Kue itu..Merah..Kenyal..Orang kata dia lengket dan dari ketan.. Tapi dia tak peduli.. Kamu ingat bahwa separuh masa kau goncang sampan dengan alunan kata.. Kau urai setiap gulungan ombak dengan hangat...
Dua murid utama Kiai Gringsing dengan wajah tegang semakin jauh meninggalkan pedukuhan induk. Mereka berdua berharap bahwa kemungkinan buruk yang telah dipikirkan Agung Sedayu tidak akan terjadi di S...
“Kakang, pasukan khusus tentu mempunyai orang-orang yang cukup mapan dalam tugas sandi. Sementara para pengawal Tanah Perdikan telah berada dalam lapis yang sama dengan prajurit Mataram, lalu b...
Ketiganya pun berjalan menuju rumah Ki Gede, sementara itu para pengawal Tanah Perdikan mulai berdatangan dan gotong royong membersihkan puing-puing rumah Agung Sedayu. Beberapa di antara mereka mengu...
Serangan yang mendadak dan sangat berbahaya itu membuat sibuk Agung Sedayu dan Ki Jayaraga. Agung Sedayu segera mengurai cambuknya dan menahan lontaran benda-benda panas dengan putaran cambuk yang san...
Ki Gede memandang Agung Sedayu dari kejauhan lalu berkata pada dirinya sendiri, ”Tidak banyak yang dapat aku perbuat untukmu, Ngger. Pertarungan yang terjadi di antara mereka telah berada di luar kema...
Dalam perjalanan pulang, Agung Sedayu nyaris melepaskan kemarahannya melalui sorot matanya yang terkenal dahsyat. Hampir setiap benda yang dilihatnya menjadi sasaran kemarahan Agung Sedayu. Ia menjadi...
Beberapa orang kemudian mengikutinya, namun tiba-tiba terdengar lengking suara yang menyiratkan kemarahan dan kesedihan yang berbaur menjadi satu. Orang-orang menoleh pada arah suara. Agung Sedayu ter...
Agung Sedayu masih belum dapat menduga maksud Ki Tunggul Pitu. Namun kemudian ia melambai memanggil seorang pengawal. Agung Sedayu membisikkan satu dua patah kata yang diiringi anggukkan kepala pengaw...


