, duduk di sini. Silakan, minum dulu.”
“Terima kasih, Kyai.” Ki Saradan duduk sambil menerima mangkuk minuman yang didorong ke arahnya. Setelah meneguk seperlunya, dia mengangguk pada Ki Panji Suralaga yang telah dikenalnya cukup lama. Ketika pandangannya berhenti sesaat pada seorang yang belum pernah ditemuinya, sinar mata Ki Saradan menyiratkan kewaspadaan.
Ki Wira Sentanu menangkap arah tatapan itu lalu berkata singkat, “Kawan. Ki Tumenggung Adiyasa.”
Sambil menundukkan kepala sedikit memberi hormat, Ki Saradan menyapa, “Ki Tumenggung.”
Ki Tumenggung Adiyasa membalas dengan anggukan tenang sebelum mempersilahkannya berbicara. “Kyai.”
Dengan tubuh sedikit membungkuk Ki Saradan mendekat ke sisi Ki Wira Sentanu. Bibirnya bergerak pelan, hanya cukup bagi orang di sebelahnya untuk mendengar.
Mula-mula wajah Ki Wira Sentanu tetap tenang. Namun sesaat kemudian alisnya berkerut tipis. Dia diam dengan sedikit tegang, tanpa mengucap kata saat memandang bergantian pada Ki Panji Suralaga lalu Ki Tumenggung Adiyasa. Ki Wira Sentanu masih menunggu bisikan Ki Saradan selesai diucapkan.
Utusan yang datang dari Gunung Kunir itu pun menyelesaikan bisikannya, lalu menarik tubuh kembali dan duduk tegak. Dua tangannya bertumpu di atas paha.
“Kabar dari Tanah Perdikan, Agung Sedayu terluka dan Swandaru tumbang,” kata Ki Wira Sentanu pada dua orang dekatnya setengah berbisik. “Orang ramai membicarakan dan kata Ki Kamejing, keadaan itu seolah menarik penuh perhatian orang.”
“Lalu?” tanya Ki Tumenggung Adiyasa.
“Hanya itu saja,” ucap Ki Wira Sentanu.
“Menarik penuh perhatian,” gumam Ki Tumenggung Adiyasa. “Apakah itu dapat kita artikan kelengahan?”
“Bahaya, jangan,” tegas Ki Wira Sentanu. “Menoreh sekalipun kita anggap lengah, tapi mereka sudah terbiasa dari kelengahan tiba-tiba menjadi persiapan perang. Ingat, peristiwa kematian palsu Ki Gede yang membuat Raden Atmandaru terlena lalu menilai seluruh Menoreh sedang berduka karena menganggap berita itu benar. Padahal saat itu justru Sedayu menyiapkan jebakan di bawah air mata duka yang ternyata palsu. Jangan, kita tidak boleh menganggap mereka lengah.”
“Kyai, apakah Kyai memandang sikap orang Menoreh itu sebagai jebakan?” tanya Ki Tumenggung Adiyasa tanpa bermaksud memojokkan penerus Perguruan Saripati itu.
“Bukan menganggap tapi Sedayu adalah orang yang sangat licik dan licin,” sahut Ki Wira Sentanu. Dia kemudian ingat malam pengintaian itu. Dia mengingat pula cerita masa lalu ketika siasat Kakang Panji digagalkan oleh Kyai Gringsing.
“Marilah, kita lanjutkan percakapan di tempat lain,” kata Ki Panji Suralaga tiba-tiba saat melihat pelayan kedai membereskan beberapa meja. “Sesaat lagi kedai habis waktunya.”
- Ketika Swandaru menjadi tahanan rumah, Pandan Wangi tegas berkata pada pengawal pedukuhan, “Engkau antarkan Ki Swandaru ke gandok kanan. Layani dan penuhi segala yang dibutuhkannya.” Ada apakah dengan rumah tangga mereka? Saya pun masih tak percaya sebelum membaca di Geger Alas Krapyak 14.
Perbincangan Malam
Malam telah datang. Matahari telah menghilang dari Tanah Perdikan Menoreh saat Pandan Wangi hendak meninggalkan pringgitan. Saat itu Nyi Banyak Patra datang mengunjungi Kinasih lalu berbincang dengan Agung Sedayu ditemani Ki Gede Menoreh.
“Saya mohon izin istirahat lebih awal,” ucap Pandan Wangi pada semua orang.
Agung Sedayu mengangguk hormat.
Sementara Nyi Banyak Patra turut bangkit lalu berkata, ”Biarkan saya lihat luka-lukamu itu, Nduk.”
Pandan Wangi sedikit membungkukkan badan lalu menungguh Nyi Banyak Patra. Mereka kemudian berdampingan menuju bilik Pandan Wangi. Lantas Pandan Wangi menyentuh lengan Nyi Banyak Patra, katanya, “Mari kita lihat keadaan Kinasih, Nyi Ageng.”
“Oh,” sahut lirih Nyi Banyak Patra yang kemudian sadar bahwa Pandan Wangi sedang ingin sendiri saja.
Guru Kinasih itu pun menjawab tenang dan singkat, “Baiklah.”
Di gandok tengen, di dalam bilik Kinasih, percakapan tidak banyak menguasai suasana. Nyi Banyak Patra dan Kinasih sadar perang tanding Sedayu dengan Swandaru pasti membekas secara berat dalam hati Pandan Wangi.
Kinasih merasa lega saat mengetahui luka-luka Pandan Wangi menunjukkan pemulihan yang jauh lebih baik dari perkiraannya. Masing-masing dari mereka kemudian menyatakan kelegaan atas keselamatan pribadi yang dilimpahkan oleh Yang Maha Asih. Dan juga keadaan Tanah Perdikan yang sejauh itu masih aman, damai dan terkendali. Mereka bicara seperlunya saja hingga Pandan Wangi undur dari ruangan.
Sementara di pringgitan, Ki Gede Menoreh lebih banyak melihat sisi kedatangan para cantrik dari Perguruan Orang Bercambuk yang datang atas perintah Ki Widura.
Mereka datang dari Jati Anom pada hari yang sama dengan perang tanding di Pancuran Watu Item. Walaupun setiap cantrik itu cemas pada keadaan Agung Sedayu, tapi Ki Widura menghendaki mereka langsung menuju kediaman Ki Gede atau rumah Agung Sedayu—bukan ke sekitar air tejun.
Jauh hari sebelumnya, Ki Widura yang sudah mengetahui kabar perang tanding itu menyempatkan diri menemui Ki Tumenggung Untara. Dia meminta pandangan dari keponakannya itu mengenai keamanan Tanah Perdikan.
“Yah, aku sudah mendengar dari beberapa kenalan bahwa ada kemungkinan banyak perguruan yang mengirim orang untuk mengamati Agung Sedayu,” kata Ki Widura kala itu.
Ki Untara tidak langsung mengatakan sesuatu. Dia masih menduga kemungkinan pamannya itu akan datang ke Menoreh atau hanya sekadar bertanya. Mencemaskan keselamatan Agung Sedayu sudah tentu menjadi hal yang tidak mungkin. Dengan ketinggian ilmu yang sulit dijajagi, serangan pada Sedayu tentu bukan diarahkan pada pribadi, tapi sesuatu yang lebih besar lagi, pikirnya.
“Adakah Paman berencana menengok Glagah Putih?” tanya Ki Untara.
Paman dari dua tumenggung Mataram itu tersenyum. Pertanyaan unik, pikirnya. Yang ditanyakan adalah seputar Agung Sedayu, tapi keponakannya justru menarik anaknya—Glagah Putih— ke dalam pembicaraan.
Usai mengangguk pendek, Ki Widura berkata, “Ah, biarlah Glagah Putih sibuk dengan pekerjaannya. Tapi suatu hari, aku pasti datang ke sana untuknya.”
Tawa kecil yang renyah kemudian pecah di antara mereka.
“Mengenai Agung Sedayu, aku ke sana bukan sebagai pribadi tapi beberapa cantrik yang akan mewakili,” ucap Ki Widura setelah tawa mereda. “Agung Sedayu dan Swandaru selalu terhubung dan dipaksa berhubungan bila ada orang yang membicarakan kitab Kyai Gringsing. Untuk itu, kami tentu tidak dapat diam saja. Apalagi sebelum ini, Jati Anom sudah didatangi dua kali oleh orang-orang yang mengaku bersumber ilmu yang sama dengan kami.”
Ki Tumenggung Untara menyandarkan punggung dan memandang ucapan Ki Widura itu memang wajar dan tidak berlebihan.
“Jika demikian, kapankah para cantrik itu berangkat?” tanya Ki Untara.
“Satu orang akan berangkat siang ini untuk memberi kabar dulu pada Ki Gede dan Agung Sedayu sendiri,” jawab Ki Widura lalu diam sejenak. “Yah, supaya tidak merepotkan Ki Gede, aku akan minta mereka bermalam di rumah Sedayu.”
“Saya mengerti,” sahut Ki Untara.
Kemudian mereka membicarakan sesuatu yang penting karena kemungkinan dapat terjadi benturan kekerasan antarperguruan.
“Kami pun akan berada di sana, Paman,” ucap Ki Untara. “Mungkin sekitar lima atau sepuluh orang yang akan dipimpin oleh Ki Lurah Sabungsari.”
“Bukan Ki Lurah Plaosan atau Ki Panuju?”
“Sepertinya Ki Lurah Sabungsari akan merebut paksa jika salah satu dari dua lurah yang berangkat ke Menoreh,” kata Ki Untara dengan senyum lebar.
Yah, mereka tahu perjalanan panjang Sabungsari dengan Tanah Perdikan di masa lalu. Hubungan yang rapat dengan gelisah, suka dan duka sudah barang tentu tidak mudah tiba-tiba dilonggarkan.
“Saya akan utus orang untuk menemani cantrik perguruan sebagai pembuka perjalanan. Setibanya di Tanah Perdikan, biarlah mereka kemudian berpisah. Saya tentu harus melaporkan rencana kehadiran ini pada Ki Rangga Sanggabaya atau Agung Sedayu sendiri di barak pasukan khusus,” Ki Untara menambahkan.
“Ya, ya, aku kira itu memang usul yang baik untuk dijalankan,” kata Ki Widura lalu meminta diri untuk mempersiapkan segala sesuatunya yang berhubungan dengan perjalanan mereka ke Tanah Perdikan.
Maka pada malam percakapan di rumah Ki Gede itu, orang-orang dari Perguruan Orang Bercambuk serta yang dari barak prajurit Mataram bermalam di tempat yang berbeda.
Suasana damai dan tenang benar-benar merasuki seluruh bagian kehidupan di Tanah Perdikan. Bila ada keributan, itu tak lebih dari lengking jangkrik dan tonggeret, anjing liar yang menggonggong jauh di dalam hutan. Selebihnya adalah ketenangan.
- Mungkin memang sedang musim adu strategi, tarung siasat di banyak zaman. Termasuk pula yang sedang dilakukan Gajah Mada di Rencana Lain ketika Langit Hitam membayangi Majapahit . Di sana, Gajah Mada memaparkan sedikit strateginya dalam mempertahankan Kahuripan serta mengirim bala bantuan ke Sumur Welut.
