Dironda 23 kali
Wedaran sebelumnya: Ki Wira Sentanu menegaskan kepada Ki Ajar Poh Kecik bahwa pencopotan Agung Sedayu hanyalah salah satu cara, sedangkan tujuan utama mereka tetap mengubah pendirian Sunan Agung agar bersedia menerima kekuasaan ayahnya dan tetap tinggal di Mataram. Ki Wira Sentanu juga menyimpan dendam terhadap guru Sedayu yang telah menenggelamkan Perguruan Saripati.
Kesunyian yang menggetarkan.
Fajar masih jauh dari jangkauan tetapi Agung Sedayu telah mempersiapkan segalanya. Orang-orang yang menyertainya telah berada di kedudukan masing-masing. Hanya Ki Garu Wesi yang tersisa di dekatnya.
Fajar masih jauh dari pandangan ketika Agung Sedayu memperhatikan perkemahan di depannya. Satu atau dua kemah yang tampak lebih besar dari kemah-kemah yang bertebaran di sekelilingnya. Tidak ada kesibukan atau sebuah kegiatan yang telah menandai perkemahan tersebut telah hidup.
Ataukah itu hanya sebuah pancingan?
Kesunyian yang mengancam.
Agung Sedayu setapak maju, Ki Garu Wesi melakukan hal serupa.
Agung Sedayu kemudian melangkah lagi, beberapa tapak lagi hingga mencapai sebuah tanah lapang yang tidak begitu luas yang menjadi semacam batas perkemahan. Demikian juga Ki Garu Wesi.
Sunyi.
Agung Sedayu sadar bahwa di balik kesunyian itu sudah menunggu orang-orang yang belum dia ketahui niat atau sikapnya. Bukan karena mereka tidak bersiap atau Agung Sedayu salah memasuki lingkungan, tetapi sesungguhnya mereka juga menunggu.
Agung Sedayu datang bersama siapa?
Agung Sedayu membawa apa?
Tapi yang ditunggu kemudian justru berkata dengan lantang, “Aku datang untuk mencari pembunuh. Aku datang untuk menjemput orang yang telah membunuh prajurit Mataram. Ki Wira Sentanu, Anda bersalah karena telah membunuh Ki Wedoro Anom.”
Nada yang dilontarkan Agung Sedayu masih jauh dari keras tetapi setiap orang dapat mendengar, termasuk Ki Wira Sentanu.
Tuduhan Agung Sedayu jelas tidak main-main. Itu adalah tuduhan yang sangat berat, apalagi dia tidak membawa bukti.
“Aku tidak mengakuinya,” ucap Ki Wira Sentanu setelah keluar dari salah satu kemah besar. “Engkau datang tanpa bukti. Ucapanmu adalah prasangka yang tersusun dari peristiwa.”
Agung Sedayu, dengan dua lengan menggantung pada dua sisi, maju setapak, dua tapak lalu beberapa lagi kemudian berhenti. Katanya, “Aku tidak membuka sidang. Di sini, tuduhan adalah tuduhan yang tidak perlu ditingkatkan lagi. Benar, aku datang tidak dengan bukti tetapi sebuah kenyataan. Engkau boleh berkata tidak jujur karena aku memang tidak sedang membutuhkan kejujuran.”
Ki Wira Sentanu menggeram.
Dia sudah pernah bertemu dengan Agung Sedayu sebelumnya. Tidak banyak yang diketahuinya tetapi sikap senapati Mataram itu benar-benar menjengkelkan, menurutnya. Bagaimana mungkin membawa tuduhan tanpa bukti?
Namun Ki Wira Sentanu paham bahwa dia harus menahan diri. Agung Sedayu adalah orang yang mampu mengalahkan lawan hanya dengan kata-kata, dia sadar itu.
Tiba-tiba…
Aroma menyengat memenuhi ruang yang ada di antara mereka. Aroma yang benar-benar menusuk hidung dan seakan dapat merobek jantung!
Mereka masih berdiri berhadapan tetapi rupanya salah satu pihak telah menyerang.
“Kakang Panji,” kata Agung Sedayu sambil menyebut nama seseorang dari masa lalu. “Apakah kalian benar mengandalkan ilmu ini untuk membangun pagi?”
Ki Wira Sentanu mengerutkan kening. Dia dapat mengerti jika Agung Sedayu tidak terlihat payah dengan serangan itu, tapi, sikapnya yang belum berubah dan tidak menunjukkan bahwa dia sedang diserang itu cukup mengejutkan.
Jika Agung Sedayu tidak menampakkan keterkejutan, tetapi tidak bagi Ki Garu Wesi. Dia seperti orang yang gelisah meksi tidak kentara. Aroma itu terasa sangat menganggu dirinya. Selain menyengat, aroma itu benar-benar mengacaukan jalan pikirannya.
“Aku datang untuk kekalahan yang tidak perlu terjadi,” kata Ki Wira Sentanu kemudian. “Dan peristiwa yang kau tuduhkan, hmmm, benarkah memang terjadi? Alangkah malang orang yang terbunuh itu.”
Agung Sedayu mengangguk tetapi itu anggukan kepala yang bernada lain. Tiba-tiba dia menerjang, menyerang Ki Wira Sentanu dengan permulaan yang sangat aneh!
Betapa tidak! Agung Sedayu memulai dengan tata gerak paling mendasar dari Perguruan Orang Bercambuk. Ayunan lengan dan kakinya melangkah sangat lambat tetapi seluruhnya telah berlambar penuh dengan kekuatan ilmu yang berasal dari gurunya sendiri, Kyai Gringsing.
Maka dengan begitu, setiap gerakannya selalu diawali oleh hembusan angin yang luar biasa kencang, bahkan sebelum tangan itu berayun! Seakan-akan lontaran ilmunya lebih dahulu melesat daripada ayunan itu sendiri.
Ki Wira Sentanu cukup terkejut.
Bukan karena gerakan itu sulit dikenali. Justru sebaliknya. Gerakan yang diperlihatkan Agung Sedayu adalah tata gerak yang sangat mendasar. Namun tenaga yang mengiringinya sama sekali bukan tenaga yang sederhana.
Ki Wira Sentanu menyadari sesuatu: jika dia bergerak lebih cepat daripada Agung Sedayu, tetapi dalam keadaan seperti ini, kecepatan dapat menjadi penghalang bagi dirinya sendiri.
Setiap kali Agung Sedayu mengayunkan tangan atau melangkahkan kaki, hembusan angin yang keras telah lebih dahulu menyambar. Arus tenaga itu pun mengarah padu satu titik saja, bukan menyebar sehingga kesannya seolah mengunci ruang gerak Ki Wira Sentanu. Maka orang ini pun sudah merasakan tekanan pertama bahkan sebelum benturan benar-benar dimulai.
Tenaga yang telah mendahului gerak Sedayu akhirnya dapat memaksa Ki Wira Sentanu menahan langkah, lalu mengikutinya dengan segala kelambatan yang ada.
Ki Wira Sentanu merasakan keanehan yang tidak mudah diatasi dengan kecepatan. Semakin cepat dia hendak menyusup, semakin deras pula dorongan angin tenaga Agung Sedayu menghadangnya.
Dan Agung Sedayu terus bergerak dengan lambat, tenang tapi menghanyutkan lawan.
Namun demikian, serangan bau yang menyengat itu belum pupus. Sekalipun hawa kuat dari Agung Sedayu mampu memutar udara di sekitar mereka, bau itu masih ada. Maka pertanyaan pun muncul dalam diri Agung Sedayu, bila bukan Ki Wira Sentanu, apakah ada orang lain yang menguasai ilmu yang sama dengan Kakang Panji?
Sementara Ki Wira Sentanu saat sadar bahwa kecepatan bukan jawaban yang tepat, maka dia pun beralih pada kelambatan yang sama.
Kelambatan itu ternyata mempunyai akibat yang berbeda.
Gerakan Ki Wira Sentanu yang turut melambat akhirnya membentuk aliran udara yang panjang dan teratur. Udara tidak terlempar menjauh atau berhamburan seperti benturan yang sangat kuat. Bahkan justru saling melibat, menggiling, memutari arus udara Agung Sedayu.
Dan bau menyengat yang telah memenuhi ruang di antara keduanya pun lebih terpusat pada pertengahan gelanggang.
Ketika tangan Ki Wira Sentanu bergerak ke kanan, udara di sebelah tubuhnya terdorong ke arah yang sama. Ketika lengannya berbalik, aliran udara itu pun berbalik pula. Dari satu gerakan ke gerakan terus tersusum begitu rapi seandainya dapat terlihat.
Bau itu tidak sempat terurai karena terus terbawa oleh pusaran tersebut, berputar mengelilingi tubuh Ki Wira Sentanu, lalu terdorong kembali ke hadapan Agung Sedayu.
Sehingga setiap kali Agung Sedayu menghembuskan hawa kuat yang seharusnya mampu mengusir bau di sekeliling mereka, bau tersebut tetap kembali. Hawa Agung Sedayu memang memecah sebagian alirannya, tetapi tata gerak Ki Wira Sentanu segera membentuk aliran baru dan menarik kembali bau yang tercerai itu.
Maka terjadilah perpaduan yang hampir tidak masuk akal.
Tenaga Agung Sedayu mengaduk udara, sementara tata gerak Ki Wira Sentanu mengatur kembali udara yang telah teraduk itu. Yang satu seharusnya mengusir, yang lain justru mengumpulkan.
Dan, bau menyengat ternyata juga berasal dari tata gerak Ki Wira Sentanu.
Luar biasa! Ini ajaib!
Bagaimana mungkin itu dapat terjadi? Tetapi Agung Sedayu harus menerima itu sebagai kenyataan dalam pertarungan yang aneh itu.
Dalam waktu itu, pengikut Ki Wira Sentanu atau orang-orang dari Perguruan Saripati yang berjajar dari arah perkemahan mulai merangsek masuk, tetapi hampir pada setiap jalan telah diawasi oleh para cantrik Perguruan Orang Bercambuk. Hanya saja, mereka tidak langsung berbenturan. Mereka saling melihat dari jarak yang terukur. Tidak ada satu pun di antara mereka yang mulai menyerang.
Ki Ajar Poh Kecik ada di sana, pada salah satu kelompok tapi dia juga tidak bergerak.
Ki Garu Wesi yang lebih banyak diam mengamati sejak mula mereka memasuki perkemahan lantas merasa ada yang janggal. Mungkin karena tiada orang yang melakukan kegiatan, mungkin karena terlalu sunyi, mungkin karena…. Kemudian dia memisahkan diri dari Agung Sedayu, berkeliling dengan caranya sendiri: berkelebat cepat di antara dahan dan ranting, menyusup pada setiap kali berdekatan dengan salah satu kubu.
“Aneh,” ucapnya dalam hati. Dia melihat tidak ada pergerakan sama sekali seakan-akan ada sesuatu yang besar yang sedang menahan mereka. Belum habis keheranannya pada ilmu Ki Wira Sentanu, sekarang bertambah lagi perasaan itu. Sulit dimengerti, pikirnya.
- Ki Ajar Poh Kecik tidak bergerak. Anda juga tidak bergerak. Lantas, bagaimana dengan Agung Sedayu? Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh menggerakkan semua orang.
- Agung Sedayu saat itu belum dapat bersikap lapang dengan kemungkinan terburuk yang mungkin akan menimpa Sekar Mirah. Di Kiai Plered 30, Agung Sedayu sedang menunggu persalinan.
- Malam yang Gawat di Padepokan Ki Kebo Kenanga – Berhitung 3. Ini tentang apa?
