Dironda 66 kali
Wedaran sebelumnya: Cara Agung Sedayu bertempur menyulitkan Ki Wira Sentanu. Sekaligus membingungkan pengamat Kotaraja, Sunan Agung dan Pangeran Purbaya.
Sementara di gelanggang.
Tata gerak Perguruan Orang Bercambuk yang dibalik arah oleh Agung Sedayu, ditambah gerakan-gerakan yang kesannya sempoyongan ternyata membuat lawannya mengernyitkan dahi. Sepanjang pengalamannya bertempur, Ki Wira Sentanu sudah pasti banyak menemui keanehan gerakan. Tetapi yang dilakukan Agung Sedayu ini sangatlah lain.
Jika semula mengira yang akan datang adalah tendangan, maka yang menyambar adalah tangan. Jika mengira yang datang dari kiri, justru yang menyusup adalah dari bawah. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan gerakan terhuyung-huyung yang pertama kali diperagakan Sedayu. Dan yang mengherankan dirinya adalah kaki Agung Sedayu tidak pernah benar-benar menjadi tumpuan yang cukup kuat.
Lawannya itu bila jatuh, maka benar-benar jatuh tapi selalu saja mampu menyeranga atau menyusupkan satu serangan padanya. Hingga beberapa lama kemudian, sentuhan demi sentuhan Agung Sedayu dapat mengenai dirinya meski tak begitu berarti.
Setelah merasa cukup untuk mengamati dan juga terhantam beberapa serangan, Ki Wira Sentanu kembali menghentak gelanggang dengan kecepatannya dan juga bau-bauan yang menjadi andalannya.
Agung Sedayu kini terkepung musuhnya yang seolah-olah berubah menjadi sangat banyak karena sangatlah cepat. Mungkin lebih cepat daripada saat pengerahan Kakang Kawah Adi Ari-ari.
Demikianlah, maka pertempuran antara kedua orang berilmu tinggi itu semakin lama menjadi semakin dahsyat. Dalam keadaan itu, Agung Sedayu kembali kesulitan untuk menyusupkan serangan ke pertahanan lawan yang berlapis yang bergerak dengan kecepatan yang mengagumkan.
Serangan dari udara, dari bau-bauan yang ternyata mampu juga berubah aroma ternyata cukup menyulitkan Agung Sedayu meski dia telah mengetrapkan babakan hawa sanga. Lambaran tenaga cadangan yang berpadu dengan panas dari ilmu kebal rupanya tidak lagi mempengaruhi medan secara keseluruhan.
Ki Wira Sentanu semakin lama menjadi semakin berhasil menguasai medan. Serangan-serangannya menjadi semakin cepat dan sangat berbahaya. Serangan pada indra penciumannya itupun menjadi semakin tajam menusuk hidung Agung Sedayu.
Sebagaimana yang terjadi sebelumnya sebelum babakan hawa sanga, bau wangi yang sangat tajam itu lambat laun telah membuat Agung Sedayu terdesak. Bukan terdesak karena kalah ilmu tapi tata geraknya itu bukan alamiah, bukan sesuatu yang wajar tapi pemaksaan. Agung Sedayu memang mampu memaksa tata gerak Pergruan Orang Bercambuk mengikuti kemauannya—sempoyongan tapi ketika hantaman bau wangi itu semakin dahsyat maka dia tidak lagi bebas dalam usahanya itu.
Tata gerak Perguruan Orang Bercambuk pun kembali menjadi wajar dan Agung Sedayu agak kesulitan menangani aroma yang akhirnya mampu menembus babakan hawa sanga itu.
Sedemikian hebat serangan bau itu sehingga pengaruhnya tidak lagi terbatas pada tempat Agung Sedayu dan Ki Wira Sentanu bertempur. Aroma yang menusuk itu bahkan telah mencapai tempat Sunan Agung dan Pangeran Purbaya berada.
Keduanya tentu saja paham mengenai yang terjadi di medan pertempuran. Namun, bau yang datang sangat hebat hingga membuat mereka berdua terpikir untuk bergeser tempat.
“Apakah kita harus bergeser tempat, Paman?” tanya Sunan Agung.
Pangeran Purbaya menggeleng. “Belum perlu.”
Sunan Agung yang saat itu datang dengan penyamaran pun mengerutkan kening. Dia segera dapat membayangkan kesulitan yang dihadapi oleh Agung Sedayu. Betapa dari tempatnya, aroma itu sangat tajam menyengat meski berjarak dan kadang terhambur oleh angin, tapi kekuatan dari aroma itu sangat menganggu perhatiannya.
Kembali ke arena.
Di arena pertempuran, kecepatan Ki Wira Sentanu semakin lama semakin meningkat. Gerak tubuhnya begitu cepat sehingga yang tertangkap oleh pandangan hanyalah bayangan tubuh berbalut warna hijau, warna pakaian berlengan panjang yang dikenakannya.
Pada saat yang sama, kekuatan yang memancar dari kedua tangannya pun meningkat berlipat-lipat. Setiap kali tangannya bergerak, udara di sekitarnya seperti tersibak dengan tenaga yang semakin besar.
Sapuan angin yang semula hanya mampu menggoyangkan dahan-dahan muda kini telah berubah menjadi hempasan yang dahsyat. Dinding-dinding bambu di sekitar perkemahan mulai berderak, berguncang, lalu beberapa di antaranya roboh tersambar kekuatan yang luar biasa itu.
Agung Sedayu merasakan perubahan itu dengan jelas. Setiap hempasan yang datang membuat tubuhnya terdorong dan memaksanya mengubah langkah. Dia tidak lagi dapat bergerak bebas seperti sebelumnya. Ruang untuk mengembangkan tata gerak Perguruan Orang Bercambuk semakin sempit, sementara setiap keterlambatan sedikit saja dapat membuat hempasan tenaga Ki Wira Sentanu mengenai tubuhnya.
Suasana gelanggang mulai sedikit teang ketika Agung Sedayu berusaha mengimbanginya dengan memadukan unsur Perguruan Orang Bercambuk dengan jalur Ki Sadewa. Untuk beberapa saat dia mampu mempertahankan keseimbangan, tetapi ternyata tidak memberikan pengaruh yang berarti. Kecepatan dan tenaga Ki Wira Sentanu tetap semakin meningkat.
Maka Agung Sedayu pun menghentakkan ilmunya.
Hawa panas di sekitar tubuhnya meningkat dengan sangat cepat. Dorongan tenaga yang sebelumnya hanya membuat daun-daun menjadi layu kini juga berubah.
Kekuatan Agung Sedayu mulai membakar.
Jika semula dedaunan yang tersapu oleh dorongan tenaga itu menghitam pada tepinya, sekarang bahkan mengepulkan asap tipis sebelum akhirnya terbakar.
Perubahan yang dilakukan Agung Sedayu dapat menghantam pula musuhnya. Udara panas yang semula dikiran hanya berpanas-panas saja rupanya dapat menyentuh dan mengotak pertahanannya.
Jika Ki Wira Sentanu mampu menggapai Sedayu melalui aroma yang kerap berubah sehingga mampu mengusik perhatiannya, maka Sedayu mengganggu melalui hawa panas yang kadang sempat pula membakar ujung kain ki Wira Sentanu.
Dari luar, dari kejauhan, mereka tetaplah dua bayangan yang yang bergerak begitu cepat hingga sulit diikuti oleh pandangan. Kadang-kadang keduanya terpisah cukup jauh, tetapi sesaat kemudian kembali berdekatan, saling menyusup dan membelit dalam rangkaian serangan yang seolah tidak memberi kesempatan bagi salah seorang dari mereka untuk berhenti.
Panas yang semakin menggigit itu memaksa Ki Wira Sentanu menjaga jarak, meskipun kekuatan dari kedua tangannya masih terus menghempaskan udara di sekitarnya.
Pertarungan pun berubah. Bukan lagi sekadar benturan kecepatan dan tenaga, tetapi memperebutkan keadaan yang semakin berbahaya.
Setiap kali tangan Ki Wira Sentanu menyambar, udara yang terdorong oleh pukulan itu membawa serta aroma yang semakin tajam. Seolah-olah setiap pukulan bukan hanya mengandung tenaga, tetapi juga mengirimkan bau itu langsung pada Agung Sedayu.
Satu pukulan datang, aroma itu menusuk. Pukulan berikutnya menyusul, dan bau yang dibawanya terasa semakin pekat. Semakin cepat Sentanu bergerak, semakin rapat pula aroma itu memenuhi ruang di sekitar Sedayu.
Agung Sedayu cepat menutup babakan hawa sanga denagn sekuat-kuatnya. Walau demikian, setiap kali dia menarik udara, bau yang dibawa oleh hempasan pukulan kembali memenuhi rongga hidungnya. Penciumannya semakin tertekan hingga hampir-hampir mengganggu pernapasannya.
Dalam pada itu, Ki Wira Sentanu tampaknya menyadari bahwa dirinya pun tidak dapat terus-menerus bertahan dalam jarak dekat. Hawa panas yang memancar dari tubuh Agung Sedayu semakin kuat, bahkan telah mampu membakar ujung kain pakaiannya. Jika dia menjaga jarak yang rapat, lambat laun panas itu akan mencapai tubuhnya dan membuat pertahanannya semakin sulit dipertahankan.
Karena itu, dia memilih menjaga jarak. Tidak terlalu jauh, hanya sekitar satu atau dua langkah, tetapi cukup baginya untuk melontarkan pukulan tanpa harus terlalu lama berada dalam jangkauan hawa panas Sedayu. Dari jarak itu, setiap sambaran tangannya tetap mampu mengirimkan tenaga sekaligus aroma yang menusuk, seolah-olah keduanya melesat bersama dalam satu serangan.
Pilihan itu memberinya keunggulan.
Ki Wira Sentanu masih dapat mengusik penciuman dan pernapasan Agung Sedayu tanpa harus mempertaruhkan tubuhnya dalam hawa panas yang semakin membakar.
Maka pertarungan itu pun berlangsung dalam jarak yang tidak lazim. Ki Wira Sentanu berusaha mempertahankan ruang di antara mereka, sementara Sedayu menghadapi serangan aroma yang datang bersama setiap pukulan. Keduanya sama-sama berusaha memaksakan keunggulan ilmunya, tetapi tak seorang pun dapat mendekati lawannya tanpa menghadapi bahaya yang semakin besar.
- Kurang setapak lagi kita akan menuju Waru Geni. Mohon disiapkan dukungannya agar kisah tetap berlanjut. Kita akan menyaksikan Pandan Wangi dan Sekar Mirah yang mrepet bahaya meski bukan kanuragan. Sampai jumpa, Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh.
- Kurang setapak lagi akan ada telur baru bukan karena ada ayam, tetapi Sukra. “Aku seperti ayam yang dipaksa bertelur sebelum waktunya,” keluh Sukra dalam hati di Hari Bising Bukit Menoreh 69.
- Karena waktu juga tidak diputarbalik maka penyesalan adalah penyesalan. Inilah yang dirasakan Ki Wisanggeni yang terpaksa bertarung melawan anak kandungnya sendiri di Pertempuran Hari Kedua 4. Tidak ada pilihan lain. Tidak ada persimpangan lagi.
