“Malam yang tidak terlalu bagus untuk mengawasi pintu air,” ucap Agung Sedayu ketika ia berada dua atau tiga langkah di belakang Ki Sentana. “Benar,” sambut Ki Sentana sambil berpaling ke belakang. Se...
“Tugas prajurit adalah pengabdian. Kesetiaan dan kepatuhan pada atasan tanpa syarat. Namun itu tidak dapat diberlakukan pada orang kebanyakan. Kita mempunyai paugeran yang sedikit berbeda. Maka dari i...
Agung Sedayu melanjutkan pemaparan rencananya. Sekali lagi, Untara merasa bersyukur karena Agung Sedayu mengutarakan siasat yang tidak biasa. Dalam penjelasannya, Agung Sedayu menghendaki pencarian da...
“Rasanya saya tidak lagi dapat melihat jalan yang lain,” kata Prastawa. Dalam pandangannya, semua yang dikatakan oleh Untara, Agung Sedayu maupun Ki Widura adalah kebenaran yang berhimpun setelah seki...
“Seperti apakah laporan dari petugasmu, Agung Sedayu?” Pertanyaan Untara terdengar seperti sabetan benda tajam yang menggores jantung Agung Sedayu. Saat itu ia merasa sulit membedakan kedudukan Untara...
Agung Sedayu hampir menitikkan air mata. Kenangan itu sangat sederhana. Ia tumbuh tidak dalam buai kemewahan. Agung Sedayu menjadi lelaki yang tidak berkawan erat dengan kesenangan, tetapi ia tidak te...
Di pinggiran jalan yang menjadi jalur menuju rumahnya, Agung Sedayu terpaku melihat pemandangan yang aneh menurutnya. Ia menyaksikan kobaran api yang tengah bergolak pada sebuah pategalan yang cukup l...
“Kakang, apakah saya tidak salah melihat keadaan?” tanya Agung Sedayu. Orang yang dipanggilnya kakang adalah Wasana, seseorang yang mengenal dekat keluarga Ki Sadewa. Raut wajah Ki Wasana sedikit hera...
“Swandaru!” teriak Agung Sedayu. Ia mencoba mencari jejak yang dikiranya dapat memberi terang untuk menelusuri keadaan adik seperguruannya. Ia berloncatan, hilir mudik, ia kehilangan pegangan!...

