0%
Still working...

Sisa Kontrak Rumah Tua

Dironda 14 kali

Rumah peninggalan era kolonial itu berdiri megah namun terasing di tengah hamparan perkebunan karet, wilayah selatan Jember. Dinding batunya yang dicat putih gading kini telah memudar menguning, dipenuhi jendela-jendela tinggi yang kokoh. Dua pohon beringin rindang melingkupi halaman depan, memayungi bangunan tersebut dalam bayang-bayang yang dingin. Bagi orang luar, rumah milik keluarga Sukirno itu tampak seperti hunian pejabat perkebunan pada umumnya: megah, tenang, dan menyimpan kesepian yang dalam.

Tidak ada yang benar-benar tinggal di dalam rumah itu.

Ada sebuah keluarga kecil yang tinggal di samping bangunan tua, yang lebih pantas disebut paviliun. Di paviliun itu tinggal empat orang. Suryani, sang ibu, adalah mantan biduan desa, mantan penyanyi meski berlevel hajatan biasa tapi dia memang bersuara emas. Hasan, sang ayah, bekerja sebagai mandor perkebunan karet. Dan yang lain adalah Ratna yang berusia 19 tahun serta adiknya, Jaka, 12 tahun.

Namun, ketenangan keluarga itu mulai terusik sejak empat tahun sebelumnya.

Saban malam, terdengar orang berjalan tertatih-tatih, langkahnya terseret tapi tidak pernah ada orang meski sumber suara telah didatangi berulang kali oleh Hasan.

Tiba-tiba setiap malam terdengar pula senandung orang yang menembang langgam Jawa. Yang aneh, langgam itu bukan sepenuhnya berbahasa Jawa yang diketahui orang kebanyakan.

Ratna dan Jaka telah diungsikan oleh ayahnya ke Surabaya, di rumah sepupu Hasan.

Genap dua tahun sebelumnya.

Hasan pun meninggal. Hanya Suryani yang tetap tinggal di sana untuk menyelesaikan kontrak kerja suaminya.

Keanehan pun makin menjadi-jadi.

Bangunan tua itu semakin berisik saja setiap malam menjelang. Tanpa sebab dan seseorang yang mengawali, pelita banyak menyala di bagian dalam rumah.

Suryani pun tahu hal itu.

Tidak hanya pelita, tapi suara-suara orang berpesta pun kerap terdengar dari dalam rumah itu.

Suryani juga tahu hal itu.

Tidak hanya suara lagi yang terdengar seperti gaung lebah. Suara mereka kali ini lebih jelas. Ada bahasa Belanda, Inggris dan Indonesia juga terdengar sampai keluar.

Suryani tahu karena dia melihat semuanya dari depan beranda rumahnya. Suryani paham dia hanya melihat rumah yang kosong, gelap dan suwung.

Lalu, dari mana asal suara itu?

Suatu sore, kabut tipis turun membungkus area perkebunan. Dari depan beranda rumah, seperti biasa ketika dia beristirahat, Suryani melihat empat orang atau lebih berdiri memandang ke arahnya. Empat orang itu diam tak bergerak, menghadap lurus ke arahnya, langsung.

“Apakah aku mengenal kalian?” tanya Suryani dengan nada biasa saja.

Empat orang itu masih diam.

Sikap Suryani pun tetap seperti biasa. Dia mematikan semua lampu lalu berangkat tidur. Bangun pagi-pagi dan berkegiatan sebagaimana lazimnya. Tidak ada yang berubah.

Mimpi buruk pun dilewatinya dengan sisa takut pada pagi harinya, namun setelah itu semua berlangsung wajar saja.

“Suryani,” kata seseorang pada hari berikutnya. “Kami tidak pernah mengizinkan orang tinggal di sekitar rumah ini.”

Suryani hanya diam. Matanya yang tenang namun dingin menatap balik empat sosok yang berdiri kaku di ambang kabut. Dia tak membalas sepatah kata pun, tak pula menunjukkan getar ketakutan di wajahnya. Setelah beberapa saat dalam keheningan yang mencekam, keempat sosok itu pelan-pelan berbalik dan menyatu kembali dengan pekatnya kebun karet.

Hari berikutnya, dan berikutnya terulang kembali.

Setiap kali senja mulai temaram dan kabut tipis merayap turun dari lereng perbukitan, keempat sosok itu selalu muncul di batas halaman paviliun. Kadang mereka mengenakan pakaian lusuh bergaya Eropa tua, kadang berpakaian Jawa dengan berwajah pucat tanpa ekspresi. Mereka mengulang kalimat yang sama, dengan nada datar yang bergema aneh di telinga.

“Suryani… Kami tidak pernah mengizinkan orang tinggal di sekitar rumah ini.”

Dan selama tujuh hari berturut-turut, Suryani memperlakukan mereka bagaikan angin lalu.

Dia tidak menjawab, tidak menjerit dan tidak lari.

Pada hari kedua, Suryani hanya menyapu dedaunan kering di beranda sementara suara-suara itu berbisik di balik remang senja.

Pada hari ketiga, dia tetap mematikan lampu minyak tepat waktu, membelakangi mereka, lalu mengunci pintu paviliun dengan tenang.

Hari keempat, kelima, dan keenam berlalu dalam ulangan yang sama—teror gaib yang makin memekakkan telinga disanggah oleh ketegaran seorang wanita.

Suara pesta dari dalam bangunan utama era kolonial itu kian nyaring saban malam. Bunyi berdenting dari cangkir kaca, gelak tawa berbahasa Belanda dan Jawa, dan seretan langkah kaki yang memutar seolah merayakan sesuatu yang tak kasat mata.

Namun bagi Suryani, setelah kehilangan Hasan dan terpisah jauh dari Ratna serta Jaka, rasa takutnya telah tumpul. Duka dan tekad untuk menyelesaikan sisa kontrak kerja almarhum suaminya menjadi benteng tertinggi yang tak sanggup ditembus oleh sesuatu pun.

Hingga tibalah malam ketujuh.

Malam itu, kabut turun begitu tebal hingga menyelimuti seluruh lantai beranda. Pesta di dalam rumah tua mendadak senyap seketika. Lampu-lampu pelita yang biasanya menerangi jendela-jendela tinggi terpadam bersamaan.

Empat sosok itu kembali berdiri di tempat yang sama, namun kali ini jarak mereka hanya beberapa jengkal dari tangga beranda. Wajah-wajah mereka makin jelas di bawah pendar rembulan—pucat, kaku, dan berair bagai jasad yang tenggelam.

“Ini malam terakhirmu, Suryani,” bisik sosok yang paling depan, suaranya seperti gesekan daun kering.

Suryani yang sedang duduk di kursi goyang bambu milik almarhum suaminya perlahan menghentikan goyangannya. Dia menatap keempatnya satu per satu, lalu mengembuskan napas panjang. Untuk pertama kalinya dalam tujuh hari, Suryani akhirnya membuka suara.

“Aku sudah lelah dan juga tidak punya apa-apa lagi untuk ditakuti,” ucap Suryani pelan namun tegas, matanya menusuk tajam ke arah mereka. “Suamiku sudah mati di tanah ini. Anak-anakku sudah aku pindahkan ke tempat yang aman. Rumah ini milik kalian, tapi janji suamiku pada perkebunan ini adalah urusanku. Sebelum kontrak ini usai, aku tidak akan keluar selangkah pun dari sini.”

Keheningan yang berat mendadak mencengkeram udara. Empat sosok itu saling pandang. Senandung langgam Jawa yang aneh dan asing perlahan terdegar lagi dari dalam rumah tua, namun kali ini nada suaranya tak lagi bernada ancaman.

Perlahan-lahan, keempat sosok itu mulai surut mundur. Wajah-wajah mereka yang tadinya dingin perlahan melunak, seolah menemukan tandingan atas kegelapan mereka sendiri dalam wujud ketabahan seorang janda.

“Kontrakmu… akan segera habis, Suryani,” bisik suara itu untuk terakhir kalinya sebelum sosok mereka memudar perlahan, tersapu oleh angin malam yang membawa aroma tanah wetan dan getah karet yang pekat.

Suryani tetap duduk di kursinya hingga angin malam berhenti berembus. Dia menarik napas dalam-dalam, berdiri, lalu menutup pintu paviliun.

“Pergilah,” sahut Suryani perlahan.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah empat tahun, rumah tua di sampingnya benar-benar hening hingga terbit fajar.

  • Sebuah kesan: menulis cerita pendek seperti ini ternyata betul-betul menantang saya. Hanya saja, cerita pendek seperti ini adalah selingan saja, bukan yang utama atau akan mengambil tempat dari kedudukan fiksi sejarah. Hanya bila saya terinspirasi oleh sesuatu dalam perjalanan semisal keluar kota seperti Klaten, Karanganyar atau Jember. Perkebunan karet di dalam kisah adalah nyata, demikian juga bangunannya. Sedangkan kisah Suryani sepenuhnya fiktif.
  • Dan yang membahagiakan hati adalah Sekar Mirah akan melahirkan. Berita baik, kabar gembiranya ada di Kiai Plered 32, Yang Maha Agung, longgarkan jalan melalui tangan suamiku. Bila hidupku berakhir, sebenarnya keindahan itu ada di jemari tangan suamiku.
  • Untunglah kisah misteri ini berlatar belakang zaman sekarang. Bila tidak, dan seandainya di Jati Anom tentu saja anak-anak muda di sana tidak akan tinggal diam. “Di Jati Anom,” lanjutnya, “banyak anak muda berlatih keras. Usia mereka sepertinya memang masih pantas disusupi pengertian yang salah.” Jadi, marilah kita ke Jati Anom saat Hari Bising Bukit Menoreh 96.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.