0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 41 – Dua Tahanan Perang di dalam Barak Pasukan Khusus Mataram

Dironda 59 kali

Pagi datang tanpa tanda yang istimewa.

Kabut terangkat perlahan dari atas pematang ketika orang-orang sudah agak jauh dari rumah masing-masing. Seperti hari-hari sebelumnya, pasar di Tanah Perdikan perlahan hidup oleh langkah orang yang membawa bakul, pikulan dan hasil kebun. Tidak ada wajah yang menunjukkan bahwa semalam mereka membicarakan orang-orang berilmu tinggi, perkelahian dan orang-orang perguruan yang tidak mereka ketahui.

Rakyat Menoreh memang banyak melihat orang-orang asing di sekitar dusun, pategalan dan pasar tapi tidak ada kecurigaan yang muncul dalam hati. Segalanya bergulir wajar. Jauh dari kesan berbahaya.

Di pasar, para perempuan menata sayur dan umbi di atas tikar. Seorang penjual jenang memanggil anak-anak yang berdiri memandangi kukusan yang mengepulkan uap. Di sudut lain dua orang pedagang kain saling mengeluhkan penjualan yang agak sepi. Seekor kambing melintas di samping pasar, sesekali berhenti untuk mengendus dedaunan dan rumput.

Di sawah pun demikian.

Orang-orang bekerja seperti biasa. Sebagian sedang mengayun arit—memotong rumput untuk pakan sapi dan kerbau. Sedikit orang terlihat menata saluran air karena wayah ketiga hampir tiba. Dari kejauhan tampak beberapa petani berdiri dengan tangan di pinggang memperhatikan petak sawah yang mulai menghijau. Pembicaraan mereka lebih banyak tentang air dan musim kemarau yang akan datang.

Matahari mulai mendekati pertengahan.

Orang-orang beristirahat di gardu kecil dekat jalan, pembicaraan mulai bergeser.

“Jadi benar Ki Tumenggung Agung Sedayu menang?” tanya seorang lelaki sambil menerima kendi dari temannya.

“Aku dengar memang seperti itu,” jawab orang yang lebih tua. “Dan Ki Swandaru sekarang mendapat perawatan di barak pasukan khusus.”

Orang lain tertawa kecil lalu berkata, “Buah dari keras kepala dan merasa lebih besar dari orang lain selalu memberi hasil yang tidak terduga. Ki Swandaru adalah contoh terbaik.”

“Tetapi Ki Tumenggung Agung Sedayu memang lain,” sahut seorang lagi. “Masih mau mengalah dan menuruti permintaan yang hampir tidak masuk akal itu.”

Seorang tua yang sejak tadi diam lalu menyela, “Yang sudah terjadi ya sudahlah. tak baik buat kita terus membahasnya. Ki Swandaru punya pandangan hidup dan prinsip yang harus kita hormati terlepas dari baik dan buruknya. Begitu pula Ki Tumenggung Agung Sedayu. Bagaimanapun, beliau berdua berguru pada orang yang sama.”

Mereka mengangguk.

Pembicaraan lalu bergerak ke arah yang lebih ringan. Ada yang mengatakan Ki Swandaru pasti tidak akan diam dan suatu saat ingin mencoba lagi. Ada yang berseloroh bahwa bila orang-orang Menoreh bertanding terus, sawah akan terlantar dan harga beras naik. Tawa pun pecah sebentar.

Tidak lama kemudian mereka berdiri satu demi satu.

Ada yang kembali ke sawah, ada yang kembali ke pasar, ada yang sekadar pulang karena merasa matahari sudah terlalu tinggi.

Dan hari berjalan tenang.

Dua Mantan Panglima Perang

Seolah tidak ada orang yang sedang bersiap melakukan pekerjaan besar demi Tanah Perdikan. Seolah segala yang akan datang terasa masih jauh dan belum perlu dipikirkan pada hari itu. Tapi itulah yang terjadi di Tanah Perdikan Menoreh. Tenang, hanyut mengalir dan menerima ketika segalanya berjalan tenang. Tapi mereka seketika akan berubah menjadi orang lain ketika ancaman datang.

Di barak pun kehidupan tetap mengalir sebagaimana biasanya. Orang-orang melakukan pekerjaan sehari-hari, dapur tetap mengepul, kuda-kuda dan senjata tetap dirawat seperti hari-hari sebelumnya, dan suara percakapan para prajurit masih terdengar di sela waktu senggang. Namun di balik kewajaran itu, ada satu perbedaan yang terasa: hari itu barak pasukan khusus terasa lebih lengang.

Sehari sebelum perang tanding dilangsungkan, Ki Rangga Sanggabaya melepas mereka secara bertahap. Puluhan prajurit meninggalkan barak menuju berbagai daerah dengan tugas masing-masing. Tidak ada upacara besar, tidak pula perpisahan yang mengundang perhatian.

Mereka datang untuk menerima latihan kemudian pergi demi tugas yang diberikan Kotaraja. Mereka berangkat untuk mendukung rencana besar Sunan Agung yang mulai bergerak ke banyak arah.

Hari itu, jumlah prajurit yang berada di barak hampir mendekati keadaan awal ketika barak didirikan.

Tapi kelompok prajurit Mataram dari Jati Anom yang dipimpin Sabungsari cukup mampu mengubah suasana lengang itu menjadi hangat. Meski hanya sekitar sepuluh orang atau lebih sedikit, tapi mereka sudah saling mengenal maka kehangatan pun seketika memenuhi udara di dalam barak.

Terpisah tapi tak jauh dari dua atau tiga kerumunan prajurit, tampak Ki Garu Wesi sedang berada di dalam bilik rawat Ki Sor Dondong. Bau rempah yang hangat masih memenuhi ruangan itu. Pada beberapa bagian tubuh Ki Sor Dondong masih terbalut kain yang telah beberapa kali diganti, namun wajahnya tidak lagi semuram hari-hari sebelumnya. Dia sudah dapat duduk bersandar pada dinding bilik dengan selembar kain tebal menyangga punggungnya.

Ki Garu Wesi memandang sejenak, lalu berkata pelan, “Keadaan Kyai sudah jauh lebih baik.”

Ki Sor Dondong mengangguk kecil. “Mereka tidak sehari pun mengabaikan pesan-pesan Nyi Banyak Patra dan Ki Tumenggung. Sikap mereka itu, seolah sudah melupakan bahwa sebenarnya yang dirawat adalah orang yang dapat menyerang lalu membunuh mereka.”

Sejenak ruangan menjadi sunyi karena ucapan itu.

“Tapi, sejujurnya, saya tidak tahu tentang yang ingin saya perbuat setelah pulih sepenuhnya. Apakah meninggalkan barak lalu mengambil sikap yang sama seperti dulu atau diam saja? Atau mungkin berteman dengan Ki Tumenggung? Entahlah,” lanjut Ki Sor Dondong dengan mata menatap lantai.

Ki Garu Wesi tidak segera menanggapi. Dia menarik bangku pendek lalu duduk berhadapan. Tatapannya tampak sedang menimbang sesuatu.

“Demikian pula yang sedang terjadi dalam diri saya,” kata Ki Garu Wesi.

Ki Sor Dondong mengangkat wajah perlahan, memandang Ki Garu Wesi cukup lama.

Ki Garu Wesi menarik napas pendek.

“Ketika saya mengikuti Raden Atmandaru, saya kira sedang memilih jalan. Sekarang, saya bertanya, apakah itu benar?”

Tidak ada kata yang terucap dari Ki Sor Dondong.

“Sebelum semua pembicaraan tentang makar, saat kami masih meniti jalan dan menguji batas diri, bersama kami memilih kawan dan lawan.”

Mata Ki Garu Wesi tidak lagi tertuju pada Ki Sor Dondong, lalu menyambung ucapannya, “Saya sudah mengenal Raden Atmadnaru waktu itu hingga suatu saat saya berutang budi padanya. Tidak, tapi masih banyak lagi… terlalu banyak untuk disebut satu demi satu karena pengalaman pahit tumbuh berganti.”

Dia tersenyum tapi tidak ada kegembiraan di sana.

“Saya tidak pernah benar-benar memikirkan tujuan akhirnya. Ketika gagasan tumbuh dalam dirinya, saya tetap berada di dekatnya.”

Ki Sor Dondong bertanya pelan, “Karena sepakat?”

Ki Garu Wesi menggeleng. “Saya segan.”

Bilik kembali sunyi.

Masih Ki Garu Wesi yang kemudian berkata, “Saya tidak pernah berkata bahwa saya setuju seluruh gagasan Raden Atmandaru. Tapi saya juga tidak pergi. Saya merasa meninggalkannya sama dengan melupakan seseorang yang sering berdiri di depan ketika saya tidak dan bukan siapa-siapa.”

Ki Sor Dondong menarik napas panjang.

“Lalu saya sampai di sini. Dan anehnya… orang-orang yang seharusnya punya alasan untuk membenci atau membunuh saya malah memberi tempat, makan, bahkan membantu saya menggunakan lebih banyak waktu untuk sembuh. Di sini, di barak ini, mereka justru membiarkan saya berjalan di halaman tanpa pengawasan berlebihan,” lanjut Ki Garu Wesi menoleh pada Ki Sor Dondong.

“Jadi, saya pikir saya juga sedang berada di tempat yang sama dengan Kyai.”

Ki Sor Dondong diam.

Ki Garu Wesi berkata lagi, hampir seperti berbicara kepada dirinya sendiri. “Apakah setelah semua ini saya meninggalkan barak lalu kembali mengambil sikap seperti dulu? Atau diam saja? Atau mungkin…” dia berhenti sesaat, lalu tersenyum hambar, “…berteman dengan Ki Tumenggung?”

Ki Sor Dondong mengangkat kepala sedikit lalu memandang Ki Garu Wesi yang menghembuskan napas panjang.

“Yang membuat sulit bukan memilih pihak. Yang membuat sulit adalah menerima kenyataan bahwa orang yang kita hormati berjalan ke arah yang sulit kita telusuri dan ikuti, sementara orang yang kita kira lawan justru membuka pintu bagi kita untuk mengenali diri,” ucap pelan Ki Garu Wesi.

Ki Sor Dondong hanya menatap balutan kain pada lengannya, lalu berkata lirih, “Ataukah mungkin yang sedang berubah bukan tempat kita berdiri? Mungkin yang sedang beralih rupa adalah arah yang belum kita sadari.”

Jika biasanya terdengar teriakan penuh semangat dari prajurit yang berlatih, sekarang barak cukup sunyi hingga mereka berdua merasa tidak ada orang lagi.

Waktu mengapung agak lama tanpa ada hitungan dari mereka berdua. Stiap orang hanyut dalam lembaran-lembaran kenangan atau gagasan yang melintas di dalam pikiran.

“Kyai,” kata Ki Garu Wesi melanjutkan, “Saya kira Kyai sudah mengetahui serba sedikit mengenai perang tanding Ki Tumenggung.”

Ki Sor Dondong mengangguk. “Benar, serba sedikit saya memang mengetahuinya. Prajurit yang keluar masuk bilik ini tidak menyembunyikan sedikit pun tentang perang tanding itu. Mereka berbicara sewajarnya dengan sadar bahwa orang yang sedang mereka temani bercakap adalah orang yang tidak berdiri di pihak Mataram. Mungkin bagi mereka, saya hanyalah seorang yang terluka dan membutuhkan waktu untuk pulih.”

“Butuh waktu untuk menerima kenyataan ini dengan lapang dada,” sahut Ki Garu Wesi lalu menghentikan ucapannya.

“Perang tanding itu…,” ucap Ki Sor Dondong kemudian. “Aku dengar Ki Tumenggung terluka meski tidak parah. Kata mereka, lukua-luka yang…hanya lecet saja dan di banyak tempat.” Ki Garu Wesi menghembuskan napas panjang. Katanya, “Tidak ada ilmu kebal dari beliau. Dan perang tanding itu benar-benar murni menggunakan sumber yang sama, Perguruan Orang Bercambuk yang berinduk pada Perguruan Windujati.”

  • Beberapa orang yang jumlahnya tidak sampai enam orang itu seperti yang dicemaskan Agung Sedayu, bahwa belum ada kepastian seluruh orang yang dekat kedudukannya dengan Panembahan Hanykrawati adalah orang yang setia. Dan beberapa orang itu baru dapat dipastikan maksud dan tujuan mereka setelah atau sebelum Geger Alas Krapyak 103
  • Kadang-kadang ada peristiwa yang tidak pernah disangka dan tidak pula terpikirkan. Ini seperti kejadian Adipati Hadiwijaya yang berjalan pelan dengan bantuan Arya Penangsang di Gerbang Demak 1

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.