Dironda 17 kali
Cahaya merah di ufuk barat menampakkan diri seperti gelombang di tengah samudra.
Sesaat lagi lentera besar itu akan tenggelam. Tirai malam mulai menutupi desa dan bulan pun malu-malu menampakkan dirinya. Ribuan kelelawar tampak mulai beranjak pergi menuju alam bebas untuk menjalani takdir di malam itu.
Peristiwa yang menimpa Kriwul beserta teman-temannya sangat mempengaruhi suasana desa.
Jarum jam baru saja menyentuh angka delapan namun kesunyian terasa sangat mencekam. Setiap binatang merasakan kengerian. Beberapa anjing melolong panjang di ujung jalan. Kandang kambing milik Gunawan pun terdengar gaduh. Begitu pula beberapa kandang hewan ternak yang lain. Suara binatang ternak milik warga menambah kengerian malam itu.
Pak Lurah Sulis hanya menugaskan satu regu peronda dan mereka diminta untuk tidak berkeliling desa. Mereka hanya diminta mengawasi jalanan depan rumah Pak Sardin.
Waktu terus menapakkan jejaknya tanpa menoleh ke belakang.
Kegaduhan yang ditimbulkan oleh suara sejumlah hewan kini berganti keheningan. Sesekali sorot lampu menerpa jalanan depan rumah itu. Beberapa warga yang pulang memacu kendaraanya lebih cepat bila melewati rumah Pak Sardin.
Seseorang berjalan memasuki halaman rumah itu dan segera menuju sebelah kiri rumah. Dia segera duduk di sebuah bangku yang berjarak sekitar dua atau tiga meter dari sumur Pak Sardin. Mengamati sekelilingnya dengan sesekali berjalan mengitari sumur itu. Terdengar derit suara logam, seseorang seperti membuka pintu belakang dan menyuruh orang itu untuk memasuki rumah. Orang ini hanya melihat tanpa bergerak sama sekali.
Pintu kembali tertutup.
Klik.
Terkunci dari dalam. Tak berapa lama pintu itu terbuka kembali. Kali ini dengan satu sorot cahaya dari dalam rumah. Orang ini masih tak bergerak dan hanya menatap pintu itu dengan tenang. Semerbak bau busuk menerpa rongga penciuman orang ini. Sesuatu dia rasakan seperti mengusap dada serta perutnya dan dia masih begitu tenang. Berkecipak suara air dari dalam sumur, asap membumbung keluar dari bibir sumur lalu lenyap!
Brak.
Bersamaan dengan itu pintu tertutup dengan keras.
Orang ini segera menghampiri pintu belakang dan mencoba untuk mendorongnya. Nihil!
Dia tidak mampu membuka pintu yang terkunci dari dalam. Kemudian dia berdiri di sebelah pintu dan bersandar pada dinding rumah. Matanya menatap lekat pada sebuah timba yang bergerak-gerak sendiri di bawah bibir sumur. Kebimbangan mulai menggelayuti benaknya. Lalu dia mencoba mengangkat timba itu dan terasa sangat berat. Asap kembali membumbung keluar dari dalam sumur disertai dengan bau busuk yang menyengat. Asap semakin menebal dan menggumpal seperti mendung di musim hujan.
Orang ini berjongkok dan tiba-tiba berdiri mengibaskan kedua tangannya untuk mengusir asap itu. Lalu dia terjebak! Kini kedua tangannya berada di atas sumur. Dengan setengah tubuh di bibir sumur , orang ini terancam tercebur ke dalam sumur Dia meronta namun asap itu seperti membelitnya semakin kuat. Kini dia berupaya menggunakan kakinya untuk menolak tubuhnya ke belakang. Dia merasakan sesuatu yang sangat berat menariknya ke dalam sumur. Kaki kanannya kini sudah menginjak tepi sumur, kemudian terjadilah saling menarik diantara keduanya.
Srek..srek…srek..srek..dukkk…!
Tubuhnya terhuyung ke belakang kemudian membentur dinding.
Dia berhasil menjauh dari sumur tetapi asap itu masih membelit kedua tangannya. Orang ini menggerakan kedua tangan ke arah berlawanan tetapi upayanya belum berhasil. Asap semakin membesar dan mencoba untuk membelit tubuh orang ini.
Tak lama kemudian terjadilah pergumulan antara orang ini dengan asap.
Dia tampak beberapa kali meludahi asap dan asap pun mulai menipis. Perlahan berubah wujud menjadi sosok hantu tanpa kepala dan berselimut kain berwarna coklat. Tangan kirinya menggenggam tombak yang sebagian sudah berkarat. Dia mengayunkan tombak itu dan menghunjamkan ke dada orang itu.
Orang ini berhasil menghindar dan sebuah papan kayu pun disambarnya. Kedua makhluk yang berbeda jenis ini sekarang berdiri saling berhadapan. Keduanya terlibat dalam satu keinginan kuat untuk saling membunuh dengan alasan yang berbeda.
Orang itu ternyata Kriwul yang berhasil mengumpulkan segala keberaniannya.
Satu lagi adalah makhluk yang menyeramkan.
Mereka kembali bergumul dengan cara yang sulit dinalar.
Hingga pada akhirnya mereka kembali saling berhadapan. Saling memandang.
“Aku akan tetap di sini,” kata makhluk itu tanpa suara. “Menghantui kalian dengan segala cara. Aku tidak akan bertempur sampai mati. Aku akan melarikan diri bila aku inginkan.”
Kriwul menarik napas panjang. “Lantas, bagaimana dengan orang yang berada di dalam lemari itu? Kalian telah membunuhnya.”
“Tidak,” ucap makhluk dengan diam. “Dia membunuh dirinya sendiri.”
Hening.
Tak lama kemudian, makhluk itu, entah menoleh atau tidak, karena tidak berkepala, mengucapkan kata-kata yang dapat didengar oleh Kriwul dari dalam kepalanya sendiri, “Dia membunuh dirinya sendiri. Dia membunuh dirinya sendiri.”
Kata-kata itu terus terulang dan terulang hingga sosoknya lenyap dari hadapan Kriwul.
Tamat
- Kisah ini berakhir tanpa ending yang menyenangkan. Kecuali Anda menuju era pada saat Gajah Mada menghubungi para prajurit yang masih setia kepada Bhre Kahuripan dan mengatur gerakan dari dalam kota di Jejak yang Berserakan. Kilas kisah Langit Hitam Majapahit.
- Bila suatu hari Anda membaca di website ini dan kebetulan ada kisah horor, saya pastikan juga tidak mempunyai akhir. Jadi berpeganglah pada Kitab Kyai Gringsing sebagai rujukan saat menjelajah Padepokan Witasem.
