Membidik 15

“Iya,” Agung Sedayu mendesah. Ia beranjak bangkit lantas berkata, “Saya rasa harus meninggalkan barak ini untuk berbicara dengan para bebahu. Putusan ini memang sebaiknya lebih cepat mereka dengarkan sebelum pagi datang.” Ketika ia mengayun langkah ke pintu, Agung Sedayu memutar tubuh dan menghadap kakaknya seraya berujar, “Kakang. Bila sore nanti saya tidak mengirimkan pesan untuk Anda, itu berarti saya berada di Sangkal Putung. Saya mohon diri.”
Untara mengerutkan kening karena merasa aneh dengan suara adiknya yang dikeluarkan sedikit lebih keras. Permainan apakah yang baru saja ditunjukkan adiknya? Ia tidak melihat seorang pun yang tertinggal di lorong selain Agung Sedayu. Tidak ada desir kaki yang mendekati biliknya, tidak pula terdengar gesek daun telinga yang menempel pada dinding ruangannya. Ia tidak pernah, meski sekali saja dalam hidupnya, menerima kata-kata Agung Sedayu yang diucapkan keras kecuali di dalam medan perang. Namun, kali ini – di dalam rumah peninggalan orang tua mereka – Agung Sedayu seolah sengaja berbuat dursila. Dia mengucapkan itu dengan nada sedikit angkuh, bahkan cenderung merendahkan Untara. Untuk itulah Untara harus berpikir lebih keras agar dapat menangkap pesan yang ditujukan padanya. Dalam waktu itu Untara menduga adanya persekongkolan di dalam barisan prajuritnya.
“Mungkinkah ada penyimpangan di barak ini?” pikir Untara dalam kecamuk perasaannya semasa berjalan meninggalkan biliknya menuju ruang khusus untuk mengatur rencana bersama para senapatinya.


Agung Sedayu merasa hari terlalu cepat bergulir ketika malam menyambutnya di tanah lapang yang menjadi pekarangan depan rumah orang tuanya.Ia menoleh ke arah Merapi dan gelap begitu cepat menutup lembah serta celah perbukitan yang berada di bagian utara. Rintik air perlahan turun membasahi setiap jengkal tanah pedukuhan Jati Anom. Ia berjalan dengan langkah lebar serta mengenakan penutup kepala berbentuk lingkaran yang lebar.
Udara semakin dingin saat angin yang tidak begitu kencang merambah wilayah yang menjadi bawahan Mataram. Seseorang tampak berjalan di depannya. Sedikit keraguan menembul dalam pikiran Agung Sedayu. Apakah orang itu dapat mengenalinya di balik penyamaran pada malam hari dengan hujan yang agak deras? Meski pengalaman Agung Sedayu membuktikan bahwa sedikit penyamaran yang dapat terkuak bila terjadi hujan, tetapi kecurigaan akan meningkat. ”Seseorang telah berada di belakangku sewaktu percakapan di barak akan berakhir. Seseorang dengan kemampuan yang tidak lagi dapat dianggap lumayan tinggi. Ini bukan perkara mudah,” Agung Sedayu mendesis dalam hatinya. Pengetrapan sapta pandulu membuat Agung Sedayu dapat mengenali orang yang berjarak belasan langkah di depannya. “Ki Sentana,” ucapnya lirih.
“Malam yang tidak terlalu bagus untuk mengawasi pintu air,” ucap Agung Sedayu ketika ia berada dua atau tiga langkah di belakang Ki Sentana.
“Benar,” sambut Ki Sentana sambil berpaling ke belakang. Seraya berusaha mengingat pemilik suara, pandang mata Ki Sentana berusaha menerobos gelap yang membayangi wajah Agung Sedayu. “Ke mana Ki Sanak hendak pergi?”
“Oh, saya sedang menuju rumah Ki Sentana,” jawab Agung Sedayu, kemudian, “apakah Anda berkenan memberi arah?”
“Aku adalah orang yang engkau cari,” polos Ki Sentana bersuara. “Ada apa? Mungkin aku dapat melakukan sesuatu untukmu.”
“Kebetulan yang menjadi keberuntungan saya,” senyum Agung Sedayu terurai saat mengatakan itu namun ia yakin Ki Sentana tidak akan dapat melihat raut wajahnya. “Sebenarnya saya tidak ingin merepotkan Anda, Ki Sentana. Oh, saya melihat Anda tengah bergegas menuju ke sebuah tempat.”
“Ya, tempat itu adalah rumahku,” sahut Ki Sentana. Ia menambahkan kemudian, “Aku baru saja memeriksa jalan-jalan air yang mengitari persawahan. Aku merasa tidak enak waktu muncul awan gelap di sebelah timur lalu perasaan itu membawaku untuk mengatur aliran air.”
Dua ratus atau tiga ratus langkah kemudian mereka tiba di depan rumah Ki Sentana. Agung Sedayu sekilas mengedarkan pandangan dari balik topi lebar. Tidak ada bunyi khusus selain gemuruh hujan. Tidak ada bayangan yang berkelebat semasa perjalanannya menuju rumah bebahu pedukuhan. Namun ia tidak dapat mengendurkan kewaspadaan.
“Ki Sanak,” kata Ki Sentana, “hingga kita sampai di sini, engkau belum mengenalkan dirimu. Tetapi aku ingin berpikir baik. Mari, masuklah.” Ki Sentana mendahului langkah Agung Sedayu lalu menunjuk lincak bambu di beranda depan. Katanya, “Kita akan berbincang di sini.” Lantas ia melewati pintu rumahnya kemudian terdengar suara bercakap dari balik dinding.
Malam itu tidak terdengar suara binatang malam. Tidak juga terlihat musang atau binatang lain yang menyeberangi jalanan. Suasana begitu tenang dan Agung Sedayu merasakan bahaya besar sedang mengintai tempat kelahirannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *