Membidik 14

Mereka memang terkejut dengan rencana Agung Sedayu namun belum ada seorang pun yang menanggapinya. Mereka berlima tengah bergulat dengan kecamuk bayangan gambar yang muncul di dalam benak masing-masing. Bahkan Ki Widura telah berpikir untuk memulangkan sebagian cantrik Perguruan Orang Bercambuk. Sebagian merasa keberatan atas usulan atau siasat itu. Pikir mereka, tentu para pengacau akan menjauh dari Jati Anom dan Raden Atmandaru akan menunda serangan ke wilayah mereka, dan itu berarti mereka akan terkungkung dalam perangkap yang bernama menunggu. Pikiran-pikiran semacam itu mulai mendapat bantahan dari hati mereka sendiri. Keluasan wawasan murid utama Kiai Gringsing dan kecerdasannya adalah sandaran utama keyakinan mereka.
“Belum pernah aku mendengar rencana seperti ini sepanjang usiaku menjadi seorang prajurit,” kata Ki Widura. “Belum sekalipun aku mendengar siasat yang mirip dengan yang kau nyatakan, Agung Sedayu. Belum sama sekali. Bayangkan kehebohan yang akan terjadi di Jati Anom dan akibatnya apabila berita mulai merambat jalan-jalan yang menghubungkan tempat ini dengan daerah lain. Kita dapat membayangkan suatu keadaan yang mungkin melebihi kegelisahan wilayah yang dilalui laskar-laskar dalam kesatuan perang.”
Yang lain masih menyimak dan mengolah pendapat Agung Sedayu. Perdaganan akan menemui jalan buntu dan menderita kelumpuhan untuk sesasat, demikian sebagian isi pikiran Sabungsari dan Prastawa.
Agung Sedayu berulang mengalihkan pandangannya pada satu demi satu wajah tegang yang berada di hadapannya. Ia dapat memaklumi kegelisahan dan perasaan yang berkecamuk pada setiap orang. Tetapi tidak terlihat salah seorang dari mereka yang mencoba mengungkapkan keberatan atau mengalihkan pkok bahasan. Dengan demikian siaasatnya akan terhampar lebih gambling di depan mereka. Hanya saja ia masih menunggu redanya berbagai bayangan buruk dari. perasaan dan pikiran mereka itu.
Kemudian ia melanjutkan, “Saya tidak sedang mencari pembenaran dengan mendasarkan siasat pada keadaan yang baru semalam kita lalui. Bukan pula untuk mencari ketenaran untuk kedudukan yang lebih tinggi, itu adalah benar-benar rencana dari peperangan yang akan kita lewati bersama. Sebuah pertempuran tanpa senjata. Saya memilih untuk mengguncang ketahanan jiwani para pengikut Raden Atmandaru terlebih dulu.”
“Bukankah itu terlalu riskan untuk ditempuh?” tanya Untara. “Bisa jadi semangat mereka akan luruh namun sebaliknya, mereka juga dapat saja semakin menggila. Tapi aku minta engkau dapat mengabaikan pendapatku itu. Agung Sedayu, engkau belum selesai dengan siasatmu.”
“Tidak ada yang salah dalam pendapat Kakang,” Agung Sedayu berucap perlahan namun ketegasan jelas memancar dari raut wajah dan sorot kedua matanya. “Mungkin sebagian di antara kita telah dilintasi bayangan-bayangan semu atau sangkaan yang bersumber dari rencana saya. Meningalkan sawah dan ladang, pategalan dan pasar adalah pekerjaan yang sangat berat dilakukan oleh orang-orang. Mereka menggantungkan hidup dari tempat-tempat itu. Sebenarnya bukan pada cara untuk menemukan persembunyian mereka, tetapi ini dapat diibaratkan seperti membakar semak-semak dan hutan agar dapat menjadi jelas siapa kawan atau lawan. Mungkin para bebahu pun akan berpikir seperti yang telah saya duga. Bahwa meninggalkan kebiasaan atau menunda kebutuhan hidup adalah sesuatu yang sangat berat dilaksanakan. Saya tidak menampik kenyataan itu.”
Orang-orang masih diam mendengarkan.
“Tugas prajurit adalah pengabdian. Kesetiaan dan kepatuhan pada atasan tanpa syarat. Namun itu tidak dapat diberlakukan pada orang kebanyakan. Kita mempunyai paugeran yang sedikit berbeda. Maka dari itu, yang saya tekankan adalah cara kita dalam mencari. Sehingga mengumumkan secara terbuka lalu kabar pencarian disebarkan meluas adalah jalan untuk mengurangi beban jiwani orang Jati Anom. Sekarang, mari kita buang pikiran buruk itu jauh-jauh,” usai berucap demikian, Agung Sedayu menjelaskan dengan rinci rencananya. Tidak ada bagian yang tertinggal olehnya dan orang-orang terpukau. Sekalipun bayangan buruk dapat segera ditepis dari benak mereka namun tidak ada kata yang terucap. Mereka terpesona dengan paparan rinci dari Agung Sedayu.

Langit senja telah tiba di atas pedukuhan Jati Anom ketika Agung Sedayu mengakhiri penjelasannya panjang lebar. Lima orang dapat menarik napas lega dan berharap rencana itu dapat dijalankan oleh seluruh orang Jati Anom. Dalam waktu itu, Agung Sedayu juga mengatakan bahwa ia akan menemui para bebahu saat bintang telah menghiasi kolong langit. Demikian juga Prastawa dan Ki Lurah Sanggabaya yang memutuskan segera meninggalkan Jati Anom saat malam mulai mendatangkan gelap. Sedangkan Sabungsari, yang bertanggung jawab menyiapkan keperluan yang akan digunakan oleh pengawal pedukuhan, telah berpindah tempat di gudang prajurit.
Sewaktu melihat keadaan di dalam bilik telah menjadi sedikit longgar, Untara mengucapkan kata-kata yang ditujukan pada Agung Sedayu, “Walau rencana itu sepertinya sulit dilakukan karena melibatkan kebanyakan orang dari Jati Anom hingga Sangkal Putung sampai Menoreh, tetapi aku melihat titik terang.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *