0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 105 – Pengamatan Sunan Agung dan Pangeran Purbaya

Dironda 92 kali

Wedaran sebelumnya: Agung Sedayu memasuki lingkungan yang telah menunggunya dengan kesiapan dan sikap yang belum diketahuinya, lalu secara lantang menuduh Ki Wira Sentanu membunuh Ki Wedoro Anom tanpa membawa bukti. Ki Wira Sentanu menyangkal tuduhan itu dan menyebutnya sebagai prasangka, tetapi tetap menahan diri karena menyadari kemampuan Sedayu menjatuhkan lawan melalui kata-kata.

Di antara fajar yang belum menjelang, dua orang seperti bayangan telah ada beberapa waktu setelah benturan.

“Apa yang sedang mereka lakukan?” tanya seseorang yang agaknya berusia muda—ditandai dengan suaranya yang agak jernih.

“Entahlah, Ki Tumenggung bergerak sangat lambat tapi kekuatannya benar-benar dahsyat. Sepertinya tenaga Ki Tumenggung sudah mengunci pergerakan lawannya,” jawab orang yang berada di sampingnya.

Keduanya tetap memperhatikan benturan yang terjadi di kejauhan. Tidak ada keinginan untuk mendekat, apalagi mencampuri. Mereka datang bukan hanya untuk mengamati. Kedatangan mereka ke wilayah Tanah Perdikan sejak semula dimaksudkan untuk menguak lebih jauh: siapa sebenarnya Ki Wira Sentanu? Mengapa bisa menembus masuk ke dalam lingkaran Sunan Agung?

Sedangkan di gelanggang pertempuran sendiri juga ada keanehan. Secara tiba-tiba Agung Sedayu menghentikan serangan, demikian juga Ki Wira Sentanu. Siapa yang memulai lebih awal? Tiada yang tahu karena pertarungan itu berhenti begitu saja, seolah ada yang menyuruh mereka berhenti.

Dalam waktu itu, Agung Sedayu bergeser setapak demi setapak ke samping, seperti membuat sebuah lingkaran yang mengellingi Ki Wira Sentanu.

Namun orang itu juga tidak tinggal diam. Dia turut bergeser pula sehingga keduanya tampak seolah saling mengincar titik lemah lawan.

“Pada masa itu, aku hanya melihat Kakang Panji berdiri diam. Sementara, Kyai, mengapa mengikutiku bergerak? Apakah karena takut?” tanya Agung sedayu dengan nada yang tidak biasa.

Namun Ki Wira Sentanu hanya diam.

Setelah menunggu agak lama dan tidak mendapatkan tanggapan, Agung Sedayu kemudian berucap lagi, “Jadi, benar adanya bahwa Kyai memang takut. Ini kepribadian yang bertolak belakang dengan pendahulu kalian, Kakang Panji.”

Ki Wira Sentanu tetap bungkam.

“Aku tidak yakin Kyai berada di sana waktu itu. Ketidakyakinan yang sama pula menyatakan Kyai tidak berada di tengah-tangah prajurit Pajang pada masa itu,” kata Agung Sedayu, ‘sehingga tidak mengerti alasan Kakang Panji takluk di depan Kyai Gringsing, guruku.”

Ki Wira Sentanu masih saja diam.

“Jadi, karena aku ada sana waktu itu, maka aku katakan saja bahwa takluknya Kakang Panji oleh Kyai Gringsing adalah dan lebih disebabkan karena pendahulu kalian terlalu berani. Dia tidak mempunyai perhitungan, tidak pula memiliki wawasan yang cukup sebelum benar-benar menghadapi Kyai Gringsing,” ucap Agung Sedayu dan seolah-olah bukan dirinya yang berkata seperti itu.

Ki Wira Sentanu tetap membisu dan terus bergerak melingkari gelanggang.

Agung Sedayu masih sesorah. Bahkan mulai terdengar pongah.

“Oh, sebentar,” katanya. “Dulu pendahulumu, Kakang Panji, menyusup di antara prajurit Pajang, di antara tumenggung yang setia pada Pajang untuk menolak kehadiran Mataram. Pendahulumu, Kakang Panji, mampu menggerakkan satu pasukan segelar sepapan. Bahkan pengaruhnya jauh melampaui Sultan Hadiwijaya sendiri. Sekarang, Kyai sudah berada di dekat Sunan Agung, tapi apakah ada pasukan sebanyak itu? Panji dan tumenggung mungkin sudah berada di bawah pengaruh Kyai, sebagian kalau bukan hampir seluruhnya. Mengapa Kyai memilih jalan aman untuk mengelabui Mataram? Apakah Kyai ingin menjadi raja tanpa mahkota? Apakah Kyai—.”

Seketika dengan kecepatan yang masih dapat dikira, tetapi dengan kekuatan yang tidak dapat dipandang sebelah mata, Ki Wira Sentanu melabrak Agung Sedayu!

Murid Kyai Gringsing itu cepat mengimbangi lawannya dengan kemampuan setara, maka pertarungan pun meningkat sengit.

Ki Wira Sentanu sepertinya bukan lagi menyerang untuk menjajagi kedalaman ilmu musuhnya. Itu serangan yang berbahaya—kakinya seolah menjadi puluhan dengan banyak titik serang pada pertahanan Agung Sedayu.

Meski belum sepenuhnya yakin lawannya dapat terkikis perasaanya, Agung Sedayu meloncat surut, selangkah sebelum membalas serangan.

Maka dalam waktu yang hampir berdekatan, bila tidak dapat dikatakan bersamaan, keduanya menyerang dengan saling menghancurkan. Tidak ada eman-eman atau rasa sayang pada kekuatan yang hilang atau bagian tubuh yang hancur!

Pertarungan itu pun berlangsung menggetarkan. Keduanya sama-sama meloncat maju. Lengan-lengan berayun, menjulur ke depan, menolak dan mengibaskan ke samping. Keduanya pun juga sama-sama mengelak, dengan putaran setengah lingkaran atau putaran penuh, dan mereka masih sama-sama saling memburu.

Tetapi usaha keras mereka berdua belum menyatakan hasil. Setiap serangan selalu menemukan kebuntuan akibat pertahanan kokoh masing-masing orang.

Ki Wira Sentanu memang sangat hebat hingga waktu itu, Agung Sedayu ternyata dapat pula mengimbangi serangan-serangan. Sebaliknya, murid Kyai Gringsing ini sangat tangkas tapi belum cukup untuk mendesak lawannya itu.

Ternyata Ki Wira Sentanu bukan lawan yang dapat dipandang ringan. Ilmunya jauh lebih tinggi daripada yang terlihat dalam bentuk jasmaniah saja.

Agung Sedayu, yang berulang kali berusaha menutup jarak serapat-rapatnya agar ledakan ilmu lawan tidak terlalu sering terjadi, tetap saja tidak mengubah kenyataan bahwa Ki Wira Sentanu masih mampu sesekali mengambil kendali pertempuran dengan cara melepaskan pukulan jarak jauh.

Ledakan dari pukulan itu bukan sekadar hempasan tenaga yang keluar tanpa arti. Tanah, batang pohon, dinding kemah atau setiap benda  yang terkena pukulan itu dapat pecah dan meledak seolah-olah dihantam kekuatan yang sangat besar. Walau demikian, pukulan meleset itu bukan karena Agung Sedayu yang sangat cepat menyelamatkan diri tetapi kejelian membaca arah serangan berikutnya dengan tetap menjaga jarak yang sangat rapat.

Ini benar-benar sulit dimengerti!

Setiap kali lolos dari serangan musuhnya, Agung Sedayu terus menerus menekan dengan jarak yang sangat rapat. Seperti pada beberapa perkelahian sebelumnya yang tidak menyisakan jarak sepanjang lengan, tetapi selalu saja kali Ki Wira Sentanu berhasil memaksanya menjauh.

Demikianlah keduanya pun bertempur dengan sangat seru. Pergerakan mereka memang masih dapat dilihat oleh mata yang agak terlatih tetapi kekuatan mereka tampaknya tidak berkurang sedikit juga.

Setiap ayunan lengan ternyata membawa angin yang mendahului gerakan, setiap kibasan kaki selalu diiringi udara yang berputar setelahnya. Semakin lama tidak bertambah kuat tetapi tampak keduanya sudah tenggelam ke kedalaman ilmu mereka masing-masing.

“Orang ini benar-benar luar biasa,” gumam Ki Wira Sentanu dalam hati. Dia sadar bahwa tata gerak Agung Sedayu belum beranjak sepenuhnya dari jalur Perguruan Orang Bercambuk, tetapi mengapa sulit dimengerti  olehnya?

Memang begitulah keadaannya. Tata gerak Agung Sedayu memang tidak berubah namun ilmunya telah meningkat ke tataran yang berbeda. Pertarungan itu tidak lagi dapat dipandang sebagai benturan dua tubuh yang saling berhadapan. Bahkan pukulan-pukulan yang mampu menghancurkan sasaran pun bukan lagi satu-satunya kekuatan yang harus diperhitungkan.

Sedikit demi sedikit, kedua orang itu mulai mengerahkan kekuatan ilmu yang jauh lebih dalam. Pengaruhnya tidak selalu dapat dilihat dengan mata, tidak selalu terasa di sekitar arena tetapi mulai menjangkau ke luar gelanggang.

Dua pengamat yang menyaksikan dengan sembunyi-sembunyi pun dapat merasakan getar ilmu mereka berdua. Rambut dan kain yang tersibak, hawa panas atau dingin pun dapat dirasakan. Keadaan itu menjadi bukti bahwa jangkauan ilmu mereka sudah berada di luar akal sehat.

“Sampai seperti inikah kemampuan Ki Wira Sentanu?” ucap seseorang yang berusia dua puluhan awal itu perlahan. Dia membayangkan betapa mengerikan kekuatan dari orang yang selama ini berada di dekatnya. Yah, orang itu adalah Sunan Agung yang secara sengaja datang karena ingin membuktikan penyimpangan Ki Wira Sentanu.

Dari keterangan Pangeran Purbaya, Nyi Banyak Patra dan Agung Sedayu, Sunan Agung banyak menerima pendapat yang memang akhirnya harus dipercaya. Kecurigaan Agung Sedayu yang selama ini dianggap sebagai penghias laporan tidak lagi dapat diabaikan. Pertanyaan ang terpotong seolah menjadi bukti bahwa senapati Mataram itu mempunyai alasan yang kuat untuk mencurigai keberadaan Ki Wira Sentanu.

Sementara itu, Pangeran Purbaya, yang pada mulanya mendukung kecurigaan Agung Sedayu ketika peristiwa pembunuhan Ki Wedoro Anom dibicarakan, akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang mengejutkan.

Keselamatan Sunan Agung ternyata dapat terjaga karena dendam lama yang tersimpan dalam diri Ki Wira Sentanu.

Pangeran Purbaya dapat meraba jalan pikiran orang itu. Menyingkirkan Agung Sedayu dari kedudukannya sebagai pemimpin pasukan khusus, kemudian membunuh Sunan Agung, merupakan rangkaian tindakan yang sejalan dengan kecermatan perhitungan Ki Wira Sentanu. Justru karena dendam itulah, tanpa disadarinya, dia malah seakan menudda kesempatan untuk membunuh Sunan Agung.

Pertanyaan selanjutnya yang kemudian kelak menjadi bekal baginya adalah; siapa dan dari mana orang yang akan melayani Sunan Agung? Sudah jelas Pangeran Purbaya tidak ingin ada yang lolos seperti Ki Wira Sentanu sekarang.

Keputusan Sunan Agung agar mereka segera membuntuti Ki Wira Sentanu sejak keberangkatannya, lalu menginap di sebuah tempat di Tanah Perdikan yang akhirnya memang membawa mereka dapat menyaksikan pertempuran yang tidak mungkin terulang.

  • Sebelumnya telah ada Raden Atmandaru di lembah utara Gunung Kendil yang biasa disebut lembah tak bernama, lembah kematian. Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh menghadirkan arena yang berbeda. Arena dan juara.
  • Justru di laut, kita berjaya. Kurang lebih itulah pendapat salah seorang senapati Demak pada Raden Trenggana. Saat Raden Trenggana lekat menatap wajah senapati itu, katanya, ”Bagaimana pendapatmu mengenai perpaduan kekuatan kita dengan Jepara dan bantuan dari barat?” Lalu orang itu menjawab ada di Berhitung 1.
  • Sangat berbeda dengan mereka yang berada di Tanah Perdikan Menoreh. Jati Anom Obong 39: Ki Malawi membenahi susunan olah geraknya, ia mengepung Empu Wisanata dengan rangkaian pukulan yang begitu rapat.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.